Kampus Fiksi #19 Bag. 2 : Sadarilah Kalau Tulisanmu Itu Busuk!

 

busuk

Hari pertama kuliah di Kampus Fiksi dibuka dengan pengantar dari Pak Edi, selaku Bapak dari anak-anak overdosis micin (elah, micin lagi! Micin lagi!). Kata pengantar yang beliau sampaikan secara garis besar menggambarkan sebuah kata sederhana yang biasanya dilupakan oleh penulis muda kebanyakan.

Proses.

Proses yang menghantarkan seorang manusia biasa menjadi super saiyan! Ciaaat! Pipipipipipi!

Okay, otakku lagi konslet. Abaikan kalimat penuh kemicinan di atas. So, maksud dari proses di sini apa? Itu juga yang sempat aku pertanyakan dalam permenunganku sepanjang Pak Edi berbicara. Hingga akhirnya, setelah aku mencatat beberapa kalimat yang menurutku menarik dan merenunginya, akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan bahwa menulis merupakan pembelajaran tanpa akhir.

Mengapa?

Jika kalian bertanya seperti itu, aku hanya bisa menjawab seperti ini:

“Akan selalu ada penulis yang lebih keren dari pada kamu, Nak.”

Ketika kamu merasa tulisanmu sudah cukup keren dan membanggakan, kamu akan menemukan tulisan lain yang lebih keren dari pada tulisanmu. Begitu terus sampai lebaran bekicot. Namun, itu bukan sesuatu yang harus kamu sedihkan. Justru ketika kamu berada di titik kesadaran itulah maka jiwamu memberontak dan memaksa untuk membuat karya yang lebih keren lagi.

Nah, itulah proses.

Proses perkembangan tulisanmu menjadi satu level lebih keren dari sebelumnya dimulai ketika kamu sadar banget kalau tulisanmu busuk, Prajurit. Maka, hal pertama yang harus kamu lakukan setelah kamu menyadari kejelekan tulisanmu adalah…

Merenung.

Iya, merenung. Itu yang Pak Edi katakan. Kamu harus merefleksikan diri dalam tulisanmu dan berpikir. Tulisanmu akan berubah ketika ada transformasi dalam dirimu. Hatimu berdinamika, ada paradigma kritis yang tumbuh di sana hingga akhirnya kamu bisa menemukan kesalahan-kesalahan macam apa yang telah kamu lakukan dalam tulisanmu. Contohnya saja kalimat yang Pak Edi ungkapkan di bawah ini yang membuatnya pusing tujuh keliling karena menemukan kejanggalan yang mungkin kalian tidak temukan.

Cinta itu seperti hujan, meskipun terhempas ia tetap jatuh.

Coba renungi kalimat di atas. Apa kalian merasa ada yang janggal? Menemukan sesuatu hal yang absrud dan membuat kalian bingung tujuh keliling untuk melogikakannya? Baca lagi kalimat itu selama dua menit sebelum kalian lanjut membaca coretan ini.

Sudah?

Kalian mengerti?

Bagus jika kalian mengerti, namun jika tidak, bukan masalah. Berarti kita satu level. Hahaha. Karena pada awalnya aku juga tidak mengerti sebelum Pak Edi menjelaskannya.

Kalimat di atas memiliki struktur dan filosofi bahasa yang tidak masuk akal. Meskipun merupakan kata yang digunakan untuk menunjukkan pertentangan. Contohnya meskipun cantik, dia ternyata kecanduan micin. Nah, cantik dan kecanduan micin merupakan dua hal yang maknanya bertentangan. Sederhananya saja, itu baik dan buruk. Namun, dalam kalimat di atas, terhempas dan jatuh bukan merupakan kata yang bertentangan, makanya dari struktur sematiknya saja kalimat itu sudah salah (cie, yang habis ngerangkum matkul pengantar linguistik).

Lalu, yang kedua adalah filosofi dari kalimat tersebut juga tidak masuk akal. Si Penulis kalimat itu mengumpamakan cinta seperti hujan dan memaknainya dengan anak kalimat yang memiliki struktur bahasa yang salah. Ia tak bisa memaknai cinta seperti hujan kalau begitu, jika ketika ia menulis kalimat tersebut ia mengkhayalkan cinta yang terhempas tapi tetap jatuh (?).

