Empat puluh tahun berlalu secepat angin menghempaskan serpihan debu di trotoar Malioboro. Paru-paru pria kaukasoid itu melumat dalam-dalam cerutu pertamanya hari ini dan menyelimuti wajah yang kini penuh dengan bintik-bintik usia itu dengan asap beracun. Ia tersenyum tipis, mata biru kelabunya melirik miris pada kusir-kusir andong yang telah siap siaga di atas dokar dan menanti turis berdatangan—dulu rasanya tidak begini, pikirnya, nostalgia menggerogoti setiap sel otaknya seperti sengatan lebah yang menyakitkan. Ia menghisap cerutunya lagi sebelum akhirnya melangkah menyusuri jalan yang kini begitu berbeda dari yang terakhir ia ingat.

Sekarang pukul sepuluh di pagi hari, ia tiba di kota ini pada pukul tujuh tadi dan tak sempat menikmati jet lag penerbangan selama empat belas jam dari Amsterdam karena masa lalu menyekap seluruh perhatiannya sejak pertama kali ia menjejakan kaki.

Hah…

Pria itu mendesah sembari membuang asap dari dalam paru-parunya; jemari melesap cepat di antara rambut sewarna walnut yang kini mulai memudar dan mengacak-acaknya. Usianya mungkin telah lebih dari separuh abad, ia bahkan baru saja memiliki cucu ketiganya minggu lalu, tapi masa lalu tetap menjadi momok. Yah, hidupnya mungkin bergerak maju seiring bertambahnya usia, tapi seluruh kenangan itu masih memiliki tempat abadi di ingatan serta hatinya; tak akan pernah mati sepanjang kota ini masih ada di muka bumi. Tidak akan.

Trotoar mulai penuh sesak dengan orang-orang, langkah pria itu pun sering kali terhenti demi menghindari tubrukan. Yah, Harold Schoonhoven mungkin sudah tua, namun ia masih pria dengan tinggi nyaris dua meter; sangat tidak bersahabat dengan jalan sempit penuh kerumunan orang.

Harold teringat, dulu sekali, ia masih bisa berlarian di antara orang-orang yang berjalan dan berjaja di tempat ini; menubruk beberapa dagangan, menyenggol satu-dua orang, mendengar umpatan serta makian dalam bahasa Jawa, lalu terus berlari sembari tertawa terbahak-bahak tentang hal-hal tidak penting. Ah, kakinya sekarang sudah tak sekuat dulu, tapi ia masih ingat rasanya berlari mengejar bayangan lincah tubuh itu. Si Kancil, yang suka sekali mencuri cerutu mahalnya hanya karena ia benci asap nikotin benda itu.

Hahaha, Harold terkekeh, itu hanyalah sekelebat bayangan, tapi cukup kuat untuk menjadi pelatuk dari gelombang ingatan yang sebenarnya tak pernah ingin ia ingat lagi sepanjang sisa hidupnya. Pria itu akhirnya mengerjap, kepalang tanggung jika ia berhenti mengingat sampai di sini, masih banyak tempat yang dapat membantunya mengingat seluruh kenangan yang tersimpan rapi di sudut ruangan hatinya itu. Lantas, ia pun melangkah pasti menuju salah satu dokar yang terparkir tak jauh darinya dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang ia kira telah terlupakan.

“Permisi, Pak, bisa antar saya keliling?” Suara Harold agak terbata, aksen eropanya begitu kental.

Kusir dokar yang usianya kira-kira beberapa tahun lebih muda dari Harold itu sedikit tersentak, namun secepat kilat tersenyum dan mempersilahkan pria itu naik.

“Oh, monggo, Mister… mau diantar keliling ke mana saja? Alun-alun? Kraton?”

Harold membalas senyum itu sembari mengangkat bahu. “Terserah Bapak saja, saya hanya ingin berkeliling.”

“Oh, Ndjeh, kita berangkat ya, Mister.”

