#1 To My Future Husband: Hi!

Hai.

Aku tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk membuka rangkaian surat ini selain satu kata itu. Mungkin bagimu ini terasa begitu janggal, tiba-tiba saja aku menyapa dan tersipu malu-malu dibalik surat konyol ini. Tapi, apa mau dikata?

Sudah lama aku ingin menulis surat untukmu.

Sejak tahun-tahun remajaku hingga sekarang digit di depan umurku berubah menjadi angka dua. Aku, layaknya gadis muda kebanyakan, memikirkanmu dan berkhayal tentangmu setiap malam; hal itu sudah menjadi kebiasaan yang tak pernah lalai dilakukan. Hanya saja, aku selalu meluputkan momen-momen itu—momen ketika hasrat untuk menulis surat untukmu begitu menggebu-gebu—dan akhirnya, aku pun urung menuliskannya karena aku merasa… belum pantas.

Well, sekarang pun aku masih merasa belum pantas untuk bertemu denganmu. Makadari itu, hanya surat ini yang mampu aku berikan agar kamu tahu bahwa aku sedang mempersiapkan diri untukmu. Mempersiapkan diri, luar maupun dalam, agar ketika kita bertemu, kamu langsung mengenaliku dan aku pantas menjadi sosok yang kamu cintai.

Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana cara kita akan bertemu kelak. Bisa jadi kamu orang yang aku temui di jalan, saling melirik satu sama lain, kemudian menyapa dengan ramah. Bisa juga kamu orang yang lebih tua dariku, kakak tingkat di universitas kah? Jurusan apa? Antropologi? Teknik? Atau jangan-jangan justru alumni yang datang menjadi dosen baru? Oh, atau bisa jadi kamu seseorang yang sudah lama memperhatikanku, namun tak kusadari karena penyakit cuek stadium akut yang kuderita? Ah, mungkin kamu juga seseorang dari masa laluku. Cinta pertamaku yang bertepuk sebelah tangan atau bahkan teman sekolah dasar yang luput kuingat di memori. Ah… ah… ah… banyak sekali kemungkinan. Banyak sekali kesempatan. Tapi yang jelas…

Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama.

Cinta pada pandangan pertama bagiku adalah cinta yang penuh dengan nafsu badan karena kamu hanya memperhatikan fisik ketika sosok itu datang ke dalam kehidupanmu. Yah, seperti pribahasa yang sering kamu dengar ‘dari mata turun ke hati’ aku sendiri percaya betul dengan makna ini, namun, bukan berarti mata tak bisa menipu hati bukan?

Pada dasarnya, aku percaya cinta datang dengan perlahan, sangat tenang namun menyusup seperti pencuri dan… cing! Cinta itu ada di sana, damai seperti permukaan air yang tercipta di mata seseorang. Senyum yang semula terasa biasa saja tahu-tahu menjadi senyum yang ingin kamu lihat setiap pagi, bahkan gelagat yang semula kamu anggap bodoh pun menjadi salah satu alasan tawamu merekah. Seperti itu saja, tiba-tiba kamu sudah diliputi cinta yang menggebu-gebu.

Cinta tak pernah tumbuh dalam kedipan mata karena meskipun aku buta, aku tahu cinta akan datang padaku.

Aku pun tak pernah menuntut lebih pada cinta—tak seperti banyak gadis yang mengharapkan pangeran berkudanya datang dan menjemput mereka dengan pesona dan keindahan. Bagiku, cinta datang ketika ia merasa waktunya sudah tepat, cinta datang ketika ia tahu hati itu telah aman dan pantas untuk didiami. Aku tak pernah memaksa cinta jatuh pada seorang yang tampan atau pun kaya, karena ketika aku telah pantas menjadi rumah dari cinta itu untuk tinggal, sosok itu pasti akan datang.

Ya, kamu pasti akan datang dan menemukanku—dalam kondisi pantas dan lentera yang tak padam karena aku telah berjaga-jaga. Kamu akan melihatku dengan jelas dan cinta pun akan datang untuk tinggal di hati kita masing-masing.

Sesederhana itu.

Ah, apa aku mulai terbaca seperti pujangga kesepian? Hehehe. Terkekehlah, aku tak malu jika kamu tertawa. Hanya saja, kamu harus tahu, aku pun tak pernah berhenti tersenyum geli saat menulis surat ini. Semoga ketika kamu membacanya kamu pun tak berhenti tersenyum sama sepertiku, karena dengan begitu, aku tahu kita merasakan hal yang sama terhadap cinta itu sendiri.

Baiklah, akhir kata, senang mengenalmu! Semoga makna surat ini tersampaikan dengan baik dan jatuh tepat ke hatimu, Tuan. Ada ragu di hatiku jika kamu adalah salah satu dari sekian banyak mata yang membaca surat ini. Namun, hari ini, aku hanya ingin menyapamu. Sebagai pembuka dari surat-surat panjang dan beruntun yang akan kuberikan padamu selama tiga puluh hari ke depan.

Hehe. Sekali lagi…

Hai!

Dari gadis yang menyapamu,

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 31 Januari 2016

6 pemikiran pada “#1 To My Future Husband: Hi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s