Ekonomi Indonesia di Zaman Digital: Peluang Bisnis yang Tak Terelakan

Perkembangan ekonomi di zaman digital pada dekade ini tengah berada di atas angin. Seiring dengan perkembangan teknologi yang kian mutahir dan munculnya generasi-generasi milenial yang sangat melek dengan beragam informasi serta manfaat teknologi, sektor ekonomi pun tentu tidak akan luput dalam mengambil peluang ini. Seperti yang dapat kita lihat dari data statistik yang diterbitkan oleh Databoks di bawah ini. Proyeksi pertumbuhan rerata tahunan (CAGR) Indonesia adalah 19 persen untuk periode 2015-2020 dan merupakan yang tercepat di dunia.

CAGR Pengguna Internet Menurut Negara 2015-2020

(Sumber : DATABOKS  – “Google: Pengguna Internet Indonesia Tumbuh Tercepat di Dunia” )

Hal ini tentu menunjukkan tren positif dalam ekonomi digital yang menjadikan pengguna internet sebagai target pasar untuk produk-produk ekonominya.  Bayangkan saja, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia bahkan jauh melampaui Amerika Serikat yang diprediksi hanya mampu bertambah sebanyak 1 persen hingga tahun 2020. Sementara itu, bila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN sendiri, Indonesia pun masih lebih unggul dari Vietnam dan Filipina yang masing-masing diprediksi hanya akan mengalami pertumbuhan pengguna internet sebanyak 13 persen dan 11 persen.

Potensi besar ini tentu tidak luput dari mata pemerintah yang semakin gencar membangkitkan sektor-sektor ekonomi potensial di Indonesia. Salah satu ekonomi potensial tersebut tentu saja adalah ekonomi digital. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, pun mengaminkan bahwa Indonesia harus memanfaatkan potensi 93,4 juta pengguna internet yang ada di Indonesia ini sebaik-baiknya. Hal ini selaras dengan visi besar Presiden Joko Widodo yang menargetkan Indonesia menjadi negara yang memiliki ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020 kelak. Selain itu, pemerintah pun menargetkan terciptanya seribu technopreneurs yang memiliki valuasi bisnis sebesar US$ 10 miliar dan pada tahun 2020 diprediksi nilai e-commerce bisa mencapai US$ 130 miliar.

Untuk mendorong visi besar ini, pemerintah pun menerbitkan Paket Kebijakan Ekonomi Jilid XIV yang berbicara tentang e-commerce. Dalam paket kebijakan ekonomi ini, pemerintah menetapkan delapan aspek pengaturan yang tertuang dalam peraturan presiden. Kedelapan aspek tersebut antara lain, aspek pendanaan yang akan dipermudah dan diperluas oleh pemerintah;  aspek perpajakan yang akan memberikan insetif perpajakan sehingga adanya perlakuan adil dalam perpajakan antara penguasaha e-commerce asing dengan domestik; aspek perlindungan konsumen yang menyangkut tentang pengharmonisasi regulasi tentang sertifikasi elektronik, proses akreditasi, dan lain-lain; aspek Pendidikan dan SDM (sumber daya manusia) yang  dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan e-commerce dan potensinya serta edukasi tentang e-commerce kepada konsumen, pelaku, penegak hukum; aspek logistik yang bekerja sama dengan PT Pos Indonesia lantas berusaha untuk melakukan peningkatan kecepatan pengiriman dan mengurangi biaya pengiriman; aspek infrastruktur komunikasi yang bertujuan untuk mempercepat pembangunan jaringan broadband berkecepatan tinggi, agar e-commerce dapat dimanfaatkan di seluruh Indonesia; aspek keamanan siber yang mencakup penyusunan model sistem pengawasan nasional dalam transaksi e-commerce serta meningkatkan kesadaran publik tentng kejahatan dunia maya; lalu yang terakhir adalah aspek pembentukan manajemen pelaksana yang berupaya secara sestematis dan terkoordinasi untuk menerapkan Peta Jalan e-commerce dan sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi implementasinya.

Langkah serius dari pemerintah dalam meningkatkan ekonomi digital ini pun dapat kita lihat buktinya dari jumlah pendanaan startup di Indonesia yang terus meningkat di tiap tahunnya. Dari data yang bisa kita lihat di bawah ini, pada periode triwulan II 2015-triwulan II 2016 saja telah tercatat investasi startup di Indonesia telah mencapai Rp 2,09 triliun dan akan terus bertambah di setiap tahunnya seiring dengan meningkatnya jumlah konsumen yang ada di Indonesia.