Dengan satu setakan pada bokong kuda, dokar pun berlahan-lahan bergerak. Harold merasakan guncangan halus pada tubuhnya seiring dengan roda yang berputar dan proyeksi kenangan yang menghantarkannya pada dimensi lain pun dimulai.

Yogyakarta tahun ’70-an.

000

Tahun 1973. Sepanjang dua puluh dua tahun hidupnya Harold Schoonhoven hanya mencintai Indonesia melalui radio, koran, dan buku-buku. Jadi, ketika untuk pertama kalinya ia menghirup udara yang hanya bisa ia bayangkan di antara perenungannya, pria itu tak bisa menahan rasa gembiranya yang membuncah. Ia memandang sekeliling, kedua telapak tangannya terasa dingin, orang-orang di stasiun menabraknya dari kanan dan kiri, tapi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya diam dan terpaku untuk merasakan momen magis itu. Beberapa menit berlalu secepat kedipan mata dan Harold pun disentakan oleh sebuah suara asing…

“Meneer Schoonhoven?”

Harold berbalik, matanya menangkap iris sehitam arang yang balas menatapnya dengan penuh rasa geli. Sedetik kemudian pria itu baru menyadari bahwa tingkahnya tadi begitu konyol dan ia tak heran bila ditatap seperti itu. Namun, ada sesuatu dalam mata itu yang membuatnya terpukau lebih dari sekadar satu di antara banyak mata sewarna arang yang lain, sesuatu yang tak bisa membuatnya berhenti menatap mata itu.

“J-ja?” Harold memaki dirinya karena suara yang ia keluarkan tak ubahnya cicitan tikus sekarat.

Pemilik mata itu mengulurkan tangan untuk berjabat dan Harold menyambutnya dengan perasan baru yang aneh.

“Ik ben…”

Rumah yang menjadi tempat tinggal Harold adalah sebuah rumah semi tradisional bertingkat dua yang dimiliki oleh seorang janda kaya raya. Suaminya dulu adalah seorang jendral di angkatan darat; ditinggal mati tanpa memiliki buah hati. Jadi, untuk menghilangkan rasa sepi, rumah besarnya pun dijadikan kos-kosan—lantai atas untuk perempuan dan laki-laki di bawah. Harold suka tempat ini, memang tak seperti rumah tradisional Jawa dalam bayangannya yang memiliki dipan dan pekarangan luas tempat pohan pisang dan rambutan bebas tumbuh, tapi ini bahkan sudah lebih dari cukup.

Hari ini kuliah perdananya sebagai mahasiswa asing di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, dan ia merasa begitu bersemangat sekaligus takut jika hari ini berakhir dengan sangat tidak menyenangkan. Di depan pintu pria itu berdiri dengan gelisah, tengkuknya terasa dingin dan perutnya bergejolak, namun derap langkah kaki yang berlari turun dari tangga secara ajaib membuatnya tenang; senyum tipis pun berlahan merekah di sudut bibir.

Ia tahu siapa yang datang. Siapa yang akan menerjang dari belakang dan merangkulnya, lalu memanggilnya dengan nama julukan yang begitu menyebalkan namun secara bersamaan membuatnya merasa spesial.

“Ayo, Londo! Kita pergi duluan saja, Andini masih sibuk berdandan!”

Tubuh Harold terasa ditarik ke bawah saat ia diseret keluar dari rumah karena perbedaan tinggi yang begitu kentara, namun itu tidak masalah, ia merasa senang.

“Bersyukurlah kaudatang ke Indonesia pada dekade ini.”

Harold mengangkat satu alisnya ke atas saat mendengar komentar tiba-tiba itu, lalu menatap si Pelontar komentar yang bahkan tak menatapnya saat berkata-kata. Kedua mata sehitam arang itu nyaris tak berkedip saat membaca majalah berbahasa Belanda yang Harold bawa saat kedatangannya dulu—seingat Harold, ia sudah membaca majalah itu lebih dari dua puluh kali hingga beberapa halaman nyaris sobek.

“Seandainya saja kaudatang sepuluh tahun lebih awal, kujamin kau tak akan keluar dari Indonesia hidup-hidup.”

