Pt. 1 – Jakarta Hari Ini.

Jakarta hari ini mengingatkanku pada manik matamu saat kita berpisah dulu—remang dan basah.  Bulan September datang dan membawa hujan tanpa permisi belakangan ini; aku mengira-ngira kejutan apa lagi yang akan ia perlihatkan selain hiruk pikuk yang rasanya tak berkesudahan. Sejak malam ketika aku melihat kakimu yang sejenjang korek api itu melangkah tertatih-tatih membelah angin, telah kupastikan hati ini terkunci rapat.

Aku bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta, semesta tahu itu, sama seperti ia tahu bahwa tak ada yang bisa menghalangi kantuk yang datang tiba-tiba di dalam bus Transjakarta atau mata-mata yang ingin bersembunyi di balik layar smartphone. Yah, aku pun menyibukkan diri dengan lagu-lagu yang bergantian menghibur telingaku. Lagu-lagu indie, beberapa lagu kesukaanmu, oh… kali ini lagu kita. Aku hening dalam kenangan yang menciptakan kebisingan di hatiku, sadar betul bahwa tamparan air hujan di kaca jendela bus tak mampu menembus kebisingan ini.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku merasa seperti ini. Rasanya begitu mencengengkan ala drama korea yang saban hari kamu tonton atau aku lebih senang menamai diriku sendiri ‘The Man Who Can Be Moved’ seperti lagu The Script yang sedang terputar sekarang. Kamu bilang The Script itu band banci karena lagu-lagu mereka terlalu melankolis; aku selalu bilang kamu cengeng karena terlalu banyak menonton drama Korea. Pada akhirnya, perdebatan bodoh itu pun tak pernah dimenangkan oleh siapa pun dan selalu berakhir dengan topik lain yang mungkin dirasa lebih penting. Seperti bagaimana caranya aku menuntaskan perjalanan panjang menjadi sarjana yang tinggal menunggu sidang  atau bagaimana caranya agar kamu berhenti bermimpi memeluk matahari tanpa terbakar.

Hahaha, aku jadi teringat, seorang kawan

Baca lebih lanjut