SAMSARA;

DOPAMINE;

Bagi dia hidup hanyalah jeda di antara kematian. Kadang dia memikirkan kematian selanjutnya, apakah akan lebih baik atau lebih buruk dari kematian sebelumnya. Dia pikir, mungkin… mungkin saja kematian selanjutnya bisa lebih menyenangkan. Mungkin ia bisa memilih bagaimana cara terbaik untuk mati… atau tidak. Tidak usah memilih saja. Biarkan saja kematian itu datang sendiri.

Sayang, sesungguhnya dia agak takut mati.

Duh.

Padahal sekali waktu ia pernah ditodong seseorang mabuk dengan pecahan botol, hari itu ia memikirkan kematian, jadi ia diam… merentangkan tangan. Lebar- lebar- selebar lebarnya. Tapi seseorang malah ketakutan; dipikir dia aneh; dipikir dia gila. Padahal dia menyambut kematian. Padahal dia tahu mungkin ini cara terbaik untuk mati, meski takut… meski aneh saja. Tapi seseorang malah pergi, lari tunggang langgang. Lalu dia diam. Merenung. Tersenyum.

Mungkin nanti, pikir dia. Nanti saja.

Belum boleh, pikirnya.

Lalu ia pulang. Tidur. Memikirkan besok, mengira-ngira apa besok kematian akan meliriknya sebentar. Lalu pergi tungang langgang seperti kemarin, seperti hari ini. Seperti yang sudah-sudah.

Soalnya sekali waktu dia pernah mengendarai mobil tua kawan baiknya pada sore hari yang dingin. Musim dingin, waktu itu. Entah tahun kapan. Dia masih bekerja waktu itu, masih bisa cari makan, seingatnya. Kecepatan mobilnya normal, memang tidak bisa lebih cepat. Semua mobil pun sama, berjejer seperti anak bebek di belakang pantat ibu. Lalu sebuah mobil terpleset dan… bum-bum-bum!

Dia berusaha menghindari rubuhnya bus sekolah di depan matanya.

BUM!

Dia banting stir ke kiri dan menabrak beton.

BUM!

Mobilnya berputar di aspal licin.

Lalu… BUM!

Mobil tua kawannya berhenti dan hal terakhir ia dia ingat adalah bagaimana cara untuk mengganti rugi kerusakan mobil kawannya.

Bukan kematian.

Karena dia tahu. Kematian pasti meluputkannya.

Karena dia tahu. Kematian tidak menyukainya.

Entah karena apa, padahal ia mangsa yang empuk. Padahal, meskipun dia bilang takut mati, dia tahu kematian pasti akan datang. Dia siap. Kapan saja. Kapan pun. Terserah maunya kapan.

Toh dia bingung mau diapakan lagi jeda ini. Rasanya cikup, dia pikir. Meskipun isinya hanya ganja dan bir. Meskipun isinya hanya Youtube dan musik tolol yang dibuat dari suara kentut. Sayang, dia tidak tahu mau melakukan apa lagi. Usianya baru 44 tahun, sebentar lagi 45 tahun. Seharusnya dia bekerja dan makan dengan baik, begitu kata Mama.

Padahal Mama sudah tua sekali, seharusnya bisa tenang, tidak usah memikirkan dia. Tidak usah bawel. Diam saja di rumah sambil melukis pemandangan biar tidak pikun. Tapi Mama tetap bawel. Mama kepalang sayang pada dia; maksudnya baik. Sayang, dia hanya tidak suka bekerja. Bilang saja malas. Sayang, ia hanya ingin melakukan apa yang ia suka.

Padahal ia tidak tahu apa yang ia benar-benar suka. Ia suka bir; suka ganja; suka Youtube; suka bikin musik dari suara kentut. Yah, suka malas begitu, mungkin, pikir dia. Begitu saja. Ada beberapa hal-hal lain yang dia sukai, mungkin tidak terlalu. Ia bisa memikirkannya lagi nanti. Namun yang jelas, ia tidak suka satu.

Dia tidak suka bekerja untuk uang.

Tolol memang, tolol. Dari mana pikiran abnormal itu muncul? Siapa yang tidak butuh uang? Semua hal dikontrol oleh kertas-kertas beraroma memabukan itu. Siapa yang tidak butuh uang?

Duh, dia tidak butuh uang, pikir dia. Ia pernah melinting ganja dengan lembaran 50 Euro; itu lembar terakhirnya, padahal. Lalu dia tidak makan tiga hari, tapi ia masa bodoh, begitu. Besok ia cari uang lagi lalu minta sisa serpihan ganja dengan kawan baiknya. Lalu ngisap ganja lagi. Begitu terus… tidak habis-habis. Tidak bosan-bosan.

Sampai kematian mau mengajaknya pergi. Sampai nanti waktunya ia melihat gelap dan kematian mengajaknya menempuh jalan yang isinya hanya hampa. Sampai nanti ia kembali dilemparkan di dalam rahim milik orang yang tidak ia kenali. Lalu nanti ia kenali sebagai Mama. Lalu ia disuruh mengisi jeda lagi… lagi… dan lagi…

sampai mati.

Iklan

Satu respons untuk “SAMSARA;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s