#7 To Papa in Heaven: Soulmate

Hai, Pa…

Dikta kangen sama Papa.

Sudah lama Dikta gak tulis surat untuk Papa atau bahkan sekadar mengambil waktu hening dan berdoa untukmu—hati gadis kecilmu ini masih pilu, Pa, memikirkanmu saja susah seperti membuka bendungan di mata. Mulanya, tahun ini, Dikta gak berencana untuk menulis surat untuk Papa. Ada rasa takut kalau-kalau Dikta menangis kala mengingat Papa dan segala kenangan yang pernah kita lalui bersama.

Tapi, Dikta harus kuat kan, Pa?

Dikta sudah 20 tahun; Dikta pasti lebih kuat dibandingkan tiga tahun yang lalu saat Papa pulang ke rumah Bapa. Jadi, Dikta gak akan nangis saat menulis surat ini. Ya, tidak akan. Karena Dikta tak akan membicarakan hal-hal sedih, tentang kenangan atau memori yang telah lalu, Dikta ingin menceritakan masa depan Dikta.

Pa, if one day I found my soulmate, would you give him your bless?

Untuk sekarang, Dikta masih belum bertemu dengan laki-laki itu, tapi nanti jika kami dipertemukan oleh kuasa Tuhan. Dikta hanya ingin Papa tahu; Papa tetaplah laki-laki terbaik dalam hidup Dikta. Papa mungkin tak akan pernah mendapatkan ‘the rest of my life’ milik Dikta, tapi Papa selalu menjadi ‘my first in everything’.

Pa, you are my first love, my first kiss, my first man, my first hero, and… my first home. Papa akan selalu menjadi yang pertama untuk Dikta—tempat Dikta memulai hal-hal baru di hidup ini. Tujuh belas tahun mungkin masa yang singkat bagi kita berdua untuk saling membahagiakan, tapi itu cukup bagi Dikta merasa begitu diberkati menjadi anak Papa.

Pa, maaf, mata Dikta berkaca-kaca, padahal Dikta sudah berjanji untuk tidak menangis saat menulis surat ini. Hanya saja, mimpi terbesar dalam hidup Dikta tidak akan terwujud tanpa ada Papa di sini dan hal itu membuat Dikta kembali pilu.

Dikta ingin melangkah menuju altar bersama Papa di hari besar dalam hidup Dikta.

Ya, Pa, the wedding.

Itu mimpi Dikta; mimpi yang pada akhirnya harus pupus di tangan penyakit yang mengalahkan Papa. Tapi, Dikta tak pernah sekalipun menyalahkan Tuhan karena memisahkan Dikta dengan Papa. Dikta tahu, semua yang terjadi di hidup Dikta pasti ada alasannya dan kehilangan Papa pun menjadi salah satunya. Meski sekarang Dikta baru belajar untuk memahami itu, Dikta tahu suatu hari nanti Dikta akan mengerti seluruhnya alasan di balik semua ini.

Pa, Dikta juga menyadari, meskipun Dikta gak bisa lihat Papa sekarang, Dikta tahu Papa selalu ada di samping Dikta. Bersama malaikat pelindung Dikta, Papa selalu menjaga Dikta dari segala mara bahaya. Maka dari itu, Pa, bantu Dikta menemukan belahan jiwa Dikta. Begitu banyak laki-laki di dunia ini, Dikta tak tahu yang mana di antara mereka adalah laki-laki terbaik yang akan menjaga Dikta sama seperti Papa menjaga Dikta. Jangan biarkan Dikta memilih laki-laki yang salah, Dikta pasti akan terluka dalam proses mencari dan menemukan ini, tapi Dikta percaya Papa tak akan membiarkan Dikta patah hati berkali-kali.

Selain itu, Dikta juga akan berdoa dan terus bertanya kepada Tuhan; Dikta pun akan mendengarkan pertanda-pertanda dan bahasa dunia karena hanya melalui itu Dikta dapat berkomunikasi dengan Papa. Dikta percaya, suatu hari nanti Dikta akan menemukan laki-laki itu karena semesta akan bersatu untuk menolong Dikta menemukannya.

Dan Papa adalah bagian dari semesta itu.

🙂

Sebagai penutup, Pa, Dikta hanya ingin membertahu satu hal pada Papa. Hal yang seharusnya Dikta ungkapkan lebih sering pada Papa ketika Dikta punya kesempatan itu…

Pa, Dikta mencintai Papa.

Dari gadis kecilmu,

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 6 Februari 2016

Satu pemikiran pada “#7 To Papa in Heaven: Soulmate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s