#10 To My Future Husband: Busy

Hari ini hari pertama kuliah.

Itu tandanya akan ada banyak kesibukan yang menantiku selama berhari-hari ke depan dan akhirnya memaksaku untuk menulis surat menggunakan jempol, seperti sekarang. Hahaha.

Untung saja hari ini ada jeda di siang hari, sehingga aku masih sempat mengetik surat ini untukmu sembari menanti jam kuliah berikutnya. Tapi, meskipun begitu, mulai hari ini surat-suratku mungkin tak akan sepanjang surat-surat sebelumnya. Mungkin aku hanya akan menceritakan padamu tentang beberapa hal; mungkin aku juga hanya akan menyapamu dengan pesan-pesan singkat; tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan berhenti memikirkanmu.

Aku tahu, dikemudian hari akan banyak kesibukan yang memisahkan kita. Aku dengan dunia serta mimpi-mimpiku; kamu dengan kesenangan juga kegiatanmu. Waktu untuk bersama pun semakin menipis, kata-kata yang tertukar serta mata yang bersetatap pun semakin berkurang. Mugkin saja aku tak akan bertemu denganmu seharian; mungkin saja aku lupa memberimu kabar; kadang-kadang handphone-mu pun akan mati dan kamu langsung jatuh tertidur setibanya di rumah.

Maka, dengan segala kesibukan itu, serta alasan-alasan yang mengikutinya. Aku yakin akan ada pertengkaran yang terjadi. Rasa ragu serta takut kehilangan akan menggerogoti hati kita; kepercayaan hanya akan menjadi hal kesekian dan rasa marah pun merengsek masuk ke dalam perasaan. Hubungan kita akan menjadi keruh dan hanya menunggu waktu sampai kata-kata perpisahan terucap dari bibir kita.

Tapi, itu tidak akan terjadi. Sungguh.

Aku tak bisa menjanjikan kalau hubungan kita akan berjalan baik tanpa tersandung krikil atau batu. Namun, aku berjanji akan terus memikirkanmu, sesibuk apa pun aku nanti. Aku mungkin tak akan sempat mengabarimu, aku mungkin akan lupa dengan janji-janji kita, tapi kehilanganmu setelah aku berhasil memilikimu? Itu mustahil.

Dan aku harap, kamu juga merasakan. hal yang sama. Aku akan mempercayaimu; mempercayai kesibukanmu, jika memang kamu memerlukan waktu untuk menikmati hobi dan segala kegiatanmu. Karena sesibuk apa pun kamu, aku percaya, kamu hanya akan memikirkanku.

Yeah, seperti yang aku katakan di surat sebelumnya, aku ingin kita membangun hubungan ini atas dasar percaya dan setia. Jadi, tak masalah sesibuk apa pun dirimu, Tuan, aku akan mempercayaimu juga setia padamu.

Dari gadis sok sibuk
Benedikta Sekar
Yogyakarta, 9 Februari 2016

#9 To My Future Husband: Missing

I Miss You.

Ah, aku rindu menulis surat untukmu lagi. Apa jeda dua hari kemarin membuatmu merasakan sesuatu yang aneh? Kuharap jawabannya ya, karena aku merasakan hal yang sama.

Tak pernah kusangka, jeda mampu mengajariku sesuatu. Sesuatu yang begitu sederhana namun bermakna, sesuatu yang hanya bisa kamu rasakan ketika kamu memiliki hal-hal berharga di dunia ini. Sesuatu itu adalah…

Kehilangan.

Kita tidak akan pernah merasa benar-benar memiliki sesuatu sebelum kita kehilangannya. Hal itu yang aku rasakan saat berhenti menulis surat untukmu selama dua hari ke belakang. Kamu hanyalah sosok khayalanku, sejenak, surat-suratku padamu selama berhari-hari kemarin terbaca seperti surat-surat yang ditulis oleh orang gila. Namun, aku bersungguh-sungguh.

Tak satu pun surat yang aku tulis untukmu berisi kebohongan dan perasaan palsu. Setiap kata yang kutulis untukmu berasal dari hatiku, penuh niat dan hasrat yang menggebu-gebu untukmu. Maka dari itu, bahkan hanya dengan memberi jeda dua hari untukmu. Aku sudah merasa kehilangan.

Aku merasa kehilangan bahkan sebelum aku memilikimu.

Ini menggelikan, tapi jika kamu sudah terbiasa untuk melakukan sesuatu dan tiba-tiba saja memutuskan untuk berhenti melakukannya sejenak, kamu pasti merasa kehilangan. Sama seperti mereka yang telah terbiasa mencintai seseorang dan kemudian status itu berubah menjadi mantan. Sebenci apa pun perasaanmu pada orang yang dulu sempat mengisi hatimu, kamu pasti merasa ada sesuatu yang ganjil dan hal itu bernama kehilangan.

Aku tidak tahu seberapa besar rasa kehilanganku terhadapmu kelak ketika aku memutuskan untuk berhenti mengirimimu surat karena event #30HariMenulisSuratCinta ini beakhir, tapi yang jelas, jeda dua hari kemarin telah menunjukkan padaku sesuatu di luar nalar manusia.

Semalam—entah karena aku terlalu lelah atau terlalu merindukanmu—aku bermimpi tentang seorang laki-laki. Ini bukan pertama kalinya aku memimpikan laki-laki di dalam tidurku. Aku bahkan tak pernah mengisahkan perihal mimpi-mimpi itu di blog sampai akhirnya kutulis surat ini. Beberapa di antara laki-laki yang pernah muncul di mimpiku adalah laki-laki yang pernah kutemui, seperti teman sekolah dasar atau menengahku dulu, namun banyak juga wajah-wajah asing atau bahkan wajah yang tak bisa kukenali.

Anehnya, semua laki-laki yang muncul di mimpiku melakukan satu hal yang sama: tertarik padaku dalam konotasi romansa dan beberapa di antara mereka bahkan menjadi kekasihku. Ketika aku memimpikan mereka, aku berada di dalam mimpi itu, mengambil peran di sana dan bukan hanya sekadar melihat dan menjadi penonton.

Yeah, it sounds crazy, right? But it’s true!