Nah, setelah kalian memahami kesalahan dalam kalimat itu, akhirnya kalian sadar kan kalau menulis itu bukan  hanya sekadar mengindah-indahkan bahasa biar terlihat puitis dan romantis. Ada banyak sekali kaidah dan aturan-aturan yang harus kalian perhatikan agar kualitas tulisan kalian bisa jadi lebih keren lagi. Setelah kalian mampu menyadari kesalahan-kesalahan yang telah kalian buat dalam tulisan, maka apa yang harus kalian lakukan untuk berproses lebih jauh dalam tulisan kalian adalah cari pengalaman sebanyak-banyaknya!

Pengalaman itu bisa bermacam-macam. Bisa dari membaca buku, melakukan perjalanan, berbicara dengan orang baru, memilih jalan pulang, dan lain-lain. Setiap hari adalah pengalaman baru, maka manfaatkan untuk merenung dan mempelajari hal-hal yang belum pernah kalian pelajari sebelumnya.

Kata Pak Edi, pengalaman adalah dua sumber pengetahuan. Pengetahuan ke dalam dan keluar. Setiap kali kita melihat dan mengalami sesuatu, lalu merenunginya, maka pengalaman itu bisa menjadi pondasi kokoh dari tulisan kita. Orang yang menulis tentang jatuh cinta namun tak pernah jatuh cinta tentu berbeda dengan orang yang menulis tentang cinta ketika ia baru saja patah hati. Orang yang takpernah pergi ke Korea dan menulis tentang Korea pasti hasil tulisannya akan jauh berbeda dengan orang yang sudah pergi ke sana dan menulis tentang Korea.

Janganlah menjadi penulis yang terus mengurung diri dan menulis, Kawan. Pengalaman yang banyak menjadikanmu penulis yang bukan hanya sekadar ‘menghibur’ pembaca, namun juga mencerdaskan mereka. Siapa tahu, suatu hari nanti ada yang membaca potongan kalimat dari bukumu dan merasakan perubahan dalam dirinya.

Kamu bisa menyelamatkan sebuah jiwa dengan tulisanmu.

Maka, percayalah pada kata-katamu serta pengalaman-pengalaman luar biasa yang terkandung di dalamnya. Aku tidak mengatakan bahwa kalian harus memiliki pengalaman gila untuk menjadi penulis keren seperti Paulo Coelho yang melakukan perjalanan ziarah dari Spanyol dengan berjalan kaki atau seperti penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang pernah diasingkan.

Tidak, kalian tidak perlu seperti itu.

Seperti yang aku bilang tadi, pengalaman bisa kalian dapatkan dari beragam hal sederhana yang kalian lakukan setiap hari. Hanya saja, yang harus kalian lakukan adalah melihatnya dengan cara yang berbeda. Seperti secangkir teh yang kalian seduh setiap hari, pernahkah kalian bertanya kenapa kalian memilih teh bukannya kopi? Di mana teh itu kalian beli? Apa teh paling enak di dunia ini? Teh buatan siapa yang paling kalian rindukan? Jam berapa kalian biasanya meminum teh? Apa minum teh itu sehat?

Lihatlah, dengan banyaknya pertanyaan tentang secangkir teh di pagi hari saja kalian mungkin bisa membuat novel tentang teh dan bagaimana cinta diseduh setiap harinya (eaaak!). Sebuah ide besar bisa muncul dari hal paling sederhana asalkan kalian bisa memaknainya. Persiapkan diri kalian untuk itu, berproseslah!

Kemudian, sebagai penutup dari coretan penuh kemicinan ini. Aku hanya ingin mengatakan pada kalian yang kebetulan sedang membaca dan bermimpi menjadi penulis besar namun baru menyadari kebusukan di tulisan kalian. Berbanggalah! Hanya sedikit penulis yang terpilih untuk memiliki kemampuan melihat tulisannya seperti kalian sekarang ini. Ini adalah saat yang tepat untuk melakukan apa pun agar tulisan kalian satu tingkat lebih keren dari sebelumnya. Banyak penulis muda sekarang ini terlena oleh bentukan industri dan mengharapkan ketenaran secara instan. Namun ketahuilah, Kisanak, bentukan industri seperti itu tidak akan bertahan lama karena mereka melupakan satu hal penting, yaitu…

Proses.

Iklan

4 pemikiran pada “Kampus Fiksi #19 Bag. 2 : Sadarilah Kalau Tulisanmu Itu Busuk!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s