[Sudut Vegan] Ya, Aku Seorang Vegan

Sudah lama.

Sudah lama sekali aku tidak menulis sambil berlinangan air mata seperti ini. Sekarang pukul 23.35 malam dan aku sungguh tiak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menangis sambil menulis seperti ini. Mungkin ini terdengar absrud, sinting, juga kekanak-kanakan, tapi aku sungguh-sungguh melakukannya sekarang. Layar laptopku terlihat kabur, aku menulis dengan mata penuh air dan isakan tak berhenti keluar dari bibirku. Aku pun tidak tahu apa dengan menulis ini perasaanku bisa menjadi lebih baik atau tidak, tapi seperti biasa aku hanya ingin menulis perasaanku yang paling jujur.

Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, kepada semesta, juga pada Tuhan tentang jalan yang ia berikan di depanku. Aku tahu ada skenario besar yang sedang Tuhan tulis untukku, lebih indah dan megah dari pada tulisan ecek-ecekku sekarang ini. Maka dari itu, aku selalu menerima segala bentuk kesialan, ketidak beruntungan, kesedihan, serta cobaan sebagai sebuah proses pendewasaan diriku, hingga akhirnya aku mampu mengambil keputusan-keputusan bijak dan terbaik serta paling sesuai untukku.

Ketika Tuhan mengambil Papa dari hidupku. Sejak awal aku tahu, ada sebuah pesan yang Ia kirimkan padaku. Pesan yang Ia harapkan dapat aku terima dengan baik karena aku tahu Tuhan begitu menyayangiku. Papa meninggal karena gagal ginjal, ia meninggal saat tubuh ringkihnya tengah terbaring di samping mesin pencuci darah. Usianya baru 47 tahun kala itu dan aku—anak tertuanya—masih duduk di kelas dua sekolah menengah.

 Aku mendapat kabar kematian Papaku di parkiran rumah sakit, saat tidak sengaja aku berpapasan dengan eyang putriku yang tengah membawa barang-barang perbekalan menginap untuk menjaga Papa. Kala itu aku dengan polosnya bertanya, “Papa dipindah ke mana lagi, Yang?” dan Eyangku tertegun, memandangku prihatin, lantas menjawab dengan lirih…

“Ke surga.”

Bukan lagi geledek yang menyambarku, aku merasa nyawaku pun ikut melayang entah ke mana. Aku melangkah gontai menuju lift, menyeret kakiku ke ruang ICU, sampai akhirnya aku mendapati Papa yang telah bebas dari beragam selang di tubuhnya sedang tertidur… selamanya.

Aku meraung, jatuh menangis di lorong rumah sakit. Aku masih mengingat rasa sakitnya, begitu detail dan melekat di hatiku sampai ke tiap sudutnya. Ketika aku menulis ini, aku nyaris tak dapat menggerakan jemariku. Aku terus saja berhenti untuk menangis, mengelap air mata atau ingus yang menahan napasku hingga sesak. Aku benci untuk mengulang rekaman kejadian ini, tapi aku harus melakukannya agar aku kembali ingat, alasan paling utama kenapa aku memutuskan menjadi seorang vegan.

Ketika ayahku meninggal, berat badanku 78 kg. Aku ingat betul, seperti apa sosok dan diriku saat berada di posisi itu. Aku tidak akan mungkin menulis sesuatu seperti sekarang ini jika aku masih menjadi Benedikta Sekar yang sama seperti itu. Berat badanku saat itu bukan hanya sekadar angka belaka, ada makna di sana, ada perlambangan di sana, yang membuatku tidak akan pernah melupakan masa-masa mengerikan menjadi diriku sendiri.

Jika kalian adalah pembaca semua tulisanku—khususnya Coretan Dikta, kalian pasti menyadari bahwa perkembangan psikologisku terus berubah-ubah. Kata-kata yang aku jabarkan terus berubah, meskipun nadanya tetap sama dan banyak sekali kalimat yang diulang-ulang, namun setiap kali aku menulis coretan seperti ini, aku pasti berada dalam kondisi psikologis paling jujur dan paling mengerikan. Entah itu sedang menangis, marah, bingung, atau apa pun itu.

Aku hanya menulis ketika aku merasa kalau aku membutuhkannya.

Dan sekarang, setelah sekian lama, aku kembali berada di titik ketika aku SANGAT membutuhkan menulis.

