Pt. 1 – Jakarta Hari Ini.

Jakarta hari ini mengingatkanku pada manik matamu saat kita berpisah dulu—remang dan basah.  Bulan September datang dan membawa hujan tanpa permisi belakangan ini; aku mengira-ngira kejutan apa lagi yang akan ia perlihatkan selain hiruk pikuk yang rasanya tak berkesudahan. Sejak malam ketika aku melihat kakimu yang sejenjang korek api itu melangkah tertatih-tatih membelah angin, telah kupastikan hati ini terkunci rapat.

Aku bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta, semesta tahu itu, sama seperti ia tahu bahwa tak ada yang bisa menghalangi kantuk yang datang tiba-tiba di dalam bus Transjakarta atau mata-mata yang ingin bersembunyi di balik layar smartphone. Yah, aku pun menyibukkan diri dengan lagu-lagu yang bergantian menghibur telingaku. Lagu-lagu indie, beberapa lagu kesukaanmu, oh… kali ini lagu kita. Aku hening dalam kenangan yang menciptakan kebisingan di hatiku, sadar betul bahwa tamparan air hujan di kaca jendela bus tak mampu menembus kebisingan ini.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku merasa seperti ini. Rasanya begitu mencengengkan ala drama korea yang saban hari kamu tonton atau aku lebih senang menamai diriku sendiri ‘The Man Who Can Be Moved’ seperti lagu The Script yang sedang terputar sekarang. Kamu bilang The Script itu band banci karena lagu-lagu mereka terlalu melankolis; aku selalu bilang kamu cengeng karena terlalu banyak menonton drama Korea. Pada akhirnya, perdebatan bodoh itu pun tak pernah dimenangkan oleh siapa pun dan selalu berakhir dengan topik lain yang mungkin dirasa lebih penting. Seperti bagaimana caranya aku menuntaskan perjalanan panjang menjadi sarjana yang tinggal menunggu sidang  atau bagaimana caranya agar kamu berhenti bermimpi memeluk matahari tanpa terbakar.

Hahaha, aku jadi teringat, seorang kawan

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Tentang Benedict Cumberbatch yang Ganteng Banget Kalau Bewokan

