[Coretan Dicta] Tentang Benedict Cumberbatch yang Ganteng Banget Kalau Bewokan

Baru selesai menonton “Doctor Stranger” meskipun ada tugas yang menghimpit. This film talking about time, about “penyerahan diri”, pengakuan bahwa adanya kekuatan yang lebih dari apa yang kita tahu. Saya rasa film ini seharusnya menjadi TOP of the list semua orang. Para karakternya memanusiakan manusia, terlepas dari kekuatan tidak masuk akal yang menjadi basic dari semua film superhero, tokoh Dr. Strange menunjukkan pada penonton oposisi biner yang selalu ada di dalam diri setiap orang. Oh, saya tidak berbicara tentang tugas Sastra Sejarah yang sekarang memaksa saya untuk mengkaji cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (yang saya pilih dengan sembrono dan tanpa perhitungan lalu membuat saya kehilangan akal sehat sekarang) dengan pendekatan posmodernisme. Saya kira memahami tentang sastra itu jauh lebih rumit dari pada memahami diri saya sendiri. Satu, mungkin karena saya dipaksa memahami dan menginterpretasikan apa yang orang lain pikirkan. Dua, kenapa kita terlalu sibuk mencoba memahami orang lain daripada memahami diri sendiri? Saya masih mencoba mencari jawaban dari pertanyaan itu karena kadang-kadang toh lebih seru bergosip tentang hidup orang lain daripada membicarakan hidup kita sendiri. Oh ya, tulisan ini mulai menyimpang dari apa yang sebenarnya saya ingin sampaikan, mungkin Anda sudah tidak ingin meneruskan bacaan yang sesungguhnya membuang-buang waktu Anda yang sangat berharga. Tapi saya tahu, Anda tidak bisa berhenti, rasa penasaran Anda memaksa untuk terus membaca tulisan bodoh ini karena semua orang selalu mencari tentang akhir dari sebuah permulaan. Itulah mengapa konsep ketuhanan begitu laris manis dan tak bisa dihentikan penyebarannya. Konsep ini menjajakan mimpi tentang surga, akhir dari dunia dalam kematian. Kita terbuai. Saya pun terbuai. Orang-orang pun bahkan banyak yang dibutakan. Pada akhirnya, semua orang berorientasi pada akhir, bukan pada proses. Anda bahkan tidak peduli apa tulisan saya singkron dengan judul atau ketika saya menyelipkan bahasa Inggris di beberapa bagian just like this. So, in the end… Anda hanya mencoba mencari tahu akhir dari tulisan ini dan berusaha memahami apa yang saya coba sampaikan atau bahkan siapa saya dalam tulisan ini. Saya tidak menyalahkan Anda; juga tidak berusaha membenarkan diri saya apabila yang saya tuliskan ini benar adanya. Tidak ada yang pasti dalam hidup ini, sama seperti jodoh. Bisa jadi pasangan yang sekarang sedang bersama Anda, entah itu istri, suami, kekasih, teman dekat, atau terserah bagaimana kalian menyebut pasangan Anda itu, bukanlah orang yang sesungguhnya telah dipersiapkan untuk melengkapi Anda. Bisa jadi mereka hanyalah bagian kecil dari film kehidupan Anda yang panjang; adegan ketika si Tokoh Utama merasakan gejolak-gejolak serta momentum yang selalu kita pahami sebagai ‘Yah, namanya kehidupan’. Toh, yang terpenting sekarang hanyalah bagaimana akhirnya saja bukan? Well, saya sendiri saja tidak tahu akhir dari kehidupan saya, apa hak saya berbicara tentang akhir kehidupan orang lain? Namun mungkin ada satu hal yang pasti, dari segala ketidakpastian tentang akhir dari coretan ini. Waktumu adalah milikmu sendiri. Ketika kalian memutuskan untuk membaca coretan ini secara implusif dan tak bisa berhenti sampai pada titik ini, kalian tahu kalian hanya membuang-buang waktu, saya bahkan sudah memberikan pernyataan ini berkali-kali. Memperingatkan kalian tentang ke-un-faedahan coretan ini. Namun kalian masih saja menuntut akhir, menuntut jawaban, menuntut kepastian, menuntut saya untuk memberikan penjelasan kenapa saya menulis coretan ini. Apa kalian pikir saya akan memberikan apa yang kalian mau? Kalian saja mungkin tidak sadar kalau saya sekarang menyebut kalian itu ‘kalian’ bukan lagi dengan ‘Anda’. Oh, saya tidak ingin berdusta, saya senang ketika Anda akhirnya menyadari hal itu. Itu tandanya saya berhasil membuat Anda terkejut. Membuat pembaca terkejut adalah keberhasilan sebuah karya fiksi, bukan? Oh, jadi ini fiksi? Entahlah, saya tidak suka mendefinisikan sesuatu secara sepihak. Itu tandanya saya tidak adil dengan indra-indra milik orang lain yang mungkin saja mendefinisikan coretan ini sebagai SAMPAH. Jadi ya sudahlah… terserah kalian mau berpikir apa tentang diri saya. Lain kali, tolong berhati-hati dalam membaca sesuatu, kadang kala bacaan tersebut tidak akan memberikan apa yang Anda inginkan. Kadang mereka mengecewakan dan menyedihkan hati dan membuang-buang waktu berharga milik Anda sendiri. Nah, jadi ini salah satu bacaan itu. Saya sudah memutuskan untuk tidak memberi akhir pada tulisan ini, saya tidak ingin tulisan ini berakhir. Saya ingin tulisan saya abadi dan tertinggal di benak kalian hingga besok hari, hingga hari berikutnya, hingga nanti kalian memiliki seorang anak, dan menamainya dengan nama yang merupakan doa. Doa yang mungkin saja tidak akan pernah terkabul. Saya tidak akan mengakhiri tulisan ini karena saya hanya ingin memulainya. Tapi bagaimana bisa? Semua yang telah diawali harus diakhiri. Konsep Alpa dan Omega dibawa oleh seorang laki-laki bernama Yesus ke dalam kehidupan saya, ia menjanjikan awal dan akhir yang hanya bisa ditemukan dalam dirinya. Tapi sekarang saya ingin mendekonstruksi hal itu, saya hanya akan memberikan tanda elipsis. Menurut Wikipedia yang baru saja saya tengok, tanda elipsis adalah tanda baca yang biasanya menandai penghilangan sengaja suatu kata atau frasa dari teks aslinya. Tapi saya tidak hanya akan menghilangkan kata atau frasa, Saya ingin menghilangkan akhir, ending, serta omega dari tulisan ini. Namun hati kecil Anda pasti mendebat, pada akhirnya tulisan ini akan berakhir dan yang mengakhirinya adalah tanda baca elipsis itu! Hahaha, GOBLOK! Sekarang segalanya menjadi ambigu, apa kata GOBLOK itu ditujukan kepada saya atau kepada Anda? Ah, sudahlah, untuk apa mendebatkan satu kata yang memiliki tafsir yang berbeda-beda tergantung bagaimana tanda bacanya, bagaimana cara mengucapkannya, atau apa agama orang yang mengucapkan kata itu. Tidak penting. Sungguh tidak penting. Seperti isi coretan ini. Maka dari itu saya hanya ingin meninggalkan sebuah kehampaan pada diri Anda. Kehampaan. Yang dilambangkan dengan … yang mungkin bisa menjadi tempat Anda berpikir. Tempat Anda merenung. Tempat Anda menemukan diri Anda sendiri. Tidak ada akhir ketika kehampaan itu datang, kehampaan bukanlah akhir tapi moment of silent. Momentum yang selalu dilupakan dalam setiap tokoh utama dalam kehidupan ini.. Momentum seperti … ini lalu akan berlanjut menjadi sebuah pemikiran yang seperti … lalu Anda akan terjebak dalam kebingungan yang … yang begitu itu lalu membuat Anda … dan … dan … begitu terus dan … Anda akan marah dengan banyak sekali … ini, lalu saya akan merasa … karena saya sendiri, di momentum seperti … ini suka sekali melihat … kefrustasian … manusia … dan manusia … dengan … begitu saja terus … ini karena … saya … juga … … … …. … … …. … ….

