DOPAMINE;

DOPAMINE;

 

[Fragmen #1 Tentang Seseorang]

Malam ini dia tidak ingin pulang. Meski hanya untuk mengecek surel. Malam ini dia tidak ingin pulang alih-alih menikmati malam terakhir musim dingin. Segelas atau dua gelas bir untuk menggusur kekosongan. Sebatang atau dua batang ganja untuk menggusur kesedihan. Jerman bukan tempat yang asyik untuk menikmati kehidupan, wilayah ini, Cologne—yang dielukan sebagai kota tertua di dunia, bagi dia hanya tembok-tembok hampa nihil makna.

Malam ini dia tidak ingin pulang. Dia lahir di sini, di negara ini, terjebak bersama orang-orang ini; 44 tahun yang lalu. Namun senja selalu saja berwarna sama, abu-abu dan kering kerontang. Ia ingin pergi, ke tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ke tempat yang tak pernah berani ia mimpikan sebelumnya. Sayang, ia sudah terlalu tua, mungkin. Sayang, dia sudah terlalu telat, mungkin. Masih adakah waktu untuknya? Tidak tahu, tidak tahu. Dia sendiri tak berani bertanya dengan lantang; dia sendiri tak berani menjawab.

Malam ini dia tidak ingin pulang. Di luar sini ada ganja dan bir; di luar sini ada musik dan hawa dingin. Lebih baik dari tempat yang ia sebut rumah; lebih baik dari kubikel-kubikel tempat komputernya biasa menerima surel dari ujung dunia sana. Lebih baik di sini. Di sini saja.

Malam ini dia tidak ingin pulang. Ia sendiri bingung kenapa harus malam ini. Sayang, dia hanya ingin waktu untuk berpikir. Sore tadi cuaca cerah. Di surel terakhir dia bilang ingin bertemu sahabat. Duduk di sisi sungai, menonton bebek-menonton air-menonton angin. Biar apa? Biar seru saja. Biar sehat, katanya. Tidak bagus duduk seharian di depan komputer. Tidak bagus itu.

Malam ini dia tidak ingin pulang. Apa dia mencari pelacur saja? Tapi dia tidak punya uang. Dia miskin-pengangguran-merepotkan. Bagaimana caranya agar ia tidak pulang? Tidak, tidak boleh tidur di jalan. Dingin. Dingin. Oh, sahabatnya punya tempat, tapi hari ini dia membawa pulang seorang pria yang baru ia temui di bar, tidak boleh mengganggu. Tidak boleh. Duh.

Malam ini dia tidak ingin pulang. Sayang, dia menegak bir dari gelas ketiganya hari ini. Besok ia pasti sakit kepala lalu merasa bersalah, pada diri sendiri juga pada orang di ujung samudra itu. Padahal orang itu tidak akan tahu, kalau tidak diberitahu. Tapi ia selalu memberitahu, padahal itu tidak perlu; padahal orang itu tidak peduli.

Malam ini dia tidak ingin pulang. Namun ia harus pulang. Dia sudah membayar mahal uang sewa kondo itu. Enak saja tidak ditiduri. Jadi pulanglah… pulang sudah. Malam sudah tua, dia sudah tua. Mau apalagi? Mau apa lagi? Tinggalkan saja mobil busuk itu di parkiran. Besok pagi dia akan ambil. Malam ini jalan saja. Toh, dekat. Toh dia tak pernah berani pergi jauh.

Malam ini dia tidak ingin pulang. Malam ini ia seharusnya tidak pulang. Lalu kenapa ia pulang? Membuka pintu kondo dan menyeret kaki ke ruang komputer. Lebih penting, benaknya. Lebih penting dari pada membuang kencing, benaknya. Dia menyalakan mesin. Lima detik. Sepuluh detik. Dia tidak sabaran; menendang angin; menggigit kuku.

Malam ini dia tidak ingin pulang. Kenapa? Kenapa tidak ingin pulang? Dia jawab, dia tidak ingin matanya berbinar seperti ini hanya karena mendapatkan sepatah dua kata. Ia tidak ingin matanya berbinar seperti ini hanya karena ada kehidupan lain di ujung pulau sana yang terhubung dengannya melalui surel; melalui digit-digit kata yang ia bisa dihitung dengan jari. Dia benci. Dia benci harus kembali ke titik ini setiap hari. Melakukan hal yang sama. Memikirkan hal yang sama. Dia… dia… dia… tentang dia. Tentang dianya dia. Duh. Dia. Lelah dia merasa seperti ini. Ingin berhenti. Sayang, sudah tidak bisa. Sudah terlanjur, benaknya, mau apa lagi? Sudah terlanjur sayang begini. Sudah terlanjur peduli dianya.

Sudah terlanjur candu.

 

5 respons untuk ‘DOPAMINE;

  1. Kesepian, keresahan, ketakutan, entahlah mungkin perasaan saya saja, semua kalimat, kata demi kata mengalir, saya merinding, sesak sampai ke dada saya.

    Jadi ingat kakak saya. Membaca kalimat tidak ingin pulang berulang-ulang, kemudian diakhiri kata candu.

    😊 Saya rindu kakak saya ternyata.

    Salam kenal..

    1. halo, salam kenal ayumie, terima kasih sudah meninggalkan jejak yang menyentuh hati saya di sini. Saya berharap kerinduanmu bisa tertebus, dan kakakmu baik-baik saja ya. Saya mendoakan yang terbaik hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s