Aku tak pernah mengerti maksud dari mimpi-mimpi itu, meski kadang aku menanggapinya dengan serius, aku selalu berakhir pada jawaban ‘ah, itu hanya bunga tidur’ atau ‘ah, ini karena aku terlalu banyak nonton drama Korea’. Namun, tiap kali aku terjaga, mimpi itu masih tersisa di ingatan dan dadaku berdebar begitu kencang lantas aku merasa kehilangan.

Aku tidak ingat kapan mimpi-mimpi itu mulai datang ke dalam tidurku, tapi yang jelas, rangkaian mimpi itu mulai menggangguku saat kamu muncul di mimpiku.

Ya, kamu.

The Black Hair Guy.

Aku bahkan menulis cerpen berdasarkan mimpi itu, kamu bisa membacanya di link yang aku sertakan di atas. Mimpi yang kuceritakan di cerpen itu adalah mimpi yang benar-benar aku alami sendiri dan itu mimpi tentangmu. Setelah aku memimpikan mimpi itu, mimpi-mimpi lain datang namun tak ada satu pun laki-laki yang muncul di mimpiku tersebut adalah kamu. Termasuk, mimpi yang aku alami semalam.

Kembali ke mimpi semalam, aku memimpikan seorang laki-laki. Ia laki-laki yang wajahnya tidak aku kenali, namun anehnya, aku dapat melihat wajahnya dengan cukup jelas—kulitnya sawo matang, berwajah Jawa, susunan giginya rapi, dan senyumnya begitu manis. Ia menyukaiku, begitu juga aku. Di dalam mimpiku, kami bertingkah selayaknya kekasih; saling merangkul, berpelukan, dan tertawa bersama. Namun, kami bukan kekasih dan di dalam mimpi itu juga aku memiliki kesadaran… He isn’t you, he isn’t the one. Lantas, mimpi itu pun berakhir saat ada orang lain yang muncul di mimpi itu bertanya padaku apakah laki-laki itu pacarku, tentu saja aku tak bisa menjawab dan akhirnya aku terbangun.

Well, aku tidak ingin menceritakan detil mimpi itu meskipun aku masih mengingatnya karena akan memakan waktu yang sangat membosankan. Jadi, singkat kata, kejadian ganjil ini kembali mengingatkanku bahwa memilikimu dalam khayalan bukan hanya sepanjang surat-surat gila ini atau pun perasaan kopong belaka. Aku merasa sudah mengenalmu bahkan sebelum aku bertemu denganmu—ya, kamu terasa dekat, namun masih jauh dalam jangkauanku.

Kamu bukan tokoh yang aku ciptakan hanya untuk mengikuti event ini, sejarah tentangmu di hidupku bahkan lebih lama dari itu. Hanya saja, dengan dorongan event ini, aku baru berani berkomunikasi langsung denganmu. Yeah, mungkin saja kamu hanyalah manifestasi dari khayalan serta harapan, terserahlah mereka menganggapku gila atau apa, tapi ada satu hal yang begitu nyata…

Rasa kehilangan ini.

Tiap kali aku menulis surat untukmu, rasanya aku berada begitu dekat denganmu, namun saat aku berhenti memikirkanmu ada bagian dari hatiku yang hilang. Aku tidak tahu seberapa lama jeda yang aku perlukan untuk bertemu denganmu dan menentang perasaan kehilangan yang menyakitkan ini, namun aku hanya ingin kamu tahu satu hal…

Ketika aku bertemu denganmu, aku akan mencintaimu dengan sungguh-sungguh, karena aku sudah menahan perasaan ini begitu lama.

Dari gadis yang merasa kehilangan

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 8 Februari 2016

#8 To Mr. Rudi Valinka: Hope

Halo, Om Rudi Valinka

Selamat sore di harimu yang panjang. Mungkin Om Rudi tidak mengenali saya, karena saya hanya satu dari ribuan pengikut Om Rudi di Twitter—yang hanya sesekali memention Om Rudi jika memang ingin. Namun, ketahuilah Om, saya juga satu di antara banyak orang yang selalu mendoakan keselamatan Om Rudi.

Om, masih beranikah Om melawan para iblis bertubuh manusia di negeri ini?

Ada ragu di hati saya saat menuliskan pertanyaan itu, kalau-kalau Om akan menjawab tidak dan menghilang lantaran tak kuasa menahan tekanan. Namun, menilik bagaimana perjuangan Om Rudi selama ini, bagaimana Om jatuh bangun membela orang-orang baik di Bumi Pertiwi ini sampai titik darah penghabisan. Saya pun percaya bahwa Om pasti menjawab ‘YA’.

Ya, saya berani.

Sesungguhnya, maksud saya menulis surat ini untuk Om, bukan hanya karena saya kurang kerjaan atau apa. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam karena telah menjadi salah satu orang paling berpengaruh di jagad media sosial.

Om Rudi Valinka mungkin bukan seorang selebtwit yang kerjanya membagikan kata-kata indah nan rupawan bagi followers-nya; Om justru lebih senang membongkar fakta-fakta kelam Indonesia yang banyak orang abaikan dan berbagi ilmu agar generasi muda sekarang lebih bijak menghadapi permasalahan di negeri ini.

Om memang bukan selebritis di Twitter, tapi bagi saya, Om lebih tenar dari sekadar selebritis.

Om Rudi adalah idola saya.

Sebelum saya mengenal Om Rudi, saya begitu buta dengan politik dan modus-modus kejahatan di negeri ini. Meskipun saya dilahirkan di keluarga yang begitu melek politik—dulu ibu saya seorang politisi; pernah menjabat anggota DPRD di periode pertama SBY. Namun, hal itu justru membutakan saya yang pada akhirnya hanya berpendapat bahwa menjadi anggota DPRD dan politisi hanyalah tentang pekerjaan dan uang.

Saya mengenali dunia politik dari sisi keluarga yang menikmati keuntungannya, maka dari itu, tak sedikitpun hati ini merasa peduli pada fakta bahwa politisi yang duduk di kursi keren, seperti yang ibu saya duduki dulu, adalah orang-orang yang menentukan hajat hidup orang banyak. Hingga akhirnya, saya pun menjadi saksi ketika ibu saya dicurangi saat beliau mencoba keberuntungannya menjadi anggota DPRD untuk kedua kalinya. Kala itu umur saya masih tiga belas tahun, saya hanya tahu ibu saya menangis karena kerugian besar yang telah ia terima akibat tindakan keji dari saingan politiknya di partai yang sama.

