Vegan VS Angry Vegan

A CupofHome (1)

 

Sebenarnya sudah agak lama aku ingin menulis tentang ini. Sejak aku membuka konten teranyar yang membicarakan tentang dunia vegan dan sekitarnya—Sudut Vegan, aku mulai merancang segala macam konten tulisan yang mengungkapkan tentang fakta-fakta mengerikan yang “hanya” dipikirkan oleh para vegan yang memilih hidup seperti ini dengan alasan etik, yaitu alasan kalau hewan adalah makhluk hidup yang tidak layak dijadikan sumber makanan atau su

Seperti yang telah aku bicarakan dalam dua posting-an terdahulu tentang vegan. Alasanku menjadi seorang vegan ada dua, yaitu masalah kesehatan dan etik. Kedua alasan kuat inilah yang akhirnya mendorongku berada di titik ini; tidak ingin makan semua hal yang berbau binatang dan berusaha keras untuk mengurangi pemanfaatan binatang dalam kehidupan sehari-hari. Kalau boleh jujur, ini pilihan hidup yang sulit dan melelahkan.

Sulit karena menjadi seorang vegan itu artinya kalau mau hang out bareng temen-temen mesti tanya dulu “Emang di sana ada yang bisa gue makan kagak?”. Melelahkan karena kadang menjadi minoritas di antara mayoritas itu tandanya harus siap ditanyai macam-macam kayak “Emang kenapa jadi vegan? Proteinnya dari mana kalau gak makan daging?”. Hahaha. But, overall deh ya, jadi vegan itu lumayan seru sih. Rasanya seperti masuk ke dunia yang hanya aku sendiri yang tahu.

Sayangnya, justru karena menjadi seorang vegan artinya memilih untuk masuk ke dalam dunia yang hanya aku sendiri yang tahu (sedikit orang yang tahu, lebih tepatnya), kadang kala vegan menjadi merasa tersisihkan dan mudah sakit hati. Jujur, dua tulisan yang aku tulis sebelumnya, yaitu Ya, Aku Seorang Vegan dan Di Balik Harga Segelas Susu, adalah tulisan yang aku tulis dalam kemarahan, sakit hati, dan kesedihan karena marasa sendirian. Aku marah karena tak ada seorang pun yang mengerti jalan pikiranku; aku sakit hati karena banyak orang yang justru mengejek pilihan hidupku; aku pun sedih karena aku merasa sendirian dan tersisih dari pergaulan. Selama beberapa bulan menjadi vegan, aku benar-benar merasa amburadul dan nyaris tidak menemukan kedamaian. Rasa depresi yang sesungguhnya aku buat-buat sendiri karena memikirkan hal-hal yang tidak penting pun menambah ketidaknyamanan. Hingga akhirnya, selama satu tahun lebih menjadi vegan, aku pun menyadari ada yang salah dengan diriku.

Ya, rasanya ada yang salah.

Salah karena selama aku menjadi vegan kok ya aku ngerasa gak damai dan kerjanya marah-marah mulu. Salah karena selama aku jadi vegan kok bukannya kualitas hidupku membaik malah jadi nge-drop. Salah karena selama aku jadi vegan kok aku sensian mulu.

Jadi, apa yang salah?

Aku terus merenungkan pertanyaan ini selama beberapa waktu. Lalu akhirnya, aku pun menyadari satu hal sederhana yang seharusnya aku pegang saat aku memutuskan menjadi seorang vegan dulu.

Cinta.

Menjadi seorang vegan artinya mencintai—mencintai tubuh sendiri dan juga mencintai hewan sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan yang tidak layak dimanipulasi dan eksploitasi. Meningkatnya kualitas hidup dalam ukuran kesehatan, kebahagiaan, dan kontrol emosi yang baik adalah manifestasi dari cinta dalam veganisme. Hati yang penuh cinta inilah yang kemudian menjadikan vegan seharusnya tidak lantas mengungkapkan apa yang dipikirkannya secara gamblang, penuh paksaan, dan congkak hingga terkesan seperti orang yang sedang marah-marah ketimbang orang yang sedang “mengedukasi”.