Komentar itu berlanjut dan Harold mengerjap, ia tahu betul tentang tragedi perubahan orde itu—tentang Orde Lama yang begitu anti barat dan Orde Baru yang terbuka pada perkembangan zaman. Namun, pria itu gagal menemukan korelasi, antara majalah busana wanita dan komentar tentang waktu kedatangannya itu. Hingga akhirnya ia hanya bisa terkekeh geli, menggeleng-gelengkan kepala, dan kembali membaca buku Sastra Jawa di genggamannya; tak merasa harus membalas komentar sambil lalu itu karena menurutnya sangat tidak penting.

Yah, sudah nyaris tiga bulan ia berada di negeri impiannya dan mengenal tempat ini dengan bantuan orang itu sejak hari pertama hingga sekarang. Namun, di sore hari yang tenang, bersantai berdua di depan selasar rumah kos-kosan ini seperti sore-sore sebelumnya, ia masih tak habis pikir bagaimana otak cerdas itu bekerja dan melontarkan komentar ajaib yang datang entah dari mana.

Hahaha, aneh.

Harold bukan perjaka, ia sudah berkali-kali jatuh cinta dan dicintai. Kekasih terakhir yang ia pacari sebelum berangkat ke Indonesia adalah seorang model majalah lokal di Amsterdam. Ia yakin, puluhan wanita rela mengemis untuk mendapatkan hatinya, tak terkecuali di negeri yang telah dijajah oleh leluhurnya selama ratusan tahun ini. Sejak ia datang, sering sekali ia menemukan surat cinta terselip di antara bukunya, beberapa wanita bahkan terang-terangan mengajaknya menonton teater atau pertunjukkan wayang.

Namun, dari semua perasaan yang ia rasakan sepanjang hidupnya—tentang mencintai dan bahagia karena dicintai, tentang rasa kagum dan dikagumi, bahkan gairah semalam yang hilang seiring munculnya fajar—ia tak pernah merasakan perasaan seperti yang satu ini.

Perasaan yang salah, namun terasa sangat benar.

Harold benar-benar tak mengerti dengan perasaan baru ini. Berhari-hari ia merenung, mengurung diri di kamar, dan menghindari kontak dengan dunia luar dengan alasan mempersiapkan diri untuk ujian. Ada banyak kemungkinan yang ia temukan untuk mendefinisikan perasaan ini, dari yang paling wajar bahwa ia menyalahartikan rasa persahabatan hingga kesimpulan bahwa ia telah gila dan perlu rehabilitasi. Sayangnya, tak ada satu pun yang cocok; ini bukan perasaan persahabatan dan ia tidak gila.

Sampai pada suatu malam di bulan Agustus yang gerah, tanpa sengaja ia melihat sesuatu yang seharusnya tak ia lihat, yang pada akhirnya menjadi titik terang dari segala kegundahannya selama ini.

Harold melihat sepasang kekasih berciuman di depan rumah kos-kosannya. Pemandangan yang terlihat begitu normal dan membahagiakan. Sejoli itu berpelukan dan saling melempar senyum. Harold sangat ingin memejamkan mata dan pergi dari tempatnya berada, namun matanya bahkan nyaris tak berkedip; dadanya berdebar begitu kencang dan terasa sakit di saat yang bersamaan.

Dan sejak detik itu, Harold tahu bahwa perasaan ini bernama…

Cinta.

Bukan cinta yang biasa ia rasakan. Cinta yang satu ini terlalu putih, hingga Harold tak merasakan desakan untuk memiliki. Cinta yang terlalu sederhana, hingga ia hanya butuh mencintai tanpa mengharapkan balasan. Ini jenis cinta yang akhirnya hanya bisa ia nikmati dalam diam dan itu saja sudah cukup.

Lalu, dengan satu tarikan napas panjang, Harold pun berlalu. Kembali masuk ke kamarnya dan tidur dalam damai karena telah menemukan jawaban. Besok mungkin akan lebih menyakitkan dari ini, tapi ia bersyukur bisa merasakannya sebelum ia mati.