Sejak saat itu, saya begitu membenci politik dan negara kita. Saya rasa tak ada harapan lagi bagi negeri ini untuk maju dan menjadi lebih baik. Cahaya harapan itu tidak ada, padam di hati saya. Saya bahkan bercita-cita untuk pergi dan bekerja di luar negeri dari pada harus tinggal di Indonesia hanya untuk menyaksikan kecurangan yang dilakukan oleh orang-orang serakah.

Sampai saat itu tiba, tepat pada tahun 2012, sosok itu muncul—Joko Widodo. Saya tidak mengenal pria itu, saya tidak peduli padanya, namun ketika saya mencoba mencari-cari berita tentangnya di Twitter pada tahun itu, saya bertemu dengan Om Rudi. Om Rudi begitu mati-matian membela sosok ini, semua cuitan Om Rudi begitu keras dan yakin—konsisten mempercayai pemimpin itu. Saya mencoba menjadi apatis dan bersikap tidak peduli, tapi saya tidak bisa berhenti membaca semua pembahasan yang Om Rudi sampaikan karena begitu terkesima dengan fakta-fakta yang Om Rudi ungkapkan.

Puncaknya adalah dua tahun yang lalu, saat sosok itu naik, dan mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di negeri ini. Saya tidak tahu bagaimana cara Om Rudi memperngaruhi followers Om, namun saya bahkan lebih mempercayai cuitan Om Rudi ketimbang berita-berita di televisi yang sarat akan nuansa permainan politik. Hingga akhirnya, pemimpin itu kembali memenangkan pertarungan, dan kini memimpin negeri ini.

Saat itu, saya mengira tuntas sudah perjuangan Om Rudi, orang baiklah yang menang. Namun, hahaha, ternyata kejahatan akan selalu mengikuti kebaikan seperti bayangan yang selalu ada di belakang terang. Perjuangan belum selesai, pemerintahan ini penuh dengan tekanan bahkan dari partai politik pemenang pemilu, dan Om Rudi kembali beraksi…

Hehe.

Tidak memerlukan waktu yang lama untuk saya mempercayai Om Rudi, pikiran kritis pun tak terlintas, karena Om Rudi memberikan fakta bukan sekadar opini. Sampai detik ini saya tidak pernah menyangka, kekuatan dari kata-kata bisa sebegitu hebatnya, apalagi jika digunakan untuk kebajikan seperti yang Om Rudi lakukan.

Ah, luar biasa… saya sudah kehabisan kata-kata pujian untuk diberikan pada Om Rudi, padahal surat ini seharusnya merupakan surat cinta. Namun, saya hanya bisa mengungkapkan kekaguman dan rasa syukur saya akan kebaranian Om Rudi melawan kejahatan di negeri ini. Hanya doa kepada Tuhan yang maha esa saja yang mampu saya berikan untuk Om Rudi, agar selalu sehat dan jauh dari segala mara bahaya.

Akhir kata, terima kasih telah menjadi inspirasi bagi anak muda zaman sekarang, saya yakin tidak hanya saya yang merasakan hal ini, namun banyak lagi orang-orang muda di luar sana yang pada akhirnya tergerak untuk memberikan sesuatu kepada negeri ini karena kata-kata Om Rudi. Semoga Tuhan menciptakan lebih banyak orang seperti Om Rudi bagi negeri ini (dan salah satunya bisa menjadi pacar saya, hahaha).

Dari pengagummu

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 7 Februari 2016

Note:

FYI, Om, meski ibu saya tidak lagi bermain politik, ia masih aktif di partai politik sebagai staf kusus. Sekali waktu saya pernah bertanya pada ibu, ‘Bu, kenapa ibu masih senang berurusan di dunia politik?’ lalu, ibu saya menjawab dengan santai, ‘Karena ibu ingin menjadi orang baik di antara orang-orang jahat.’ Sesederhana itu, saya pun sadar, orang baik di negeri ini masih ada dan harapan itu nyata.

#7 To Papa in Heaven: Soulmate

Hai, Pa…

Dikta kangen sama Papa.

Sudah lama Dikta gak tulis surat untuk Papa atau bahkan sekadar mengambil waktu hening dan berdoa untukmu—hati gadis kecilmu ini masih pilu, Pa, memikirkanmu saja susah seperti membuka bendungan di mata. Mulanya, tahun ini, Dikta gak berencana untuk menulis surat untuk Papa. Ada rasa takut kalau-kalau Dikta menangis kala mengingat Papa dan segala kenangan yang pernah kita lalui bersama.

Tapi, Dikta harus kuat kan, Pa?

Dikta sudah 20 tahun; Dikta pasti lebih kuat dibandingkan tiga tahun yang lalu saat Papa pulang ke rumah Bapa. Jadi, Dikta gak akan nangis saat menulis surat ini. Ya, tidak akan. Karena Dikta tak akan membicarakan hal-hal sedih, tentang kenangan atau memori yang telah lalu, Dikta ingin menceritakan masa depan Dikta.

Pa, if one day I found my soulmate, would you give him your bless?

Untuk sekarang, Dikta masih belum bertemu dengan laki-laki itu, tapi nanti jika kami dipertemukan oleh kuasa Tuhan. Dikta hanya ingin Papa tahu; Papa tetaplah laki-laki terbaik dalam hidup Dikta. Papa mungkin tak akan pernah mendapatkan ‘the rest of my life’ milik Dikta, tapi Papa selalu menjadi ‘my first in everything’.

Pa, you are my first love, my first kiss, my first man, my first hero, and… my first home. Papa akan selalu menjadi yang pertama untuk Dikta—tempat Dikta memulai hal-hal baru di hidup ini. Tujuh belas tahun mungkin masa yang singkat bagi kita berdua untuk saling membahagiakan, tapi itu cukup bagi Dikta merasa begitu diberkati menjadi anak Papa.

Pa, maaf, mata Dikta berkaca-kaca, padahal Dikta sudah berjanji untuk tidak menangis saat menulis surat ini. Hanya saja, mimpi terbesar dalam hidup Dikta tidak akan terwujud tanpa ada Papa di sini dan hal itu membuat Dikta kembali pilu.

