[DEPRESI] Episode 0 : How I Met My Depression?

How I Met My Depression_

Ola, sesuai dengan jejak pendapat yang saya tulis di instagram beberapa waktu yang lalu, sekitar dua puluh lima orang menyatakan bahwa mereka ingin saya menulis tentang topik ini karena mereka ingin baca. Awalnya, saya ingin hanya ingin menulis sebuah tulisan padat yang menceritakan tentang topik yang cukup sensitif juga paling sering kita dengar di zaman modern sekarang ini. Hanya saja, saya sadar bahwa topik ini terlalu rumit dan komplikatif sehingga akhirnya saya memutuskan membuat serangkaian tulisan tentang depresi ini.

Pertama-tama, sebelum saya mulai berbicara lebih jauh tentang depresi, saya ingin mengungkapkan sebuah pernyataan bahwa saya bukan seorang psikolog; saya bukan ahli jiwa; saya tidak pernah belajar tentang psikologi secara resmi di bangku sekolah. Semua yang saya tulis dalam rangkaian tulisan tentang depresi ini adalah murni dari pengalaman pribadi, pemikiran sendiri, dan self-study mengenai apa itu depresi melalui berbagai media seperti Youtube dan Google.

Tapi singkat cerita, saya tidak akan mengutip definisi depresi dari mana-mana, kalian bisa cari di mana saja tentang definisi depresi itu. Saya tidak ingin mematok suatu definisi untuk menggambarkan makna depresi karena itu hanya akan membuat kalian berpikiran negatif tentang topik ini. Tujuan saya membuat tulisan ini bukan untuk menggurui kalian apalagi sok-sokan mengedukasi kalian soal depresi, tujuan saya sangat sederhana, saya ingin menenangkan diri saya sendiri sebenarnya.

Kenapa?

Well… untuk kalian yang sudah mengingkuti blog saya sejak bertahun-tahun yang lalu. Kalian pasti menyadari bahwa saya mungkin selalu menuliskan hal-hal positif dan berusaha untuk menyemangati para penikmat kata-kata di blog saya ini agar bisa menjalani kehidupan menjadi lebih baik lagi. Meskipun begitu, ada beberapa tulisan yang juga menunjukkan serta mengindikasikan bahwa saya pun mengalami mental breakdown dan kesepian yang mendalam (caelah!). Makanya lari dari dunia nyata dan menulis di blog…

kayak sekarang. Hehe.

Berharap dengan begitu saya bisa menemukan sebuah jawaban meskipun kadangkala saya akhirnya hanya menambah runyam otak saya sendiri.

So, tidak usah banyak basa-basi lagi, saya mulai saja cerita saya di episode zero tentang DEPRESI ini.

BAGAIMANA SAYA BERKENALAN DENGAN DEPRESI?

Eumh, saya tidak mengenal istilah depresi sampai saya duduk di bangku kuliah dan akhirnya bisa menamai banyak hal yang terjadi di hidup saya dengan istilah itu. Jadi, jika saya ingin menjawab bagaimana saya berkenalan dengan depresi, jawaban yang bisa saya berikan mungkin adalah…

Sejak saya menyadari bahwa saya obesitas.

Yeah, mungkin bibit-bibit itu muncul di sana. Ketika seluruh orang dewasa yang saya temui selalu mengatakan hal-hal mengenai bentuk tubuh saya yang gendut. Singkat cerita, sejak saat itu saya mulai merasa tidak mampu untuk mencintai diri saya sendiri. Saya merasa tidak ada orang yang menyukai saya karena bentuk tubuh saya dan akhirnya mencari cara agar orang-orang bisa menyukai saya. Saya haus pengakuan dan perhatian, saya ingin sekali orang-orang melihat saya meskipun saya gendut dan jelek. Akhirnya, untuk menutupi kerendahdirian saya, saya mencoba mencari muka, berpura-pura menjadi orang yang menyenangkan dan berpura-pura agar bisa fit in di lingkungan sosial saya sejak usia saya masih sangat muda.

Menginjak dunia remaja saya semakin menyadari bentuk tubuh saya yang tidak menarik tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya semakin berusaha untuk menutup rasa rendah diri itu dengan menjadi seorang ‘ekstrovert’ karena saya butuh perhatian yang sama sekali tidak pernah saya dapatkan. Kepuasan serta rasa senang ketika orang-orang mengakui saya dan ‘melihat’ saya menjadi satu-satunya alasan untuk saya bisa bertahan. Akhirnya, sifat saya menjadi sangat… annoying.

