The Meeting

lomba

Lisa Martinez tidak tahu apa stocking oranye dan one peace t-shirt bercorak garis-garis vertikal merupakan padanan yang tepat untuk sebuah pesta vintage. Akan tetapi, itu yang dikatakan sebuah majalah fashion padanya bertahun-tahun yang lalu, maka ia menurut saja.

Sembari menunggu taksi melintas, wanita itu menatap etalase toko roti di belakangnya sejenak. Baiklah, setidaknya aku tampak baik-baik saja, bisik Lisa dalam hati sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangan pada jalanan ramai kota Manhattan. Taksi melintas tepat setelah ia berbalik dan wanita itu sontak mengangkat tangan untuk menarik taksi itu mendekat.

Downtown,” kata Lisa, seraya menghempaskan tubuh di jok belakang.

Taksi pun bergerak dan dalam sekejap saja Lisa jatuh dalam lamunan sembari menatap hampa hutan beton yang mengelilinginya. Otaknya memutar kembali kenangan saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Kala itu umurnya baru dua puluh satu tahun. Berangkat dari Texas menuju New York hanya untuk membuktikan pada keluarganya bahwa ia mampu menaklukan Broadway.

Naif. Seharusnya Lisa tahu Broadway bukan tempat yang ramah bagi gadis kampung sepertinya. Lisa datang dengan kepolosan yang dibutakan imajinasi. Ia menggunakan seluruh uangnya untuk mempercantik diri, membuat CV, lantas menyertakan foto dan rekaman suaranya untuk dijajakann pada setiap kesempatan—berharap beberapa sutradara meliriknya.

Satu bulan pertama semangat juangnya masih berkobar. Namun, kesempatan tak kunjung datang hingga bulan ketiga terlewati dan tabungannya mulai menipis. Lisa terpaksa bekerja di sebuah kedai teh tradisional yang berada tak jauh dari flat murahnya di Chinatown sembari terus berharap handphone-nya berdering dan seseorang mengajaknya casting.

Enam bulan berlalu tanpa ada harapan dan perkembangan berarti. Lisa mulai menyadari kebodohannya, namun ia terlalu malu untuk pulang dan mengakui kesalahan. Maka, ia bertahan. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa harapan dan mimpinya yang masih tertinggal, lantas menunggu sedikit lebih lama lagi.

Maka, tepat pada hari natal pertamanya di Manhattan, handphone Lisa berdering. Nomor tak dikenali. Wanita itu pun mengangkatnya secepat kilat. Secercah cahaya menyusup hatinya tatkala suara di ujung sana memintanya untuk mengikuti casting sebuah peran kecil sebagai pelacur.

Oh, seseorang menginginkannya!

Lisa bahagia bukan kepalang. Sejak hari itu, setiap hari Lisa melatih dua baris dialog yang menjadi satu-satunya harapan yang tersisa. Hingga hari penentuan itu pun tiba dan Lisa pergi menuju studio casting dua jam lebih awal meskipun namanya berada di urutan paling akhir daftar peserta hari itu. Ketika akhirnya ia dipanggil, dada wanita itu berdebar sangat kencang. Pada tiga langkah pertama memasuki ruangan, Lisa merasa jantungnya nyaris menggelinding jatuh ke lantai. Dua langkah setelahnya, wanita itu menarik napas panjang sebelum berbalik menghadap tiga orang yang menjadi hakimnya hari ini. Dua detik berikutnya, mata Lisa bertemu dengan mata kelabu pria itu.

Hanya memerlukan waktu lima detik untuk membuat dunia Lisa jungkir balik. Iris mata kelabu itu balas menatapnya dengan kekagetan yang sama. Ini pertama kalinya mereka bertemu, tapi jiwa mereka sepertinya telah lama saling mengenali.

Sebuah dehaman memecah momen singkat itu. Lisa tersenyum kikuk, tapi matanya membara penuh gairah. Pria itu balas menatapnya lekat, Lisa tiba-tiba saja merasakan dirinya berubah menjadi pelacur seutuhnya. Namun, alih-alih mengatakan dua baris dialog yang diminta, ia mengatakan apa yang ingin dirinya sendiri katakan.

