[Coretan Dicta] Tentang Saya dan Ketidakmampuan Saya Dalam Mencintai

brooke-cagle-170053

Saya sudah lupa kapan terakhir kali menulis coretan untuk blog ini. Mungkin itu sebuah kalimat pembuka sangat  klise dan paling menyebalkan yang pernah kalian baca, tapi saya memang tidak tahu harus memulai coretan ini dari mana. Saya bahkan tidak berani menggunakan “aku” untuk menyebut diri saya sendiri seakan-akan hubungan saya dengan blog ini kandas dan hilang entah kemana. Jadi biarlah, saya bercerita dan membuat coretan menggunakan kata “saya” kali ini.

Hari ini hari Minggu dan entah ini hari minggu keberapa saya membolos menatap Tuhan di Gereja. Saya tidur subuh tadi dan bangun sangat siang; memesan makanan melalui gojek dan tidak melakukan apa pun setelahnya selain menenggelamkan diri dalam kebahagiaan semu di internet. Saya benar-benar kosong sekarang ini. Nihil. Selayaknya manusia yang kehilangan jiwa untuk melakukan sesuatu.

Ada banyak hal terjadi dihidup saya selama beberapa tahun berkuliah dan menyandang status sebagai mahasiswi jurusan Bahasa Korea di Universitas Gadjah Mada. Ada banyak sekali hal yang mengubah hidup saya dari semula buruk menjadi baik, dari yang semula baik menjadi sesuatu yang tidak saya kenali lagi. Manusia tidak pernah sama dari waktu ke waktu, saya yang kemarin bukanlah saya hari ini. Bahkan saya yang menulis paragraf sebelumnya bukanlah saya yang sekarang menulis paragraf ini.

Manusia terlahir kedunia dengan sebuah kebingungan besar yang membuat mereka tidak dapat memahami apa artinya lahir dan hidup. Saya pun begitu, selalu begitu. Saya kira, setelah saya berkuliah dan berhasil membuat orangtua saya bangga karena telah masuk ke salah satu perguruan tinggi di Indonesia, saya bisa melanjutkan hidup saya dengan lebih baik dan penuh optimistik. Namun sayangnya, tidak, tidak begitu. Itu sebuah kesalahan besar yang pernah saya pikirkan.

Hidup ternyata baru saja dimulai saat itu.

Dan saya perlahan-lahan kembali ke titik di mana saya harus memulai segalanya kembali. Sahabat lama yang saya kira bisa menjadi orang yang paling dekat dengan saya ternyata tidak bisa menjadi orang seperti itu; justru, orang-orang baru yang tidak lama baru saya kenali bisa menyentuh hati saya dengan kebaikan yang mereka miliki. Saya pelan-pelan berubah menjadi lebih baik juga lebih buruk. Mengalami lagi pasang dan surut menjadi manusia dan ketidaknyamanan menjadi diri sendiri.

Saya dirundung pilu selama saya berada di  tiga semester awal. Nilai saya tidak begitu membanggakan. Hubungan sosial saya dengan orang-orang tidak begitu baik. Sifat-sifat buruk saya kembali tersingkap dan membuat kehilangan banyak sekali relasi. Saya benar-benar orang yang berbeda dari apa yang saya harapkan ketika saya memulai coretan-coretan saya di blog ini. Saya seperti tidak mengenali diri saya sendiri.

Saya mudah menangis dan tersentuh dengan hal-hal kecil. Saya mudah lelah dan muak dengan diri saya sendiri. Saya bahkan tidak berani untuk menulis coretan kembali karena… saya merasa takut dengan diri saya sendiri.

Karena melalui coretan ini, saya selalu memaksa diri saya untuk jujur dengan apa yang saya rasakan dan nyatanya, saya tidak mampu untuk melakukan itu. Saya berusaha untuk lari dari diri saya sendiri dan mencari pada diri orang lain tempat di mana saya bisa mengadu. Bercerita. Berkeluh kesah.

Dan mengharapkan sebuah jawaban.

Ya. Saya mendapatkan jawaban dan saya memegang teguh jawaban itu dalam mengambil beberapa keputusan di hidup saya.