Dikta ingin melangkah menuju altar bersama Papa di hari besar dalam hidup Dikta.

Ya, Pa, the wedding.

Itu mimpi Dikta; mimpi yang pada akhirnya harus pupus di tangan penyakit yang mengalahkan Papa. Tapi, Dikta tak pernah sekalipun menyalahkan Tuhan karena memisahkan Dikta dengan Papa. Dikta tahu, semua yang terjadi di hidup Dikta pasti ada alasannya dan kehilangan Papa pun menjadi salah satunya. Meski sekarang Dikta baru belajar untuk memahami itu, Dikta tahu suatu hari nanti Dikta akan mengerti seluruhnya alasan di balik semua ini.

Pa, Dikta juga menyadari, meskipun Dikta gak bisa lihat Papa sekarang, Dikta tahu Papa selalu ada di samping Dikta. Bersama malaikat pelindung Dikta, Papa selalu menjaga Dikta dari segala mara bahaya. Maka dari itu, Pa, bantu Dikta menemukan belahan jiwa Dikta. Begitu banyak laki-laki di dunia ini, Dikta tak tahu yang mana di antara mereka adalah laki-laki terbaik yang akan menjaga Dikta sama seperti Papa menjaga Dikta. Jangan biarkan Dikta memilih laki-laki yang salah, Dikta pasti akan terluka dalam proses mencari dan menemukan ini, tapi Dikta percaya Papa tak akan membiarkan Dikta patah hati berkali-kali.

Selain itu, Dikta juga akan berdoa dan terus bertanya kepada Tuhan; Dikta pun akan mendengarkan pertanda-pertanda dan bahasa dunia karena hanya melalui itu Dikta dapat berkomunikasi dengan Papa. Dikta percaya, suatu hari nanti Dikta akan menemukan laki-laki itu karena semesta akan bersatu untuk menolong Dikta menemukannya.

Dan Papa adalah bagian dari semesta itu.

🙂

Sebagai penutup, Pa, Dikta hanya ingin membertahu satu hal pada Papa. Hal yang seharusnya Dikta ungkapkan lebih sering pada Papa ketika Dikta punya kesempatan itu…

Pa, Dikta mencintai Papa.

Dari gadis kecilmu,

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 6 Februari 2016

#6 To My Future Husband: Space

Sepertinya aku perlu jeda.

Terlalu banyak cinta yang ingin aku ungkapkan padamu hingga akhirnya aku bingung bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkannya. Aku bahkan punya daftar hal-hal apa saja yang akan kutulis dalam surat-suratku—semua berkisah tentangku serta harapan-harapan di masa depan kita. Namun, pada akhirnya aku tidak menggunakannya sebagai acuan karena setiap hari ketika aku terbangun, selalu ada hal menarik yang ingin aku kisahkan padamu.

Hanya saja, hari ini berbeda, hari ini berjalan terlalu biasa bagiku. Aku terbangun dan semua terasa hampa. Kepalaku kosong hingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain mandi dan membuka laptop untuk menulis surat untukmu. Aku bahkan lupa sarapan, hanya air yang masuk ke tubuhku ketika aku mulai menulis surat ini karena sepanjang pagi sampai siang tak ada satu kata pun yang terlontar. Akhirnya, aku menulis surat aneh ini.

Mungkin, seperti itulah cinta.

To much love will kill you.

Aku pernah membaca kalimat itu di sebuah buku dan sepertinya itu benar. Aku percaya cinta bukan sesuatu yang harus di jalani dengan berlebihan. Aku tak perlu kata-kata romantis setiap hari; janji dan harapan di ungkapkan tanpa henti. Terkadang, aku perlu jeda, untuk sekadar diam dan merenungi semuanya. Apakah semua sudah benar atau belum?

Ini baru surat hari keenam, namun aku tahu, kamu pasti sudah bosan dengar segala kisah tentangku dan tentang semua hal yang mungkin saja tidak kamu mengerti. Tapi untuk sekarang aku hanyalah seorang gadis kesepian, aku belum bertemu denganmu, kamu terasa jauh sekali dari jangkauan tanganku—sosok kabur di masa depanku yang abu-abu. Jadi untuk hari ini, aku ingin memberi jeda bagimu pun diriku sendiri. Untuk sekadar mengingatkan diri kita, bahwa ketika kamu mengulang sebuah kata secara terus menerus, kata itu akan kehilangan makna magisnya yang istimewa.

‘Aku mencintaimu.’

Simpan kalimat itu di hatimu dan tunjukkan padaku maknanya. Aku tak perlu mendengarnya setiap hari, ungkapkan saja di momen-momen tertentu saat kamu benar-benar perlu mengatakannya, karena aku pun akan berbuat demikian. Aku tidak akan membanjirimu dengan surat-surat cinta atau kata-kata penuh pujaan setiap hari, meski aku ingin melakukannya begitu. Karena sesungguhnya cinta bukanlah sesuatu yang hanya diungkapkan dengan kata-kata, namun diabadikan dengan perbuatan.

Yah, cinta tanpa perbuatan sama dengan mati. So, show me love, don’t just tell.

Dari gadismu

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 5 Feruari 2016

P.S:
Aku akan kembali menulis surat untukmu dua hari lagi, karena besok dan lusa aku akan menulis surat untuk orang lain. Hehe. Jangan cemburu.

#5 To My Future Husband: Football

GOAL!!!

Hal terbaik yang terjadi pagi ini adalah pemberitahuan bahwa FC Barcelona memenangkan laga semi final Copa Del Rey melawan Valencia FC dengan skor 7-0! Wohoooo! Forca Barca! Més que un Club!

Hehehe. Ah, maaf, belum apa-apa aku sudah bertindah hype seperti ini. Kamu pasti langsung memalingkan muka dan geleng-geleng kepala menahan tawa, tapi tidak papa, aku pasti suka sekali ketika melihatmu tertawa.

Anyway, cerita sedikit tentang kegiranganku pagi ini. Yah, aku suka sepak bola. Sejak dua tahun belakangan ini aku mulai rajin mengikuti berita-berita bola dan mem-follow akun-akun meme bola atau fakta-fakta tentang bola di instagram juga twitter. Aku pribadi sih gak pernah ikut fanwar, tapi kadang membaca komentar saling ejek antar penggemar itu begitu menggelikan. Hahaha.

