[Coretan Dicta] Untuk Musuh-Musuhku: Aku Mengasihmu

Sudah lama aku tidak merasa setergoboh-goboh ini untuk menulis sebuah coretan. Sudah lama aku tidak merasa ingin sekali menulis dan menuangkan segala sesuatunya dalam gerakan tangan ini. Sudah lama aku ingin mengungkapkan apa yang ada dibenakku hingga hari ini hal itu pun tercapai karena desakannya begitu tak tertahankan. Maka, tanpa perlu memperpanjang paragraf pembuka yang membosankan ini, aku ingin mengawali coretan dengan sebuah kalimat sederhana.

“Aku sungguh membenci musuh-musuhku.”

Ada banyak hal yang terjadi di kehidupanku pasca kepindahan ke Yogyakarta serta menjalani dinamika kampus yang begitu melelahkan jiwa dan raga. Ada kesukacitaan yang besar, juga kesedihan yang menyesakkan datang silih berganti. Aku ingin menjelaskan hal itu satu persatu, namun akan sangat panjang-kali lebar-kali tinggi dan semalaman pun tak akan cukup menuntaskan kisah itu. Jadi, aku hanya akan mempersingkatnya dengan sangat-sangat sederhana dan berharap kalian mengerti.

Aku masuk ke dalam dunia yang baru di kampus. Hal yang begitu mempesona namun menyimpan prahara serta intrik yang tidak terelakan di kemudian hari. Untuk bertahan dalam dunia yang gila itu, salah satu caranya adalah menemukan sekutu. Untuk menemukan sekutu, yang harus aku lakukan tentu saja mencari teman yang bisa diajak bekerjasama. Lalu, untuk mencari teman, apa yang harus dilakukan? Tentu saja berusaha untuk fit in dengan memasang topeng ke mana pun aku berada. Aku harus menjadi seperti teman-temanku, agar mereka mau berteman denganku. Maka hal itulah yang aku lakukan, aku sangat ingin memiliki teman hingga aku berusaha untuk selalu terlihat menyenangkan di depan mereka.

Selama beberapa waktu pergumulan dengan hatiku sendiri—mengelak kebenaran hati serta menutupi jati diriku, akhirnya aku menemukan teman-teman itu. Teman-teman yang bersekutu dengan mengatasnamakan diri sebagai perkumpulan ‘pembenci orang yang sama’. Apa yang kami lakukan? Membicarakan dan mendiskusikan tingkah laku buruk orang lain serta memberikan stampel buruk padanya dan membuat perasaan kami nyaman karena menganggap kami lebih baik dari orang yang kami benci. Di mana kami melakukannya? Di tengah-tengah orang banyak agar orang lain ikut menyimak kebencian kami. Output apa yang aku dapatkan dari diskusi itu? sebuah ikatan yang bagiku pribadi sangatlah busuk, namun mau tidak mau harus kupertahankan bila aku tak ingin berada di dasar rantai makanan.

Seiring berjalanannya waktu, aku dipenuhi dengan penyangkalan diri. Sesungguhnya, aku tidak suka menebar kebencian; aku tak suka mendiskusikan keburukan orang lain lalu meninggikan diri sendiri agar terlihat baik di depan orang banyak. Aku tidak suka melakukan hal itu, sungguh sangat tidak menyukainya, karena itu adalah salah satu bentuk pem-bully-an dan dulu…

Aku adalah korban pem-bully-an.

Aku tak ingin mengisahkan lebih panjang lebar perkara hal itu, karena aku telah menceritakannya di coretanku yang terdahulu. Tapi yang jelas, menjalani hari-hari bersama dengan teman-teman yang berprilaku seperti itu, membuatku sangat tersiksa hingga di titik aku merasa tak sanggup lagi untuk menahannya.

Namun, Tuhan selalu punya cara untuk menolongku. Di dalam persekutuan itu, aku menemukan seseorang yang ketika aku berbicara dengannya, aku mendapati banyak sekali kesamaan. Obrolan tak lagi berbicara tetang menghakimi orang lain, obrolan berubah menjadi hal-hal menyenangkan dan diskusi tentang kehidupan. Lalu lama kelamaan ikatan itu menguat dan semakin kuat seiring dengan bertukarnya pengalaman hidup yang kami miliki dan ternyata pengalaman hidup itu tak jauh berbeda. Perlahan tapi pasti, aku kembali menjadi diriku sendiri. Perlahan tapi pasti, aku membuang topeng yang selama ini aku kenakan, dan bersumpah tak akan pernah lagi mengenakannya. Hingga di akhir cerita, aku dan sahabat baru yang aku miliki itu, memutuskan untuk berhenti bersekutu dengan orang-orang itu.

