#3 To My Future Husband: Drama

Korean Drama is Bullsh*t.

Maaf, jika aku memaki dan membuatmu kaget, surat cinta macam apa yang dibuka dengan makian seperti ini. Tapi… ah, aku sudah tak tahan.

Hari ini aku terbangun pagi sekali dan seperti biasa melirik smartphone hanya untuk melakukan rutinitas kaula muda kekinian sambil mengira-ngira surat macam apa yang akan aku tulis untukmu. Namun, tiba-tiba saja kesadaran ini datang dan aku langsung meloncat ke laptop-ku untuk menulis makian di atas. Hahaha. Maafkan tingkah implusifku, ide selalu datang di saat yang tidak terduga. Mari, aku ceritakan saja alasan kenapa drama korea benar-benar membuatku kesal.

Sebagai salah satu mahasiswi jurusan Bahasa Korea yang sehari-hari berkutat dengan kacang polong (huruf hangeul red.), aku pun harus mengerti bagaimana kehidupan di negara yang bahasanya aku pelajari itu. Cara paling mudah untuk belajar adalah dengan melahap drama-drama Korea yang belakangan sangat populer di kalangan anak muda. Well, yah… jangan salah sangka, aku suka drama Korea, kalau tidak suka mana mungkin aku menghabiskan berjam-jam waktu tidurku untuk menontonnya. Namun, ada satu hal yang kuyakini pasti, drama Korea penuh dengan omong kosong.

Kebanyakan drama Korea akan menyuguhimu beragam kisah yang tak biasa, dari action, sci-fic, dan lain-lain. Namun, pada dasarnya, semua sama… it’s all about love. Drama Korea menggambarkan cinta sedemikan rupa hingga mencemari isi kepala para penikmatnya—termasuk aku. Dimulai dari tokoh utamanya yang selalu digambarkan begitu sempurna dengan pria tampan dan kaya serta perempuan cantik serta baik hati. Lalu cerita drama tersebut menyilangkan takdir dua insan yang karakternya jauh berbeda tersebut dengan sebuah kejadian yang mengubah hidup keduanya dan hal klise terjadi. Si pria akan bersimpati akan kondisi perempuan tersebut dan terkesima dengan mimpi-mimpi besarnya, lantas si perempuan akan menambatkan hati pada pria angkuh namun diam-diam baik hati itu. Konflik-konflik dalam hubungan sejoli ini biasanya beragam, namun yang paling standar adalah munculnya orang ketiga, pembalasan dendam, si perempuan yang terlilit hutang, perebutan harta di perusahaan si pria, dan yang terakhir penyakit-penyakit yang di derita para tokoh. Namun, apa pun konflik yang ada di dalam drama Korea, cinta tetaplah cinta dan ia selalu dimaknai dengan akhir yang bahagia.

Cinta mengalahkan segalanya.

Ah, sekuat itukah makna cinta digambarkan? Aku tak bisa mendebatnya karena aku sendiri setuju dengan itu. Namun, yang sangat disayangkan adalah drama Korea mencoba untuk menggambarkan cinta sedemikian rumitnya dengan beragam konflik hingga memberi doktrin pada otak penikmatnya bahwa begitulah cinta seharusnya—drama Korea membentuk standar bagi cinta.

So, that’s why… Korean Drama is bullsh*t.

Cinta tidak punya standar.

Sekarang, aku tinggal berempat dengan tiga orang sahabatku yang lain, semuanya perempuan, dan semua perempuan di rumah ini penggemar berat drama Korea. Ketika kami berempat menonton drama Korea, kami selalu seru mendebat tentang segalanya, tentang tokohnya, tentang jalan ceritanya, tentang diri kami sendiri, juga tentang khayalan konyol kami. Seiring berjalannya waktu, aku kira semua temanku akan termakan standar cinta yang disuguhkan oleh drama Korea itu, namun ketika aku melihat mereka lebih jeli dengan segala perdebatan-perdebatan kami saat menonton drama Korea. Mereka berhasil menemukan cinta tanpa terpengaruh pada standar cinta dalam drama-drama yang kami tonton. Mereka berhasil membedakan kenyataan dan khayalan, lalu mengamankan hati mereka pada harapan-harapan semu tentang kekasih ideal—cinta mereka tulus pada pasangan mereka masing-masing.

Dan aku pun akan melakukan hal yang sama.

Ketika aku melihat mereka, aku pun memikirkanmu serta diri kita di masa depan. Aku tidak akan meletakan hatiku begitu tinggi pun rendah, aku akan memposisikan diriku setara dengamu. Aku tak akan mengharapkan yang tidak-tidak tentangmu—kamu tak harus tampan atau kaya seperti di drama-drama. Cukuplah kamu menjadi dirimu sendiri dan aku akan mencintaimu, tidak dengan apa adanya atau ada apanya, aku akan mencintaimu dan kita akan tumbuh bersama.

Aku tidak melarang dirimu menjadi tampan atau kaya, namun, yang paling membahagiakanku jika kamu tampan atau kaya karenaku. Akulah yang akan mendukungmu menjadi sosok yang sukses; diam-diam menjadikanmu sosok yang perempuan lain idamkan tanpa mereka sadari bahwa akulah dalang dari semuanya. Aku akan mencintaimu seperti itu dan demi menjadi perempuan yang pantas untukmu aku akan mempersiapkannya dari sekarang.

Tapi, jangan meletakan standar cinta padaku juga. Mungkin saja takdir mempertemukan kita lebih awal dan aku belum menjadi perempuan yang kamu inginkan untuk mendukungmu, maka dari itu, bantulah aku menjadi perempuan yang seperti itu. Ajari aku dan bimbing aku, kenali aku hingga kamu tahu cara untuk menegur dan menasihatiku dengan baik. Aku akan senang sekali jika hubungan kita berjalan beriringan dengan membaiknya pribadi kita masing-masing.

Karena ketika kita bersama, kita bukan lagi dua melainkan satu.

Hehe.

Jadi, akhir kata sebagai penutup suratku hari ini, aku ingin mengingatkanmu kembali maksud makianku di awal. Bahwa sebenarnya cinta tak serumit di dalam drama Korea, Tuan. Tak perlu menyulitkan diri dengan mengagung-agungkan cinta dan meletakan perasaan itu setinggi-tingginya, karena cinta akan datang saat semuanya sudah tepat. Itu rahasia semesta.

Dari gadis penyuka Drama Korea

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 2 Februari 2016

4 pemikiran pada “#3 To My Future Husband: Drama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s