Kemudian, setiap penggemar sepak bola pasti memiliki junjungannya masing-masing, dan tentu saja aku punya. Sampai sekarang, aku mengikuti dua klub bola di dua liga yang berbeda, yaitu Manchester United di EPL dan FC Barcelona di La Liga. Aku menintai kedua klub bola itu dengan alasan yang jauh berbeda.

Pertama, aku mulai menyukai MU karena prihatin. Kala aku mulai menggemari MU, kondisi tim sedang dalam masa berduka karena Sir Alex pensiun dan meninggalkan mereka. Penggantinya adalah David Moyes, orang yang ditunjuk sendiri oleh Sir Alex. Namun, mungkin karena tekanan memegang klub besar dan pemain yang hatinya masih tak rela, MU menggelepar jatuh ke posisi tujuh klasmen di musim pertama bersama David Moyes. Saat itu, melihat klub yang sedang berjuang mengembalikan kejayaan masa lalu mereka, aku pun mendukung mereka sebagai bantuan moral dari penggemar bermodal doa.

Sementara itu, di waktu yang sama, aku pun jatuh cinta pada Barcelona. Mencintai Barcelona tidak kualami dalam waktu instan. Ada proses panjang di sana yang aku sendiri baru menyadarinya ketika menulis surat ini untukmu. Mula-mula, perkenalanku dengan Barcelona adalah saat aku menonton film biografi Leonel Messi di salah satu televisi swasta. Dalam film tersebut aku begitu terkagum dengan talenta dan kecintaan Messi pada sepak bola, pelan-pelan rasa kagum itu pun membuatku semakin bersemangat mencari berita tentang Barcelona meski masih begitu apatis.

Kala itu, Barcelona kondisinya tidak jauh berbeda dengan MU. Sejak ditinggal Pep Guardiola, kondisi klub naik turun seperti roller coaster. Namun, seiring berjalannya waktu, klub itu pun kembali ke kondisi terbaiknya saat Luise Enrique memegang kendali atas mantan klubnya itu pada musim 2014 – 2015 kemarin. Tak tanggung-tanggung, lima piala bergengsi diserahkan pada fans dan semua orang pun tak bisa memungkiri bahwa Barcelona adalah klub sepak bola terbaik di dunia.

Namun, terlepas dari kondisi kedua klub itu yang jauh berbeda musim ini—MU posisi lima di EPL dan Barcelona memuncaki klasmen. Ada satu hal luar biasa yang kupelajari dari mencintai mereka, yaitu…

Setia.

Menilik MU yang sedang terseok-seok di tangga klasmen, barang tentu merupakan cobaan terberat bagi penggemarnya. Caci maki di media sosial, puasa euforia, dan haus akan gol-gol indah serta pemainan memukau adalah kondisi sehari-hari bagi fans. Tak jarang fans yang hatinya tak kuasa menahan tekanan akhirnya berhenti berharap lalu menghilang. Sebenarnya, aku pun begitu, ketika aku ingin menulis surat ini, ada sebagian dari diriku untuk mengabaikan MU dan tak turut mengisahkannya. Namun, cinta sudah memilih, hahaha, harapan itu ternyata masih ada di lubuk hatiku yang paling dalam karena suatu hari nanti di masa depan, aku ingin merasakan kegirangan bersama mereka saat melihat mereka mengangkat piala kemenangan.

Ya, banyak fans yang berhenti berharap dan menghilang, namun tak sedikit pula yang bertahan dan setia. Mereka yang bertahan melalui cobaan berat ini—fans-fans setia yang menyayangi sebuah klub sepak bola sama seperti anaknya sendiri—akan terus percaya bahwa klub merekalah yang terbaik. Salah seorang penggemar bola pernah berkata, ‘Aku bisa berganti agama, istri, atau pun pekerjaan. Namun, aku tak akan pernah berganti klub bola.’ Jadi, apa pun kondisi klubmu, entah mereka berada di puncak atau pun terseok di dasar, fans-fans setia seperti ini masih ada dan mencintai dengan setia.

Di lain pihak, aku tidak belajar kesetiaan dari fans Barcelona karena mereka memiliki pendukung yang begitu loyalitas. Aku justru belajar kesetiaan dari klub itu sendiri. Berbeda dengan MU yang mengajariku tentang kesetiaan di tengah badai cobaan, Barcelona mengajariku untuk merawat kesetiaan itu. Momen ketika aku menyadari fakta ini adalah ketika salah satu legenda hidup Barcelona, Xavi Hernandez, memutuskan untuk penutup karirnya di La Liga. Ada sebuah statement yang memukauku ketika ia mengungkapkan alasannya untuk melanjutkan karirnya di liga timur tengah.

‘Aku tidak ingin pindah ke klub Eropa yang memiliki kesempatan untuk melawan Barcelona di kemudian hari.’

Sebegitu besarkah cintakah Xavi pada Barcelona hingga ia tak ingin melawan mantan klubnya itu? Aku bertanya-tanya, hingga akhirnya aku menyadari, bahwa tak hanya Xavi yang merasakah hal yang sama. Namun, nyaris seluruh deretan legenda yang memutuskan untuk memulai serta menutup karir di Barcelona pun begitu. Teringat lagi di benakku tentang Leonel Messi yang menderita gangguan pada hormon pertumbuhannya dulu, namun, dengan penuh rasa percaya Barcelona mengontraknya dan menjamin seluruh biaya perawatan bocah yang hanya bermodalkan mimpi untuk merumput itu. Hingga akhirnya, kini Leonel Messi dikenal sebagai pemain bola terbaik di dunia dan mewujudkan mimpi-mimpinya bersama Barcelona.

Kesetiaan tidak akan tumbuh tanpa rasa percaya yang begitu besar dan Messi membalas kepercayaan Barcelona dengan kesetiaannya.

Més que un Club.

Aku tidak benar-benar mengerti jargon yang berarti ‘Bukan Sekadar Klub Biasa’ itu hingga aku menulis surat ini.