Hari-hari setelah Harold  menyadari perasaannya sendiri bak neraka yang terasa menyenangkan. Entah apa pria itu benar-benar sudah gila atau ia hanya salah mengartikan sinar dari mata sehitam arang itu, tapi yang jelas, ia bisa menemukan apa yang ia rasakan di sana.

Apa kini, setelah ia telah belajar lebih memahami perasaannya, tanpa sadar perasaannya menunjukkan bentuk di tiap gerak-geriknya?

Yah. Bukan maksud hati Harold untuk sering mencuri lihat atau tersenyum diam-diam di belakang tubuh yang bergerak lincah itu, tapi ia hanya lebih mensyukuri setiap momen yang mereka habiskan bersama seolah-olah ia tak akan mengalaminya lagi—di kelas, di perpustakaan, di jalan, saat bersepeda, belajar bersama, di mana saja-kapan saja. Dan lagi, bukan maksud Harold untuk merasa khawatir atau memperhatikan hal-hal kecil yang nyaris luput, tapi terlalu sering bersama membuatnya menyadari setiap kebiasaan seperti ia memahami telapak tangannya sendiri—kebiasaannya menggigit kuku ketika panik, menggigit bibir ketika lapar, mengetukan sepatu ketika marah, mata yang bergerak-gerak tak fokus ketika bingung, semuanya.

Sungguh, Harold tidak bermaksud untuk menunjukkan betapa ia mencintai bagaimana cara kedua mata itu menatapnya. Semua terjadi begitu saja, secara naluriah—seolah-olah semua yang ia lakukan itu benar adanya. Mungkin ini dampak dari malam-malam panjang yang dihabiskan untuk bertukar pikiran dan pandangan; mimpi-mimpi gila dan harapan, yang entah kenapa membuat mereka merasa nyaman jika bersama.

Entahlah.

Harold masih sulit untuk mengerti, tapi izinkan ia sedikit berharap. Ya, sedikit saja, bahwa suatu hari nanti, entah kapan, perasaannya akan tersampaikan dengan baik dan…

Berbalas.

Entah ini malam keseratus berapa mereka duduk berdua di atas atap sambil menatap bintang di langit Yogyakarta yang bersih tanpa mengucapkan sepatah kata pun—hanya suara napas bertempo stagnan yang mengisi pendengaran. Harold pun tak pernah tahu, sungguh, kalau tiba-tiba saja malam ini akan menjadi saksi dari hubungan yang akan menjungkirbalikan dunianya.

“Aku tahu kau melihat ciuman malam itu.”

Dimulai dengan komentar tiba-tiba itu dan tatapan mata yang mengunci indra Harold dalam dunia antah berantah. Mata kelabu pria itu hanya dapat mengerjap seperti orang pilon sebagai reaksi dari perkataan itu.

Suara kekehan dan senyum penuh pengertian membalas reaksi itu, Harold  masih pada posisinya yang membatu sementara dadanya mulai bergemuruh dan wajahnya memanas diterpa angin malam yang dingin.

“Aku pikir kita sudah terlalu tua untuk bermain-main.” Harold masih tak dapat mencerna dengan baik apa yang tengah terjadi dan bagaimana ia bisa terjebak dalam pembicaraan ini. Jadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mendengarkan.

 “Heh, Londo, katakan padaku, seandainya aku pun menciummu sekarang, apa yang akan terjadi pada kita?”

Tiba-tiba saja Harold lupa caranya bernapas, momen ini terlalu absrud untuk diungkapkan dalam kata-kata. Manik mata biru kelabunya bergerak-gerak tak fokus, ia memandang kedua mata yang menanti jawaban itu dengan keheningan yang sangat tidak menyenangkan. Sedetik kemudian ia memaki sifat aslinya yang begitu kaku dan canggung jika berada di posisi seperti ini. Namun, belum sempat ia mencoba melontarkan jawaban cerdas dari pertanyaan gila itu, bibir Harold sudah keburu dikunci oleh ciuman yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dalam mimpi.