Baru selesai menonton “Doctor Stranger” meskipun ada tugas yang menghimpit. This film talking about time, about “penyerahan diri”, pengakuan bahwa adanya kekuatan yang lebih dari apa yang kita tahu. Saya rasa film ini seharusnya menjadi TOP of the list semua orang. Para karakternya memanusiakan manusia, terlepas dari kekuatan tidak masuk akal yang menjadi basic dari semua film superhero, tokoh Dr. Strange menunjukkan pada penonton oposisi biner yang selalu ada di dalam diri setiap orang. Oh, saya tidak berbicara tentang tugas Sastra Sejarah yang sekarang memaksa saya untuk mengkaji cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (yang saya pilih dengan sembrono dan tanpa perhitungan lalu membuat saya kehilangan akal sehat sekarang) dengan pendekatan posmodernisme. Saya kira memahami tentang sastra itu jauh lebih rumit dari pada memahami diri saya sendiri. Satu, mungkin karena saya dipaksa memahami dan menginterpretasikan apa yang orang lain pikirkan. Dua, kenapa kita terlalu sibuk mencoba memahami orang lain daripada memahami diri sendiri? Saya masih mencoba mencari jawaban dari pertanyaan itu karena kadang-kadang toh lebih seru bergosip tentang hidup orang lain daripada membicarakan hidup kita sendiri. Oh ya, tulisan ini mulai menyimpang dari apa yang sebenarnya saya ingin sampaikan, mungkin Anda sudah tidak ingin meneruskan bacaan yang sesungguhnya membuang-buang waktu Anda yang sangat berharga. Tapi saya tahu, Anda tidak bisa berhenti, rasa penasaran Anda memaksa untuk terus membaca tulisan bodoh ini karena semua orang selalu mencari tentang akhir dari sebuah permulaan. Itulah mengapa konsep ketuhanan begitu laris manis dan tak bisa dihentikan penyebarannya. Konsep ini menjajakan mimpi tentang surga, akhir dari dunia dalam kematian. Kita terbuai. Saya pun terbuai. Orang-orang pun bahkan banyak yang dibutakan. Pada akhirnya, semua orang berorientasi pada akhir, bukan pada proses. Anda bahkan tidak peduli apa tulisan saya singkron dengan judul atau ketika saya menyelipkan bahasa Inggris di beberapa bagian just like this. So, in the end… Anda hanya mencoba mencari tahu akhir dari tulisan ini dan berusaha memahami apa yang saya coba sampaikan atau bahkan siapa saya dalam tulisan ini. Saya tidak menyalahkan Anda; juga tidak berusaha membenarkan diri saya apabila yang saya tuliskan ini benar adanya. Tidak ada yang pasti dalam hidup ini, sama seperti jodoh. Bisa jadi pasangan yang sekarang sedang bersama Anda, entah itu istri, suami, kekasih, teman dekat, atau terserah bagaimana kalian menyebut pasangan Anda itu, bukanlah orang yang sesungguhnya telah dipersiapkan untuk melengkapi Anda. Bisa jadi mereka hanyalah bagian kecil dari film kehidupan Anda yang panjang; adegan ketika si Tokoh Utama merasakan gejolak-gejolak serta momentum yang selalu kita pahami sebagai ‘Yah, namanya kehidupan’. Toh, yang terpenting sekarang hanyalah bagaimana akhirnya saja bukan? Well, saya sendiri saja tidak tahu akhir dari kehidupan saya, apa hak saya berbicara tentang akhir kehidupan orang lain? Namun mungkin ada satu hal yang pasti, dari segala ketidakpastian tentang akhir dari coretan ini. Waktumu adalah milikmu sendiri. Ketika kalian memutuskan untuk membaca coretan ini secara implusif dan tak bisa berhenti sampai pada titik ini, kalian tahu kalian hanya membuang-buang waktu, saya bahkan sudah memberikan pernyataan ini berkali-kali. Memperingatkan kalian tentang ke-un-faedahan coretan ini. Namun kalian masih saja menuntut akhir, menuntut jawaban, menuntut kepastian, menuntut saya untuk memberikan penjelasan kenapa saya menulis coretan ini. Apa kalian pikir saya akan memberikan apa yang kalian mau? Kalian saja mungkin tidak sadar kalau saya sekarang menyebut kalian itu ‘kalian’ bukan lagi dengan ‘Anda’. Oh, saya tidak ingin berdusta, saya senang ketika Anda akhirnya menyadari hal itu. Itu tandanya saya berhasil membuat Anda terkejut. Membuat pembaca terkejut adalah keberhasilan sebuah karya fiksi, bukan? Oh, jadi ini fiksi? Entahlah, saya tidak suka mendefinisikan sesuatu secara sepihak. Itu tandanya saya tidak adil dengan indra-indra milik orang lain yang mungkin saja mendefinisikan coretan ini sebagai SAMPAH. Jadi ya sudahlah… terserah kalian mau berpikir apa tentang diri saya. Lain kali, tolong berhati-hati dalam membaca sesuatu, kadang kala bacaan tersebut tidak akan memberikan apa yang Anda inginkan. Kadang mereka mengecewakan dan menyedihkan hati dan membuang-buang waktu berharga milik Anda sendiri. Nah, jadi ini salah satu bacaan itu. Saya sudah memutuskan untuk tidak memberi akhir pada tulisan ini, saya tidak ingin tulisan ini berakhir. Saya ingin tulisan saya abadi dan tertinggal di benak kalian hingga besok hari, hingga hari berikutnya, hingga nanti kalian memiliki seorang anak, dan menamainya dengan nama yang merupakan doa. Doa yang mungkin saja tidak akan pernah terkabul. Saya tidak akan mengakhiri tulisan ini karena saya hanya ingin memulainya. Tapi bagaimana bisa? Semua yang telah diawali harus diakhiri. Konsep Alpa dan Omega dibawa oleh seorang laki-laki bernama Yesus ke dalam kehidupan saya, ia menjanjikan awal dan akhir yang hanya bisa ditemukan dalam dirinya. Tapi sekarang saya ingin mendekonstruksi hal itu, saya hanya akan memberikan tanda elipsis. Menurut Wikipedia yang baru saja saya tengok, tanda elipsis adalah tanda baca yang biasanya menandai penghilangan sengaja suatu kata atau frasa dari teks aslinya. Tapi saya tidak hanya akan menghilangkan kata atau frasa, Saya ingin menghilangkan akhir, ending, serta omega dari tulisan ini. Namun hati kecil Anda pasti mendebat, pada akhirnya tulisan ini akan berakhir dan yang mengakhirinya adalah tanda baca elipsis itu! Hahaha, GOBLOK! Sekarang segalanya menjadi ambigu, apa kata GOBLOK itu ditujukan kepada saya atau kepada Anda? Ah, sudahlah, untuk apa mendebatkan satu kata yang memiliki tafsir yang berbeda-beda tergantung bagaimana tanda bacanya, bagaimana cara mengucapkannya, atau apa agama orang yang mengucapkan kata itu. Tidak penting. Sungguh tidak penting. Seperti isi coretan ini. Maka dari itu saya hanya ingin meninggalkan sebuah kehampaan pada diri Anda. Kehampaan. Yang dilambangkan dengan … yang mungkin bisa menjadi tempat Anda berpikir. Tempat Anda merenung. Tempat Anda menemukan diri Anda sendiri. Tidak ada akhir ketika kehampaan itu datang, kehampaan bukanlah akhir tapi moment of silent. Momentum yang selalu dilupakan dalam setiap tokoh utama dalam kehidupan ini.. Momentum seperti … ini lalu akan berlanjut menjadi sebuah pemikiran yang seperti … lalu Anda akan terjebak dalam kebingungan yang … yang begitu itu lalu membuat Anda … dan … dan … begitu terus dan … Anda akan marah dengan banyak sekali … ini, lalu saya akan merasa … karena saya sendiri, di momentum seperti … ini suka sekali melihat … kefrustasian … manusia … dan manusia … dengan … begitu saja terus … ini karena … saya … juga … … … …. … … …. … ….