Selama dua tahun belakangan ini aku mulai jarang menulis lagi karena aku merasa aku punya media lain untuk mengungkapkan perasaanku, seperti bercerita dengan sahabat-sahabatku atau aku mulai belajar untuk mengatasinya dengan lebih baik. Namun sekarang, aku benar-benar tak bisa menceritakan hal ini kepada siapa pun selain kepada diriku sendiri dan kepada tulisanku.

Maka dari itu, aku hanya ingin memperingatkanmu, sebelum kamu lanjut membaca tulisan ini dan mendapati bahwa siapa pun yang menulis tulisan seperti ini pasti orang gila. Mungkin kamu bisa berhenti di sini dan mencari blog lain yang mungkin lebih bermanfaat untuk dibaca.

Namun, jika kalian masih lanjut membaca, maka simaklah dengan damai dan maklumilah aku, karena aku benar-benar merasa tidak waras sekarang dan aku perlu menulis agar aku tetap waras.

So, mari kembali ke topik utama coretanku malam ini, sejak Papa meninggal, ada begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala dan hatiku.

“Kenapa Papa begitu cepat dipanggil Tuhan?”

“Bagaimana bisa Papa mendapat penyakit seperti itu saat umurnya masih begitu muda?”

“Apa yang salah dengan pola hidup Papa? “

“Apa yang membedakan Papa dengan manusia-manusia lainnya yang memiliki kesempatan hidup yang sama dengan Papa?”

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu kurenungkan dan akhirnya aku mendapati bahwa ada sebuah kesalahan yang telah Papa lakukan terhadap tubuhnya hingga ia meninggal muda. Aku pun memandang tubuhku sendiri di depan cermin dan sebuah batu menghantam tubuhku begitu keras dan menciptakan sebuah kesadaran yang sangat mempengaruhi pola pikirku hingga sekarang.

“Berat badanku sekarang aja 78 kg, bagaimana nanti?”

Mulai detik itu aku bertekad untuk menurunkan berat badan dengan semangat untuk sehat dan merawat tubuh yang telah Tuhan berikan padaku. Awalnya aku diet asal-asalan, namun ketika secara tidak sengaja aku membaca posting-an @NyonyaSepatu di blog-nya yang mengisahkan bahwa ia sedang menjalani pola hidup Food Combining, aku pun dikenalkan pada seorang penulis yang populer dengan cuitan kontroversialnya di Twitter, yaitu @ErikarLebang. Lalu, semenjak aku mulai memfollow dan membaca buku-buku yang telah diterbitkan oleh penulis tersebut, aku pun memantapkan diriku untuk menganut pola hidup itu dan mengalami perubahan yang sangat signifikan pada diriku. Tidak hanya dari segi berat badan, cara aku memandang makanan sebagai ‘Bahan Bakar’ kehidupan pun berubah.

Seiring berjalannya waktu berat badanku pun mulai turun. Seirama dengan hal itu, orang-orang di sekitarku pun menyadarinya dan bertanya-tanya bagaimana bisa? Dan ketika aku menjawab bahwa sekarang aku menganut pola hidup Food Combining (baca resensi bukuku tentang Food Combining itu Gampang) dan olahraga teratur, reaksi mereka begitu di luar dugaanku.

Penolakan di mana-mana.

Keluarga, teman, saudara, bahkan orang yang hanya sekadar kenal saja ikut-ikutan men-judge-ku sakit.

Mengalami guncangan seperti itu, aku pun menjadi naik-turun dalam menjalani pola hidup ini. Imanku masih belum kuat. Aku bahkan sempat berhenti menjalani pola hidup itu selama nyaris satu tahun karena depresi berkepanjangan ketika harus menunda kuliah selama satu tahun. Berat badanku yang dulu sempat turun sampai 58 kg kemudian naik lagi menjadi 64 kg. Perubahan positif yang sempat aku alami menghilang, aku mulai mengalami kegilaan dan ketidakwarasan yang dulu aku alami.  Kepribadianku berubah, pola pikirku berubah. Namun, aku masih seorang gadis yang telah kehilangan ayahnya dan terluka karena itu. Sangat terluka dan berharap tidak ada seorang pun yang mengalaminya karen aku tahu rasanya begitu menyakitkan—aku pun tidak ingin hal itu terjadi pada anakku kelak.