Jumlah Kesepakatan Pendanaan Startup di Indonesia

(sumber: DATABOKS – “Jumlah Pendanaan Startup di Indonesia Terus Meningkat”)

Ada beragam jenis startup yang berkembang pesat di Indonesia dari mulai penyedia layanan jasa,  jual-beli barang, aplikasi, konten-konten kekinian, dan lain-lain. Namun, kita bisa mengelompokan startup yang ada di Indonesia tersebut menjadi tiga kelompok, yaitu startup pencipta game, startup aplikasi edukasi, dan startup perdagangan seperti e-commerce dan informasi.  Potensi dari ketiga kelompok startup ini sangat besar di Indonesia, kita bisa melihat bagaimana game “Tahu Bulat” sempat booming di kalangan pecinta game bermedia smartphone. Lalu aplikasi-aplikasi edukasi yang menyediakan layanan jasa guru online seperti aplikasi “Ruang Guru” dan “Semua Guru” juga tidak kalah bersaingnya dengan aplikasi startup lainnya yang sangat membantu kaula muda, khususnya pelajar. sementara itu startup di bidang perdagangan pun sudah tidak diragukan lagi keberadaannya, mengingat sifat konsumtif masyarakat Indonesia yang cukup besar. Sehingga, semua bisnis startup ini sangat berpotensi dilakukan di Indonesia.

Selain investasi yang kian didorong oleh pemerintah dari segi produksi pengembangan startup baru. Dari segi konsumsi pun pemerintah tidak kalah berhasilnya dalam menciptakan iklim perekonomian yang sehat. Hal ini diperkuat dengan data statistik yang menyatakan bahwa terhitung pada tahun 2016 ada sekitar 8,6 juta orang melakukan transaksi online. Angka statistik Indonesia ini mengalami peningkatan  sebanyak 0,7 juta orang dari tahun sebelumnya yang hanya 7,9 juta orang saja yang melakukan transaksi online.

Konsumen e-Commerce Indonesia - Transaksi Online

(sumber: DATABOKS – “2016, Sebanyak 8,6 Juta Orang Melakukan Transaksi Online”)

Selain transaksi online, nilai transaksi Fintech atau Financial Technology di Indonesia pada tahun 2016 pun pernah diprediksi bisa mencapat US$ 14,5 miliar atau setara dengan Rp 190 triliun. Meskipun masih kalah jauh tertinggal dari negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Cina, menilik data proyeksi pertumbuhan pengguna internet Indonesia yang terbesar di dunia serta dukungan dari pemerintah yang sangat gencar, potensi nilai Fintech Indonesia suatu hari nanti tentu saja bisa melampaui negara-negara lainnya—tidak hanya di ASEAN tapi mungkin juga di dunia.

Perkiraan Nominal Transaksi Fintech di Beberapa Negara 2016

(sumber: DATABOKS – “Nilai Transaksi Fintech Indonesia Mencapai Rp 190 Triliun”)

Melihat data-data statistik yang telah dipaparkan di atas, tentu saja kita dapat melihat potensi ekonomi yang besar dalam ekonomi digital Indonesia. Hal itu tentu menjadi peluang bisnis yang sangat tidak terelakan lagi di era serba modern seperti sekarang ini. Mengapa ekonomi digital menjadi peluang bisnis yang tidak dapat terelakan khususnya di Indonesia?  Ada beberapa alasan yang mendukung pernyataan tersebut.

  1. Tingginya Kesadaran Masyarakat akan Teknologi Internet

Transaksi online serta nilai fintech yang tinggi merupakan bukti nyata bahwa kesadaran masyarakat Indonesia akan teknologi internet sangat tinggi. Generasi-generasi milenial yang menuntut segalanya serba praktis dan efisien agar bisa disesuaikan dengan gaya hidup mereka yang dinamis membuat kebiasaan berbelanja barang serta jasa secara online lebih diminati daripada konvensional. Fenomena ini tentu tidak dapat kita hindari atau hentikan keberlangsungannya karena globalisasi serta moderenisasi dunia yang tak mungkin berjalan di tempat.