Ekonomi Indonesia di Zaman Digital: Peluang Bisnis yang Tak Terelakan

Perkembangan ekonomi di zaman digital pada dekade ini tengah berada di atas angin. Seiring dengan perkembangan teknologi yang kian mutahir dan munculnya generasi-generasi milenial yang sangat melek dengan beragam informasi serta manfaat teknologi, sektor ekonomi pun tentu tidak akan luput dalam mengambil peluang ini. Seperti yang dapat kita lihat dari data statistik yang diterbitkan oleh Databoks di bawah ini. Proyeksi pertumbuhan rerata tahunan (CAGR) Indonesia adalah 19 persen untuk periode 2015-2020 dan merupakan yang tercepat di dunia.

CAGR Pengguna Internet Menurut Negara 2015-2020

(Sumber : DATABOKS  – “Google: Pengguna Internet Indonesia Tumbuh Tercepat di Dunia” )

Hal ini tentu menunjukkan tren positif dalam ekonomi digital yang menjadikan pengguna internet sebagai target pasar untuk produk-produk ekonominya.  Bayangkan saja, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia bahkan jauh melampaui Amerika Serikat yang diprediksi hanya mampu bertambah sebanyak 1 persen hingga tahun 2020. Sementara itu, bila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN sendiri, Indonesia pun masih lebih unggul dari Vietnam dan Filipina yang masing-masing diprediksi hanya akan mengalami pertumbuhan pengguna internet sebanyak 13 persen dan 11 persen.

Baca lebih lanjut

Ik Ben…

Empat puluh tahun berlalu secepat angin menghempaskan serpihan debu di trotoar Malioboro. Paru-paru pria kaukasoid itu melumat dalam-dalam cerutu pertamanya hari ini dan menyelimuti wajah yang kini penuh dengan bintik-bintik usia itu dengan asap beracun. Ia tersenyum tipis, mata biru kelabunya melirik miris pada kusir-kusir andong yang telah siap siaga di atas dokar dan menanti turis berdatangan—dulu rasanya tidak begini, pikirnya, nostalgia menggerogoti setiap sel otaknya seperti sengatan lebah yang menyakitkan. Ia menghisap cerutunya lagi sebelum akhirnya melangkah menyusuri jalan yang kini begitu berbeda dari yang terakhir ia ingat.

Sekarang pukul sepuluh di pagi hari, ia tiba di kota ini pada pukul tujuh tadi dan tak sempat menikmati jet lag penerbangan selama empat belas jam dari Amsterdam karena masa lalu menyekap seluruh perhatiannya sejak pertama kali ia menjejakan kaki.

Hah…

Baca lebih lanjut