#9 To My Future Husband: Missing

I Miss You.

Ah, aku rindu menulis surat untukmu lagi. Apa jeda dua hari kemarin membuatmu merasakan sesuatu yang aneh? Kuharap jawabannya ya, karena aku merasakan hal yang sama.

Tak pernah kusangka, jeda mampu mengajariku sesuatu. Sesuatu yang begitu sederhana namun bermakna, sesuatu yang hanya bisa kamu rasakan ketika kamu memiliki hal-hal berharga di dunia ini. Sesuatu itu adalah…

Kehilangan.

Kita tidak akan pernah merasa benar-benar memiliki sesuatu sebelum kita kehilangannya. Hal itu yang aku rasakan saat berhenti menulis surat untukmu selama dua hari ke belakang. Kamu hanyalah sosok khayalanku, sejenak, surat-suratku padamu selama berhari-hari kemarin terbaca seperti surat-surat yang ditulis oleh orang gila. Namun, aku bersungguh-sungguh.

Tak satu pun surat yang aku tulis untukmu berisi kebohongan dan perasaan palsu. Setiap kata yang kutulis untukmu berasal dari hatiku, penuh niat dan hasrat yang menggebu-gebu untukmu. Maka dari itu, bahkan hanya dengan memberi jeda dua hari untukmu. Aku sudah merasa kehilangan.

Aku merasa kehilangan bahkan sebelum aku memilikimu.

Ini menggelikan, tapi jika kamu sudah terbiasa untuk melakukan sesuatu dan tiba-tiba saja memutuskan untuk berhenti melakukannya sejenak, kamu pasti merasa kehilangan. Sama seperti mereka yang telah terbiasa mencintai seseorang dan kemudian status itu berubah menjadi mantan. Sebenci apa pun perasaanmu pada orang yang dulu sempat mengisi hatimu, kamu pasti merasa ada sesuatu yang ganjil dan hal itu bernama kehilangan.

Aku tidak tahu seberapa besar rasa kehilanganku terhadapmu kelak ketika aku memutuskan untuk berhenti mengirimimu surat karena event #30HariMenulisSuratCinta ini beakhir, tapi yang jelas, jeda dua hari kemarin telah menunjukkan padaku sesuatu di luar nalar manusia.

Semalam—entah karena aku terlalu lelah atau terlalu merindukanmu—aku bermimpi tentang seorang laki-laki. Ini bukan pertama kalinya aku memimpikan laki-laki di dalam tidurku. Aku bahkan tak pernah mengisahkan perihal mimpi-mimpi itu di blog sampai akhirnya kutulis surat ini. Beberapa di antara laki-laki yang pernah muncul di mimpiku adalah laki-laki yang pernah kutemui, seperti teman sekolah dasar atau menengahku dulu, namun banyak juga wajah-wajah asing atau bahkan wajah yang tak bisa kukenali.

Anehnya, semua laki-laki yang muncul di mimpiku melakukan satu hal yang sama: tertarik padaku dalam konotasi romansa dan beberapa di antara mereka bahkan menjadi kekasihku. Ketika aku memimpikan mereka, aku berada di dalam mimpi itu, mengambil peran di sana dan bukan hanya sekadar melihat dan menjadi penonton.

Yeah, it sounds crazy, right? But it’s true!

Aku tak pernah mengerti maksud dari mimpi-mimpi itu, meski kadang aku menanggapinya dengan serius, aku selalu berakhir pada jawaban ‘ah, itu hanya bunga tidur’ atau ‘ah, ini karena aku terlalu banyak nonton drama Korea’. Namun, tiap kali aku terjaga, mimpi itu masih tersisa di ingatan dan dadaku berdebar begitu kencang lantas aku merasa kehilangan.

Aku tidak ingat kapan mimpi-mimpi itu mulai datang ke dalam tidurku, tapi yang jelas, rangkaian mimpi itu mulai menggangguku saat kamu muncul di mimpiku.

Ya, kamu.

The Black Hair Guy.

Aku bahkan menulis cerpen berdasarkan mimpi itu, kamu bisa membacanya di link yang aku sertakan di atas. Mimpi yang kuceritakan di cerpen itu adalah mimpi yang benar-benar aku alami sendiri dan itu mimpi tentangmu. Setelah aku memimpikan mimpi itu, mimpi-mimpi lain datang namun tak ada satu pun laki-laki yang muncul di mimpiku tersebut adalah kamu. Termasuk, mimpi yang aku alami semalam.

Kembali ke mimpi semalam, aku memimpikan seorang laki-laki. Ia laki-laki yang wajahnya tidak aku kenali, namun anehnya, aku dapat melihat wajahnya dengan cukup jelas—kulitnya sawo matang, berwajah Jawa, susunan giginya rapi, dan senyumnya begitu manis. Ia menyukaiku, begitu juga aku. Di dalam mimpiku, kami bertingkah selayaknya kekasih; saling merangkul, berpelukan, dan tertawa bersama. Namun, kami bukan kekasih dan di dalam mimpi itu juga aku memiliki kesadaran… He isn’t you, he isn’t the one. Lantas, mimpi itu pun berakhir saat ada orang lain yang muncul di mimpi itu bertanya padaku apakah laki-laki itu pacarku, tentu saja aku tak bisa menjawab dan akhirnya aku terbangun.

Well, aku tidak ingin menceritakan detil mimpi itu meskipun aku masih mengingatnya karena akan memakan waktu yang sangat membosankan. Jadi, singkat kata, kejadian ganjil ini kembali mengingatkanku bahwa memilikimu dalam khayalan bukan hanya sepanjang surat-surat gila ini atau pun perasaan kopong belaka. Aku merasa sudah mengenalmu bahkan sebelum aku bertemu denganmu—ya, kamu terasa dekat, namun masih jauh dalam jangkauanku.

Kamu bukan tokoh yang aku ciptakan hanya untuk mengikuti event ini, sejarah tentangmu di hidupku bahkan lebih lama dari itu. Hanya saja, dengan dorongan event ini, aku baru berani berkomunikasi langsung denganmu. Yeah, mungkin saja kamu hanyalah manifestasi dari khayalan serta harapan, terserahlah mereka menganggapku gila atau apa, tapi ada satu hal yang begitu nyata…

Rasa kehilangan ini.

Tiap kali aku menulis surat untukmu, rasanya aku berada begitu dekat denganmu, namun saat aku berhenti memikirkanmu ada bagian dari hatiku yang hilang. Aku tidak tahu seberapa lama jeda yang aku perlukan untuk bertemu denganmu dan menentang perasaan kehilangan yang menyakitkan ini, namun aku hanya ingin kamu tahu satu hal…

Ketika aku bertemu denganmu, aku akan mencintaimu dengan sungguh-sungguh, karena aku sudah menahan perasaan ini begitu lama.

Dari gadis yang merasa kehilangan

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 8 Februari 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s