[Coretan Dicta] Menjadi Keluarga

Tolong aku.

Aku merasa tak bisa bernapas. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan perasan busuk ini. Sekarang aku sedang duduk di kamar kontrakanku, pintu terbuka, dan di luar kamarku ada teman-teman satu rumah kontrakanku yang sedang bercengkrama asyik mengenai dunia mereka. Aku tidak tahu apa yang harus lakukan sekarang. Aku ingin mengerjakan tugasku, tapi perasaan sesak ini lebih menekanku ketimbang deadline tugas-tugas anak kuliahan yang mulai terasa menggila ini.

Aku tak pernah menyangka, tinggal serumah dengan orang lain terasa begitu melelahkan dan penuh tekanan. Kalau boleh jujur, ini bukan pertama kalinya aku tinggal serumah dengan orang lain (bukan keluarga inti). Aku sudah pernah mengalami hal seperti ini dua kali selama enam tahun hidupku, yang pertama aku jalani saat tinggal bersama keluarga tanteku selama tiga tahun masa SMP dan yang kedua saat aku tinggal serumah dengan eyang putri (bersama keluarga om-ku) selama tiga tahun masa SMA-ku. Dan selama enam tahun pengalaman itu…

Aku tidak belajar apa pun.

Sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana caranya tinggal serumah dengan orang lain—orang lain yang bukan dari keluarga inti. Ada perasaan tidak nyaman yang aku miliki. Ada merasaan tidak enak yang begitu menyesakan. Ada perasaan aku hanya menumpang di sini. Ada perasaan seperti aku-bukan-bagian-dari-rumah-ini. Perasaan-perasaan seperti itu yang membuatku kadang kala merasa tidak bebas dan nyaman untuk bertempat tinggal.

Sungguh. I’m not crying, but I feel like crying. Ada yang salah dengan diriku, ada yang salah dengan hidupku. Saat menulis ini, aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku tulis, akan aku tulis, inti dari tulisanku, atau apa pun itu. Aku hanya menulis sampai akhirnya pernyataan dan kenyataan busuk ini muncul di benakku.

Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang anggota keluarga.

Tidak ada yang salah dengan keluargaku. Keluargaku biasa-biasa saja. A normal one. Tidak seperti keluarga lainnya yang mungkin memiliki masalahnya masing-masing atau bahkan lebih menyedihkan dari kondisi keluargaku. Aku tinggal dan hidup di keluarga yang luar biasa. Namun, tetap saja, ada yang hilang. Something missing, and I know it’s a very important one, that thing is…

Love.

Cinta.

Kasih sayang.

Aku menyayangi orang-orang di sekitarku, tapi aku membatasi diri untuk menyayangi mereka lebih dalam. Ini bukan batas yang aku buat sendiri, ini batasan yang dibangun oleh karakter minder dan ketidakpercayaan diriku. Bahwa mungkin saja, aku bukan sosok yang pantas untuk dicintai. Bahwa mungkin saja, ini bukan tempatku dan aku tidak pantas berada di sini. Bahwa mungkin saja, orang-orang membicarakanku di belakang dan mereka tidak menyukaiku sama sekali.

Aku ingin sekali membangun ikatan keluarga bersama orang-orang di rumah ini. Aku  benar-benar berharap kalau mereka mau menjadi keluarga bagiku dan aku menjadi keluarga bagi mereka. Tapi aku masih tidak tahu bagaimana caranya? Ini sunggu berat, menyesakan, dan melelahkan. Membangun ikatan seperti itu bukan sesuatu yang gampang bahkan ketika kalian sudah mengenal mereka cukup lama dan mereka mengetahui sisi-sisi terburuk dari dirimu. Ada rasa ketakutan saat mereka akan menjauh jika aku mengungkapkan segala-galanya. Ada rasa ketakutan saat mereka menunjukkan rasa kasih sayang kepadaku namun aku tak tahu bagaimana cara untuk membalas mereka. Yeah, mereka peduli, tapi aku tak tahu bagaimana caranya peduli kepada orang lain.

Karena memang, aku tak pernah tahu.

Aku selalu hidup menjadi sosok yang individualis dalam sebuah keluarga, terkadang egois dalam mengambil tindakan, bahkan cenderung cuek dan tak acuh pada hal-hal kecil. Contohnya saja dalam melakukan pekerjaan rumah atau dalam hal peduli dengan orang lain, aku selalu mementingkan diriku sendiri daripada kepentingan orang lain.

Dan itu yang aku lakukan selama enam tahun tinggal bersama orang lain. Berkali-kali orang-orang yang tinggal serumah denganku mengeluhkan betapa cuek dan tak pedulinya aku akan lingkungan sekitar. Namun, aku selalu tidak peduli dengan perkataan mereka dan menganggap kalau perkataan mereka salah tentangku sampai mereka muak dan membiarkanku begitu saja. Hingga akhirnya, aku menjadi diriku sekarang dan merasakan…

Betapa memalukannya diriku.