Ekonomi Indonesia di Zaman Digital: Peluang Bisnis yang Tak Terelakan

Perkembangan ekonomi di zaman digital pada dekade ini tengah berada di atas angin. Seiring dengan perkembangan teknologi yang kian mutahir dan munculnya generasi-generasi milenial yang sangat melek dengan beragam informasi serta manfaat teknologi, sektor ekonomi pun tentu tidak akan luput dalam mengambil peluang ini. Seperti yang dapat kita lihat dari data statistik yang diterbitkan oleh Databoks di bawah ini. Proyeksi pertumbuhan rerata tahunan (CAGR) Indonesia adalah 19 persen untuk periode 2015-2020 dan merupakan yang tercepat di dunia.

CAGR Pengguna Internet Menurut Negara 2015-2020

(Sumber : DATABOKS  – “Google: Pengguna Internet Indonesia Tumbuh Tercepat di Dunia” )

Hal ini tentu menunjukkan tren positif dalam ekonomi digital yang menjadikan pengguna internet sebagai target pasar untuk produk-produk ekonominya.  Bayangkan saja, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia bahkan jauh melampaui Amerika Serikat yang diprediksi hanya mampu bertambah sebanyak 1 persen hingga tahun 2020. Sementara itu, bila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN sendiri, Indonesia pun masih lebih unggul dari Vietnam dan Filipina yang masing-masing diprediksi hanya akan mengalami pertumbuhan pengguna internet sebanyak 13 persen dan 11 persen.

Baca lebih lanjut

Ik Ben…

Empat puluh tahun berlalu secepat angin menghempaskan serpihan debu di trotoar Malioboro. Paru-paru pria kaukasoid itu melumat dalam-dalam cerutu pertamanya hari ini dan menyelimuti wajah yang kini penuh dengan bintik-bintik usia itu dengan asap beracun. Ia tersenyum tipis, mata biru kelabunya melirik miris pada kusir-kusir andong yang telah siap siaga di atas dokar dan menanti turis berdatangan—dulu rasanya tidak begini, pikirnya, nostalgia menggerogoti setiap sel otaknya seperti sengatan lebah yang menyakitkan. Ia menghisap cerutunya lagi sebelum akhirnya melangkah menyusuri jalan yang kini begitu berbeda dari yang terakhir ia ingat.

Sekarang pukul sepuluh di pagi hari, ia tiba di kota ini pada pukul tujuh tadi dan tak sempat menikmati jet lag penerbangan selama empat belas jam dari Amsterdam karena masa lalu menyekap seluruh perhatiannya sejak pertama kali ia menjejakan kaki.

Hah…

Baca lebih lanjut

Seandainya Pongah itu Kita Buang ke Laut Saja

 

Putih adalah warna kesukaan Bellatrix selain merah muda. Namun, ketika ia melihat pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, mencukur rambutnya hingga cepak, dan menghilangkan bulu-bulu di wajahnya begitu bersih serta rapi—seperti  yang selalu ia bayangkan dalam benaknya, entah mengapa Bella merasa risih.

