#2 To My Future Husband: Angkringan

Ada satu hal yang harus kamu tahu tentangku.

Aku suka makan.

Makan bagiku tidak hanya kebutuhan primer namun juga tersier. Aku tak perlu pakaian indah atau berlian berkarat-karat, just feed me and I will love you forever. Hehehe.

Maaf ya, tiba-tiba saja membuka surat dengan fakta konyol tentang diriku. Hanya saja, aku penasaran dengan reaksimu jika bertemu dengan perempuan yang suka makan. Apalagi karena hobi makan ini berat badanku jadi tidak terkontrol. Agak bikin frustasi memang, tapi aku sedang berusaha untuk menahan hasrat wisata kulinerku dengan melakukannya beberapa kali sebulan saja. Well, aku masih punya waktu tiga tahun untuk menjelajahi kuliner di Kota Pelajar ini sih. Jadi, tak usah terburu-buru, tapi… ah, memang ya, Yogyakarta surga makanan enak juga murah.

Terberkatilah orang yang menciptakan angkringan dan segala isinya gerobaknya yang murah meriah itu.

Aku tidak pernah menemukan tempat makan seperti itu di pulau asalku—Kalimantan. Jadi, ketika pertama kali aku ke Yogyakarta untuk mengejar status mahasiswa, aku benar-benar terkesima dengan banyaknya angkringan di setiap sudut jalanan kota ini. Kadang-kadang, ada sebuah ide gila tercetus di benakku: ‘bagaimana jika aku makan di setiap angkringan yang ada di kota ini’. Namun, tentu saja, ide gila itu hanya sekadar ide. Hahaha. Aku tidak pernah melaksanakannya karena aku sendiri jarang makan di angkringan.

Ah, bukan, bukan karena aku tidak mau atau risih. Aku jarang makan di angkringan karena aku tidak punya teman yang bisa kuajak ke sana.

Kebanyakan temanku lebih senang makan di tempat-tempat yang lebih bersih atau restoran yang menyediakan makan pokok yang berporsi besar, hingga angkringan adalah tempat terakhir yang mereka kunjungi. Makanya, kadang-kadang, kalau aku lagi kepengen makanan dari angkringan, aku hanya bisa membeli lalu makan di kontrakan. Yah, mau gak mau ya begitu deh, karena bagiku sendiri angkringan memang bukan tempat untuk mengenyangkan perut melainkan tempat untuk mengobrol.

Menilik lokasinya serta makanan yang disediakan di angkringan—nasi kucing serta beragam makanan kecil seperti gorengan dan tahu-tempe bacem. Barang tentu jika mencari kenyang, di sana bukanlah tempatnya. Aku senang melihat bagiamana orang berkumpul di angkringan dan tawa mereka menggelegar sampai keluar tenda. Yang datang makan di sana juga tak hanya kuli bangunan yang bekerja dengan peluh keringat, kadang pria berkemeja rapi pun kulihat duduk santai bersama yang lain; tua-muda berbaur menjadi satu. Hingga kelakar serta kata-kata yang tertukar di angkringan begitu beragam, tentang keluarga, pekerjaan, hingga pemerintah.

Aku kagum, kadang kebahagiaan kecil itu bisa datang dari tempat yang tak terduga.

Aku tahu apa yang ada dipikiranmu sekarang ini. Kamu pasti bingung kenapa tiba-tiba saja surat ini berkisah tentang angkringan dan segala tetek bengeknya. Namun, ada satu hal lagi yang aku ingin kamu tahu, selain makanan enak, aku juga suka mengobrol.

Mengobrol—lebih-lebih mengobrol sambil makan—adalah salah satu kegiatan yang magis bagiku. Ketika aku berbicara denganmu dan melihat langsung ke dalam matamu, aku merasa bisa mempelajari seluruh hidupmu. Sama halnya ketika kamu yang melihatku begitu lekat ketika aku sedang bicara, meski kadang merasa risih, aku senang karena merasa hanya ada aku di duniamu saat itu.

Ah, that feeling… ketika seluruh dunia hanya milik kita berdua dan hanya suaramu yang menggema di telingaku. Aku menginginkannya, sesering mungkin, ketika kita bertemu nanti.

Aku ingin jadi tempatmu bercerita tentang hari dan kekonyolan hidupmu; mimpi-mimpi masa depanmu juga hal-hal yang memberatkannya. Aku mungkin tak bisa membantu menyelesaikan masalah-masalahmu; aku mungkin tak bisa berbuat apa-apa, tapi setidaknya kamu tahu, aku ada—di mana pun kamu menginginkan aku berada untukmu.

Meski begitu saja, aku tahu hal itu dapat membuatmu merasa lebih baik karena mengetahui bahwa ada seseorang di muka bumi ini yang mau mendengarkan segala hal bodoh yang ada di kepalamu dan menjadi tempatmu pulang untuk beristirahat sejenak adalah perasaan yang luar biasa.

Begitu juga denganku. Aku memerlukan seseorang seperti itu—yang senang hati mendengarkan segala hal yang berloncatan di kepalaku. Seseorang yang tak akan segan tertawa pada hal-hal aneh yang kutemui setiap harinya; seseorang yang akan mendengarkanku dengan saksama ketika aku menceritakan masalahku; seseorang yang akan memelukku ketika aku menangis; seseorang yang tahu bahwa aku tidak memerlukan kata-kata penghiburan kopong melainkan telinga yang setia mendengar.

Dan aku ingin kamulah orangnya.

Tidak perlu restoran mewah dan mahal, Tuan, cukup angkringan di tepi jalan dan kamu ada di sana bersamaku—bertukar kisah tentang masa-masa ketika kita belum berjumpa—maka, semesta pun menjadi milik kita berdua.

Hehe.

Jadi, mau menjelajah angkringan di seluruh Yogya bersamaku?

Dari gadis cerewet yang suka makan

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 1 Februari 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s