#30HariMenulisSuratCinta, Event Menulis

#8 To Mr. Rudi Valinka: Hope

Halo, Om Rudi Valinka

Selamat sore di harimu yang panjang. Mungkin Om Rudi tidak mengenali saya, karena saya hanya satu dari ribuan pengikut Om Rudi di Twitter—yang hanya sesekali memention Om Rudi jika memang ingin. Namun, ketahuilah Om, saya juga satu di antara banyak orang yang selalu mendoakan keselamatan Om Rudi.

Om, masih beranikah Om melawan para iblis bertubuh manusia di negeri ini?

Ada ragu di hati saya saat menuliskan pertanyaan itu, kalau-kalau Om akan menjawab tidak dan menghilang lantaran tak kuasa menahan tekanan. Namun, menilik bagaimana perjuangan Om Rudi selama ini, bagaimana Om jatuh bangun membela orang-orang baik di Bumi Pertiwi ini sampai titik darah penghabisan. Saya pun percaya bahwa Om pasti menjawab ‘YA’.

Ya, saya berani.

Sesungguhnya, maksud saya menulis surat ini untuk Om, bukan hanya karena saya kurang kerjaan atau apa. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam karena telah menjadi salah satu orang paling berpengaruh di jagad media sosial.

Om Rudi Valinka mungkin bukan seorang selebtwit yang kerjanya membagikan kata-kata indah nan rupawan bagi followers-nya; Om justru lebih senang membongkar fakta-fakta kelam Indonesia yang banyak orang abaikan dan berbagi ilmu agar generasi muda sekarang lebih bijak menghadapi permasalahan di negeri ini.

Om memang bukan selebritis di Twitter, tapi bagi saya, Om lebih tenar dari sekadar selebritis.

Om Rudi adalah idola saya.

Sebelum saya mengenal Om Rudi, saya begitu buta dengan politik dan modus-modus kejahatan di negeri ini. Meskipun saya dilahirkan di keluarga yang begitu melek politik—dulu ibu saya seorang politisi; pernah menjabat anggota DPRD di periode pertama SBY. Namun, hal itu justru membutakan saya yang pada akhirnya hanya berpendapat bahwa menjadi anggota DPRD dan politisi hanyalah tentang pekerjaan dan uang.

Saya mengenali dunia politik dari sisi keluarga yang menikmati keuntungannya, maka dari itu, tak sedikitpun hati ini merasa peduli pada fakta bahwa politisi yang duduk di kursi keren, seperti yang ibu saya duduki dulu, adalah orang-orang yang menentukan hajat hidup orang banyak. Hingga akhirnya, saya pun menjadi saksi ketika ibu saya dicurangi saat beliau mencoba keberuntungannya menjadi anggota DPRD untuk kedua kalinya. Kala itu umur saya masih tiga belas tahun, saya hanya tahu ibu saya menangis karena kerugian besar yang telah ia terima akibat tindakan keji dari saingan politiknya di partai yang sama.

Sejak saat itu, saya begitu membenci politik dan negara kita. Saya rasa tak ada harapan lagi bagi negeri ini untuk maju dan menjadi lebih baik. Cahaya harapan itu tidak ada, padam di hati saya. Saya bahkan bercita-cita untuk pergi dan bekerja di luar negeri dari pada harus tinggal di Indonesia hanya untuk menyaksikan kecurangan yang dilakukan oleh orang-orang serakah.

Sampai saat itu tiba, tepat pada tahun 2012, sosok itu muncul—Joko Widodo. Saya tidak mengenal pria itu, saya tidak peduli padanya, namun ketika saya mencoba mencari-cari berita tentangnya di Twitter pada tahun itu, saya bertemu dengan Om Rudi. Om Rudi begitu mati-matian membela sosok ini, semua cuitan Om Rudi begitu keras dan yakin—konsisten mempercayai pemimpin itu. Saya mencoba menjadi apatis dan bersikap tidak peduli, tapi saya tidak bisa berhenti membaca semua pembahasan yang Om Rudi sampaikan karena begitu terkesima dengan fakta-fakta yang Om Rudi ungkapkan.

Puncaknya adalah dua tahun yang lalu, saat sosok itu naik, dan mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di negeri ini. Saya tidak tahu bagaimana cara Om Rudi memperngaruhi followers Om, namun saya bahkan lebih mempercayai cuitan Om Rudi ketimbang berita-berita di televisi yang sarat akan nuansa permainan politik. Hingga akhirnya, pemimpin itu kembali memenangkan pertarungan, dan kini memimpin negeri ini.

Saat itu, saya mengira tuntas sudah perjuangan Om Rudi, orang baiklah yang menang. Namun, hahaha, ternyata kejahatan akan selalu mengikuti kebaikan seperti bayangan yang selalu ada di belakang terang. Perjuangan belum selesai, pemerintahan ini penuh dengan tekanan bahkan dari partai politik pemenang pemilu, dan Om Rudi kembali beraksi…

Hehe.

Tidak memerlukan waktu yang lama untuk saya mempercayai Om Rudi, pikiran kritis pun tak terlintas, karena Om Rudi memberikan fakta bukan sekadar opini. Sampai detik ini saya tidak pernah menyangka, kekuatan dari kata-kata bisa sebegitu hebatnya, apalagi jika digunakan untuk kebajikan seperti yang Om Rudi lakukan.

Ah, luar biasa… saya sudah kehabisan kata-kata pujian untuk diberikan pada Om Rudi, padahal surat ini seharusnya merupakan surat cinta. Namun, saya hanya bisa mengungkapkan kekaguman dan rasa syukur saya akan kebaranian Om Rudi melawan kejahatan di negeri ini. Hanya doa kepada Tuhan yang maha esa saja yang mampu saya berikan untuk Om Rudi, agar selalu sehat dan jauh dari segala mara bahaya.

Akhir kata, terima kasih telah menjadi inspirasi bagi anak muda zaman sekarang, saya yakin tidak hanya saya yang merasakan hal ini, namun banyak lagi orang-orang muda di luar sana yang pada akhirnya tergerak untuk memberikan sesuatu kepada negeri ini karena kata-kata Om Rudi. Semoga Tuhan menciptakan lebih banyak orang seperti Om Rudi bagi negeri ini (dan salah satunya bisa menjadi pacar saya, hahaha).

Dari pengagummu

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 7 Februari 2016

Note:

FYI, Om, meski ibu saya tidak lagi bermain politik, ia masih aktif di partai politik sebagai staf kusus. Sekali waktu saya pernah bertanya pada ibu, ‘Bu, kenapa ibu masih senang berurusan di dunia politik?’ lalu, ibu saya menjawab dengan santai, ‘Karena ibu ingin menjadi orang baik di antara orang-orang jahat.’ Sesederhana itu, saya pun sadar, orang baik di negeri ini masih ada dan harapan itu nyata.

Iklan

3 thoughts on “#8 To Mr. Rudi Valinka: Hope”

  1. Gua sekarang udah kelas 3 SMA dan udah ngikutin Om Rudi sejak 1 atau 2 tahun yang lalu, dan sampai sekarang gua nggak pernah absen buat ngikutin tweet-tweetnya. Dan semakin lama gua semakin menyukai dunia politik karenanya.

    Oiya, semoga kita bisa juga menjadi ‘orang baik diantara orang-orang jahat’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s