Mungkin bagi sebagian orang, penggemar sepak bola adalah orang yang membuang-buang waktu—bertengkar hanya karna sekumpulan orang yang berebut bola di lapangan. Namun, mencintai sepak bola dan mengilhaminya dengan baik berbeda dengan orang-orang yang hanya tahu caranya menjadi anarkis. Hubungan antara fans dan klub sepak bola kegemarannya adalah hubungan yang tak akan pernah bisa kamu debatkan di atas meja. Sama seperti hubungan percintaan.

Aku mengisahkan panjang lebar tentang sepak bola kegemaranku ini bukan karena aku ingin membuatmu mati kebosanan. Aku ingin memberitahumu bahwa kesetiaan adalah pondasi dari hubungan yang kokoh. Kesetiaan berkaitan erat dengan kepercayaan yang diberikan satu sama lain, kamu tidak akan pernah mendapatkan kesetiaanku jika hatimu belum percaya padaku, begitu juga denganku.

Ketika aku menyerahkan hati untuk mencintaimu, di waktu yang bersamaan aku mempercayakan seluruh hidupku pada hubungan ini. Aku tidak mengharapkan apa pun darimu selain kesetiaan yang kamu curahkan padaku. Aku juga tahu, hubungan kita tidak akan selalu berada di atas, akan ada waktunya aku terjatuh dan kepercayaan diriku pupus akan hubungan kita. Namun, aku harap kamu masih akan ada di sisiku, membuatku kembali percaya dan menunjukkan kesetianmu padaku.

Setiap hubungan memiliki cara mencintanya masing-masing, maka dari itu, aku berharap cinta kita kelak dapat dibangun berlandasan kesetiaan juga rasa percaya terhadap satu sama lain.

Well, in the end… surat ini sepertinya sudah terlalu panjang, semoga kamu mengerti apa yang ingin aku sampaikan hari ini padamu, bahwa semua ini bukan tentang antara dua pihak—klub sepak bola dan fansnya atau antara kamu dan aku—namun, tentang sebuah hubungan. Bagaimana caranya hubungan ini tetap ada dan sakral?

Kamu pasti sudah tahu jawabannya.

🙂

Dari gadis penggila bola

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 4 Februari 2016

#4 To My Future Husband: Rain

Pagi ini hujan turun lagi di Yogyakarta.

Musim penghujan sepertinya urung berlalu meski kini bulan kedua sudah terbit. Katanya, bulan ini justru puncaknya musim hujan dan ketika aku mengetahui hal itu, hatiku langsung meringis.

Aku benci dingin.

Lebih baik aku terbakar matahari ketimbang membeku seperti di dalam lemari es. Namun, manusia selalu penuh dengan kontradiksi, aku memang membenci dingin, tapi aku suka hujan. Dalam hatiku, hujan selalu membawa berkah tersendiri—kecuali dingin yang menggigit, tentu saja—bahwa Tuhan tengah mematikan api di bumi.

Kalimantan, setiap tahunnya, selalu diliputi asap tebal akibat kebakaran hutan. Musim kemarau begitu menyengsarakan di sana dan aku mengalaminya setiap tahun kala masih tinggal di sana. Rasanya begitu menyiksa, sekolah-sekolah libur, jalanan penuh dengan asap, dan aku tak bisa bernapas dengan baik. Kondisi itu berlangsung berbulan-bulan dan ketika Desember datang membawa hawa hujan, aku selalu berdoa pada Tuhan agar hujan itu berlangsung selama seminggu penuh.

Tidak papa mati kedinginan, asal hujan datang dan menyapu semua api di bumi borneo. Lalu, hujan benar-benar turun dan kegiranganku tak pernah luntur sampai hujan itu berhenti.

Maka dari itu, euforia seperti itu terus membekas di ingatanku. Kadang, ketika hujan turun dengan derasnya dan aku tengah berkendara di jalan yang sepi, tanpa sungkan aku tertawa dan berteriak untuk menyaingi suara petir yang bergemuruh. Aku juga suka aroma hujan; petrichor. Aromanya aneh, tapi begitu cocok dengan jendela perpustakaan kampusku hingga membentuk kombinasi magisnya tersendiri.

Biasanya, ketika hujan turun dan aku terjebak di kampus, aku memilih untuk melipir ke perpustakaan atau menikmati suara hujan di selasar kampus. Aku biasa melakukannya sendiri atau berdua dengan seorang sahabatku yang juga sama cerewetnya denganku. Kami akan mengobrol berdua sampai senja menyingsing dan malam pun datang atau jika kami terlalu lelah untuk mengobrol, tidur pun menjadi pilihan yang baik—nyanyian hujan begitu meninabobokan, kataku dalam hati, tiap kantuk menyerang.

Dan hari ini, ketika hujan turun rintik-rintik, aku mengira-ngira apa hujan juga sedang turun di tempatmu?

Bagiamana perasaanmu pada hujan? Apa kamu menyukainya sama seperti aku? Entahlah, aku belum tahu sampai nanti kita bertemu. Namun, untuk sekarang, bolehkah aku berkhayal tentang kita saat hujan turun?

Aku ingin, saat hujan turun, di Minggu sore saat kita terlalu malas untuk melakukan sesuatu selain bermalas-malasan. Aku membayangkan diri kita sedang duduk di atas kasur—kamu bersandar di dinding dan aku berada di antara kedua kakimu. Dagumu bertumpu pada bahuku dan aku akan meletakan kepala di dadamu. Kedua tanganmu merengkuh tubuhku erat sementara jemariku membalas pelukanmu lembut. Benturan hujan pada kaca jendela mengisi suara di antara kita. Kamu memejamkan mata, mengembuskan napas hangat ke tengkukku sementara aku terkekeh geli. Selebihnya, kita tak mengatakan apa pun, cukup detak jantung yang memburu di rongga dada yang mengungkapkan segalanya. Dan begitu saja…

Semua terasa tepat.

Ah…

Salahkan saja hujan, hujan membuatku senang sekaligus melankolis. Khayalan itu mungkin terbaca konyol dan kamu akan tertawa karenanya, namun itu hanyalah segelintir momen kecil yang membuatku merasa begitu bahagia dan dicintai. Kuharap kita akan melakukannya suatu hari nanti dengan perasaan yang sama seperti saat aku mengkhayalkannya.

🙂

Akhir kata, diiringi rinai hujan yang mencium bumi, sampai jumpa di musim hujan selanjutnya. Aku harap hujan terus turun, Tuan, sama seperti rangkaian kata yang akan terus aku curahkan pada sosokmu di masa depan.