 Lalu hal itu berujung pada pem-bully-an secara verbal yang terjadi semasa saya sekolah dulu.

Untuk kamu yang kebetulan adalah teman SD, SMP, dan SMA saya, pasti kamu tahu bagaimana saya sebenarnya ketika saya sekolah dulu; bagaimana annoying-nya saya serta freak-nya saya. Saya yakin, beberapa dari kalian pasti mengasihani saya atau bahkan sebagian lagi mencibir. Namun, tidak papa, saya tidak pernah menyalahkan kalian… saya justru menyalahkan diri saya sendiri.

Mulai dari sini saya jadi punya kebiasaan self-blaming. So, setelah saya merasa inferior  dengan bentuk tubuh saya, saya pun  memupuk kebiasaan self-blaming. Di beberapa coretan saya semasa SMA lalu menunjukkan bahwa saya tidak pernah menyalahkan orang-orang yang mem-bully saya karena saya merasa bahwa tindakan mereka adalah reaksi dari apa yang saya miliki, entah itu bentuk tubuh atau pun perbuatan saya. Jadi saya selalu keras pada diri saya dan mengatakan pada diri saya bahwa sayalah yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa diri saya.

Skip cerita, akhirnya tiba saatnya pemilihan jurusan kuliah. Pertempuran sengit antara kemauan saya dan kemauan ibu saya. Kegagalan saya pada SBMPTN tahun 2014 hingga akhirnya saya diterima masuk di jurusan bahasa Korea UGM pada tahun 2015. Semua kejadian yang terjadi di tahun-tahun itu sudah saya tulis semuanya di blog saya ini, mungkin kalau kalian tertarik, kalian bisa baca. Kalau tidak ya tidak papa… saya hanya ingin menyampaikan, secara singkat di sini bahwa pada akhirnya selama priode waktu tersebut saya menjadi manusia yang overthinking.

Saya memikirkan banyak hal di kepala saya, tapi yang paling membuat saya menderita adalah pikiran tentang bagaimana orang lan melihat saya. Ketika saya masuk kuliah, saya berjuang agar tidak mengulangi kesalahan yang telah saya perbuat di masa sekolah dulu yang berakibat pem-bully-an secara verbal. Di lingkungan sosial saya selalu merasa serba salah dalam bertindak dan melakukan sesuatu karena merasa was-was dengan apa yang orang lain pikirkan tentang saya, ditambah lagi ternyata kuliah bahasa itu tidak semudah yang saya pikirkan sebelumnya. Bahasa Korea itu sulit, Bung, hahaha. Study saya berjalan tidak sebagaimana mestinya dan itu menambah beban pikiran saya. Yah, singkat kata,  saya memiliki ketakutan-ketakutan sehingga saya semakin menekan diri saya sendiri agar tidak membuat orang lain tersinggung atau pun mengecewakan diri saya sendiri.

Ketika kalian membaca sampai di sini, kalian pasti mengira bahwa saya melawak tentang depresi…

“YaH ElAh YaNg BeGinI dIBiLanG DePrEsI, LEmAh!”

“HeLoh, GueH yAng NgALaMin lEbiH dAri ElOh AjeH gAk NuLis SaMPai SeBeGIniNya…”

“DuOh, AlaY DeH…”

 “GaK taHu BerSyuKur!  LoE gAk MaLu SaMa OraNG  yAnG hIDupNya BeRkEkuRangAn yA?!”

“MeNdIng MaTi aJA LoE… GaK GuNA.”

Hasudahlah…

Komentar yang seperti inilah yang membuat orang yang depresi semakin depresi dan merasa mereka tidak layak untuk melanjutkan hidup. Kesadaran masyarakat tentang fenomena depresi sangat kurang kalau tidak dapat disebut tidak peduli sama sekali. Mereka merasa bahwa depresi adalah isu minor dan beranggapan bahwa ketika orang membicarakan tentang depresi, itu tandanya orang yang lemah. Saya bersyukur, saya masih dipertemukan dengan orang-orang yang mau mendengarkan ‘perasaan-perasaan depresi’ saya serta saya sendiri masih memiliki keberanian untuk menulis tentang perasaan saya di blog seperti ini. Kalau tidak… mungkin pikiran tentang bunuh diri sudah hinggap di pikiran saya sejak dulu.