Lalu, apa akibat dari itu semua? Tentu saja, seperti yang sudah bisa diperkirakan, target pembicaraan mereka tertuju padaku dan sahabatku. Sejujurnya, aku tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, namun karena aku pernah bersama-sama mereka, barang tentu aku mengerti bagaimana persekutuan itu akan mengungkapkan kebencian kepada kami berdua.

Well, sampai di titik itu, aku hanya bisa menahan kesal dan berusaha mengabaikannya. Namun, ada satu hal yang aku pahami saat aku terlepas dari persekutuan itu: aku menemukan dunia yang benar-benar baru karena kini aku melihatnya dari sisi yang berbeda.

 Bersama dengan sahabatku, kami melihat kenyataan bahwa kebencian bisa merusak hidup seseorang. Bersama dengan sahabatku, kami melihat wajah-wajah bertopeng manis di depan khalayak dan wajah-wajah yang  tertunduk lelah dengan segala stempel yang mereka terima. Bersama dengan sahabatku, kami menyadari bahwa hidup ini tentang proses pendewasaan diri yang tak akan pernah habisnya. Bersama dengan sahabatku, pasca terlepas dari persekutuan itu, kami belajar untuk semakin rendah hati kepada kehidupan karena ternyata masih banyak rahasia semesta yang belum kami ketahui.

Ya, kami belajar tentang hidup dan menyadari betapa bodohnya kami.

Namun, terus menerus hanya menjadi penonton dari segala ketidakadilan dan pem-bully-an itu, membuat hatiku yang masih tidak dewasa ini pun memupuk kebencian. Kebencian ini semakin besar di setiap harinya ketika aku menyadari bahwa ternyata persekutuan itu masih melanjutkan eksistensinya. Kebencian ini semakin membeludak hingga kadang kala membuatku sesak hingga ingin menangis begitu nyaring karena luka-luka lama yang aku miliki terkoyak kembali.

Benci. Benci. Benci. Hanya itu yang ada di kepalaku tiap kali melihat wajah-wajah mereka, karena ketika aku melihat seseorang diperlakukan semena-mena tepat di depan mataku, aku kembali membayangkan bahwa dirikulah yang disakiti sedemikian rupa. Terlebih, apa yang mereka lakukan terhadap orang itu  sama persis seperti yang aku terima dulu. Rasanya benar-benar… argh, aku tidak tahu kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Sakit? Menderita? Muak?

Perlahan-lahan perasaan benci itu bermanifestasi menjadi tindakan dan ekspresi wajahku pun menunjukkannya dengan sangat jelas. Kebencian yang merong-rong di dada itu membuatku sering memaki dan mengumpat, serta mengutuk tindakan-tindakan yang menurutku salah. Sahabatku yang pada dasarnya cuek hanya bisa mendengarkan dengan sabar segala sumpah serapah yang keluar. Hingga akhirnya, sebuah kesadaran menampar kepalaku keras…

‘kebencian yang aku rasa hanya mengganggu kedamaian jiwaku dan membuat pribadiku tak lebih baik dari musuh-musuhku.’

Aku bukanlah orang yang mudah memaafkan ketika perasaanku tersakiti. Memaafkan itu bullshit bagiku, karena orang yang sudah menyakitiku telah meninggalkan luka dan luka itu akan meninggalkan bekas yang sampai kapan pun akan kuingat. Maka dari itu, setiap kali menyongsong paskah dan aku harus mengaku dosa, dosa paling pertama dan terutama yang akan aku ungkapkan adalah ketidakmampuanku untuk memaafkan orang yang sudah menyakitiku. Pastur-pastur yang mendengarkanku di bilik pengakuan dosa terus menerus mengingatkanku untuk berserah kepada Tuhan. Namun, tak ada satu pun nasihat dari mereka yang mampu menembus hatiku dan pengakuan dosa pun berakhir menjadi sebuah kewajiban.