Hingga akhirnya, aku pun kuliah di tahun 2015 kemarin. Selama menjalani perkuliahan, aku mengalami naik-turun kehidupan. Namun, tak banyak kukisahkan di blog-ku karena mungkin aku tidak punya waktu untuk itu dan aku merasa desakan untuk menulis itu tidak ada. Proses yang aku alami selama masa perkuliahan bersama dinamikanya serta ketika aku bertemu orang-orang baru yang begitu suportif dan mendukungku perlahan-lahan kembali mengingatkanku akan pola hidup yang sempat aku tinggalkan itu.

Bertepatan dengan masa Paskah sekitar awal tahun ini, aku pun melakukan pantang daging selama masa pra-paskah sebagai bentuk pembersihan diriku dan tekad bahwa aku akan kembali menjalani pola hidup Food Combining. Namun, hatiku ternyata tidak hanya diketuk saat itu, melainkan digedor dengan sangat keras. Selama masa pra-paskah dan melakukan pantang itu, aku pun melakukan riset tentang pola hidup sehat dan makanan untuk menambah pengetahuan yang telah aku dapatkan tentang pola hidup Food Combining. Hingga akhirnya aku sampai pada sebuah video di You Tube yang mengungkapkan ada sebuah gerakan yang tengah menjamur di dunia viral, yaitu veganism. Video itu berjudul “Best Speech You Will Ever Hear – Gary Yourofsky”  dan memang, itu adalah pidato terbaik yang pernah aku dengar tentang veganism dan animal right. Pidato itu sepanjang kurang lebih satu jam dan usai aku mendengar dan menyimaknya, aku langsung memutuskan untuk menjadi seorang vegan.

Secepat itu?

Iya, secepat itu.

Tanpa berpikir dua kali?

Iya, tanpa berpikir dua kali.

Mungkin itu karena pikiranku telah terbuka oleh pola hidup food combining yang dulu sempat kuanut karena pola hidup food combining serta menjadi vegan memiliki hubungan saling melengkapi satu sama lain. Semua yang disampaikan dalam video itu terasa sangat masuk akal bagiku dan aku menerimanya tanpa ada rasa mengkritik karena aku mengalami sendiri kebenarannya. Riset yang aku lakukan pun semakin menjadi-jadi. Dimulai dengan mencari-cari resep masakan vegan di You Tube, Vlog yang mengisahkan kehidupan para vegan, mem-follow para aktivis veganism serta animal right di IG dan You Tube, dan lain-lain.

Semua terasa baru, terasa benar, dan terasa tepat.

Seolah-olah inilah yang menjadi alasan kenapa aku harus kehilangan Papa begitu cepat. Seolah-olah, Tuhan ingin membuka mataku secara lebih jelas, terang benderang, dan baik untuk mengubahku menjadi seorang vegan.

Dan aku bangga pada diriku sendiri karena telah berani mengambil keputusan itu.

Sekarang sudah tiga tahun sejak aku mengenal dan menganut pola hidup sehat Food Combining serta enam bulan sejak aku mulai menjadi seorang vegan. Alasanku menjadi seorang vegan kini bukan lagi hanya untuk diriku sendiri, namun juga untuk animal right dan lingkungan hidup. Alasan itu  pun berkembang, pemikiranku semakin berbeda dengan orang kebanyakan, koneksi hatiku pada binatang-binatang yang dibunuh untuk dijadikan makanan semakin menguat, dan semakin hari semakin terasa kuat. Dan semakin kuat hatiku berdiri, semakin kuat juga cobaan yang datang.

Bisa tidak kalian bayangkan, ketika aku menjalani pola hidup Food Combining (pola hidup ini membatasi konsumsi daging hewani serta produk turunannya dan fokus pada pengkombinasian makanan yang baik dan benar) waktu itu saja sudah begitu banyak penolakan yang aku alami.  Apa lagi ketika aku menjadi vegan?

Semua orang geger.

Vegan atau veganism secara garis besar adalah sebuah gerakan atau paham yang menolak segala bentuk eksploitasi terhadap hewan. Termasuk (dan apalagi) memakannya.

