Kampus Fiksi #19 Bag. 3 : Menulis itu Perkara Isi dan Bungkus

book-writing-ideas

Okay, aku menulis coretan ini di perpustakaan lantaran dosen pengampu mata kuliah Menyimak I yang kuulang semester ini tidak hadir (again!). For a God sake, deh ya! Kuliah udah jalan dua minggu dan ini dosen gak datang-datang juga. Bukannya apa sih ya, siapa yang gak seneng ada kuliah yang kosong sih? Tapi satu, aku udah bela-belaan bangun pagi dan datang ke kampus dengan gagah perkasa untuk menuntut ilmu, tapi akhirnya itu sia sia! Dua, puhlez… jangan sampai semangat belajarku semester ini luntur cuman gara-gara mata kuliah yang satu ini ya!

Huft.

Baiklah, aku mulai saja ya coretan ini, daripada makin stres mikirin kuliah lagi. Jadi, Gaes… setelah kemarin aku kasih tahu kalian pengantar dari Pak Edi, hari ini aku bakal kasih tahu kalian tentang Teknik Penulisan yang dipersentasikan oleh Reza Nufa Oppa, eak! Beliau ini salah satu editor, pemegang akun media sosial Kampus Fiksi, juga penulis kritis. Kalau gak lagi micin sebenarnya Oppa ini baik dan bakal banyak ilmu yang bakal kalian dapat, tapi sayang, dia kebanyakan micin. Mungkin micin itu kayak heroinnya Sherlock Holmes buat Oppa yang satu ini.

Anyway, sesi teknik penulisan ini dibuka dengan dasar dari segala dasar menulis, yaitu mengingatkan kembali kepada kita bahwa hakekatnya menulis itu adalah menyampaikan ide atau ideologi si penulis.

Khususnya untuk penulisan fiksi yang berdasarkan pada hal yang ‘tidak nyata’ atau karangan si penulis. Ide ini tentu saja harus dikemas sedemikan rupa agar pembaca mampu memahami isi ide yang ingin disampaikan. Ibaratnya ide adalah isi, maka teknik menulis  adalah bungkusnya—wadah, kata Mas Reza. Maka dari itu, aku akan menjelaskan pada kalian dua hal penting di sini, yaitu perkara ide dan teknik menulis.

Pertama, ide. Sesungguhnya aku berencana untuk membuat satu coretan khusus yang membahas tentang ide ini. Dari awal sampai akhir. Jadi sekarang aku hanya akan kasih kalian pengantar sedikit-sedikit saja ya. Untuk lebih jelasnya akan aku sampaikan di bagian empat yang akan kutulis pas lagi kesambet atau jam kosong kayak gini. LOL.

Perkara penulis pemula yang kadang mengganggu adalah kehabisan ide lalu akhirnya mengklaim bahwa sedang writer’s block. Hal ini akan berujung pada kemalasan untuk menulis dan produktivitas yang terhenti. Ah, yes… I know your feeling. Aku juga mengalaminya setahun belakangan ini, makanya blog ini seperti kuburan.

Ada tiga hal yang harus kalian ketahui tentang ide.

1. State of Mind

Ide adalah kondisi dari pikiran kalian. Ia bermula dari apa yang kalian pikirkan, maka yang harus kalian lakukan adalah berpikir. Jika kalian merasa mengalami writer’s block, maka satu hal, kalian tidak berpikir. Seserhana itu? Iya, sesederhana itu. Maka, jangan batasi pikiran kalian. Berimajinasilah, pikirkan hal-hal gila, pikiran hal-hal bodoh, pikirkan apa yang tak pernah dipikirkan orang lain, seperti kenapa lubang hidung kita harus dua? Atau kenapa populasi jomblo di ibukota berbanding terbalik dengan di pedesaan? Apakah ada arus urbanisasi yang mengakibatkan jomblo tersebut berevolusi? Well, letakan isi kepala kalian pada kondisi berimajinasi, niscaya ide-ide itu akan datang.