‘Tolong, cintai aku!’

Lisa menjerit. Dua dari tiga orang di depannya tercengang, tapi pria itu tersenyum—begitu lebar, begitu menawan. Lisa yakin ia tak akan mendapatkan peran ini, tapi semesta memberikan  hal yang lebih baik dari itu.

Sebuah pertemuan.

O

Namanya Benjamin Collins, usianya dua kali lipat lebih tua dari Lisa dan ya, pria itu sudah beristri. Lisa tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Pada mulanya wanita itu bermimpi menjadi seorang aktris Broadway tapi ia berakhir menjadi perempuan simpanan seorang sutradara. Rasanya ingin tertawa sekaligus menangis, tapi Lisa secara magis merasa bahagia karena ia begitu dicintai.

Dua tahun berlalu, Lisa menikmati perannya sebagai gundik, kekasih, sahabat, serta kawan bicara Ben. Namuun, hubungannya dengan Ben lebih dari sekadar sebuah perselingkuhan; cinta itu terlalu nyata untuk dikatakan sebagai nafsu belaka. Lisa tak lagi menginginkan panggung Broadway, ia hanya menginginkan Ben.

Untuk dirinya sendiri.

Namun, mimpi buruk itu pun terjadi tanpa bisa dihindari. Paparazzi memergoki mereka saat berkencan di Central Park, memuat foto percumbuan mereka sebagai headline surat kabar, dan dunia gemerlap Broadway gempar. Reputasi Ben yang dikenal sebagai seorang sutradara Broadway ternama juga sosok kepala keluarga yang baik rusak. Status Lisa sebagai mantan pemburu peran di Broadway pun menambah pahit berita yang beredar. Dua tahun surga yang Lisa rasakan bersama Ben kandas. Malam itu, di musim dingin ketiganya di Manhattan, Ben menyerah dan memilih menyelamatkan reputasinya.

Perpisahan itu diiringi tangisan. Ben dan Lisa bercinta untuk yang terakhir kalinya.

Setahun kini telah berlalu, musim dingin datang lagi. Lisa menetap di Manhattan, tidak juga pindah dari apartemennya yang lama. Ia kembali bekerja di kedai teh tradisional yang dulu sempat ia tinggalkan dan menjalani kehidupannya seperti zombie. Lisa tak ingin pergi karena separuh jiwanya berada di kota ini dan wanita itu tahu pasti, Ben selalu memandangnya dari kejauhan. Maka, Lisa bertahan dengan rasa sakit serta rindu yang meradang, serta menunggu…

Menunggu Ben kembali padanya.

Hingga dua hari yang lalu, seorang gadis yang memiliki rambut sewarna daun di musim gugur mengajaknya bicara empat mata dan memberikan sebuah undangan pesta ulang tahun.

‘Datanglah, ayahku akan ada di sana.’

Seharusnya Lisa mengenali wajah oval berbintik-bintik itu. Ben pernah menunjukkan foto gadis itu padanya, menamainya Rose, karena rambut oranyenya yang indah. Lisa mengerjap, terkejut, dan tak tahu harus bicara apa.

‘Temui ayahku sekali lagi.’ Rose meraih tangan Lisa. ‘Jika ibuku menjadi alasanmu untuk tidak menemuinya. Aku akan katakan hal ini padamu…

‘Ben bukan ayah kandungku.’

‘Ben bahkan tak pernah tidur dengan ibuku.’

Lisa terperanjat. Beberapa saat setelahnya Rose kembali bertutur bahwa pernikahan kedua orangtuanya hanyalah sebuah kamuflase. Ibunya dihamili saat berada di puncak karirnya, ia membutuhkan pengalihan isu dan Ben, di saat yang bersamaan, memerlukan sokongan popularitas untuk karir sutradaranya yang tak kunjung membaik. Mereka berdua membuat kisah bahagia tentang pernikahan dan karir yang gemilang mengekori sandiwara itu. Sampai akhirnya, Ben bertemu dengan Lisa dan pria itu melupakan seluruh kepalsuan dalam hidupnya.

Miss, kita sudah sampai.”

