#4 To My Future Husband: Rain

Pagi ini hujan turun lagi di Yogyakarta.

Musim penghujan sepertinya urung berlalu meski kini bulan kedua sudah terbit. Katanya, bulan ini justru puncaknya musim hujan dan ketika aku mengetahui hal itu, hatiku langsung meringis.

Aku benci dingin.

Lebih baik aku terbakar matahari ketimbang membeku seperti di dalam lemari es. Namun, manusia selalu penuh dengan kontradiksi, aku memang membenci dingin, tapi aku suka hujan. Dalam hatiku, hujan selalu membawa berkah tersendiri—kecuali dingin yang menggigit, tentu saja—bahwa Tuhan tengah mematikan api di bumi.

Kalimantan, setiap tahunnya, selalu diliputi asap tebal akibat kebakaran hutan. Musim kemarau begitu menyengsarakan di sana dan aku mengalaminya setiap tahun kala masih tinggal di sana. Rasanya begitu menyiksa, sekolah-sekolah libur, jalanan penuh dengan asap, dan aku tak bisa bernapas dengan baik. Kondisi itu berlangsung berbulan-bulan dan ketika Desember datang membawa hawa hujan, aku selalu berdoa pada Tuhan agar hujan itu berlangsung selama seminggu penuh.

Tidak papa mati kedinginan, asal hujan datang dan menyapu semua api di bumi borneo. Lalu, hujan benar-benar turun dan kegiranganku tak pernah luntur sampai hujan itu berhenti.

Maka dari itu, euforia seperti itu terus membekas di ingatanku. Kadang, ketika hujan turun dengan derasnya dan aku tengah berkendara di jalan yang sepi, tanpa sungkan aku tertawa dan berteriak untuk menyaingi suara petir yang bergemuruh. Aku juga suka aroma hujan; petrichor. Aromanya aneh, tapi begitu cocok dengan jendela perpustakaan kampusku hingga membentuk kombinasi magisnya tersendiri.

Biasanya, ketika hujan turun dan aku terjebak di kampus, aku memilih untuk melipir ke perpustakaan atau menikmati suara hujan di selasar kampus. Aku biasa melakukannya sendiri atau berdua dengan seorang sahabatku yang juga sama cerewetnya denganku. Kami akan mengobrol berdua sampai senja menyingsing dan malam pun datang atau jika kami terlalu lelah untuk mengobrol, tidur pun menjadi pilihan yang baik—nyanyian hujan begitu meninabobokan, kataku dalam hati, tiap kantuk menyerang.

Dan hari ini, ketika hujan turun rintik-rintik, aku mengira-ngira apa hujan juga sedang turun di tempatmu?

Bagiamana perasaanmu pada hujan? Apa kamu menyukainya sama seperti aku? Entahlah, aku belum tahu sampai nanti kita bertemu. Namun, untuk sekarang, bolehkah aku berkhayal tentang kita saat hujan turun?

Aku ingin, saat hujan turun, di Minggu sore saat kita terlalu malas untuk melakukan sesuatu selain bermalas-malasan. Aku membayangkan diri kita sedang duduk di atas kasur—kamu bersandar di dinding dan aku berada di antara kedua kakimu. Dagumu bertumpu pada bahuku dan aku akan meletakan kepala di dadamu. Kedua tanganmu merengkuh tubuhku erat sementara jemariku membalas pelukanmu lembut. Benturan hujan pada kaca jendela mengisi suara di antara kita. Kamu memejamkan mata, mengembuskan napas hangat ke tengkukku sementara aku terkekeh geli. Selebihnya, kita tak mengatakan apa pun, cukup detak jantung yang memburu di rongga dada yang mengungkapkan segalanya. Dan begitu saja…

Semua terasa tepat.

Ah…

Salahkan saja hujan, hujan membuatku senang sekaligus melankolis. Khayalan itu mungkin terbaca konyol dan kamu akan tertawa karenanya, namun itu hanyalah segelintir momen kecil yang membuatku merasa begitu bahagia dan dicintai. Kuharap kita akan melakukannya suatu hari nanti dengan perasaan yang sama seperti saat aku mengkhayalkannya.

🙂

Akhir kata, diiringi rinai hujan yang mencium bumi, sampai jumpa di musim hujan selanjutnya. Aku harap hujan terus turun, Tuan, sama seperti rangkaian kata yang akan terus aku curahkan pada sosokmu di masa depan.

Dari gadis yang basah oleh hujan

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 3 Februari 2016

2 pemikiran pada “#4 To My Future Husband: Rain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s