Namun, entah kenapa, sekali lagi, Tuhan punya cara tersendiri untuk menjawab doa-doaku. Paskah tahun ini kuawali dengan hati yang penuh kebencian dan perasaan tidak nyaman yang mendekam di dada. Aku bahkan tak menyempatkan waktu untuk melakukan pengakuan dosa karena mementingkan kegiatan lain yang sebenarnya bisa dibatalkan. Namun, dengan semangat mencari kedamaian, aku pun melakukan pantang daging selama masa prapaskah dan terus menerus membisikkan doa di hati akan diri yang lebih baik di masa depan.

Lalu, doa dan pantangku disambut baik oleh Tuhan, lantas selama masa prapaskah ini Tuhan pun memberiku begitu banyak kejadian tidak mengenakan dan kesadaran-kesadaran datang bertubi-tubi ke hatiku. Hingga pada akhirnya, malam ini adalah puncaknya.

Perayaan Kamis Putih mengawali rangkaian tri hari suci. Hari ini aku pulang ke rumah lebih cepat namun mendapati diriku begitu berat melangkah menuju gereja. Entah mengapa, kelelahan hatiku hari ini membuatku sedikit cemas karena aku sadar betul kalau Tuhan akan menjitak kepalaku lagi saat aku duduk mendengarkan firmannya nanti. Maka dari itu, ketika aku ketiduran dan melewati misa Kamis Putih pertama jam lima sore tadi, aku terbangun dengan perasaan bersalah.

Lalu, mengingat bahwa hujan yang turun tak boleh dijadikan alasan lagi untuk membolos ke gereja, akhirnya aku menghadiri misa Kamis Putih kedua jam delapan malam tadi. Sepanjang perjalanan menunju gereja aku telah mempersiapkan hatiku untuk ditegur dan diingatkan. Segala pengakuan dosa serta keluh kesah yang aku alami sepanjang masa prapaskah ini pun membuncah ke mana-mana. Oh, Tuhan… aku sungguh berdosa, pikirku, dan Tuhan menjawab dengan rangkaian firmannya yang aku terima sepanjang prosesi misa tadi.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu.”Mazmur

“Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Nah, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki. Sebab aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah kuperbuat kepadamu.”Bacaan Injil Yohanes 13: 1 – 15

“Mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh hati dan jiwa, dan mengasihi sesama seperti diri, jauh lebih bermakna daripada kurban persembahan.” Renungan

“Membasuh kaki adalah bentuk cinta kasih Tuhan Yesus serta pelayanannya kepada umat manusia, dan ia memberi printah kepada umatnya untuk saling mengasihi satu sama lain sama seperti ia mengasihi mereka.” Kotbah

Sepanjang misa, aku hanya bisa terdiam—hening dengan pikiranku sendiri. Ketika pastur yang sedang berkotbah melontarkan sedikit humor, aku masih tertohok dengan kata-katanya yang begitu menggemparkan nuraniku. Aku bahkan tak berkedip atau bahkan mengantuk selama misa yang menguras hatiku itu. Teringat lagi di benakku tentang hukum cinta kasih yang Tuhan ajarkan padaku—doktrin gereja yang harusnya menjadi pedoman dalam kehidupanku sehari-hari—oh, kemana perginya perasaan lembut bernama kasih itu? Bagaimana bisa aku melupakannya?

Bahkan sampai di kayu salib, Yesus disiksa tak henti-henti, ia hendak mati di sana dan sebelum menyambut kematiannya. Yesus masih sempat mendoakan musuh-musuhnya:

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Dan aku? Hanya manusia hina dina seperti ini masih berani menyimpan kebencian terhadap musuh-musuhku hanya karena dilukai dengan belati di uluh hati? Aku bahkan tak bisa membayangkan perasaan Yesus yang dituduh, diperolok, disiksa, lalu dihukum mati di atas kayu salib hanya untuk menunjukkan pada umat manusia bahwa ia mengasihi mereka. Bahwa pengorbanannya ini adalah untuk menebus dosa-dosa mereka—dosa-dosaku.

Luka-lukaku, bahkan tak lebih hanya sayatan kecil dari luka-luka-Nya.

Baiklah, mari kita sudahi ceramah agamanya, hahaha. Namun yang jelas, aku hanya ingin menyatakan pada kalian bahwa Tuhan berperan besar dalam hidupku. Tuhan mendewasakan umatnya dengan caranya sendiri dan aku bersyukur karena tiap kali Ia melakukannya di hidupku aku tak pernah melupakan diri-Nya yang berperan.

