#5 To My Future Husband: Football

GOAL!!!

Hal terbaik yang terjadi pagi ini adalah pemberitahuan bahwa FC Barcelona memenangkan laga semi final Copa Del Rey melawan Valencia FC dengan skor 7-0! Wohoooo! Forca Barca! Més que un Club!

Hehehe. Ah, maaf, belum apa-apa aku sudah bertindah hype seperti ini. Kamu pasti langsung memalingkan muka dan geleng-geleng kepala menahan tawa, tapi tidak papa, aku pasti suka sekali ketika melihatmu tertawa.

Anyway, cerita sedikit tentang kegiranganku pagi ini. Yah, aku suka sepak bola. Sejak dua tahun belakangan ini aku mulai rajin mengikuti berita-berita bola dan mem-follow akun-akun meme bola atau fakta-fakta tentang bola di instagram juga twitter. Aku pribadi sih gak pernah ikut fanwar, tapi kadang membaca komentar saling ejek antar penggemar itu begitu menggelikan. Hahaha.

Kemudian, setiap penggemar sepak bola pasti memiliki junjungannya masing-masing, dan tentu saja aku punya. Sampai sekarang, aku mengikuti dua klub bola di dua liga yang berbeda, yaitu Manchester United di EPL dan FC Barcelona di La Liga. Aku menintai kedua klub bola itu dengan alasan yang jauh berbeda.

Pertama, aku mulai menyukai MU karena prihatin. Kala aku mulai menggemari MU, kondisi tim sedang dalam masa berduka karena Sir Alex pensiun dan meninggalkan mereka. Penggantinya adalah David Moyes, orang yang ditunjuk sendiri oleh Sir Alex. Namun, mungkin karena tekanan memegang klub besar dan pemain yang hatinya masih tak rela, MU menggelepar jatuh ke posisi tujuh klasmen di musim pertama bersama David Moyes. Saat itu, melihat klub yang sedang berjuang mengembalikan kejayaan masa lalu mereka, aku pun mendukung mereka sebagai bantuan moral dari penggemar bermodal doa.

Sementara itu, di waktu yang sama, aku pun jatuh cinta pada Barcelona. Mencintai Barcelona tidak kualami dalam waktu instan. Ada proses panjang di sana yang aku sendiri baru menyadarinya ketika menulis surat ini untukmu. Mula-mula, perkenalanku dengan Barcelona adalah saat aku menonton film biografi Leonel Messi di salah satu televisi swasta. Dalam film tersebut aku begitu terkagum dengan talenta dan kecintaan Messi pada sepak bola, pelan-pelan rasa kagum itu pun membuatku semakin bersemangat mencari berita tentang Barcelona meski masih begitu apatis.

Kala itu, Barcelona kondisinya tidak jauh berbeda dengan MU. Sejak ditinggal Pep Guardiola, kondisi klub naik turun seperti roller coaster. Namun, seiring berjalannya waktu, klub itu pun kembali ke kondisi terbaiknya saat Luise Enrique memegang kendali atas mantan klubnya itu pada musim 2014 – 2015 kemarin. Tak tanggung-tanggung, lima piala bergengsi diserahkan pada fans dan semua orang pun tak bisa memungkiri bahwa Barcelona adalah klub sepak bola terbaik di dunia.

Namun, terlepas dari kondisi kedua klub itu yang jauh berbeda musim ini—MU posisi lima di EPL dan Barcelona memuncaki klasmen. Ada satu hal luar biasa yang kupelajari dari mencintai mereka, yaitu…

Setia.

Menilik MU yang sedang terseok-seok di tangga klasmen, barang tentu merupakan cobaan terberat bagi penggemarnya. Caci maki di media sosial, puasa euforia, dan haus akan gol-gol indah serta pemainan memukau adalah kondisi sehari-hari bagi fans. Tak jarang fans yang hatinya tak kuasa menahan tekanan akhirnya berhenti berharap lalu menghilang. Sebenarnya, aku pun begitu, ketika aku ingin menulis surat ini, ada sebagian dari diriku untuk mengabaikan MU dan tak turut mengisahkannya. Namun, cinta sudah memilih, hahaha, harapan itu ternyata masih ada di lubuk hatiku yang paling dalam karena suatu hari nanti di masa depan, aku ingin merasakan kegirangan bersama mereka saat melihat mereka mengangkat piala kemenangan.