 Mungkin pada akhirnya, pertanyaan itu memang tak perlu dijawab karena masing-masing dari mereka sadar betul…

Semua terasa tepat.

Harold tidak tahu bagaimana cara menggambarkan perasaannya tentang genggaman tangan di bawah meja ketika mereka tengah duduk bersisian di perpustakaan, tidak tahu cara mendefinisikan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya saat bibir mereka bersentuhan secara diam-diam di sudut kampus, pun tidak tahu cara agar ia berhenti tersenyum dan berdebar saat mereka saling melempar pandangan ketika berada di tengah-tengah kerumunan orang.

Semua hal gila dari hubungan ini terasa baru, juga begitu menantang. Seumur hidupnya, Harold tak pernah berpikir akan mengalami cinta yang seperti ini. Semua terasa seperti mimpi dan pria itu berharap, meskipun mustahil, ia tak akan pernah bangun dari mimpi ini untuk menghadapi kenyataan yang pahit.

 

000

Daerah Prawirotaman baru sejak satu dekade terakhir dipenuhi dengan turis manca negara, jadi ketika Harold turun dari taksi tepat di depan sebuah kedai kopi dan memandang kesekeliling, ia langsung bisa mendapati begitu banyak wajah seperti dirinya berkeliaran di sini. Tempat ini telah banyak berubah, pikirnya untuk yang kesekian kalinya hari ini.

Seorang pelayan menyapa dengan ramah ketika Harold masuk ke kedai kopi itu, menanyakan apa ia datang sendirian atau menunggu janji yang akan menyusul. Herold menjawab kalau seorang teman telah menunggu di balkon lantai dua dan pelayan itu langsung mengantarnya ke sana.

“Kau masih terlihat tampan, Londo…”

Harold tersenyum. Seorang wanita seusia dirinya menyapa dengan nada sinis ketika ia mengambil tempat duduk.

“Apa kabar?” Harold mengulurkan tangan untuk menjabat dan wanita itu menyambutnya dingin. Tampak tak berminat untuk berbasa-basi.

Mata Harold memandang wanita itu saksama. Ia masih terlihat sangat cantik, sama persis seperti yang terakhir kali ia ingat. Seperti biasa, rambut panjang dan tebal itu tersanggul rapi di belakang leher, meski sekarang telah dihiasi warna kelabu dan putih. Guratan kriput tanda usia di wajah wanita itu pun tak bisa menutupi pesona masa muda yang sangat dikagumi banyak pria dulu. Sementara itu, kebaya putih dan rok batik yang selalu menjadi padanan kebanggannya pun masih tak berubah; wanita berdarah ningrat itu selalu bangga mengenakannya. Ah, semua masih sama, sama persis, hingga Harold lupa sudah berapa dekade berlalu sejak hari itu.

“Sudah puas kau memandangku?” wanita itu mengangkat dagu, tersenyum angkuh. Harold terkekeh, sifatnya pun tak berubah.

“Kau selalu terlihat cantik, Andini. Tidak berubah.”

Andini yang sepertinya sudah terbiasa mendengar pujian seperti itu merasa tak harus tersipu mendengar perkataan Harold. Ia hanya mendesah dan kembali menyunggingkan senyuman tidak begitu ramah yang sudah ia tampilkan sejak awal.

“Bisakah kita mengakhiri basa-basinya?” tanya Andini datar dan Harold menjawabnya dengan senyuman penuh pengertian. Wanita itu pun tanpa berkata-kata lagi meraih sesuatu dari dalam tasnya yang sedari tadi diletakan di atas meja lalu mengeluarkan sebuah guci keramik berwarna putih dengan corak oriental. Ia melakukannya dengan begitu hati-hati, sesaat mata sayu wanita itu berkaca-kaca, namun dengan satu tarikan napas panjang ia meletakan guci itu di atas meja dan mendorongnya ke arah Harold.

“Ini abunya.”