Plus, Mas Reza pun menambahkan, “Ide itu tidak logis ya tidak papa, asal meyakinkan pembaca.” Meskipun beberapa keyakinan seperti sebuah karya fiksi tak bisa lepas dari kelogisan, tapi kelogisan bisa kita ciptakan dengan kemampuan kita melogikakan serta bercerita. Misalnya musim dingin di Indonesia, logiskan saja kalau ada sebuah kondisi alam yang membuat iklim di dunia terbalik atau semesta berubah menjadi tempat yang mengerikan karena ada kekuatan jahat yang berasal dari masa lalu dan hanya Indonesia tempat yang paling aman untuk hidup. Oh, logikakan saja semuanya, pasti lebih mudah dan tidak akan membuatmu sakit kepala karena berusaha sebisa mungkin untuk membuatnya “waras”.

2. Out of the Box

Ketika kalian berpikir di luar kebiasaan kalian, kalian harus sadar, bahwa mungkin saja otak orang lain lebih luas dari apa yang kalian pikirkan. Jadi, apa yang kalian pikirkan masih berada di dalam kotak orang lain. Jadi, yang harus kalian lakukan bukan berpikir di luar kota, melainkan memperbesar kotak kalian. Bisa nangkep? Bisa dong ya.

Sederhananya gini deh ya, ketika aku menulis tentang pembunuhan di sebuah sekolah karena ada salah seorang murid yang tidak waras. Aku sudah merasa kalau aku menulis di luar kebiasaanku dan itu merupakan ide terkeren abad ini. Namun, bagi Mas Reza yang pikirannya dan kotak idenya lebih luas dariku barang tentu tidak merasa itu sebuah ide tulisan yang keren, malah cenderung biasa saja dan tidak kreatif. So, masalahnya adalah bukan berpikir di luar kotak, tapi memperbesar kotak kalian.

Gimana caranya memperbesar kotak pikiran kita? Mas Reza menyampaikan ini, “Menulis itu 90% membaca dan mencari pengalaman baru.” Kadang, menempatkan diri kalian menjadi benda, hewan, dan orang lain juga membantu meng-expand pikiran dan perasaan kalian ketika menulis.

3. Grab It!

Ide hebat tidak datang dengan sendirinya. Ide hebat dicari! So, jangan menunggu ide itu datang dan tidak melakukan apa pun hingga akhirnya penamu tumpul. I’ve been there, done that. Jadi kalian jangan lakukan kesalahn yang sudah aku lakukan deh ya. Move your ass out to find your masterpiece idea!

++

Sip, udah ya bahas soal ide. Kita lanjut ke teknik penulisan atau wadah dari ide kalian. Bahasan ini agak panjang dan bikin pusing juga sih buat disusun runut (karena cacatanku compang-camping,Coeg!) tapi apa sih yang enggak buat kamu? Cintaku bertumpah-tumbah untuk penikmat kata di blog ini loh ya. Semoga bermanfaat bagi jiwa dan raga dunia penulisan kalian. Mari, kita mulai!

OUTLINE. Memulai sebuah novel atau bahkan cerpen singkat pun harus memiliki outline atau urutan adegan dan jalan cerita yang ingin kalian buat. Menulis outline kadang diabaikan oleh penulis pemula, padahal menulis outline itu sangat disarankan juga sangat membantu dalam masa-masa menulis kalian. Tips menulis outline yang bagus, pertama, buat perpoin untuk setiap bab dan setiap bab hanya berisi empat sampai lima adegan saja. Ketika kalian selesai menulis outline dari awal sampai akhir, kalian bisa mengacak-acak plot kalian sesuka hati. Kalian bisa mulai cerita dari tengah, sepertiga cerita, atau bahkan dari akhir. Namun, yang terpenting adalah kalian telah memiliki cerita yang selesai.