Biasanya, orang-orang depresi dianggap sebagai orang-orang yang lemah dan tidak beriman kepada Tuhan. Bahkan setelah mereka (maaf, gamblang) meninggal karena bunuh diri pun ada-ada saja orang yang tetap menghina mereka dengan kata-kata ‘menyayangkan’ atau ‘salah dianya sendiri’ atau ‘gak tahu diuntung’. Bahkan kalau kalian mendengar berita tentang orang yang meninggal akibat bullying, para pem-bully tidak mendapatkan hukuman apa pun, hukuman sosial pun tidak ada. Semua orang fokus pada ‘yang meninggal’ atau korban. Sementara setelah kematian ‘korban depresi’ dan bunuh diri itu, para pem-bully masih bisa menikmati kehidupan mereka, serasa tidak terpengaruh sama sekali.

Well, tapi depresi tidak hanya dikenal melalui bullying saja.

Melalui serangkaian tulisan saya ini, saya tidak akan membicarakan tentang diri saya sendiri. Saya akan berusaha untuk membuat tulisan saya seobjektif mungkin agar kalian sadar bahwa bibit-bibit depresi itu sebenarnya ada dalam diri setiap orang. Saya tidak bilang semua orang bisa depresi, tapi perasaan tidak nyaman dan kesedihan dan semua perasaan tidak menyenangkan pasti selalu dimiliki semua orang. Saya berharap kalian telah jago untuk mengontrol perasaan dan pikiran seperti itu dan menjadikannya senjata untuk berkembang. Namun sayang, tidak semua orang bisa seperti itu, tidak semua orang bisa mengontrol perasaan dan pikiran negatif di dalam diri mereka. Jadi, jangan salahkan mereka karena terlalu sensitif atau akhirnya menyerah pada perasaan-perasaan itu. Mereka justru memerlukan kalian yang ‘ngakunya’ bermental baja (bertulang besi, eh) untuk membantu mereka.

Kalian seharusnya peka, bisa saja orang-orang terdekat kalian seperti pasangan, sahabat, saudara kalian, sepupu, atau bahkan orangtua kalian sendiri mengalami depresi dan kalian tidak tahu apa yang  mereka alami di dalam pikiran mereka. Kalian mungkin bisa menolong mereka sekarang jika kalian bisa sedikit lebih peduli. Tapi, Kesayanganku… sebelum kalian berniat untuk menolong mereka, pastkan kalian mengenali apa yang ‘memicu’ depresi mereka atau bagaimana orang-orang itu ‘mengenal’ depresi.  Soalnya kalau kalian niat menolong tapi caranya salah, niscaya orang yang ingin kalian tolong jadi apatis dan justru malah semakin depresi.

Berikut, hal-hal yang mungkin membuat kalian atau orang-orang yang kalian kenal mengalami depresi berdasarkan apa yang saya alami sendiri dan pengamatan pribadi saya. Jika kalian ingin menambahkan, silakan tulis di kolom komentar; jika kalian ingin menyanggah, silakan maki-maki saya. Tidak papa. Soalnya, berkat berkenalan dengan depresi, saya jadi menyadari dan peka pada orang yang suka marah-marah dan gampang tersinggung adalah salah satu tanda orang mengalami depresi. Hahaha, kidding… becanda… (rada serius juga, ding. LOL).

  1. Keluarga

Pelatuk atau cara paling mudah seseorang berkenalan dengan depresi justru melalui media ini. Ada beragam bentuk dan isu yang meliputi keluarga, saya tidak akan menyebutkan satu-satu karena sangat banyak; dari perceraian hingga keluarga tidak harmonis. Saya tidak akan membahas itu di sini karena itu mungkn merupakan isu yang jelas dan terang benderang, namun saya ingin membahas isu paling mikro dari sebuah keluarga yang terlihat dan terasa ‘baik-baik saja’.

KOMUNIKASI YANG BURUK.