Tapi… itu bukan jawaban saya. Itu jawaban orang lain.

Rasanya sama, seperti ketika kita dihadapkan pada sebuah persoalan rumit dan kita mencontek apa yang telah orang lain jawab di dalam hidupnya. Berharap jawaban itu bisa menolong kita. Berharap kita bisa menyelesaikan persoalan yang kita dapat menggunakan jawaban dari persoalan hidup orang lain.

Kenyataannya… tidak.

Tidak semuanya terjawab. Mungkin.

Kenapa?

Karena hidup mereka berbeda dengan saya. Karena persoalan hidup mereka, jauh berbeda dari saya dan saya tidak bisa meminta jawaban dari mereka atau bahkan… saya pun tidak bisa membantu menjawab persoalan hidup sahabat-sahabat saya karena saya bukanlah mereka.

Saya hanya menggunakan jawaban-jawaban dari teman-teman serta sahabat saya untuk menolak menjawab dengan jawaban saya sendiri. Untuk menjustifikasikan bahwa ketika saya salah mengambil keputusan atau salah menjawab, saya bisa menyalahkan orang lain untuk itu. Atau paling tidak, saya tidak akan menyalahkan diri saya sendiri.

Sebuah ketakutan yang sebelum ini tidak pernah saya tahu selalu ada di dalam diri saya setiap kali saya dihadapkan sebuah kepelikan. Sepertinya, saya belum mengenali diri saya sendiri seutuhnya. Harusnya saya  punya waktu untuk itu… saya merasa sangat bersalah dengan diri saya. Sayangnya, mengasihani diri saya sekarang tidak akan membuat saya lebih bahagia dari sebelumnya.  Lebih baik saya melakukan hal lain. Hal yang mungkin bisa saya lakukan, yaitu melupakan kalau persoalan itu ada…

Saya berusaha untuk membuang perasaan saya. Menghampakan segalanya. Saya percaya, ketika saya tidak merasakan apa pun, saya tidak perlu mengalami banyak sekali persoalan. Terutama persoalan yang berurusan dengan “baper-baperan”. Membuat perasaan hampa seperti itu tentu saja termasuk untuk melupakan cara mencintai…

Okay, jadi dari awal sampai sini itu memang hanya prolog dari coretan ini sih. I mean, yeah… saya tahu. Kepanjangan banget prolognya. Tapi mau bagaimana lagi, sudah lama sekali sejak terakhir kali saya merasa bahwa menulis coretan seperti ini memang menyembuhkan hati saya. Saya kira, saya cengeng dan bodoh tiap kali saya menuliskan apa yang saya rasakan dalam coretan seperti ini, sayangnya tidak. Saya baru sadar bahwa saya tidak bodoh maupun cengeng, saya hanya berusaha menjawab pertanyaan dalam hidup saya dan tentu saja saya tidak akan mendapatkannya melalui tulisan seperti in. Hanya saja. In seperti saya sedang bercerita tapi saya bercerita dengan diri saya sendiri.

Berbeda dengan dulu, saya sekarang sudah memiliki banyak sekali teman untuk berbagi cerita dan perasaan. Mereka selalu ada di dalam hidup saya sehari-hari sehingga akhirnya, saya melupakan sahabat yang selalu setia dan menunggu saya untuk diajak berbicara, yaitu…

Diri saya sendiri.

Baru kali ini saya menyadari, terlepas saya memiliki sahabat-sahabat yang selalu bisa menjadi tempat untuk berbagi kisah dan cinta. Saya justru perlahan-lahan menjauhi diri saya sendiri dan membuatnya kesepian setengah mati.

Oh… apa dia sudah mati?

Sepertinya belum. Setidaknya, dia masih menulis coretan ini dan berbicara dengan kalian melalui kata-kata dicta ini.

Okay, kembali lagi dengan judulnya… tentang ketidakmampuan saya untuk mencintai. Saya sejujurnya tidak pernah tahu bagaimana cara untuk mencintai seseorang dengan baik dan benar. Bahkan kepada diri saya sendiri. Saya tidak pernah tahu bagaimana cara untuk memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus tanpa harus  mengharapkan balasan. Saya tidak pernah tahu bagaimana caranya… benar-benar mencintai seperti itu.

