Sudah Lama

Sudah lama aku tidak menulis fiksi.

Belakangan kata-kataku menjadi tumpul karena jarang sekali kuasah. Mungkin masalahnya bukan pada waktu yang tidak pernah cukup menyediakan kesempatan, melainkan jemari dan otakku kini tak lagi singkron seperti senja kelabu di hadapanku ini—oh ya, hujan masih datang di bulan April.

Rasanya aku sudah melupakan momen ini—duduk sendirian di sudut kampus, ditemani laptop tuaku dan secangkir rindu yang menggebu-gebu padamu. Dulu, rasanya semua terasa tepat. Rindu dan cinta itu datang silih berganti seperti pelangi yang menanti hujan untuk berhenti. Tak pernah ada masalah yang tercipta, meski jarak dua benua bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh bagi kebanyakan orang. Namun, aku meyakini, suaramu yang masih menggema di hatiku setiap malam sudah cukup untuk membuktikan bahwa semua baik-baik saja.

Entah, angin muson mana yang mengajarkanmu bahwa pergantian musim menandakan ada hati yang beralih haluan.

Aku tak pernah membayangkan, bahkan hanya sekadar di mimpi, kehilangan kontak denganmu. Media sosial bukan ladang bagi gadis desa sepertiku untuk menuai kabar; aku hanya mengerti bagaimana surel dan video call bekerja. Dan ketika semua sarana penghubungku dan dirimu terputus, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah menunggu. Berminggu-minggu aku bertanya-tanya apa yang terjadi denganmu dan hubungan kita yang sepertinya mati suri. Terakhir kali kudengar suaramu, kamu bilang paper dan laporan menghalangi kontak denganku. Aku percaya itu dan terus percaya bahwa itulah satu-satunya alasanmu untuk berhenti menghubungiku, hingga seseorang menunjukkan foto itu padaku dan meleburkan segalanya…

Hah.

Tak pernah kusangka, dunia maya ternyata begitu menakjubkan. Aku menduga-duga, mungkin inilah alasan kenapa aku selalu menjadi mahasiswi paling tertinggal di antara yang lainnya, karena seandainya saja aku mampu membeli smartphone dan membuat akun di media sosial bernama Instagram itu, aku seharusnya sudah tahu sejak tiga bulan yang lalu kalau kamu telah mencintai perempuan lain.

Jadi, rasanya tak akan sakit.

Aku tak tahu apa aku harus meminta maaf karena tak pernah peka dengan kabar-kabarmu yang semakin jarang itu ataukah kamu yang terlalu jumawa untuk menyuarakan kata selesai. Namun, mengirimimu surel berisikan kata-kata perpisahan serta menyatakan bahwa aku telah mengetahui kenyataan tentang dirimu, barang tentu merupakan keputusan yang tepat untuk menuntaskan drama klasik di antara kita.

Kuakui, tangisku di penghujung malam ketika kenangan menggempur benakku bak air bah yang tak akan surut sampai fajar menjelang. Kamu laki-laki yang begitu manis; tawamu seperti kepak elang yang menggunjang angin di telingaku dan membuyarkan kawanan kupu-kupu di dadaku. Menata hati untuk mencintaimu tentu tidak mudah dengan segala kekurangan yang aku miliki, tapi kata-katamu selalu berhasil meyakinkan berjuta-juta sekenario terburuk yang pernah terlintas di benakku untuk pergi entah kemana. Hingga akhirnya kusadari, bahwa selama ini aku hanya menjadi salah satu momen dari kisah hidupmu yang panjang.

Ah, satu halaman telah selesai, fiksi ini sepertinya akan berakhir teragis. Sungguh, sudah lama aku tidak menulis kisah tak nyata seperti ini, mungkin sejak aku berhenti mencari-cari alasan untuk menulisnya karena kamu tak lagi ada di sana dan memberiku komentar-komentar manis tentang kisahnya. Aku tahu, seluruh fiksi yang kubuat hanya akan berakhir di blog kata-kata yang tak terkenal itu lalu menjadi debu. Namun, memilikimu yang setia membaca meski banyak lubang di antara katanya memberiku kekuatan sendiri—seperti cahaya yang bersinar di ujung jalan yang gelap; bukan komentar manismu yang sesungguhnya aku inginkan, melainkan eksistensimu. Lalu, ketika semua telah berakhir dan tak ada kata-kata lagi yang tertukar di antara kita untuk memperbaiki keadaan, aku tak lagi sanggup menulis kisah-kisah tak nyata itu karena semua terasa hambar.

Sungguh, luka itu masih ada hingga detik ini. Rasanya masih sakit seperti saat terakhir aku mengingatnya. Namun, itu sudah lama sekali, aku bahkan sudah lupa rasanya air mata yang menetes di pipiku ketika wajahmu terlintas di benak. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa aku kembali menulis fiksi. Tentu aku merindukan bahagia yang pernah kita miliki dulu serta janji-janji yang kini tak akan pernah tergenapi; masih ada secangkir rindu yang tersisa untukmu.

Hanya saja, rindu itu tak lagi kusesap pahitnya, karena senja kelabu, hujan yang mengguyur, hati yang patah, serta semestaku yang sebelumnya kugantungkan pada hubungan kita yang rapuh telah diperbaiki oleh orang lain…

Ya, oleh laki-laki yang baru saja tersenyum saat melihatku duduk dan menulis sendirian di sini; yang senyumnya kubalas dengan kekehan kecil karena mendapati dirinya yang kuyup diguyur hujan; yang mendatangiku dengan aroma particor di pakaiannya; yang mengecup dahiku lembut sembari membisikan maaf karena cuaca menahan geraknya; yang akhirnya duduk di hadapanku dan menemaniku menulis di sini. Ya, laki-laki itu, yang kini padanyalah aku menggantungkan seluruh jagad raya hidupku.

Akhirnya, cerita ini berubah manis. Aku kira pahitnya kenangan akan dirmu akan mempengaruhi alur fiksi yang sederhana ini. Namun, kehadirannya membuyarkan segala keresahan yang masih mengganjal di dada akan kita dan segala kenangannya. Mata almonnya yang berbinar saat mengisahkan hari-harinya di laboratorium mengisi ruang pendengaranku—entah apakah ia telah menemukan jenis buah pisang rasa ubi atau temuan ajaib lain yang selalu ia khayalkan sedari masih menjadi buruh tani di ladang bapaknya, aku tak tahu. Namun, kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat perasaan pahit itu hilang dan larut bersama hujan.

Mengenalnya dan mencintainya tak sama seperti saat aku bersamamu. Ia tak menghilangkan rasa khawatir di dadaku, karena ia bahkan tak menciptakan rasa khawatir itu; ia tak mampu menjelajah dunia, karena bahkan untuk berada di kota ini saja ia telah mengorbankan segalanya; ia tak menjanjikanku masa depan yang lebih baik, karena ia bahkan sedang memperjuangkan masa depannya sendiri sekarang; ya, ia tak lebih baik darimu, karena satu-satunya hal terbaik yang ia miliki adalah dirinya sendiri.

Ya, aku tahu, sudah lama sekali aku tidak menulis fiksi, maka kata-kataku kali ini terasa kaku dan mungkin saja hambar. Namun, ada satu hal yang kuyakini pasti, bahwa pada akhirnya…

Bahagia akan menamatkan kisah fiksi ini.

Fin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s