Sungguh, menjadi seorang vegan bukan berarti kita lebih pintar dari mereka yang bukan vegan. Kita hanya melihat dunia dengan cara yang berbeda dan lebih mendamaikan karena cinta yang kita miliki kepada diri sendiri serta semua hal yang ada di sekitar kita. Seharusnya sih seperti itu ya. Namun, saya bisa memahami beberapa aktivis veganisme bertindak sangat gamblang dalam melaksanakan kegiatannya.

Seperti yang saya sampaikan di awal, menjadi seorang vegan kadang membuat kita merasa tersisihkan. Akhirnya, karena merasa tersisihkan, vegan seperti aku ini pun berusaha membuat orang-orang di sekitar mereka menjadi vegan yaitu keluarga, pacar, dan teman-teman. Hanya saja, yang menjadi kendalanya itu mengubah orang lain menjadi vegan itu tidak mudah. Ya, sangat tidak mudah ketika kita sendiri belum siap menjadi vegan.

Mengapa aku bilang menjadikan orang lain vegan itu tidak mudah kalau kita sendiri belum siap menjadi vegan?

Karena sampai detik ini pun aku masih merasa belum siap menjadi vegan dan tidak ada satu pun anggota keluargaku yang menjadi vegan karena aku.

Ketidaksiapan menjadi vegan ini terlihat dari banyak faktor. Namun, aku bisa merincikannya menjadi beberapa hal sebagai berikut.

  1. Tidak Paham Risiko Menjadi Vegan

Ketika kita memutuskan menjadi vegan, seharusnya kita harus memberikan pemahaman kepada diri kita sendiri tentang risiko menjadi seorang vegan. Risiko yang paling utama ya itu satu, tersisih dari pergaulan karena dianggap aneh dan dua, susyeh cari makan, Cyn! Hehehe. Aku punya beberapa pengalaman menyakitkan perkara ini, seperti kehilangan sahabat karena aku merasa tidak nyaman dengannya lagi serta dinyinyirin sama banyak orang karena bikin rempong. Ketidakpahaman tentang risiko-risiko dasar seperti inilah yang membuat seorang vegan sebenarnya tidak siap menjadi vegan. Ketika kita tidak memahami risiko yang kita ambil dari keputusan menjadi seorang vegan, kita jadi mudah stress dan mengalami pergejolakan dalam diri kita sendiri. Di satu sisi kita tidak mau berhenti jadi vegan, di sisi lain kita tidak tahan menjadi vegan juga. Dilema.

  1. Mudah Emosian

Salah satu ciri-ciri seorang vegan yang gak siap jadi vegan juga terlihat dari kontrol emosi vegan tersebut yang tidak baik. Lihat orang makan daging langsung ngerasa jijik. Lihat orang minum susu, buru-buru nyeletuk sensi. Pas orang lain menggoda karena kita vegan, langsung marah. Yah, gitulah. Aku udah ngalamin masa ini kok. Sampai nangis-nangis di kamar sendirian juga karena dikatain sama om sendiri. Hahaha. Labil banget pokoknya.

  1. Syndrom Aktivis Dadakan

Pas baru-baru jadi vegan, apalagi kalau jadi vegan karena masalah etik. Pasti jiwa-jiwa aktivis terasa begitu membara. Syndrom aktivis dadakan ini pun aku rasakan saat membuka konten Sudut Vegan ini. Hahahaha. Aku sadar kalau aku punya platform blog Kata-Kata Dicta sebagai media aku menjalankan kegiatan aktivis veganismeku, makanya aku gunakan. Hanya saja, karena syndrom ini muncul dadakan. Ya, pastilah hilangnya juga cepat. Setelah dua posting-an pertama, mana lagi posting-an yang lain? Hilang ditelan bumi. Hahaha. I’m not ready to be a vegan activist tho.