 Terlalu tidak biasa.

Terlalu bukan David yang ia kenal dulu saat masih menciumi pipinya dengan bibir beraroma mentol atau sesekali  berpengar alkohol.

“Sehat kau, Dek?”

Pertanyan pilon kalau tidak bisa disebut basi. Bella mendengus di dalam hati, tapi dengusan itu menyetrum debaran jantungnya yang entah sudah berapa lama mati suri.

“Sehat, Bang,” sahut Bella ringkas, “Abang gimana?”

Baca lebih lanjut

Kampus Fiksi #19 Bag. 3 : Menulis itu Perkara Isi dan Bungkus

book-writing-ideas

Okay, aku menulis coretan ini di perpustakaan lantaran dosen pengampu mata kuliah Menyimak I yang kuulang semester ini tidak hadir (again!). For a God sake, deh ya! Kuliah udah jalan dua minggu dan ini dosen gak datang-datang juga. Bukannya apa sih ya, siapa yang gak seneng ada kuliah yang kosong sih? Tapi satu, aku udah bela-belaan bangun pagi dan datang ke kampus dengan gagah perkasa untuk menuntut ilmu, tapi akhirnya itu sia sia! Dua, puhlez… jangan sampai semangat belajarku semester ini luntur cuman gara-gara mata kuliah yang satu ini ya!

Huft.

Baiklah, aku mulai saja ya coretan ini, daripada makin stres mikirin kuliah lagi. Jadi, Gaes… setelah kemarin aku kasih tahu kalian pengantar dari Pak Edi, hari ini aku bakal kasih tahu kalian tentang Teknik Penulisan yang dipersentasikan oleh Reza Nufa Oppa, eak! Beliau ini salah satu editor, pemegang akun media sosial Kampus Fiksi, juga penulis kritis. Kalau gak lagi micin sebenarnya Oppa ini baik dan bakal banyak ilmu yang bakal kalian dapat, tapi sayang, dia kebanyakan micin. Mungkin micin itu kayak heroinnya Sherlock Holmes buat Oppa yang satu ini.

Anyway, sesi teknik penulisan ini dibuka dengan dasar dari segala dasar menulis, yaitu mengingatkan kembali kepada kita bahwa hakekatnya menulis itu adalah menyampaikan ide atau ideologi si penulis.

Khususnya untuk penulisan fiksi yang berdasarkan pada hal yang ‘tidak nyata’ atau karangan si penulis. Ide ini tentu saja harus dikemas sedemikan rupa agar pembaca mampu memahami isi ide yang ingin disampaikan. Ibaratnya ide adalah isi, maka teknik menulis  adalah bungkusnya—wadah, kata Mas Reza. Maka dari itu, aku akan menjelaskan pada kalian dua hal penting di sini, yaitu perkara ide dan teknik menulis.

Pertama, ide. Sesungguhnya aku berencana untuk membuat satu coretan khusus yang membahas tentang ide ini. Dari awal sampai akhir. Jadi sekarang aku hanya akan kasih kalian pengantar sedikit-sedikit saja ya. Untuk lebih jelasnya akan aku sampaikan di bagian empat yang akan kutulis pas lagi kesambet atau jam kosong kayak gini. LOL.

Perkara penulis pemula yang kadang mengganggu adalah kehabisan ide lalu akhirnya mengklaim bahwa sedang writer’s block. Hal ini akan berujung pada kemalasan untuk menulis dan produktivitas yang terhenti. Ah, yes… I know your feeling. Aku juga mengalaminya setahun belakangan ini, makanya blog ini seperti kuburan.

Ada tiga hal yang harus kalian ketahui tentang ide.

Baca lebih lanjut

The Meeting

lomba

Lisa Martinez tidak tahu apa stocking oranye dan one peace t-shirt bercorak garis-garis vertikal merupakan padanan yang tepat untuk sebuah pesta vintage. Akan tetapi, itu yang dikatakan sebuah majalah fashion padanya bertahun-tahun yang lalu, maka ia menurut saja.

Sembari menunggu taksi melintas, wanita itu menatap etalase toko roti di belakangnya sejenak. Baiklah, setidaknya aku tampak baik-baik saja, bisik Lisa dalam hati sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangan pada jalanan ramai kota Manhattan. Taksi melintas tepat setelah ia berbalik dan wanita itu sontak mengangkat tangan untuk menarik taksi itu mendekat.