OPENING-ENDING. Pembukaan cerita, dari judul, kalimat atau paragraf pertama, serta akhir cerita adalah hal penting. Usahakan memperhatikan bagian-bagian ini sedetil mungkin agar tulisan kalian bisa lebih berkualitas. Ingat, akhir bab pun merupakan sebuah ending ‘kecil’ di dalam buku. Hal yang harus kalian perhatikan adalah berikan tanda tanya di akhir setiap bab dan jawab di bab berikutnya. Hal ini untuk menghindari kebosanan yang sering dialami pembaca di tengah-tengah buku dan memaksa mereka untuk terus lanjut membaca.

KALIMAT. Jangan terpakut pada pakem SPOK dalam membuat kalimat-kalimat yang lincah. Jungkirbalikan kaidah, berkreasilah. Gunakan snapshot dan frase di sela-sela kalimat untuk menambah kesan ‘deg-deg’-an dan penjiwaan dalam gaya bercerita. Oh ya, dalam satu kalimat, hindari pengulangan subjek, agar kalimat kalian juga efektif dan enak dibaca.

ALUR-SETTING. Alur cerita memang menjadi fokus utama, namun jangan sibuk menceritakan hal itu sampai-sampai melupakan unsur-unsur lainnya seperti psikologi tokoh, deskripsi suasa, dan lain-lain. Menulis itu riset menyeluruh, satu hal kecil saja yang janggal, akan membuat tulisan kalian ‘cacat’. Untuk setting, kalian pun harus memberikan detil pada setting, tapi dimohon jangan sampai membuat berita. Pembaca membutuhkan detil tapi bukan berarti kita harus menjelaskan setting dari a sampai z toh? Selipkan setting, suasana, serta detil-detil kecil di antara laju alur cerita kalian. Aku percaya dan niscaya bahwa hal itu akan membuat tulisan kalian lebih indah dan menyegarkan.

KONFLIK. Dalam membuat konflik dalam cerita perhatikan kelogisan dan jangan berekspektasi terlalu tinggi. Mas Reza bilang, ketika menulis konflik, bentrokan konflik yang satu dengan yang lainnya dalam titik ekstrem. Misalnya, konflik kalian sederhana saja, perebutan tanah oleh dua keluarga. Namun benturkan konflik-konflik kecil dalam konflik besar itu seperti misalnya anak dua keluarga tersebut ternyata saling mencintai atau kedua keluarga itu ternyata berbeda agama. Banyak sekali benturan-benturan kepentingan serta latar belakang yang bisa dijadikan konflik. Namun, tetap perhatikan kualitas dari konflik tersebut. Jangan sampai kalian menghadirkan konflik yang tidak berkualitas.

NARASI-DIALOG-LOGIKA. Ketika hal ini digunakan untuk membangun totalitas karakter. Perhatikan setiap kalimat dan pastikan kalimat-kalimat itu memiliki peran penting. Pakailah ‘alat bantu’ untuk mengawal logika cerita. Apa itu? Ada dua teknik yang biasanya sangat mudah digunakan, yaitu analogi dan metafora. Analogi adalah teknik membandingkan dua hal yang setara. Sementara metafora adalah teknik membandingkan atau majas yang memaknai sesuatu namun bukan dengan arti yang sebenarnya. Ah, kalian pasti mengerti soal ini! Tanda baca juga hal pentik di dalam hubungan narasi dan dialog. Penggunaan tanda baca yang tepat menghantarkan pembaca dalam pengalaman membaca yang menyenangkan.

DIKSI. Penulis baru biasanya tergoboh-goboh untuk menulis dengan diksi yang aduhai dan luar biasa keren. Namun, aku ingatkan, berhati-hatilah meletakan diksi baru serta asing dalam tulisan kalian. Batasi penggunaan diksi tersebut dan berusahalah untuk memasukan diksi itu dalam kalimat yang tepat agar terkesan mulus juga indah. Terlalu banyak menggunakan diksi baru dan membuat tulisan kalian sulit dipahami hingga akhirnya pembaca tak menikmati. Kebanyakan mengerutkan kening dan mengagumi diksi. Gunakan satu atau dua diksi baru dalam tiga atau empat tulisan kalian sebelum akhirnya menambahkan yang lainnya agar terkesan tidak terlalu terburu-buru dan kalian pun terbiasa menggunakan diksi tersebut.

