RIUH;

DOPAMINE;

Fragment Sebelumnya > #1 DOPAMINE; #2 SAMSARA;

Dia tidak suka berpesta. Sayang, pesta membuatnya pusing. Sayang, dia tinggal di negara ini; kota ini; dalam keluarga ini. Jadi pesta itu selumrah bernapas. Untuk apa saja, misal untuk kelahiran anak anjing, lalu ulang tahun pernikahan, mungkin bisa untuk merayakan hal-hal tidak penting lainnya. Ada bir dan ganja. Nikmat sekali. Ramai sekali. Semua berbahagia; harus berbahagia; kalau tidak, bukan pesta. Kalau tidak, bukan pesta, kata mereka.

Sayang, dia tidak suka berpesta. Sudah tua sekarang, pikir dia, tapi sejawatnya masih suka berpesta. Ada yang bilang tidak ada batasan umur untuk berpesta. Ada yang bilang hidup untuk berpesta. Sayang, dia tidak begitu, pesta untuk apa? Toh, dia miskin. Tidak ada pesta untuk orang miskin. Orang miskin tidak berhak berpesta. Begitu.

Jadi dia di sini saja. Berjualan. Dua puluh jam berdiri di belakang meja yang penuh sesak dengan barang-barang yang tidak ia mengerti fungsinya apa. Padahal hari ini ia genap berusia 45 tahun. Astaga, nyaris separuh abad tapi jumlah uang di saku bahkan tidak lebih dari separuh usia dia. Menyedihkan.

Sayang, jadi begitu, dia pikir merayakan hal-hal seperti itu tidak penting. Justru dia muak. Justru dia sakit kepala. Merasa gagal-merasa tidak berguna. Lemah. Begitu… merasa diingatkan bahwa ada tahun-tahun yang sudah dia sia-siakan.

Duh, menyesal, menyesal. Sayang, waktu tidak berjalan mundur. Hah… Tiap kali menghela napas, dia merasa kematiannya semakin dekat sepuluh menit. Jadi dia tidak pernah merayakan apa pun, dia tidak suka bergembira ria untuk mengisi kekosongan di dadanya, sementara ada orang lain di luar sana yang merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan sekarang.

Jadi, dia diam saja. Merasa sangat baik hati karena membiarkan dia merasakan apa yang orang lain rasakan pula.

Menjalani hari ini seapa-adanya. Setidaknya ia bernapas-setidaknya ia bernapas. Begitu. Setidaknya ia bekerja hari ini, ada uang untuk besok dan lusa; buat beli makan. Entah besok-besoknya lagi. Ia harus cari kerja lagi kalau mau makan.

Padahal Mama menawari rumah. Pulang. Juga semangkuk sup. Mama bilang, rayakanlah. Dia bilang dia sibuk. Jadi, Mama tidak menawari lagi. Sudah hafal kelakuan dia. Jadi, Mama makan sendiri supnya. Bersama Papa. Papa yang masih kuat memancing tapi selalu lupa jalan pulang. Iya, mereka masih hidup. Belum mau mati. Entah, memang malaikat pencabut nyawa tidak suka dengan keluarga mereka mungkin. Jadi, begini.

Harusnya hal seperti ini dirayakan sih. Hanya saja, sayang, dia tidak suka. Berisik, jerit dia. Berisik, jerit dia. Ibunya terlalu banyak mulut; Papa berdemonstrasi dengan sikap diam; ada lagi adik perempuan yang sinis. Jadi, pulang dan semangkuk sup adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan. Di sini saja, pikir dia. Di sini lebih tenang, pikir dia.

Meskipun dia berada di tengah-tengah pasar. Meskipun kanan-kiri sibuk bertalu-talu dengan bahasa yang kata seluruh dunia terdengar seperti sedang menggerutu. Ia suka di sini. Senang di sini. Tidak berisik, tidak berisik.

Tidak berpesta. Tidak perlu diingatkan. Tidak merayakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s