Harold menahan napas, dadanya terasa sesak dan penuh dengan gelombang perasaan yang sudah ia tahan sejak pertama kali ia menjejakan kaki di kota ini. Namun, waktu berlalu dan Harold tak melakukan apa pun. Satu-satunya hal yang Harold lakukan sekarang hanyalah mencoba untuk bernapas dan mengendalikan emosinya.

Harold menatap guci itu dengan penuh perhatian seakan-akan baru pertama kali ia melihat guci seperti itu. Lalu, sebelum tetes pertama air matanya jatuh, pria itu pun memalingkan wajah kembali pada Andini dan mendapati wanita itu melakukan hal yang sama.

“Andini…” suara Harold lirih dan menyedihkan. “Bolehkah aku bertanya padamu?”

Andini menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia mengambil sapu tangan dan mengusap air matanya buru-buru. “Tanyakanlah.”

Harold menelan ludah, memejamkan matanya sesaat untuk mengumpulkan sisa-sisa perasaan yang masih tertinggal di sudut hatinya.

“Apa kau bahagia?”

Andini mengerjap, tak menyangka dengan pertanyaan itu.

“Apa pentingnya bagimu kalau aku bahagia atau tidak?” Andini balas bertanya, entah mengapa ia merasa tak senang.

Harold memaksakan senyumnya, menatap wanita itu begitu lekat dengan sedikit rasa kasihan. “Jika kau bahagia, maka dia juga pasti bahagia.”

Andini terkesiap, mata belonya melebar menahan marah serta rasa malu. Ia tersinggung juga merasa terhina. Lalu dengan harga diri yang selalu menjadi baju zirahnya, Andini pun berdusta, “Tentu saja. Tentu saja aku bahagia. Sangat bahagia karena menikahi pria yang memang seharusnya menjadi suamiku.”

Harold tersenyum, paham betul kalau itu hanyalah kata-kata kopong belaka. “Baguslah, aku turut berbahagia dengan pernikahan kalian.”

“Kau sudah terlambat empat puluh tahun untuk mengatakannya,” sahut Andini ketus. “Ia toh sudah tak bisa mendengarnya.”

“Ia mendengarnya.” Harold menatap guci di hadapan mereka berdua dengan penuh perasaan yang meluap-luap. “Ia mendengarnya dengan sangat jelas.”

Harold meraih guci di atas meja itu, menggesernya  mendekat dengan hati-hati. Dingin. Jemari keriputnya gemetar saat bersentuhan dengan guci itu, menyadari kalau kini ia tak bisa lagi merasakan kehangatan yang selalu ia rindukan dalam malam-malam panjangnya selama empat puluh tahun ini.

“Harold.” Andini memanggil pria itu dengan penuh kegeraman. “Aku tak pernah menyesali apa yang telah aku lakukan.”

Harold tak mengalihkan pandangannya dari guci itu. Senyumnya rekah, meski perih. Sorotnya menunjukkan rindu yang bahkan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rindu yang kini tak bisa lagi ditebus. Rindu yang sudah layak menemani Harold sepanjang sisa hidupnya.

“Aku tak pernah menyalahkanmu, Andini,” sahut Harold lembut. Matanya tak teralihkan. “Apa yang kaulakukan itu sudah benar. Kau selalu benar.”

Andini menarik napas dengan kasar;  semakin kesal dan marah mendengar tanggapan Harold. Entah kenapa wanita itu seperti kembali ke masa mudanya karena ia merasakan amarah yang sama seperti ketika pria yang telah ditunangkan dengannya lebih memilih menghabiskan waktu dengan orang lain—orang lain yang bukan perempuan, orang lain yang seorang pria sama sepertinya, orang lain yang bahkan tak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar kala itu.

Tingkah laku itu terasa ganjil dan salah. Tidak pantas dan tidak patut.

Andini selalu mempercayai naluri dalam kemarahannya karena ia seorang wanita yang sangat peka. Maka dari itu, seumur hidupnya ia tak pernah menyesal telah menerobos masuk ke kamar tunangannya tanpa permisi kala itu. Membuat kegaduhan dengan menjerit saat mendapati tunangannya bertelanjang dada dan merasa mual saat mengetahui bibir yang selalu menciumnya dengan lembut juga berpagutan dengan bibir orang lain. Orang lain yang bukan perempuan itu.

