Kampus Fiksi #19 Bag. 1 : Ke-micin-an yang Hakiki

 

img-20170129-wa0011
KF-19, minus satu orang, Mbak Yuan

Jadi, setelah menunggu kurang lebih dua tahun pasca diterimanya aku di salah satu angkatan Kampus Fiksi. Akhirnya minggu ini, pada tanggal 27 – 29 Januari 2017, aku pun menggenapi kewajiban untuk menimba ilmu di Kampus Fiksi bersama teman-teman di angkatan ke-19. Ya, benar sekali, Saudara, baru beberapa jam yang lalu aku tiba di rumah dan sekarang langsung menulis coretan ini mumpung rasa hangat-hangat tai kucingnya belum hilang. Hahaha.

 Aku mengenal Penerbit Diva Press pada tahun 2014 melalui media sosial Twitter. Bertepatan saat aku mengenal penerbit ini, Kampus Fiksi yang merupakan kampus yang didirikan oleh CEO Diva Press yaitu Bapak Edi Akhiles, membuka seleksi penerimaan mahasiswa untuk angkatan-angkatan baru tahun 2014 – 2017. Aku yang saat itu sedang gila-gilanya menulis serta mencoba mengikuti beragam kesempatanyang ada akhirnya pun mengikuti seleksi lalu dinyatakan sebagai salah satu mahasiswa yang terdaftar untuk mengikuti kegiatan Kampus Fiksi yang diadakan setiap 2 – 3 bulan sekali sesuai angkatannya.

Kampus Fiksi dibentuk dengan tujuan untuk memberikan wadah bagi para penulis-penulis pemula yang menginginkan kesempatan belajar lebih intensif tentang dunia kepenulisan. Di mulai dari teknik-teknik menulis sampai dengan industri buku Indonesia yang terus berkembang setiap waktu. Mendengar hal ini, kalian sebagai penulis pemula yang kebetulan membaca coretan ini pasti langsung mupeng ya ‘kan? Satu, kalian pasti merasa Kampus Fiksi itu keren karena bisa langsung diberi arahan dan ilmu dari orang-orang di penerbit mayor seperti Diva Press. Dua, ya memang penulis itu keren. Hahahaha, itu kata Pak Edi.

Namun, ketahuilah, Kisanak.

Baca lebih lanjut