Sampai sekarang, meskipun saya berusaha sekeras mungkin untuk memperbaiki pola komunikasi keluarga saya pasca meninggalnya Papa serta tercerai-berainya keluarga kami (saya di Yogyakarta, adek di Bandung, dan Mama di Kalimantan), komunikasi itu tidak pernah bisa membaik. Saya masih merasa sendirian. Seolah-olah saya harus menghadapi dunia ini tanpa ada keluarga yang menopang saya di belakang.

Buruknya komunikasi di dalam keluarga membuat sebuah keluarga menjadi dingin dan keras kayak krupuk melempem. Seorang ibu akan merasa tidak dicintai oleh suami dan anak-anaknya; seorang ayah merasa tidak ada yang peduli padanya; seorang anak akan merasa bahwa ia sendirian di dunia ini. Sesederhana sebuah komunikasi yang baik; depresi pun muncul ketika komunikasi itu tidak bisa terpenuhi.

KELUARGA BESAR YANG KEBANYAKAN BACOD (sorry not sorry, ha!)

Keluarga besar, dari om-tante dan eyang-eyang, hingga sepupu yang terlalu dekat hingga bisa bikin arisan keluarga sebenarnya bisa jadi salah satu alasan depresi itu muncul. Keluarga besar macam tante-tante kita itu bisa jadi biang gosip nomor wahid, bisa juga jadi biang masalah paling utama bagi keluarga kita. Contohnya mereka suka pinjem duit ke ortu kita atau ipar-ipar atau para mertua di keluarga kalian suka ngata-ngatain ortu kalian di belakang (entah ibu atau bapak) kalian. Itulah yang bikin akhirnya keluarga kalian gak stabil dan gak bahagia karena orangtua kalian ‘diam-diam’ tidak bahagia dengan pernikahan mereka karena saling menyalahkan keluarga satu sama lain kek gini “Mama kamu itu loh banyak bacod!” atau “Abang kamu kok suka minta duit sama kamu? Uang buat anakmu gimana?” atau “Kok Mbak kamu tega ngomongin aku di belakang?!” dan sebagainya-dan sebagainya. Oh ya, kadang komentar-komentar tante-om itu jatoh-jatohnya ke kalian dan mereka suka banding-bandingin anak mereka dengan kalian. Kayak memuji-muji anak mereka dengan kalian serta sok-sokan menasihati kalian dan lain sebagainya. Oh well… Orang pertama yang ngatain saya obesitas itu justru Om saya sendiri. Haha.

ORANGTUA KALIAN MENIKAH BUKAN KARENA CINTA.

Saya harap kalian tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ketika kedua orangtua kalian terpaksa berada di dalam sebuah pernikahan yang tidak dimulai dari saling mencintai.  Contohnya seperti orangtua kalian terpaksa menikah atau dijodohkan hanya karena mereka sudah berumur. Oh, mungkin saja cinta itu pernah ada, tapi ketika cinta itu sudah tidak ada, semua terasa… hampa. Kosong. Keluarga pun hanya jadi sekadar nama tanpa ada rasa bahagia. Jadi kayak, keluarga kalian tetap bertahan karena mereka malu dengan tetangga dan sosial semisal nanti bercerai, jadi kayak… “Ya udahlah, jalani aja.” Begitu…

KALAU ANAK TETANGGA LEBIH BAIK… ADOPSI ANAK TETANGGA AJA GIMANA?

Do I need to explain more? Like… really? Hahahaha… ketika orangtua mengungkapkan kekecewaan dengan membandingkan kalian dengan anak tetangga atau anak temennya atau anak temen dari temennya, di situ kadang kalian merasa gagal menjadi seorang anak…

DAN ALASAN LAIN-LAINNYA.

Well, kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga seperti apa kan? Tidak bisa memilih sendiri orangtua kita. Our parents and family might be the reason we got depression, but in this moment I wanna tell you all that, at least… they try. Forgive them.

  1. Bullying

Ini salah satu alasan paling utama kenapa seseorang depresi. Saya sepertinya tidak perlu menjelaskan secara lebih detail tentang ini. Kalian bisa mencari informasi tentang ini di mana saja dengan mudah. Sudah banyak buku, film, dan drama yang mengangkat tema ini. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa dewasa ini ada tiga macam bullying yang menghantui generasi muda, yaitu kekerasan fisik, verbal bullying, dan cyber bullying. Kalian pasti sudah bisa  membedakan ketiga hal tersebut. Namun, saya hanya ingin mengingatkan kalian, untuk lebih berhati-hati menggunakan mulut serta jari jemari manis kalian dalam menyampaikan pendapat dan komentar secara verbal maupun cyber. Karena ucapan adalah doa juga karma yang bisa berbalik kepada kita.

