[Sudut Vegan] Di Balik Harga Segelas Susu

“I relieze that I’m a real vegan when I’m crying over cows in dairy industry than people dying in some drama tv.”Me, Todays

Jadi, iya, aku menangis lagi hari ini. Hahaha. Aku kebanyakan nangis mah belakangan ini, tapi gak papa, air mataku worthed untuk beberapa hal, termasuk air mata yang aku raungkan saat melihat bagaimana industri susu bekerja.

Aku tahu, mungkin aku akan terbaca sinting atau gila di mata kalian, tapi seperti yang aku bilang di posting-anku yang sebelumnya. Ketika aku menjadi seorang vegan, koneksi hatiku pada seluruh makhluk HIDUP di dunia ini meningkat dan terikat. Aku bahkan bukan seorang animal lovers, aku tidak pernah memelihara binatang karena menurutku itu merepotkan, tapi aku bisa menangis dan meraung sambil berkata ‘jangan sakiti mereka’ selama nyaris lima belas menit saat aku menonton video yang menggambarkan bagaimana cara kerja di rumah ‘pembantaian’ hewan.

Wow.

Aku takjub pada diriku sendiri. Aku bahkan tak pernah menangis tiap kali ada film drama yang mengisahkan tokoh utamanya mati dan tersakiti. Jadi, ketika aku menangisi sapi-sapi yang lehernya disobek dengan tubuh digantung terbalik, aku nyaris tidak dapat mempercayai diriku sendiri.

Well, sebelum aku menjadi seorang vegan, aku adalah followers Om @ErikarLebang di Twitter yang sangat kontroversial dengan cuitan kesahatannya dan salah satu tema cuit yang paling terkenal dari Om Erik adalah #KibulanSusu. Dari Om Erik-lah aku mengerti, bahwa sebenarnya susu hewan APA PUN itu tidak baik untuk kesehatan karena memang bukan peruntukannya bagi manusia. Maka dari itu, aku pun berhenti meminum susu hewan apa pun semenjak aku mengenal pola hidup Food Combining.

Namun, ketika aku menjadi seorang vegan, kini aku melihat susu bukan lagi sebuah minuman yang tidak sehat bagi tubuh, melainkan simbol kekejaman.

Jika Om Erik mengangkat topik susu hewan ini dari sisi kesehatan dan ketiadaan manfaatnya bagi tubuh kita. Aku kini akan mengajak kalian melihat lebih luas lagi topik ini dengan sudut pandang yang berbeda secara moral. Karena bagiku sekarang, menjadi seorang vegan bukan lagi tentang menjadi sehat bagi diriku saja, tapi tentang mencintai sesama.

Sebagai pembuka, aku ingin menanyakan sebuah pertanyaan sederhana sebagai bahan permenungan kalian.

“JIKA KALIAN MINUM SUSU DARI IBU SAPI, LALU APA YANG DIMINUM OLEH ANAK SAPI?”

Baca lebih lanjut

[Sudut Vegan] Ya, Aku Seorang Vegan

Sudah lama.

Sudah lama sekali aku tidak menulis sambil berlinangan air mata seperti ini. Sekarang pukul 23.35 malam dan aku sungguh tiak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menangis sambil menulis seperti ini. Mungkin ini terdengar absrud, sinting, juga kekanak-kanakan, tapi aku sungguh-sungguh melakukannya sekarang. Layar laptopku terlihat kabur, aku menulis dengan mata penuh air dan isakan tak berhenti keluar dari bibirku. Aku pun tidak tahu apa dengan menulis ini perasaanku bisa menjadi lebih baik atau tidak, tapi seperti biasa aku hanya ingin menulis perasaanku yang paling jujur.

Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, kepada semesta, juga pada Tuhan tentang jalan yang ia berikan di depanku. Aku tahu ada skenario besar yang sedang Tuhan tulis untukku, lebih indah dan megah dari pada tulisan ecek-ecekku sekarang ini. Maka dari itu, aku selalu menerima segala bentuk kesialan, ketidak beruntungan, kesedihan, serta cobaan sebagai sebuah proses pendewasaan diriku, hingga akhirnya aku mampu mengambil keputusan-keputusan bijak dan terbaik serta paling sesuai untukku.

Ketika Tuhan mengambil Papa dari hidupku. Sejak awal aku tahu, ada sebuah pesan yang Ia kirimkan padaku. Pesan yang Ia harapkan dapat aku terima dengan baik karena aku tahu Tuhan begitu menyayangiku. Papa meninggal karena gagal ginjal, ia meninggal saat tubuh ringkihnya tengah terbaring di samping mesin pencuci darah. Usianya baru 47 tahun kala itu dan aku—anak tertuanya—masih duduk di kelas dua sekolah menengah.

 Aku mendapat kabar kematian Papaku di parkiran rumah sakit, saat tidak sengaja aku berpapasan dengan eyang putriku yang tengah membawa barang-barang perbekalan menginap untuk menjaga Papa. Kala itu aku dengan polosnya bertanya, “Papa dipindah ke mana lagi, Yang?” dan Eyangku tertegun, memandangku prihatin, lantas menjawab dengan lirih…

Baca lebih lanjut