  1. Makan Apa Aja Asal Vegan (Junk Food Vegan)

Sebelum aku menjadi vegan, aku adalah Food Combiner. Beberapa hal yang membedakan vegan dan FCer adalah seorang vegan kadang tidak begitu memperhatikan asupan dan kombinasi makanan yang dimakan sementara FCer sangat memperhatikan hal tersebut. Mungkin yang menjadi nilai minus dari Food Combining adalah kelonggaran paham ini dalam memperbolehkan makan makanan yang berhasal dari hewan dalam konteks “rekreasional” dan “sosial”, sementara vegan sangat anti hal-hal yang berbau toleransi seperti itu. Hahahaha. Nah, justru inilah kesalahan yang aku buat saat menjadi vegan. Aku justru melupakan kaidah yang sudah aku pahami selama menjadi FCer dan mulai makan sepeenak e dewe. Alhasil? Aku mencari-cari alasan untuk makan biskuit buatan pabrikan yang vegan, mencari-cari alasan untuk cheating sarapan bukan buah, mencari-cari alasan untuk tidak minum jeniper (jeruk nipis peres) tiap pagi, jadwal makan yang berantakan, mulai tidur larut, dan lain-lain. Dampak dari ini semua apa? Jerawatku beranak pinak, berat badan bukannya turun ke normal malah naik-turun kayak yoyo, kualitas kesehatanku buruk, dan aku jadi gak fokus dalam membenahi diri dengan berolahraga teratur. Sangat tidak sehat.

  1. Berorientasi pada Orang Lain bukan pada Diri Sendiri

Aku beberapa kali bikin status marah-marah tentang menjadi vegan. Tujuannya apa coba? Gak ada faedahnya sama sekali malah kesannya kek orang gila. Hahaha. Energiku kebanyakan terbuang untuk “berusaha diterima oleh masyarakat” daripada menjadi sosok orang yang baru. Sungguh, awal mula menjadi vegan, pola pikirku seperti ini. Aku berusaha keras untuk terlihat keren di mata orang lain, posting foto-foto makanan vegan, pamer ini-itu, dan lain-lain. Aku jadi lupa hal yang paling penting, yaitu diriku sendiri. Tidak ada untungnya terlihat keren karena menjadi vegan biar dipuji orang lain, lebih baik fokus membenahi diri sendiri dengan makan makanan yang benar-benar sehat serta berolahraga secara teratur.

Kira-kira, kelima ciri-ciri itulah yang menunjukkan ketidaksiapan seseorang menjadi vegan. Kelima hal itu sudah aku alami dan sekarang aku berusaha keras untuk memperbaikinya. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa benar-benar siap menjadi seorang vegan dan memulai hidup baru. Aku harus mulai ini dari sekarang!

Okay, kembali lagi ke judul yang mulai jauh dari isinya. Hahaha. Kenapa aku membicarakan Vegan VS Angry Vegan? Menurutku, sebagian dari Angry Vegan, vegan yang suka marah-marah dan ngomelin orang lain seenak jidatnya itu kadang dia sendiri belum siap menjadi vegan. Tindakannya didorong dari rasa kesepian dan tersisih yang kemudian diselimuti dengan gerakan aktitivis veganisme yang terlihat lebih mulia.

Aku memiliki contoh kontrit tentang ini, yaitu seorang aktivis veganisme yang menjadi salah satu alasanku menjadi seorang vegan, Freelee The Banana Girl. Kalian bisa cari di Youtube tentang wanita ini. Freelee, sebagaimana orang-orang dunia memanggilnya, adalah aktivis yang sangat-sangat frontal di setiap videonya. Dia telah menjadi seorang vegan selama lebih dari sepuluh tahun dan memiliki body yang sangat-sangat vegan—I mean, bodynya keren banget coy! Dia menjadikan dirinya contoh bagi orang lain yang ingin menjadi vegan seperti dirinya dan beberapa kali membuat video reaksi serta komentar kepada beberapa youtuber lain dan sejumlah artis sebagai role model. Namun, beberapa tahun belakangan ini hidupnya penuh dengan drama, banyak orang merasa tersinggung dengan caranya “mengedukasi”, dan kontroversi pun terjadi bertubi-tubi. Aku rasa Freelee pun mengalam stress yang tidak berkesudahan. Hingga akhirnya, You Tube sempat memberinya surat peringatan dan chanel yang telah ia bangun selama belasan tahun itu nyaris di take down oleh youtube. Singkat cerita sih ya, Freelee pun melakukan hiatus panjang hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka chanel You Tube baru dan berusaha memperbaiki diri.