Sampai satu setengah tahun yang lalu… saya mengenalnya. Orang pertama yang membuat saya mengerti apa arti mencintai.

Oh apa saya akhirnya bertemu dengan orang yang bisa saya sebut cinta pertama saya?

Eum…. bisa dibilang ya, dan bisa dibilang tidak.

Ya, karena saya memang menjalin sebuah hubungan dengannya. Tidak, karena saya bahkan belum pernah berjabat tangan dengannya. Kok….

Benar.

Saya mengenalnya melalui jaringan internet.

Gila?

Iya, gila. Saya juga tidak percaya saya benar-benar telah melakukan itu.

Berapa lama saya dan dia “bersama”?

Satu tahun kurang-lebih. Sampai akhirnya saya menyerah dengan hubungan kami dan kini saya kembali mencoba untuk menyusun hidup saya seperti saat sebelum mengenalnya.

Apahkah saya menyesal membiarkan pria itu masuk ke dalam hidup saya?

Kalau boleh jujur, sekarang ini… saya sangat menyesalinya. Semua tak terlihat sama pasca saya mengakhiri hubungan saya dengan pria itu. standar saya akan laki-laki pun menjadi sangat tinggi karena saya nyaris yakin saya tidak akan pernah menemukan pria seperti mantan pertama saya itu di kehidupan nyata saya.

Kenapa?

Karena saya mencintai jiwa pria itu, bukan fisiknya. Ada sesuatu yang tidak mungkin saya jelaskan di sini dan sebuah konsep yang saya sendiri tidak mengerti tentang bagaimana jiwa kami bisa saling bertemu dan mencintai. Tapi sungguh… saya mencintai jiwanya.

Hanya saja, semua menjadi sangat rumit selama bulan-bulan terakhir hubungan kami dan saya tidak sanggup untuk meneruskan semuanya. Saya mencoba menyalahkan keadaan atas putusnya hubungan kami, tapi saya tahu… satu-satunya orang yang seharusnya mampu mengontrol keadaan itu adalah saya. Dan saya tidak seharusnya menyalahkan siapa pun kecuali diri saya sendiri.

Akhirnya, nasi sudah menjadi bubur, saya menuntaskan segalanya dan saya rasa itu sebuah keputusan yang baik. Terlepas dari fakta bahwa saya… di dalam hati saya yang paling dalam… masih mencintainya.

Saya mungkin akan membuat coretan tersendiri. Membahas tentang hubungan saya dan pria itu. Namun sekarang, saya hanya ingin bercerita kalau saya…

Benar-benar tidak tahu dan tidak mampu mencintai lagi. Sebegitu banyak cinta yang saya coba berikan pada sahabat dan keluarga saya, saya masih tidak yakin apa saya telah mencintai mereka dengan benar atau belum. Karena sejauh yang saya tahu, saya tidak berhasil mencintai diri saya sendiri dan juga mencintai orang yang telah memberikan saya begitu banyak cinta.

Saya sekarang sedang berusaha untuk mengosongkan perasaan saya lagi. Mencoba menjadi diri saya ketika saya percaya bahwa cinta bukanlah sesuatu yang bisa saya dapatkan dengan mudah. saya berusaha untuk mengosongkan perasaan saya. Mengosongkan tempat di mana hati saya dulu berada. Mungkin agak ekstrem, tapi mungkin itu juga salah satu cara agar saya bisa menemukan diri saya kembali. Saya masih belum tahu caranya mencintai dengan baik. Ketidakmampuan saya untuk mencintai seperti itu hanya akan membuat orang lain terluka.

Saya harus mulai dari diri saya sendiri. Mencintai diri saya sendiri. Dan menerima segala kekurangan yang saya miliki sekarang ini. Melelahkan. Saya bahkan tidak mengerti bagaimana cara untuk mencintai diri saya sendiri selain dengan berusaha untuk terlihat cantik yang justru membuat saya semakin stress.

Belakangan karena tugas saya kian menumpuk dan  kuliah tidak lagi sebersahabat itu. Saya pun memutuskan untuk membiarkan diri saya apa adanya tanpa harus memoles diri.