Kebencian yang Tuhan letakan ke dalam hatiku telah mengajarkanku tentang banyak hal. Dengan membenci musuh-musuhku, aku kini tahu, bahwa perasaan menjijikan seperti itu hanya akan membuatku tidak damai. Dengan membenci musuh-musuhku, aku kini tahu, bahwa mengasihi sebenarnya lebih mudah dan membahagiakan. Dengan membenci musuh-musuhku, aku kini tahu, bahwa menjadi orang baik itu susah karena akan selalu ada keburukan dalam diri kita. Dengan membenci musuh-musuhku, aku kini tahu, bagaimana caranya menempatkan diri dan melihat dengan lebih jeli siapa saja orang-orang yang akan menjadi kawan serta lawan. Dengan membenci musuh-musuhku, aku kini tahu, sejauh mana diriku telah berkembang.

Sahabatku dulu pernah berkata, kita membutuhkan tiga relasi penting dalam kehidupan: teman untuk ikatan yang saling menguntungkan, sahabat untuk ikatan yang saling merugikan, serta musuh untuk bercermin. Dan aku sangat setuju dengan hal itu, karena secara tidak langsung, membenci musuh-musuhku telah membantuku untuk menjadi manusia yang lebih baik. Untuk yang satu ini, aku benar-benar merasa berterima kasih serta bersyukur karena memiliki musuh.

Sekarang, entah apa kamu membaca coretan ini atau tidak, Musuh-musuhku. Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa aku minta maaf karena telah membencimu.

Ya. Aku akan melepaskan kebencian ini dari dada. Aku akan belajar untuk mengerti dan memahami dirimu. Aku tahu dan aku meyakini bahwa setiap pribadi memiliki luka-lukanya sendiri. Aku tidak tahu luka seperti apa yang kamu miliki hingga membuatmu bertindak seperti itu. Aku tidak tahu masalah psikologis apa yang pernah kamu alami serta tekanan apa yang pernah kamu rasakan dulu hingga watak dan kepribadianmu seperti itu. Luka-luka itu hanya kamu dan Tuhan yang tahu karena apa yang aku lihat dari dirimu sekarang adalah kompilasi dari pengalaman hidupmu sebelumnya.

Jadi, aku tidak akan membencimu karena aku pun tak lebih baik darimu. Aku bukan seorang suci tanpa dosa sehingga punya hak untuk menghakimimu atau pun menyatakan keburukanmu. Akan lebih baik bagiku untuk mengurus hidupku sendiri dan fokus menjadi manusia yang lebih baik ke depannya daripada memupuk kebencian untukmu. Aku tidak ingin kebencian yang aku simpan di dada justru menjadi racun bagi jiwaku dan merusak kedamaiannya. Aku hanya ingin melepaskan parasaan ini dan mencoba untuk lebih mengerti serta memahami orang lain.

Mungkin, aku tak akan bisa secepat itu menghapus rasa benci ini. Mungkin, menyapa atau berbicara lagi seperti tidak pernah terjadi sesuatu pun hal yang mustahil. Mungkin, ekspresi wajahku akan masih sama seperti sebelumnya. Mungkin, aku perlu banyak sekali waktu untuk menuntaskan rasa benci terhadapmu ini—toh, aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa.

Mungkin, kebencian ini masih akan meninggalkan bekas karena apa yang telah rusak tak akan bisa kembali seperti semula.

Namun, ingatlah satu hal, ketika kamu selesai membaca coretan ini dan memikirkan dirimu sendiri serta hubunganmu dengan orang-orang di sekitarmu. Ketika kamu akhirnya mengerti, kenapa aku membenci dan memusuhimu dulu. Entah, ketika pada akhirnya coretan ini semakin menambah kebencianmu padaku atau justru menyadarkanmu. Aku hanya ingin kamu tahu satu hal…

Aku akan mengasihmu.

Sama seperti aku mengasihi diriku sendiri.

Salam dari musuhmu,

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 25 Maret 2016, jam 02.48 WIB

Di kamar kontrakan yang agak dingin

PS:

Coretan ini juga untuk musuh-musuhku di masa lalu, di mana pun kamu berada, semoga kamu hidup dengan baik dan kasih Tuhan selalu bersertamu🙂 Terima kasih untuk pelajarannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s