Dari gadis yang basah oleh hujan

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 3 Februari 2016

#3 To My Future Husband: Drama

Korean Drama is Bullsh*t.

Maaf, jika aku memaki dan membuatmu kaget, surat cinta macam apa yang dibuka dengan makian seperti ini. Tapi… ah, aku sudah tak tahan.

Hari ini aku terbangun pagi sekali dan seperti biasa melirik smartphone hanya untuk melakukan rutinitas kaula muda kekinian sambil mengira-ngira surat macam apa yang akan aku tulis untukmu. Namun, tiba-tiba saja kesadaran ini datang dan aku langsung meloncat ke laptop-ku untuk menulis makian di atas. Hahaha. Maafkan tingkah implusifku, ide selalu datang di saat yang tidak terduga. Mari, aku ceritakan saja alasan kenapa drama korea benar-benar membuatku kesal.

Sebagai salah satu mahasiswi jurusan Bahasa Korea yang sehari-hari berkutat dengan kacang polong (huruf hangeul red.), aku pun harus mengerti bagaimana kehidupan di negara yang bahasanya aku pelajari itu. Cara paling mudah untuk belajar adalah dengan melahap drama-drama Korea yang belakangan sangat populer di kalangan anak muda. Well, yah… jangan salah sangka, aku suka drama Korea, kalau tidak suka mana mungkin aku menghabiskan berjam-jam waktu tidurku untuk menontonnya. Namun, ada satu hal yang kuyakini pasti, drama Korea penuh dengan omong kosong.

Kebanyakan drama Korea akan menyuguhimu beragam kisah yang tak biasa, dari action, sci-fic, dan lain-lain. Namun, pada dasarnya, semua sama… it’s all about love. Drama Korea menggambarkan cinta sedemikan rupa hingga mencemari isi kepala para penikmatnya—termasuk aku. Dimulai dari tokoh utamanya yang selalu digambarkan begitu sempurna dengan pria tampan dan kaya serta perempuan cantik serta baik hati. Lalu cerita drama tersebut menyilangkan takdir dua insan yang karakternya jauh berbeda tersebut dengan sebuah kejadian yang mengubah hidup keduanya dan hal klise terjadi. Si pria akan bersimpati akan kondisi perempuan tersebut dan terkesima dengan mimpi-mimpi besarnya, lantas si perempuan akan menambatkan hati pada pria angkuh namun diam-diam baik hati itu. Konflik-konflik dalam hubungan sejoli ini biasanya beragam, namun yang paling standar adalah munculnya orang ketiga, pembalasan dendam, si perempuan yang terlilit hutang, perebutan harta di perusahaan si pria, dan yang terakhir penyakit-penyakit yang di derita para tokoh. Namun, apa pun konflik yang ada di dalam drama Korea, cinta tetaplah cinta dan ia selalu dimaknai dengan akhir yang bahagia.

Cinta mengalahkan segalanya.

Ah, sekuat itukah makna cinta digambarkan? Aku tak bisa mendebatnya karena aku sendiri setuju dengan itu. Namun, yang sangat disayangkan adalah drama Korea mencoba untuk menggambarkan cinta sedemikian rumitnya dengan beragam konflik hingga memberi doktrin pada otak penikmatnya bahwa begitulah cinta seharusnya—drama Korea membentuk standar bagi cinta.

So, that’s why… Korean Drama is bullsh*t.

Cinta tidak punya standar.

Sekarang, aku tinggal berempat dengan tiga orang sahabatku yang lain, semuanya perempuan, dan semua perempuan di rumah ini penggemar berat drama Korea. Ketika kami berempat menonton drama Korea, kami selalu seru mendebat tentang segalanya, tentang tokohnya, tentang jalan ceritanya, tentang diri kami sendiri, juga tentang khayalan konyol kami. Seiring berjalannya waktu, aku kira semua temanku akan termakan standar cinta yang disuguhkan oleh drama Korea itu, namun ketika aku melihat mereka lebih jeli dengan segala perdebatan-perdebatan kami saat menonton drama Korea. Mereka berhasil menemukan cinta tanpa terpengaruh pada standar cinta dalam drama-drama yang kami tonton. Mereka berhasil membedakan kenyataan dan khayalan, lalu mengamankan hati mereka pada harapan-harapan semu tentang kekasih ideal—cinta mereka tulus pada pasangan mereka masing-masing.

Dan aku pun akan melakukan hal yang sama.

Ketika aku melihat mereka, aku pun memikirkanmu serta diri kita di masa depan. Aku tidak akan meletakan hatiku begitu tinggi pun rendah, aku akan memposisikan diriku setara dengamu. Aku tak akan mengharapkan yang tidak-tidak tentangmu—kamu tak harus tampan atau kaya seperti di drama-drama. Cukuplah kamu menjadi dirimu sendiri dan aku akan mencintaimu, tidak dengan apa adanya atau ada apanya, aku akan mencintaimu dan kita akan tumbuh bersama.

Aku tidak melarang dirimu menjadi tampan atau kaya, namun, yang paling membahagiakanku jika kamu tampan atau kaya karenaku. Akulah yang akan mendukungmu menjadi sosok yang sukses; diam-diam menjadikanmu sosok yang perempuan lain idamkan tanpa mereka sadari bahwa akulah dalang dari semuanya. Aku akan mencintaimu seperti itu dan demi menjadi perempuan yang pantas untukmu aku akan mempersiapkannya dari sekarang.

Tapi, jangan meletakan standar cinta padaku juga. Mungkin saja takdir mempertemukan kita lebih awal dan aku belum menjadi perempuan yang kamu inginkan untuk mendukungmu, maka dari itu, bantulah aku menjadi perempuan yang seperti itu. Ajari aku dan bimbing aku, kenali aku hingga kamu tahu cara untuk menegur dan menasihatiku dengan baik. Aku akan senang sekali jika hubungan kita berjalan beriringan dengan membaiknya pribadi kita masing-masing.

Karena ketika kita bersama, kita bukan lagi dua melainkan satu.

Hehe.