  1. Pemerintah yang Supportive

Pemerintah Indonesia yang menyadari potensi besar ekonomi digital pun tidak tinggal diam. Pemerintah melalui kebijakannya kini berusaha penuh untuk mendorong perekonomian Indonesia menuju level berikutnya di tingkat ASEAN dan juga dunia dengan memanfaatkan teknologi serta modernisasi. Hal ini pun menjadi salah satu angin segar bagi pengusaha-pengusaha muda Indonesia yang ingin berkecimpung di dunia e-commerce karena pemerintah akan mendukung penuh usaha mereka.

  1. E-Commerce Merupakan Bisnis yang Cenderung Stabil

Hal ini dibuktikan dengan data penjualan online pada Black Friday dan Thanksgiving di AS justru mencetak rekor tertinggi meski mengalami kelesuan ekonomi.  Data statistik ini menyebutkan bahwa pada tahun 2016, transaksi belanja secara elektronik pada hari-hari besar tersebut mengalami kenaikan sampai 17 persen pada Thanksgiving dan 19 persen pada Black Friday dari tahun sebelumnya.

Transaksi Online Thanksgiving dan Black Friday di AS (2008-2016)

(Sumber: DATABOKS – “Abaikan Kelesuan Ekonomi, Penjualan Online Black Friday AS Cetak Rekor”)

Namun, tidak hanya terjadi di AS, fenomena belanja Black Friday—terjadi diskon besar-besaran yang dilakukan oleh penjual—pun terjadi di kawasan Eropa dan Asia. Sehingga, bisa dilihat dari data statistik AS ini bahwa E-Commerce merupakan bisnis yang cenderung stabil meski pun  terjadi kelesuan ekonomi.

  1. Bisnis Konvensional yang Mulai Menggunakan Fitur Online

Perkembangan teknologi yang semakin pesat kemudian membuat para pelaku bisnis konvensional yang masih ingin bertahan dari gempuran kemajuan teknologi harus turut ikut serta dalam perkembangan zaman. Hal ini bisa kita lihat fenomena jasa transportasi online dan jasa transportasi konvensional yang belakangan ini marak diperbincangan di masyarakat. Terciptanya aplikasi online untuk jasa transportasi merupakan jawaban dari pada inovator atas tuntutan masyarakat yang menginginkan kemudahan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari mereka. Para pebisnis yang melihat peluang tersebut lantas mulai berlomba-lomba mengubah bisnis-binis konvensional menjadi lebih modern dengan menggunakan aplikasi online. Hal ini justru menandakan kesadaran pelaku bisnis akan perubahan zaman yang tidak bisa dielakkan, sehingga mereka pun mencoba mengikuti perkembangan tersebut agar bisnis mereka tidak tertinggal atau tenggelam.

Keempat alasan yang didasari dengan data statistik serta fakta di lapangan sekarang ini tentu sudah cukup menyakinkan kita akan potensi-potensi besar Indonesia di dalam bidang ekonomi digital dewasa ini. Ditambah lagi, hal ini merupakan peluang bisnis yang tidak terelakan lagi karena perkembangan dunia di era digital sungguh pesat, khususnya di Indonesia. Sehingga, tantangan-tantangan zaman yang akan dihadapi oleh pebisnis-pebisnis muda di kemudian hari pun jauh lebih kompleks dan harus lebih terukur dari pada sebelumnya.

Maka dari itu, masyarakat Indonesia harus lebih sadar akan potensi besar bangsanya sendiri agar di kemudian hari dapat memanfaatkannya untuk diri mereka sendiri; bukan malah membiarkan asing terlebih dahulu menjejakan kaki di Bumi Pertiwi. Sejak awal Presiden Joko Widodo menginginkan Indonesia berdikari—berdiri di kaki sendiri, hal itu tentu dapat kita wujudkan apabila masyarakat Indonesia mampu membaca data statistik Indonesia dan mengenali Indonesia melalui data-data statistik.

Mengenali Indonesia dalam angka seperti ini tidak seabsrud seperti ketika kita mencoba mengenali Indonesia melalui buku-buku fiksi. Angka-angka mampu menunjukkan secara lugas serta terukur potensi besar bangsa kita, agar kita sendiri mampu memanfaatkannya dengan baik di kemudian hari dan menyadari bahwa betapa Indonesia adalah negeri yang kaya raya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Ekonomi Indonesia di Zaman Digital: Peluang Bisnis yang Tak Terelakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s