Pada intinya adalah being an Angry Vegan won’t make you a better person. Bahkan seorang vegan senior seperti Freelee saja menyerah untuk menjadi “angry vegan”. Jujur, kadang marah itu perlu apalagi untuk orang-orang bermental badak kayak aku. Seandainya aku tidak melihat video Freelee yang marah-marah atau Gary F. (salah satu aktivis vegan yang cukup kontroversial) yang juga penuh dengan sindiran, aku mungkin tidak tergerak untuk menjadi vegan. Hanya saja, tidak semua orang seperti aku dan tidak semua orang senang dimarah-marahi.

Termasuk keluarga, teman, dan orang-orang terdekat kita.

Menurutku, lebih mudah menjadikan orang lain yang tidak kalian kenal menjadi seorang vegan dari pada orang-orang yang kalian kenal. Orang-orang yang kalian kenal telah mengetahui hidup kalian sebelum menjadi vegan dan setelah menjadi vegan. Ketika orang-orang tersebut melihat “Oh, dia mah gak ada bedanya sebelum jadi vegan dan setelah menjadi vegan! Malah sekarang jadi makin nyebelin dan sensian!” apa pun yang kalian katakan, usaha-usaha untuk menjadikan mereka vegan, dan lain sebagainya, itu akan percuma!

Satu-satunya hal yang bisa menjadikan orang-orang terdekatmu menjadi vegan adalah dengan SHOW THEM! Tunjukan. Tujukan bahwa menjadi vegan kualitas hidup kalian menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tunjukkan bahwa kalian justru menjadi sehat, bugar, dan bahagia. Hingga akhirnya, setelah sekian lama kalian berusaha mencapai titik tersebut. Orang-orang disekitar kalian mulai merasa iri dan malu-malu berkata…

“Gimana sih caranya jadi vegan?”

ITU.

Itu yang seharuskan aku lakukan juga kalian, para vegan yang mungkin mengalami hal yang sama dengan yang aku rasakan sekarang. Memaksa orang-orang terdekat kalian menjadi vegan itu tidak ada gunanya. Meskipun hati kecil merasa miris, sedih, dan kesal karena kita para vegan mengetahui banyak fakta yang mereka tidak ketahui. Fakta-fakta itu tidak akan menjadi berguna karena kita tidak bisa membuktikannya dengan  diri kita sendiri.

Maka dari itu, aku ingin menghimbau untuk semua vegan. Jadilah, seorang vegan, jadilah seorang vegan yang penuh dengan cinta di dalam hatinya daripada seorang vegan pemarah yang mengutuk tindakan-tindakan biadab yang dilakukan manusia. Fokuslah untuk mencintai diri kalian sendiri terlebih dahulu sebelum kita akhirnya menyebarkan cinta tersebut kepada orang lain. Jika kalian ingin menjadi seorang aktivis vegan, jadilah aktivis yang menggaungkan rasa cinta.  Sampaikan fakta-fakta tersebut dengan lebih damai, sedikit humor mungkin membantu. Ingat, memarahi bukan cara terbaik untuk menjadikan seseorang vegan.

Bila semua itu sudah kalian lakukan namun tidak ada satupun orang terdekat kalian yang menjadi vegan. Jangan marah atau sedih, jangan menyesali diri atau pun menyesali ketidaktahuan serta ketidakpedulian mereka. Hidup terlalu singkat untuk dipusingkan dengan hal-hal kecil seperti itu. Fokuslah pada diri kalian sendiri dan pada orang-orang yang hatinya tergetar karena devosi kalian pada cinta yang kalian miliki. Percayalah. Suatu hari nanti mereka pasti akan mengetahui fakta-fakta itu benar adanya, hanya saja, mungkin tidak dari mulut kalian melainkan dari penyakit yang tiba-tiba saja mereka derita, dokter yang merawat mereka, atau malah…

Dari Tuhan sendiri dengan beragam cara.

Hehe.

🙂

Benedikta Sekar,

Muara Teweh, 09 Juli 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s