Ik Ben…

Empat puluh tahun berlalu secepat angin menghempaskan serpihan debu di trotoar Malioboro. Paru-paru pria kaukasoid itu melumat dalam-dalam cerutu pertamanya hari ini dan menyelimuti wajah yang kini penuh dengan bintik-bintik usia itu dengan asap beracun. Ia tersenyum tipis, mata biru kelabunya melirik miris pada kusir-kusir andong yang telah siap siaga di atas dokar dan menanti turis berdatangan—dulu rasanya tidak begini, pikirnya, nostalgia menggerogoti setiap sel otaknya seperti sengatan lebah yang menyakitkan. Ia menghisap cerutunya lagi sebelum akhirnya melangkah menyusuri jalan yang kini begitu berbeda dari yang terakhir ia ingat.

Sekarang pukul sepuluh di pagi hari, ia tiba di kota ini pada pukul tujuh tadi dan tak sempat menikmati jet lag penerbangan selama empat belas jam dari Amsterdam karena masa lalu menyekap seluruh perhatiannya sejak pertama kali ia menjejakan kaki.

Hah…

Baca lebih lanjut

Seandainya Pongah itu Kita Buang ke Laut Saja

 

Putih adalah warna kesukaan Bellatrix selain merah muda. Namun, ketika ia melihat pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, mencukur rambutnya hingga cepak, dan menghilangkan bulu-bulu di wajahnya begitu bersih serta rapi—seperti  yang selalu ia bayangkan dalam benaknya, entah mengapa Bella merasa risih.

 Terlalu tidak biasa.

Terlalu bukan David yang ia kenal dulu saat masih menciumi pipinya dengan bibir beraroma mentol atau sesekali  berpengar alkohol.

“Sehat kau, Dek?”

Pertanyan pilon kalau tidak bisa disebut basi. Bella mendengus di dalam hati, tapi dengusan itu menyetrum debaran jantungnya yang entah sudah berapa lama mati suri.

“Sehat, Bang,” sahut Bella ringkas, “Abang gimana?”

Baca lebih lanjut

The Meeting

lomba

Lisa Martinez tidak tahu apa stocking oranye dan one peace t-shirt bercorak garis-garis vertikal merupakan padanan yang tepat untuk sebuah pesta vintage. Akan tetapi, itu yang dikatakan sebuah majalah fashion padanya bertahun-tahun yang lalu, maka ia menurut saja.

Sembari menunggu taksi melintas, wanita itu menatap etalase toko roti di belakangnya sejenak. Baiklah, setidaknya aku tampak baik-baik saja, bisik Lisa dalam hati sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangan pada jalanan ramai kota Manhattan. Taksi melintas tepat setelah ia berbalik dan wanita itu sontak mengangkat tangan untuk menarik taksi itu mendekat.

Downtown,” kata Lisa, seraya menghempaskan tubuh di jok belakang.

Taksi pun bergerak dan dalam sekejap saja Lisa jatuh dalam lamunan sembari menatap hampa hutan beton yang mengelilinginya. Otaknya memutar kembali kenangan saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Kala itu umurnya baru dua puluh satu tahun. Berangkat dari Texas menuju New York hanya untuk membuktikan pada keluarganya bahwa ia mampu menaklukan Broadway.

Naif. Seharusnya Lisa tahu Broadway bukan tempat yang ramah bagi gadis kampung sepertinya. Lisa datang dengan kepolosan yang dibutakan imajinasi. Ia menggunakan seluruh uangnya untuk mempercantik diri, membuat CV, lantas menyertakan foto dan rekaman suaranya untuk dijajakann pada setiap kesempatan—berharap beberapa sutradara meliriknya.

Satu bulan pertama semangat juangnya masih berkobar. Namun, kesempatan tak kunjung datang hingga bulan ketiga terlewati dan tabungannya mulai menipis. Lisa terpaksa bekerja di sebuah kedai teh tradisional yang berada tak jauh dari flat murahnya di Chinatown sembari terus berharap handphone-nya berdering dan seseorang mengajaknya casting.

Enam bulan berlalu tanpa ada harapan dan perkembangan berarti. Lisa mulai menyadari kebodohannya, namun ia terlalu malu untuk pulang dan mengakui kesalahan. Maka, ia bertahan. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa harapan dan mimpinya yang masih tertinggal, lantas menunggu sedikit lebih lama lagi.