Katakanlah hal-hal baik saja. Jika memang harus berpendapat tidak menyenangkan, sampaikan dengan tutur kata sopan. Jika ingin mengatakan secara gamblang, pastikan orang yang kita ajak bicara adalah orang terdekat kita yang mau kita maki-maki pun malah ketawa. Hahaha. Tempatkan suaramu dengan bijak, kurangi julid dan gibah dan nyinyir; kalau gak kuat dan gatal pengen komentar, pastikan kamu hanya berbicara kepada orang-orang yang kamu percayai dan dekat dan bukan biang gosip. Jangan sampai pembicaraan itu tersebar ke mana-mana dan akhirnya ‘menghasut’ orang lain untuk tidak suka kepada objek pembicaraan kita. Sekian.

  1. Percintaan

Hah…

Ketika kamu mencintai orang lain lebih dari dirimu sendiri dan ketika orang lain itu hilang, kamu kayak gak punya sisa cinta untuk dirimu sendiri. Lalu kamu merasa tidak akan ada orang lagi yang bisa mencintai dirimu seperti orang itu mencintaimu. Gils. Hahaha. Sedap kali kurasa kalmatku itu. hahaha.

Saya tidak pandai dalam membahas soal percintaan. Percintaan itu adalah salah satu topik yang paling saya sukai sekaligus paling membuat saya merasa bodoh. Karena sekeras apa pun kalian mencoba berlogika tentang masalah percintaan. Ketika kalian sudah dihadapkan pada perasaan yang jujur saja menurut saya itu sangat sakral. Logika dan akal sehat kalian seperti hilang tak tahu ke mana.

Jadi, itu wajar.

Wajar kalau kalian merasa depresi karena percintaan. Tidak semua percintaan itu mudah seperti di dalam FTV Indonesia, tabrakan lalu jatuh cinta. Hahaha. Bisa jadi kalian jatuh cinta dengan mereka yang beda agama, bisa jadi kalian jatuh cinta dengan orang yang pantas jadi ayah kalian, bisa jadi kalian jatuh cinta dengan orang yang suka mukul, bisa jadi kalian jatuh cinta dengan orang yang salah. Banyak masalah dalam percintaan yang benar-benar bisa membuat depresi seseorang.

Tapi ketahuilah, kebanyakan orang-orang yang depresi dalam percintaan ini adalah orang-orang yang memiliki kombinasi pemicu depresi. Misalnya, mereka punya masalah dengan keluarga, akhirnya mereka lari ke percintan, sayangnya dalam percintaan pun mengalami kesulitan. Akhirnya mereka mengalami depresi karena merasa tidak ada yang mencintai mereka.

Saya benar-benar awam dengan topik ini karena sepanjang yang saya ingat, saya baru jatuh cinta satu kali dan itu rasanya memang…. yeah, funny. Hahaha.

 Hanya saja saya belajar satu hal tentang topik ini, bahwa sesungguhnya, cinta bukanlah hal yang seharusnya membuat kalian depresi. Cinta seharusnya obat dari depresi kalian. Definisi cinta kalian yang sempit saya rasa akan membatasi diri kalian untuk merasakan cinta yang lebih luas dari itu. Hidup membutuhkan cinta, ketika kita tidak mendapatkan cinta dari siapa pun di dunia ini. Yah, mengapa kita tidak belajar untuk mencintai diri sendiri dulu?

Jika kalian merasa kalian gagal mencintai diri sendiri (seperti saya, haha), ingatlah bahwa ketika semua orang memunggungi kita dan tidak ada lagi tempat bagi kita untuk bertumpu. Satu-satunya orang yang kalian punya saat itu adalah diri kalian sendiri. Please, take care of yourself first. Note for myself, too.