Lisa mengerjap; otaknya pun berhenti memutar balik seluruh kejadian dalam hidupnya. Wanita itu lalu membayar jasa lantas turun dari taksi dengan perasaan campur aduk. Lisa terdiam sejenak di trotoar. Ia genggam erat undangan pesta sementara dadanya berdebar begitu kencang. Lalu akhirnya dengan sebuah tarikan napas panjang, ia melangkah mantap memasuki gedung apartemen itu.

O

Benjamin Collins menjadi satu-satunya orang paling tua di ruangan itu dengan rambut yang lebih kelabu dari yang lainnya. Ia tak habis pikir mengapa Rose memintanya untuk hadir di pesta ulang tahun bersama sahabat-sahabatnya kali ini, padahal gadis itu biasanya selalu memilih untuk melakukannya sendiri.

“Ayah.” Rose memanggil lirih; Ben tersenyum.

“Ya, Sayang?”

“Aku ingin mengembalikan barang milikmu.” Rose mengambil sesuatu dari balik gaun berwarna hijau toskanya. Sebuah buku bersampul hitam yang sangat Ben kenali.

“Rose?” Ben merebut buku itu dan langsung melemparnya begitu saja ke atas sofa tempat mereka duduk sekarang.

“Kenapa ayah membuangnya?” Rose menyandarkan kepalanya pada bahu Ben dan pria itu tak bisa melakukan apa pun selain terpaku. “Aku sudah membaca semuanya.”

Ben membisu; lidahnya terasa kelu.

Rose menarik napas dan mendesah. Alunan musik tahun 60-an menari di udara dengan syahdu dari piringan hitam. Pesta sedang berlangsung di apartemen itu, semua orang menikmati makanan dan minuman serta beberapa putung rokok di atas meja. Rose telah menyapa mereka satu per satu dan kini ia tengah menikmati waktu bersama ayahnya—membicarakan hal-hal.

 “Kau mencintainya ‘kan, Ayah?” Rose memejamkan mata, menikmati suara debaran jantung ayahnya yang memburu. “Mengapa kau tidak jujur saja?”

“Aku…”

“Ayah.” Rose memotong ucapan Ben, ia tersenyum dalam tidur pura-puranya. “Bercerailah dengan ibu dan jangan khawatirkan aku.

“Kumohon, berbahagialah.”

Seketika itu juga Ben teringat akan Lisa, wanita yang ia cintai, serta dua tahun yang mengairahkan jiwa dan raganya. Ia selalu menyesali banyak hal. Menikahi wanita yang tidak ia cintai dan terus bersandiwara. Namun, satu-satunya penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah meninggalkan Lisa malam itu—membuatnya menangis dan menunggu.

Tepat ketika Ben hendak membangunkan Rose yang berpura-pura tidur di bahunya untuk pergi menuju tempat Lisa berada. Pintu apartemen terbuka dan wanita itu masuk dengan cara yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Tiga langkah pertama penuh kegugupan, dua langkah selanjutnya sembari menarik napas panjang,  lalu wanita itu pun mengangkat wajahnya untuk menatap lurus ke depan dan…

Mata mereka bertemu.

Ben tak pernah melupakan momen magis ini.

Lagu The Girl From Ipanema mengalun manis di ruangan itu. Kehadiran Lisa mengundang gemuruh perbincangan. Akan tetapi Lisa tetap berdiri di sana dan Ben tetap duduk di tempatnya berada. Mata mereka masih terpaut satu sama lain. Ben sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Terlalu terkejut untuk mencerna semuanya dengan baik. Namun, hanya ada satu hal yang pasti.

Semesta memang menghadiahkan pertemuan ini bagi mereka.

____________

A/N

Salah satu cerpen gagal menang lomba. Setelah kubaca ulang berkali-kali, cerpen ini memang pantas kalah. Hahaha. Tantangan cerpen ini sebuah gambar, yang kujadikan sampul halaman di atas. Penggambaran cerita yang jalan sendiri dibandingkan gambar yang menjadi tempat seharusnya tema diletakan gagal aku ungkapkan. Beberapa typo. Jalan cerita yang biasa saja, serta konflik yang huek banget. Ah. Tulisan ini busuk sekali… silakan dicaci.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s