Tiga tahun menjalani pola hidup food combining tidak seberapa dengan enam bulan menjadi vegan. Begitu banyak tekanan, penolakan, kata-kata menjatuhkan, dan penentangan yang aku dapatkan dari orang-orang sekitarku terutama dari orang-orang yang lebih tua dariku. Dan hal terburuk dari semua itu adalah aku tak bisa melawan mereka. Aku tidak bisa mengukapkan alasan-alasanku pada mereka untuk menjelaskan apa yang sebenarnya aku pahami dan aku rasakan terhadap binatang-binatang itu serta bagaimana cara Tuhan menjadikanku seorang vegan dengan mengambil Papa dari hidupku.

Aku tidak bisa.

Kenapa?

Aku tidak bisa karena aku belum bisa membuktikan dan menunjukkan apa pun.

Orang tidak akan pernah mau percaya tanpa melihat hasil meskipun telah berbuih-buih mulutku menjelaskan atau dengan bukti-bukti kongkrit yang telah kutunjukkan terjadi pada orang lain. Sampai detik ini pun, aku masih belum bisa membuat Mamaku sendiri percaya, bagaimana bisa aku membuka suara dan mengatakan kebenaran yang aku yakin pasti akan menyinggung perasaan mereka.

Puncaknya, terjadi malam ini. Tadi, baru saja, aku makan malam bersama dua temanku dan Om yang sangat aku respect. Aku begitu respect dengan Om ini sampai pada titik aku menganggap dia pengganti sosok ayah yang telah hilang di hidupku. Namun, berawal dari aku salah pesan makanan yang ternyata mengandung daging dan tanpa sengaja terkunyah olehku, dan aku mengeluarkannya kembali dari mulutku dengan ekspresi jijik yang agak disembunyikan; orang-orang yang duduk di sekeliling meja makan itu pun mulai membahas, dan bahasan itu sampai pada sebuah kalimat yang diucapkan oleh Om-ku itu…

“Berani bilang, dia pasti bakal berhenti kayak gini dalam lima tahun. Mungkin gak makan daging sapi atau apa, tapi ikan dan sejenisnya.”

Aku terperanjat, mendengar kalimat itu keluar dari mulut orang yang paling aku respect dan aku harapkan dapat mendukung pilihan hidupku ini bahkan lebih menyakitkan dari pada tanpa sengaja mengunyah daging hewan itu. Sepanjang prosesi makan itu berlangsung kemudian, aku hanya dapat menahan rasa mualku pada tahu (yang terpaksa kumakan sambil menyingkirkan daging dari permukaannya) dan tangis yang menggenang di pelupuk mata. Aku menahan rasa ingin menangis tidak hanya karena terpaksa memakan tahu yang telah berlumuran rasa daging hewan mati itu, namun juga rasa sedih karena pilihan hidupku ini ternyata begitu diremehkan.

Pada momen itu aku benar-benar ingin menangis sekaligus ingin memaki pada semua orang atas sikap mereka pada pilihan hidupku ini.

APA KALIAN KIRA AKU MENJADI VEGAN ITU HANYA MAIN-MAIN? APA KALIAN KIRA AKU BISA MEMBIARKAN AYAHKU MENINGGAL SIA-SIA DENGAN MENGULANGI KESALAHAN YANG TELAH IA PERBUAT? APA KALIAN TAHU APA YANG AKU LIHAT DAN RASAKAN TERHATAP POTONGAN MAYAT HEWAN DI ATAS PIRING ITU? APA KALIAN TAHU BETAPA KERASNYA AKU BERJUANG UNTUK MENJADI SEORANG VEGAN YANG 100%? APA KALIAN TAHU DENGAN MENGKONSUMSI HEWAN SEPERTI ITU TERNYATA BERDAMPAK BESAR BAGI LENGKUNGAN HIDUP? APA KALIAN SADAR TIAP KALIAN MENGUNYAH DAN MEMAKAN DAGING HEWAN ITU SAMA SAJA DENGAN  KALIAN MENGKONSUMSI MAYAT YANG BISA MENYEBABKAN KEMATIAN?

Huh, sungguh, aku tidak mengharapkan kalian mengerti atau tahu akan hal itu. Aku hanya berharap kalian memaklumi dan menyadari, bahwa ketika aku menjadi seorang vegan, aku memandang lingkungan hidup serta diriku sendiri dengan cara yang berbeda dari kebanyakan dari kalian.