Saya hanya lelah. Capai. Ingin berhenti tapi tidak bisa. Maka itu, lebih baik saya seperti ini saja. Tidak melakukan apa pun dan akhirnya bercerita pada diri sendiri.

Ngomong-ngomong, sesungguhnya saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan sekarang. tugas saya mash banyak, waktu sudah menunjukkan pukul nyaris jam 9 malam dan dua tugas yang seharusnya saya kerjakan tidak saya kerjakan sejak seharian ini. Saya sungguh bodoh.

Sepertinya saya akhiri saja coretan un-faedah ini.

Sampai nanti saya menulis lagi… saya berharap saya bisa belajar lebih banyak tentang diri saya sendiri.

Terima kasih.

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 11 Maret 2018

Jam 10.53

Di ruang tengah rumah kontrakan yang berantakan sekali

 

Iklan

2 respons untuk ‘[Coretan Dicta] Tentang Saya dan Ketidakmampuan Saya Dalam Mencintai

  1. Hai Dicta!

    Kalau masih ingat aku, hebat sih hahaha. Aku udah lama banget gak buka blog dan blog walking (apakah istilah itu masih ada di zaman sekarang?) ya pokoknya udah lama banget, kamu pasti gak inget lah.

    Cuma mau bilang, aku tadi lagi iseng2 blogwalking dan ketemu tulisan kamu ini. Mendaratlah aku di sini, baca ini di sela-sela jam istirahat. Sadar betapa rindunya aku baca di blog orang dan komentar kayak gini hahahaha

    Anyway, tulisan ini somehow…aku banget. Entahlah, bahkan bukan belakangan ini aja, tapi memang sedari awal mencintai diri sendiri itu sulit. Makanya kenapa banyak lagu, puisi, atau apalah yang menyadarkan kita untuk bisa mencintain diri sendiri. Dan aku baru sadar sih, memang sulit.

    Paragraf yang ini menyadarkanku >> “Saya harus mulai dari diri saya sendiri. Mencintai diri saya sendiri. Dan menerima segala kekurangan yang saya miliki sekarang ini. Melelahkan. Saya bahkan tidak mengerti bagaimana cara untuk mencintai diri saya sendiri selain dengan berusaha untuk terlihat cantik yang justru membuat saya semakin stress.”

    Huhuhu how terrible we are 😦 how messed up we are :”(

    dan bagian yang ini >> Saya hanya lelah. Capai. Ingin berhenti tapi tidak bisa.

    Kamu gak sendiri ketika merasakan ini, Dicta. Ada banyak orang di luar sana. Tetap berusaha untuk bahagia ya. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kamu. Love yourself first 🙂

    Terima kasih atas tulisan ini. Walaupun bukan sesuatu yang harus dikomentari, tapi aku cuma mau berbagi kesan dan pesan hahaha

    Cheer up selalu yaa 🙂

    1. Halo, siapa ya? Mari, berkenalan sekali lagi. Hahahaha, bercanda. Mohon maafkan saya, karena saya memiliki ingatan pendek tentang orang-orang tapi saya tahu dirimu pernah menjadi bagian dari cerita-cerita saya. Oh ya, sekali lagi, saya juga mohon maaf saya baru bisa balas komentarmu yang baik hati ini hari ini. Saya sebenarnya sudah membaca komentarmu jauh-jauh hari sekali. Saya hanya tidak memiliki waktu untuk duduk sejenak, dalam damai, dan menyampaikan betapa saya senang membaca komentarmu.

      Semoga suatu hari nanti hidup kita bersilangan dan menemukan satusama lain ya. Senang mungkin bisa duduk bersantai dan berbicara tentang kehidupan di penghujung senja.

      Sampai saat itu tiba, saya akan mendoakan hidupmu penuh dengan kebahagiaan ya! Semoga dengan sedikit coretan ini bisa membuatmu merasa tidak sendirian seperti kamu membuat saya tidak sendirian.

      Sekali lagi, terima kasih. Saya beruntung karena kamu meluangkan waktu untuk meninggalkan jejak di sini.

      Sampai jumpa di coretan selanjutnya. Hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s