  1. Tuntutan Masyarakat dan Sosial di tempat kita tinggal

Korea dan Jepang adalah salah satu contoh bagaimana sebuah budaya dan pola pikir masyarakat menjadi salah satu pemicu depresi. Standar kecantikan yang tidak lazim, tekanan dalam pekerjaan, cara pandang masyarakat, dan lain sebagainya. Angka bunuh diri di dua negara ini sangat tinggi karena mereka depresi akibat merasa ditolak oleh masyarakat tempat mereka tinggal. Penolakan oleh masyarakat bisa jadi salah satu alasan seseorang mengalami depresi. Seperti orang obesitas yang tidak bisa mencari pekerjaan; harus operasi plastik dulu agar tetap cantik meski sudah berumur; harus masuk ke perguruan tinggi beken; dan lain-lain. Bahkan saya pernah mendengar berita, seseorang ditolak bekerja di sebuah perusahaan hanya karena dia mengalami kebotakan dini. Oh, WTF. Apa hubungannya rambut rontok dan kinerja dalam bekerja? Apa tebalnya rambut Anda merupakan ukuran kepintaran Anda? Tolong jawab, ini pertanyaan serius. Huft.

Untuk fenomena di masyarakat Indonesia sendiri, mungkin yang paling sering menjadi pergunjingan adalah “laku tidak laku”-nya kalian. Mahligai pernikahan sering menjadi tujuan hidup utama secara umum bagi masyarakat Indonesia, sehingga status jomblo sering jadi bulan-bulanan di mana saja. Orang-orang jadi lebih fokus ‘asal gue laku dan nikah’ dari pada mencari dan menunggu orang yang benar-benar siap menjalani sebuah pernikahan sampai akhir. Makanya banyak artis yang akhirnya kawin-cerai kayak pernikahan dianggap main-main atau dianggap sebagai sebuah tanggung jawab kepada masyarakat agar tidak disangka tidak laku atau perawan tua. Pertanyaan “kapan nikah?” pun sudah senormal pertanyaan “hari ini kamu sudah makan apa belum?”. Usia pernikahan di Indonesia juga cukup muda dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Sebenarnya, apa gunanya buru-buru menikah kalau yang kalian kejar hanya malam pertama? HA!

  1. Internet dan Media Sosial

Budaya internet bisa menjadi salah satu alasan munculnya depresi. Mudahnya kalian mendapatkan informasi dan berita-berita membuat kalian terpapar langsung dengan segala standar-standar tidak realistis yang tersebar di Internet. Padahal belum tentu semuanya benar. Contoh saja Instagram, munculnya fenomena selebgram yang memamerkan foto-foto stadarisasi bentuk tubuh menimbulkan perasaan ‘iri’ dalam diri seseorang. Banyak yang ingin memamerkan kehidupan mereka sebahagia dan seindah mungkin, meskipun kehidupan real mereka malah sebaiknya. Orang-orang jadi lebih peduli dengan komentar di media sosial; mulai belajar menggunakan aplikasi edit foto; jumlah like lebih penting daripada jumlah nasi yang kita makan; dan sebagainya.

Kecanduan internet seperti ini menghandarkan kita pada sebuah dunia yang penuh kepalsuan.

Ini ada hubungannya dengan cyber bullying yang sudah saya sebutkan di atas. Munculnya fenomena cyber bullying adalah salah satu dampak dari tidak bijaknya dalam menggunakan media sosial. Saya ingin menyarankan kalian untuk menonton film The Cyberbully untuk lebih memahami fenomena ini. Silakan tonton cuplikannya di bawah.

 

  1. Awaking Spiritual Depression

Nah, ini mungkin salah satu cara berkenalan dengan depresi yang mungkin asing bagi  kalian. Berkenalan dengan depresi dengan cara ini memang sebuah pengalaman asam-manis yang akan membuat  kalian jungkir balik dan mengalami kesulitan tidur yang berlebihan. Mengapa? Saya akan membahas ini di salah satu episode ke depan, tapi yang akan saya sampaikan sekarang adalah definisi dari awaking spiritual depression yang saya rangkum dan saya pahami sendiri. Depresi ini muncul ketika kita mendapatkan pemahaman dan fakta-fakta baru tentang apa yang selama ini kita percayai dan membuat semua terasa ternyata omong kosong belaka. Kita merasa tertipu dan kecewa, sedih dan merasa terkhianati. Seolah-olah apa yang kita selama ini percayai ternyata hanyalah sebuah tipu muslihat semata. Hal ini tidak hanya berbicara tentang konsep agama-agama dan teori-teori konspirasi, tapi mungkin bisa lebih dalam dari itu. Namun saya ingin mengingatkan bahwa di di episode selanjutnya saya tidak berbicara tentang pemicu depresi ini melainkan sebuah konsep yang menyatakan bahwa sesungguhnya awaking spiritual depression atau depresi secara general ternyata hanyalah sebuah fase luar biasa yang mungkin membuat kita bisa melihat depresi dengan cara yang berbeda.