GAYA BAHASA. Buatlah ragam gaya bahasa dalam menulis agar tulisan kalian terlatih dan tidak monoton dengan style yang itu-itu saja. Kalian harus terus mengembangkan karakter tulisan kalian. Banyak cara untuk melakukan hal ini. Salah satunya dengan meniru gaya menulis orang lain atau penulis terkenal. Tirulah banyak penulis, sampai akhirnya style itu memperkaya tulisan kalian sendiri.

CURCOL. Hindari ketergantungan untuk menulis kisah perbadi hingga tulisan kalian terkesan seperti sedang curcol. Tapi, yah… ini kadang sulit ya? Yah, usahakan untuk menulis curcol ini semulus mungkin agar tidak terkesan terlalu maksa. Seperti yang Raditya Dikta pernah sampaikan bahwa ia menuliskan apa yang ia gelisahkan selama ini. Jadi kalian pun harus bisa menciptakan tulisan yang masih memiliki curcol yang ingin kalian sampaikan namun secara baik dan benar.

PRODUKTIVITAS. Menulis tidak harus dilakukan setiap hari. Sebagai penulis, kalian perlu waktu untuk merenung. Maka, temukan waktu nyaman kalian untuk menulis dan tulislah sejenak novel atau karya kalian namun tetap nikmati hari-hari kalian seperti orang normal kebanyakan—berdinamika.

SELF EDIT. Setelah kalian selesai menulis, endapkan tulisan kalian selama beberapa hari. Sebelum akhirnya kalian membuka ulang tulisan kalian dan membacanya dengan lebih teliti. Aku biasanya menempatkan diri sebagai pembaca saat membaca ulang tulisanku sendiri. Maka, jadilah pembaca yang kritis. Menulis membutuhkan proses panjang dan kehati-hatian dalam memilih kata. Maka dalam proses self edit ini usahakan dirimu memahami betul kaidah-kaidah serta ejaan yang baik dan benar. Terus belajar!

KRITIK. Jadilah penulis yang terbuka dengan kritikan. Namun tetap mampu mempertahankan dirinya sendiri. Maksudnya? Selektiflah dalam menerima kritikan. Bedakan tulisan-tulisan kalian menjadi dua kategori. Tulisan yang memang untuk dikritik serta tulisan yang hanya untuk kepuasan diri kalian sendiri. Pasti kalian punya kan? Tulisan-tulisan yang kalian tulis memang untuk orang lain dan tulisan-tulisan yang sebenarnya hanya untuk diri kalian sendiri. Tulisan yang untuk orang lain pantaslah untuk dikritik namun tulisan yang kalian buat untuk diri sendiri bisa kalian biarkan apa adanya karena toh itu untuk diri kalian sendiri. Well, pada dasarnya kritik ada untuk membangun tulisan kalian tapi bukan berarti membuat kalian kehilangan jati diri dalam tulisan.

Fuuuh!

Udah kriting aja ini tangan nulis panjang lebar begini. Maaf ya kalau tulisannya jadi rada berantakan gitu. Aku mencoba membuat tulisan ini serapi mungkin tapi yah sudahlah… So, kesimpulan dari coretan ini adalah ya itu tadi, seperti yang sudah aku jelaskan di awal. Kembangkan ide serta wadah ide tersebut menjadi lebih baik dan lebih berkualitas dari sebelumnya. Kalian harus terus mau belajar dan mengembangkan diri agar tulisan kalian bisa jadi satu tingkat lebih keren dari sebelumnya.

Semoga membantu ya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s