Sekarang aku mengalami hal yang sama seperti yang telah aku alami enam tahun hidupku ke belakang. Aku tinggal mengontrak satu rumah bersama teman-temanku, ada empat orang yang tinggal di rumah ini sekarang, dan aku sadar betapa aku tidak tahu bagaimana caranya tinggal bersama orang lain. Aku mencoba, I’ve try, believe me, aku sudah mencoba lebih peduli dan lebih perhatian. I really want to do something for them, just ask me, really.

Namun, lama kelamaan aku semakin merasa terasing. Pembicaraan kami mulai tidak nyambung, pelan-pelan semua orang mulai mendiamkanku, pelan-pelan aku pun mulai mendiamkan mereka dan akhirnya aku pun mencari-cari alasan untuk tidak pulang ke rumah dengan menyibukkan diri di kampus (well, sebenarnya aku benar-benar sibuk sih, bukan sibuk yang dibuat-buat). Sampai pada akhirnya, aku ada di satu titik di mana aku tahu…

No body care.

Tak ada seorang pun yang peduli denganku. Suasana rumah ini semakin terasa dingin dan hal itu membuatku benar-benar merasa tertekan. Ketika aku duduk bersama mereka, aku berharap mendapatkan kesempatan untuk bercerita serta bercakap-cakap dengan mereka. Namun, kesempatan tak kunjung datang atau mungkin mereka tak ingin membuka kesempatan itu lagi. Mungkin mereka sudah muak dengan kisah-kisahku, mungkin mereka tidak suka bagaimana cara aku berbicara dengan mereka karena aku merasa setiap kata yang keluar dari mulutku itu salah dan aku mulai tidak tahu apa yang harus aku katakan. Entahlah, yang jelas, aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalah ini. Aku tahu mereka orang-orang baik, mereka pasti dapat menerimaku apa adanya, tapi masalahnya apakah aku bisa menerima diriku sendiri apa adanya tanpa mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting?

Ini bukan tentang apa yang salah dengan mereka, ini tentang apa yang salah dengan diriku sampai akhirnya mereka bereaksi seperti itu.

Sampai sepanjang ini aku bercuap-cuap aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harusnya sudah tidur sekarang dan tidak mempedulikan hal-hal seperti ini—buang saja semuanya ke alam mimpi dan biarkan tidur mengambil alih duniamu. Tapi aku tahu, aku tak akan bisa tidur  dengan damai tanpa menyelesaikan perkara ini dan menuliskannya.

Aku akan terus berjuang untuk menghadapi masalah ini. Mungkin aku akan mencoba untuk berbicara dengan mereka, mungkin aku akan sekali lagi mencoba terbuka dengan mereka, dan berharap mereka mau mengerti kondisiku. Yeah, sesungguhnya aku sudah lelah berlari dan menghindari fakta menyedihkan ini dari hidupku. Aku merasa ini adalah kesempatan terakhir yang Tuhan berikan padaku untuk belajar bagaimana caranya menjadi anggota keluarga. Bagaimana caranya menjadi pihak yang merepotkan dan direpotkan, memberikan  dan diberikan, mencintai dan dicintai. Aku ingin belajar dan aku berharap, mereka masih berusaha membantuku untuk berubah meskipun ada beberapa hal yang membuatku tidak nyaman dan bersedih hati. Aku tahu, mereka masih menjadi malaikat-malaikat yang Tuhan kirimkan untukku dan akan selalu begitu.

Benedikta Sekar

Jam 00.11

24/11/2015

Di kamar kontrakan yang lumayan berantakan

3 pemikiran pada “[Coretan Dicta] Menjadi Keluarga

  1. Sebenernya kalo Kaka orangnya tertutup, ga perlu berubah jadi terbuka. Nanti takutnya sebagai introvert, Kaka malah jadi gelisah gara-gara udah bersikap terbuka. Mungkin solusinya kayak memotivasi atau mensugesti diri aja kali ya, dengan hal-hal yang bisa bikin nyaman. Atau, cari tau ruang dan waktu yang bisa bikin Kaka nyaman. Hemmm pokoknya kalo menurutku sih kenyamanan itu diciptakan diri kita sendiri.

    *mau ngasih contoh tapi ga bisa, karena sebenernya ga paham banget aku sendiri ngomong apa nih, haha

    1. Terima kasih Prita, komentarmu membuat perasaan saya lebih baik. Hahaha. Sebenarnya ini bukan tentang saya yang menjadi introvert. Ini tentang penempatan diri saya yang tidak sempurna dalam sebuah keluarga. Ketidaknyamanan saya bukan karena saya merasa terganggu, tapi karena rasa takut saya, apakah saya sendiri pengganggu. Itu sih yang sebenarnya terjadi. Hahaha. Sesederhana itu, saya punya banyak sekali prasangka-prasangka pada orang lain dan yang menghancurkan saya sendiri sebenarnya prasangka-prasangka itu.

  2. Ping-balik: [Coretan Dicta] Menjadi Keluarga: Tentang Komunikasi dan Tempat Untuk Pulang | Kata-Kata Dicta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s