Aku memandang tubuhku sebagai rumah roh kudus bersemayam dan aku ingin rumah ini terasa nyaman. Aku ingin menjadikannya penuh dengan kehidupan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Bukannya kuburan bagi hewan-hewan yang dibunuh lalu dimutilasi, dimasak, dan dimakan.

Tubuhku adalah sebuah kebun, bukan kuburan.

Hewan mati hanya akan menjadi racun dan buruk bagi tubuh kita. Hewan ada bukan untuk dimakan atau bahkan dieksploitasi sedemikian rupa untuk keinginan pribadi, mereka ada untuk menyeimbangkan ekosistem. Dan aku terus berpikir seperti itu karena aku telah melihat sendiri buktinya; meninggalnya Papaku sudah menjadi bukti yang lebih dari cukup untuk membenarkan hal itu. Bahwa untuk hidup, aku tidak perlu makan mayat hewan dan merusak tubuhku dengan itu.

Dan sebagai seorang vegan, aku pun kini memandang lingkungan hidupku dengan cara yang berbeda. Aku tidak dapat menjelaskan hal ini secara lebih mendetail karena akan membutuhkan waktu semalaman untuk menyambung garis merah antara menjadi vegan dan menanggulangi kerusakan lingkungan. Aku hanya ingin menyarankan kalian untuk menonton film dokumenter  yang berjudul Earthling atau jika kalian begitu malas, kalian bisa membuka jurnal atau artikel tentang veganism.

Sebenarnya, ada banyak sekali hal yang ingin aku ungkapkan sekarang ini, tentang kesulitan serta keresahanku yang telah kualami selama aku menjadi seorang vegan. Namun, kurasa begini saja sudah cukup untuk menggambarkannya. Perkataan Om-ku yang membuatku kecewa tadi memang memicuku untuk menulis ini sambil menangis-nangis. Namun, semakin aku mendekati akhir dari tulisan ini, semakin aku menyadari…

Tuhan memberiku cobaan seperti itu agar aku mengingat kembali alasan utama aku menjadi seorang Vegan.

Mulai sekarang, aku akan belajar untuk ikhlas dan menerima bahwa tidak semua orang dapat menerima pilihan hidupku dan mau mendukungku—bahkan orang terdekat sekali pun.  Itu fakta yang tak dapat terelakan karena sebelum mereka dapat melihat sesuatu dari kacamata yang sama denganku, mereka akan tetap menentang dan melakukan segala cara untuk menyatakan ketidakbaikan dari pola pikirku.

Di masa depan, masih akan ada banyak sekali hal yang akan menekanku, menjauhiku, memusuhiku, serta meremehkanku. Namun, aku percaya, semakin banyak mereka menekanku, membuatku depresi, dan menangis sekali pun.

Aku tidak akan berhenti.

Sampai nanti ketika Tuhan memutuskan bahwa aku telah cukup berkarya dalam hidup ini, aku akan tetap menjadi seorang vegan.

Mari kita lihat, lima tahun lagi setelah aku menerbitkan tulisan ini, apakah aku akan berhenti menjadi seorang vegan atau tidak. Namun, aku berani jamin 10000000% bahwa diriku yang sekarang menulis tulisan ini dan diriku yang akan datang lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi atau kapan pun itu, tetap akan sama.

Ya, aku seorang VEGAN.

Yogyakarta, 16 September 2016

Jam 03.13 WIB

Di kamar kontrak dengan wajah sembab

Benedikta Sekar

7 pemikiran pada “[Sudut Vegan] Ya, Aku Seorang Vegan

    1. Halo, Prita. Sungguh ya. Terima kasih selalu setia membaca tulisanku. Walaupun komentar kamu jarang (banget) aku balasin. Aku selalu baca dan senyum2 sendiri dengan komentarmu loh. Semoga ke depannya aku bisa menulia lebih baik dari ini ya. Terina kasih banyaaaak. 사랑해용, 여동-아!

  1. Dicta sayang, semangat yaa🙂
    Teruslah berjuang di jalan yg kamu anggap benar. Ketika kamu tahu bahwa apa yg kamu lakukan benar, maka tidak akan ada keraguan yg km rasakan.🙂
    They don’t know everything in your life, dear. What they say won’t effect anything. So you can cry but you know they can’t drop you down🙂

    Semangat yaa! God bless you.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s