  1. Depresi ada dalam diri saya

Poin terakhir adalah poin yang saya khususkan untuk perkenalan yang tidak dapat dijelasan atau perkenalan dengan depresi yang tanpa media apa pun. Mungkin terdengar aneh, tapi kadang depresi bisa muncul ketika kita merasa tidak ada alasan untuk merasa depresi. Banyak orang-orang terkenal seperti artis, penyanyi, dan lain-lain yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena merasakan kehampaan di dalam diri mereka yang tidak bisa dijelaskan. Mereka memiliki segalanya, tahta, harta, dan pasangan yang menakjubkan. Semesta tampaknya membuat mereka begitu sempurna, tapi nyatanya, ada sebagian dari diri mereka yang tidak bisa dijelaskan dan hal itu menghalangi mereka untuk merasa bahagia. Orang biasa pun bisa mengalami depresi seperti ini, hidupnya sempurna, normal, dan bahagia, yah seharusnya bahagia, tapi depresi yang muncul dari dalam diri dan tidak dapat dijelaskan asal usulnya ini memang mengganggu sekali.

Banyak orang yang menganggap ini merupakan bentuk depresi yang konyol, tapi ini TIDAK KONYOL. Ini fenomena dan terjadi di sekitar kita. Faktanya, depresi ada di dalam diri setiap orang, sekecil apa pun itu. Sekuat apa pun kalian mencoba untuk mengelaknya, ia ada, di sudut pikiran dan hati kalian, menunggu… menunggu kalian menyapa dan mengajaknya berkenalan.

Dan yah, itu dia bagaimana caranya berkenalan dengan depresi. Mungkin daftar yang saya buat belum lengkap, kalian bisa isi sendiri atau tambahkan di dalam kolom komentar. Ada kasus-kasus tertentu bisa membuat seseorang depresi, seperti kehilangan orang yang kalian cintai, trauma masa kecil, pelecehan seksual, dan lain-lain. Tapi saya tidak akan membahas itu di dalam coretan saya karena itu adalah kasus-kasus khusus yang tidak saya alami sendiri dan harusnya dibahas oleh orang-orang yang lebih pintar. Saya mah apa atuh ya… cuman serpihan kata-kata di bagian kecil dunia perinternetan. Hahaha.

Saya hanya ingin mengatakan pada kalian, jangan takut ketika depresi mengajak kalian berkenalan atau tanpa sengaja semesta memaksa kalian untuk berpapasan dengannya. Belajar kenali mereka, coba berteman dengan depresi itu. Kadang kala mereka menyenangkan, karena kalian jadi punya alasan untuk tidur lebih lama atau makan lebih banyak. He.

 Depresi adalah bagian dari diri kita sendiri—kalian dan saya. Saya menggunakan istilah depresi memang agak ekstrem, saya tidak mendefinisikannya secara sempit seperti kebanyakan yang kalian pikirkan. Saya sesungguhnya tidak ingin mendefiniskannya, sudah saya katakan sebelumnya, bukan?

Jadi saya harap, setelah kalian membaca episode zero tentang depresi ini, kalian mungkin bisa menjadi sedikit terbuka tentang kehadiran depresi di dalam kehidupan modern sekarang ini. Jangan abai. Jangan dianggap remeh atau bahkan ditertawakan. Jangan juga kalian elak dengan mengatakan bahwa kalian berlebihan dengan perasaan seperti itu. Jika kalian cepat mengenali depresi, cepat pula kalian bisa mengontrolnya sebelum depresi mengontrol kalian.

Sama seperti manusia, depresi pun memiliki sisi baik dan buruknya. Sayangi mereka. Mereka membutuhkan perhatian sama sepert dirimu sendiri.

Alright! Selesai!

Sampai jumpa di episode selanjutnya! Buing! Buing! *melompat di antara awan-awan*

Klik untuk lanjutkan membaca — > [DEPRESI] Episode 1 : Depresi Itu Rasanya Begini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s