Downtown,” kata Lisa, seraya menghempaskan tubuh di jok belakang.

Taksi pun bergerak dan dalam sekejap saja Lisa jatuh dalam lamunan sembari menatap hampa hutan beton yang mengelilinginya. Otaknya memutar kembali kenangan saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Kala itu umurnya baru dua puluh satu tahun. Berangkat dari Texas menuju New York hanya untuk membuktikan pada keluarganya bahwa ia mampu menaklukan Broadway.

Naif. Seharusnya Lisa tahu Broadway bukan tempat yang ramah bagi gadis kampung sepertinya. Lisa datang dengan kepolosan yang dibutakan imajinasi. Ia menggunakan seluruh uangnya untuk mempercantik diri, membuat CV, lantas menyertakan foto dan rekaman suaranya untuk dijajakann pada setiap kesempatan—berharap beberapa sutradara meliriknya.

Satu bulan pertama semangat juangnya masih berkobar. Namun, kesempatan tak kunjung datang hingga bulan ketiga terlewati dan tabungannya mulai menipis. Lisa terpaksa bekerja di sebuah kedai teh tradisional yang berada tak jauh dari flat murahnya di Chinatown sembari terus berharap handphone-nya berdering dan seseorang mengajaknya casting.

Enam bulan berlalu tanpa ada harapan dan perkembangan berarti. Lisa mulai menyadari kebodohannya, namun ia terlalu malu untuk pulang dan mengakui kesalahan. Maka, ia bertahan. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa harapan dan mimpinya yang masih tertinggal, lantas menunggu sedikit lebih lama lagi.

Maka, tepat pada hari natal pertamanya di Manhattan, handphone Lisa berdering. Nomor tak dikenali. Wanita itu pun mengangkatnya secepat kilat. Secercah cahaya menyusup hatinya tatkala suara di ujung sana memintanya untuk mengikuti casting sebuah peran kecil sebagai pelacur.

Oh, seseorang menginginkannya!

Baca lebih lanjut

Kampus Fiksi #19 Bag. 2 : Sadarilah Kalau Tulisanmu Itu Busuk!

 

busuk

Hari pertama kuliah di Kampus Fiksi dibuka dengan pengantar dari Pak Edi, selaku Bapak dari anak-anak overdosis micin (elah, micin lagi! Micin lagi!). Kata pengantar yang beliau sampaikan secara garis besar menggambarkan sebuah kata sederhana yang biasanya dilupakan oleh penulis muda kebanyakan.

Proses.

Proses yang menghantarkan seorang manusia biasa menjadi super saiyan! Ciaaat! Pipipipipipi!

Okay, otakku lagi konslet. Abaikan kalimat penuh kemicinan di atas. So, maksud dari proses di sini apa? Itu juga yang sempat aku pertanyakan dalam permenunganku sepanjang Pak Edi berbicara. Hingga akhirnya, setelah aku mencatat beberapa kalimat yang menurutku menarik dan merenunginya, akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan bahwa menulis merupakan pembelajaran tanpa akhir.

Mengapa?

Jika kalian bertanya seperti itu, aku hanya bisa menjawab seperti ini:

“Akan selalu ada penulis yang lebih keren dari pada kamu, Nak.”

Ketika kamu merasa tulisanmu sudah cukup keren dan membanggakan, kamu akan menemukan tulisan lain yang lebih keren dari pada tulisanmu. Begitu terus sampai lebaran bekicot. Namun, itu bukan sesuatu yang harus kamu sedihkan. Justru ketika kamu berada di titik kesadaran itulah maka jiwamu memberontak dan memaksa untuk membuat karya yang lebih keren lagi.

Nah, itulah proses.

Baca lebih lanjut

Kampus Fiksi #19 Bag. 1 : Ke-micin-an yang Hakiki

 

img-20170129-wa0011
KF-19, minus satu orang, Mbak Yuan

Jadi, setelah menunggu kurang lebih dua tahun pasca diterimanya aku di salah satu angkatan Kampus Fiksi. Akhirnya minggu ini, pada tanggal 27 – 29 Januari 2017, aku pun menggenapi kewajiban untuk menimba ilmu di Kampus Fiksi bersama teman-teman di angkatan ke-19. Ya, benar sekali, Saudara, baru beberapa jam yang lalu aku tiba di rumah dan sekarang langsung menulis coretan ini mumpung rasa hangat-hangat tai kucingnya belum hilang. Hahaha.