Jadi, akhir kata sebagai penutup suratku hari ini, aku ingin mengingatkanmu kembali maksud makianku di awal. Bahwa sebenarnya cinta tak serumit di dalam drama Korea, Tuan. Tak perlu menyulitkan diri dengan mengagung-agungkan cinta dan meletakan perasaan itu setinggi-tingginya, karena cinta akan datang saat semuanya sudah tepat. Itu rahasia semesta.

Dari gadis penyuka Drama Korea

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 2 Februari 2016

#2 To My Future Husband: Angkringan

Ada satu hal yang harus kamu tahu tentangku.

Aku suka makan.

Makan bagiku tidak hanya kebutuhan primer namun juga tersier. Aku tak perlu pakaian indah atau berlian berkarat-karat, just feed me and I will love you forever. Hehehe.

Maaf ya, tiba-tiba saja membuka surat dengan fakta konyol tentang diriku. Hanya saja, aku penasaran dengan reaksimu jika bertemu dengan perempuan yang suka makan. Apalagi karena hobi makan ini berat badanku jadi tidak terkontrol. Agak bikin frustasi memang, tapi aku sedang berusaha untuk menahan hasrat wisata kulinerku dengan melakukannya beberapa kali sebulan saja. Well, aku masih punya waktu tiga tahun untuk menjelajahi kuliner di Kota Pelajar ini sih. Jadi, tak usah terburu-buru, tapi… ah, memang ya, Yogyakarta surga makanan enak juga murah.

Terberkatilah orang yang menciptakan angkringan dan segala isinya gerobaknya yang murah meriah itu.

Aku tidak pernah menemukan tempat makan seperti itu di pulau asalku—Kalimantan. Jadi, ketika pertama kali aku ke Yogyakarta untuk mengejar status mahasiswa, aku benar-benar terkesima dengan banyaknya angkringan di setiap sudut jalanan kota ini. Kadang-kadang, ada sebuah ide gila tercetus di benakku: ‘bagaimana jika aku makan di setiap angkringan yang ada di kota ini’. Namun, tentu saja, ide gila itu hanya sekadar ide. Hahaha. Aku tidak pernah melaksanakannya karena aku sendiri jarang makan di angkringan.

Ah, bukan, bukan karena aku tidak mau atau risih. Aku jarang makan di angkringan karena aku tidak punya teman yang bisa kuajak ke sana.

Kebanyakan temanku lebih senang makan di tempat-tempat yang lebih bersih atau restoran yang menyediakan makan pokok yang berporsi besar, hingga angkringan adalah tempat terakhir yang mereka kunjungi. Makanya, kadang-kadang, kalau aku lagi kepengen makanan dari angkringan, aku hanya bisa membeli lalu makan di kontrakan. Yah, mau gak mau ya begitu deh, karena bagiku sendiri angkringan memang bukan tempat untuk mengenyangkan perut melainkan tempat untuk mengobrol.

Menilik lokasinya serta makanan yang disediakan di angkringan—nasi kucing serta beragam makanan kecil seperti gorengan dan tahu-tempe bacem. Barang tentu jika mencari kenyang, di sana bukanlah tempatnya. Aku senang melihat bagiamana orang berkumpul di angkringan dan tawa mereka menggelegar sampai keluar tenda. Yang datang makan di sana juga tak hanya kuli bangunan yang bekerja dengan peluh keringat, kadang pria berkemeja rapi pun kulihat duduk santai bersama yang lain; tua-muda berbaur menjadi satu. Hingga kelakar serta kata-kata yang tertukar di angkringan begitu beragam, tentang keluarga, pekerjaan, hingga pemerintah.

Aku kagum, kadang kebahagiaan kecil itu bisa datang dari tempat yang tak terduga.

Aku tahu apa yang ada dipikiranmu sekarang ini. Kamu pasti bingung kenapa tiba-tiba saja surat ini berkisah tentang angkringan dan segala tetek bengeknya. Namun, ada satu hal lagi yang aku ingin kamu tahu, selain makanan enak, aku juga suka mengobrol.

Mengobrol—lebih-lebih mengobrol sambil makan—adalah salah satu kegiatan yang magis bagiku. Ketika aku berbicara denganmu dan melihat langsung ke dalam matamu, aku merasa bisa mempelajari seluruh hidupmu. Sama halnya ketika kamu yang melihatku begitu lekat ketika aku sedang bicara, meski kadang merasa risih, aku senang karena merasa hanya ada aku di duniamu saat itu.

Ah, that feeling… ketika seluruh dunia hanya milik kita berdua dan hanya suaramu yang menggema di telingaku. Aku menginginkannya, sesering mungkin, ketika kita bertemu nanti.

Aku ingin jadi tempatmu bercerita tentang hari dan kekonyolan hidupmu; mimpi-mimpi masa depanmu juga hal-hal yang memberatkannya. Aku mungkin tak bisa membantu menyelesaikan masalah-masalahmu; aku mungkin tak bisa berbuat apa-apa, tapi setidaknya kamu tahu, aku ada—di mana pun kamu menginginkan aku berada untukmu.

Meski begitu saja, aku tahu hal itu dapat membuatmu merasa lebih baik karena mengetahui bahwa ada seseorang di muka bumi ini yang mau mendengarkan segala hal bodoh yang ada di kepalamu dan menjadi tempatmu pulang untuk beristirahat sejenak adalah perasaan yang luar biasa.

Begitu juga denganku. Aku memerlukan seseorang seperti itu—yang senang hati mendengarkan segala hal yang berloncatan di kepalaku. Seseorang yang tak akan segan tertawa pada hal-hal aneh yang kutemui setiap harinya; seseorang yang akan mendengarkanku dengan saksama ketika aku menceritakan masalahku; seseorang yang akan memelukku ketika aku menangis; seseorang yang tahu bahwa aku tidak memerlukan kata-kata penghiburan kopong melainkan telinga yang setia mendengar.

Dan aku ingin kamulah orangnya.

Tidak perlu restoran mewah dan mahal, Tuan, cukup angkringan di tepi jalan dan kamu ada di sana bersamaku—bertukar kisah tentang masa-masa ketika kita belum berjumpa—maka, semesta pun menjadi milik kita berdua.

Hehe.

Jadi, mau menjelajah angkringan di seluruh Yogya bersamaku?

Dari gadis cerewet yang suka makan

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 1 Februari 2016