Ya, banyak fans yang berhenti berharap dan menghilang, namun tak sedikit pula yang bertahan dan setia. Mereka yang bertahan melalui cobaan berat ini—fans-fans setia yang menyayangi sebuah klub sepak bola sama seperti anaknya sendiri—akan terus percaya bahwa klub merekalah yang terbaik. Salah seorang penggemar bola pernah berkata, ‘Aku bisa berganti agama, istri, atau pun pekerjaan. Namun, aku tak akan pernah berganti klub bola.’ Jadi, apa pun kondisi klubmu, entah mereka berada di puncak atau pun terseok di dasar, fans-fans setia seperti ini masih ada dan mencintai dengan setia.

Di lain pihak, aku tidak belajar kesetiaan dari fans Barcelona karena mereka memiliki pendukung yang begitu loyalitas. Aku justru belajar kesetiaan dari klub itu sendiri. Berbeda dengan MU yang mengajariku tentang kesetiaan di tengah badai cobaan, Barcelona mengajariku untuk merawat kesetiaan itu. Momen ketika aku menyadari fakta ini adalah ketika salah satu legenda hidup Barcelona, Xavi Hernandez, memutuskan untuk penutup karirnya di La Liga. Ada sebuah statement yang memukauku ketika ia mengungkapkan alasannya untuk melanjutkan karirnya di liga timur tengah.

‘Aku tidak ingin pindah ke klub Eropa yang memiliki kesempatan untuk melawan Barcelona di kemudian hari.’

Sebegitu besarkah cintakah Xavi pada Barcelona hingga ia tak ingin melawan mantan klubnya itu? Aku bertanya-tanya, hingga akhirnya aku menyadari, bahwa tak hanya Xavi yang merasakah hal yang sama. Namun, nyaris seluruh deretan legenda yang memutuskan untuk memulai serta menutup karir di Barcelona pun begitu. Teringat lagi di benakku tentang Leonel Messi yang menderita gangguan pada hormon pertumbuhannya dulu, namun, dengan penuh rasa percaya Barcelona mengontraknya dan menjamin seluruh biaya perawatan bocah yang hanya bermodalkan mimpi untuk merumput itu. Hingga akhirnya, kini Leonel Messi dikenal sebagai pemain bola terbaik di dunia dan mewujudkan mimpi-mimpinya bersama Barcelona.

Kesetiaan tidak akan tumbuh tanpa rasa percaya yang begitu besar dan Messi membalas kepercayaan Barcelona dengan kesetiaannya.

Més que un Club.

Aku tidak benar-benar mengerti jargon yang berarti ‘Bukan Sekadar Klub Biasa’ itu hingga aku menulis surat ini.

Mungkin bagi sebagian orang, penggemar sepak bola adalah orang yang membuang-buang waktu—bertengkar hanya karna sekumpulan orang yang berebut bola di lapangan. Namun, mencintai sepak bola dan mengilhaminya dengan baik berbeda dengan orang-orang yang hanya tahu caranya menjadi anarkis. Hubungan antara fans dan klub sepak bola kegemarannya adalah hubungan yang tak akan pernah bisa kamu debatkan di atas meja. Sama seperti hubungan percintaan.

Aku mengisahkan panjang lebar tentang sepak bola kegemaranku ini bukan karena aku ingin membuatmu mati kebosanan. Aku ingin memberitahumu bahwa kesetiaan adalah pondasi dari hubungan yang kokoh. Kesetiaan berkaitan erat dengan kepercayaan yang diberikan satu sama lain, kamu tidak akan pernah mendapatkan kesetiaanku jika hatimu belum percaya padaku, begitu juga denganku.

Ketika aku menyerahkan hati untuk mencintaimu, di waktu yang bersamaan aku mempercayakan seluruh hidupku pada hubungan ini. Aku tidak mengharapkan apa pun darimu selain kesetiaan yang kamu curahkan padaku. Aku juga tahu, hubungan kita tidak akan selalu berada di atas, akan ada waktunya aku terjatuh dan kepercayaan diriku pupus akan hubungan kita. Namun, aku harap kamu masih akan ada di sisiku, membuatku kembali percaya dan menunjukkan kesetianmu padaku.

Setiap hubungan memiliki cara mencintanya masing-masing, maka dari itu, aku berharap cinta kita kelak dapat dibangun berlandasan kesetiaan juga rasa percaya terhadap satu sama lain.

Well, in the end… surat ini sepertinya sudah terlalu panjang, semoga kamu mengerti apa yang ingin aku sampaikan hari ini padamu, bahwa semua ini bukan tentang antara dua pihak—klub sepak bola dan fansnya atau antara kamu dan aku—namun, tentang sebuah hubungan. Bagaimana caranya hubungan ini tetap ada dan sakral?

Kamu pasti sudah tahu jawabannya.

🙂

Dari gadis penggila bola

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 4 Februari 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s