 Aku mengenal Penerbit Diva Press pada tahun 2014 melalui media sosial Twitter. Bertepatan saat aku mengenal penerbit ini, Kampus Fiksi yang merupakan kampus yang didirikan oleh CEO Diva Press yaitu Bapak Edi Akhiles, membuka seleksi penerimaan mahasiswa untuk angkatan-angkatan baru tahun 2014 – 2017. Aku yang saat itu sedang gila-gilanya menulis serta mencoba mengikuti beragam kesempatanyang ada akhirnya pun mengikuti seleksi lalu dinyatakan sebagai salah satu mahasiswa yang terdaftar untuk mengikuti kegiatan Kampus Fiksi yang diadakan setiap 2 – 3 bulan sekali sesuai angkatannya.

Kampus Fiksi dibentuk dengan tujuan untuk memberikan wadah bagi para penulis-penulis pemula yang menginginkan kesempatan belajar lebih intensif tentang dunia kepenulisan. Di mulai dari teknik-teknik menulis sampai dengan industri buku Indonesia yang terus berkembang setiap waktu. Mendengar hal ini, kalian sebagai penulis pemula yang kebetulan membaca coretan ini pasti langsung mupeng ya ‘kan? Satu, kalian pasti merasa Kampus Fiksi itu keren karena bisa langsung diberi arahan dan ilmu dari orang-orang di penerbit mayor seperti Diva Press. Dua, ya memang penulis itu keren. Hahahaha, itu kata Pak Edi.

Namun, ketahuilah, Kisanak.

Baca lebih lanjut

[Sudut Vegan] Di Balik Harga Segelas Susu

“I relieze that I’m a real vegan when I’m crying over cows in dairy industry than people dying in some drama tv.”Me, Todays

Jadi, iya, aku menangis lagi hari ini. Hahaha. Aku kebanyakan nangis mah belakangan ini, tapi gak papa, air mataku worthed untuk beberapa hal, termasuk air mata yang aku raungkan saat melihat bagaimana industri susu bekerja.

Aku tahu, mungkin aku akan terbaca sinting atau gila di mata kalian, tapi seperti yang aku bilang di posting-anku yang sebelumnya. Ketika aku menjadi seorang vegan, koneksi hatiku pada seluruh makhluk HIDUP di dunia ini meningkat dan terikat. Aku bahkan bukan seorang animal lovers, aku tidak pernah memelihara binatang karena menurutku itu merepotkan, tapi aku bisa menangis dan meraung sambil berkata ‘jangan sakiti mereka’ selama nyaris lima belas menit saat aku menonton video yang menggambarkan bagaimana cara kerja di rumah ‘pembantaian’ hewan.

Wow.

Aku takjub pada diriku sendiri. Aku bahkan tak pernah menangis tiap kali ada film drama yang mengisahkan tokoh utamanya mati dan tersakiti. Jadi, ketika aku menangisi sapi-sapi yang lehernya disobek dengan tubuh digantung terbalik, aku nyaris tidak dapat mempercayai diriku sendiri.

Well, sebelum aku menjadi seorang vegan, aku adalah followers Om @ErikarLebang di Twitter yang sangat kontroversial dengan cuitan kesahatannya dan salah satu tema cuit yang paling terkenal dari Om Erik adalah #KibulanSusu. Dari Om Erik-lah aku mengerti, bahwa sebenarnya susu hewan APA PUN itu tidak baik untuk kesehatan karena memang bukan peruntukannya bagi manusia. Maka dari itu, aku pun berhenti meminum susu hewan apa pun semenjak aku mengenal pola hidup Food Combining.

Namun, ketika aku menjadi seorang vegan, kini aku melihat susu bukan lagi sebuah minuman yang tidak sehat bagi tubuh, melainkan simbol kekejaman.

Jika Om Erik mengangkat topik susu hewan ini dari sisi kesehatan dan ketiadaan manfaatnya bagi tubuh kita. Aku kini akan mengajak kalian melihat lebih luas lagi topik ini dengan sudut pandang yang berbeda secara moral. Karena bagiku sekarang, menjadi seorang vegan bukan lagi tentang menjadi sehat bagi diriku saja, tapi tentang mencintai sesama.

Sebagai pembuka, aku ingin menanyakan sebuah pertanyaan sederhana sebagai bahan permenungan kalian.

“JIKA KALIAN MINUM SUSU DARI IBU SAPI, LALU APA YANG DIMINUM OLEH ANAK SAPI?”

Baca lebih lanjut