Malam itu juga dengan kuasa yang ia miliki, Andini mengusir pria asing yang mencumbui tunangannya itu. Ia mengusirnya jauh kembali ke tempat pria itu seharusnya berada. Mengancam akan bunuh diri jika pria terkutuk itu coba kembali menemui tunangannya.

Lalu, dengan seluruh harga diri yang masih tersisa meski pun merasa terhina dengan perselingkuhan laknat itu, Andini minta dinikahkan. Ia tak ingin wajahnya tercoreng; ia tak ingin menjadi bahan gunjingan. Ia wanita ningrat dengan harga diri yang tinggi—putri pertama dari seorang priyayi yang masih memiliki darah Raja. Ia harus menjaga martabat keluarganya juga martabat keluarga tunangannya yang berhubungan begitu erat bak laut dan garam.

Andini benar-benar memisahkan mereka dan mengakhiri hubungan tidak terpuji itu.

Dan wanita itu sama sekali tidak menyesal karena ia telah melakukan hal yang benar. Andini yakin itu. Sangat yakin karena empat puluh tahun pernikahannya serta dua anak yang lahir dari pernikahan itu membuktikan segalanya. Hanya saja, entah kenapa, dadanya terasa sakit sekarang. Sangat sakit. Saat Andini melihat pria yang telah ia enyahkan dari kehidupannya kini memeluk guci tempat abu suaminya bersemayam seolah-olah seluruh hidupnya bergantung pada abu tak bernyawa itu. Seolah-olah hidupnya turut terbakar dan hancur seperti abu itu.

Seolah-olah tak pernah ada waktu selama empat puluh tahun yang telah memisahkan mereka atau bahkan meluturkan perasaan yang seharusnya memang tidak ada sejak awal itu.

Harold mulai membiarkan air mata luluh di pipinya lalu terisak dan Andini masih terdiam dengan pikiran serta rasa sakit di dadanya. Langit menguning di ujung cakrawala dan angin sepoi-sepoi memporak-porandakan ikatan sanggul Andini juga rambut walnut Harold. Aroma hari yang mulai berakhir menguar seirama dengan menguatnya momen ganji yang dialami kedua orang itu.

Andini tahu tanpa harus diberitahu mengapa suaminya menulis surat wasiat tentang mengkremasi tubuhnya. Harold tahu tanpa harus diberitahu bahwa suatu hari nanti ia pasti akan menepati janjinya untuk menunjukkan negeri kelahirannya pada pemilik mata itu. Kedua orang itu tahu tanpa harus berkata-kata bahwa mereka sesungguhnya mencintai orang  yang sama dan kini menangisi orang yang sama.

Namun, hanya ada satu hal yang membedakan mereka berdua, hal yang hanya Harold miliki namun tidak pernah dimiliki oleh Andini.

Rasa yang sesungguhnya sudah hadir ketika mata Harold terpaut dengan mata itu dan mendengar bibir yang kemudian akan ia cumbui dengan kesungguhan hati itu berkata…

“Ik ben…”

Fin.

Catatan:

Ik Ben… (bahasa belanda) : Saya adalah…

Cerpen yang lumayan panjang dan saya selesaikan dalam waktu 6 bulan. LOL. Iya, ini adalah cerpen yang nyaris masuk bak sampah sih, tapi ujung-ujungnya saya selesaikan saya. Mohon maaf ya kalau misalnya tulisan ini tidak sebagus itu. Hahaha. Maklumi saja.

Iklan

2 pemikiran pada “Ik Ben…

    1. Uwooo uwoooo…. terima kasih telah membac aya qaqa tjantik! Saya tersanjung sekali loh. Hahaha. Soalnya saya sudah mulai jarang menulis. Saya akan menulis lebih keras lagi kalau begitu. Ciaoooo!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s