Maka, tepat pada hari natal pertamanya di Manhattan, handphone Lisa berdering. Nomor tak dikenali. Wanita itu pun mengangkatnya secepat kilat. Secercah cahaya menyusup hatinya tatkala suara di ujung sana memintanya untuk mengikuti casting sebuah peran kecil sebagai pelacur.

Oh, seseorang menginginkannya!

Baca lebih lanjut

Sudah Lama

Sudah lama aku tidak menulis fiksi.

Belakangan kata-kataku menjadi tumpul karena jarang sekali kuasah. Mungkin masalahnya bukan pada waktu yang tidak pernah cukup menyediakan kesempatan, melainkan jemari dan otakku kini tak lagi singkron seperti senja kelabu di hadapanku ini—oh ya, hujan masih datang di bulan April.

Rasanya aku sudah melupakan momen ini—duduk sendirian di sudut kampus, ditemani laptop tuaku dan secangkir rindu yang menggebu-gebu padamu. Dulu, rasanya semua terasa tepat. Rindu dan cinta itu datang silih berganti seperti pelangi yang menanti hujan untuk berhenti. Tak pernah ada masalah yang tercipta, meski jarak dua benua bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh bagi kebanyakan orang. Namun, aku meyakini, suaramu yang masih menggema di hatiku setiap malam sudah cukup untuk membuktikan bahwa semua baik-baik saja.

Entah, angin muson mana yang mengajarkanmu bahwa pergantian musim menandakan ada hati yang beralih haluan.

Aku tak pernah membayangkan, bahkan hanya sekadar di mimpi, kehilangan kontak denganmu. Media sosial bukan ladang bagi gadis desa sepertiku untuk menuai kabar; aku hanya mengerti bagaimana surel dan video call bekerja. Dan ketika semua sarana penghubungku dan dirimu terputus, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah menunggu. Berminggu-minggu aku bertanya-tanya apa yang terjadi denganmu dan hubungan kita yang sepertinya mati suri. Terakhir kali kudengar suaramu, kamu bilang paper dan laporan menghalangi kontak denganku. Aku percaya itu dan terus percaya bahwa itulah satu-satunya alasanmu untuk berhenti menghubungiku, hingga seseorang menunjukkan foto itu padaku dan meleburkan segalanya…

Hah.

Tak pernah kusangka, dunia maya ternyata begitu menakjubkan. Aku menduga-duga, mungkin inilah alasan kenapa aku selalu menjadi mahasiswi paling tertinggal di antara yang lainnya, karena seandainya saja aku mampu membeli smartphone dan membuat akun di media sosial bernama Instagram itu, aku seharusnya sudah tahu sejak tiga bulan yang lalu kalau kamu telah mencintai perempuan lain.

Jadi, rasanya tak akan sakit.

Aku tak tahu apa aku harus meminta maaf karena tak pernah peka dengan kabar-kabarmu yang semakin jarang itu ataukah kamu yang terlalu jumawa untuk menyuarakan kata selesai. Namun, mengirimimu surel berisikan kata-kata perpisahan serta menyatakan bahwa aku telah mengetahui kenyataan tentang dirimu, barang tentu merupakan keputusan yang tepat untuk menuntaskan drama klasik di antara kita.

Kuakui, tangisku di penghujung malam ketika kenangan menggempur benakku bak air bah yang tak akan surut sampai fajar menjelang. Kamu laki-laki yang begitu manis; tawamu seperti kepak elang yang menggunjang angin di telingaku dan membuyarkan kawanan kupu-kupu di dadaku. Menata hati untuk mencintaimu tentu tidak mudah dengan segala kekurangan yang aku miliki, tapi kata-katamu selalu berhasil meyakinkan berjuta-juta sekenario terburuk yang pernah terlintas di benakku untuk pergi entah kemana. Hingga akhirnya kusadari, bahwa selama ini aku hanya menjadi salah satu momen dari kisah hidupmu yang panjang.

Ah, satu halaman telah selesai, fiksi ini sepertinya akan berakhir teragis. Sungguh, sudah lama aku tidak menulis kisah tak nyata seperti ini, mungkin sejak aku berhenti mencari-cari alasan untuk menulisnya karena kamu tak lagi ada di sana dan memberiku komentar-komentar manis tentang kisahnya. Aku tahu, seluruh fiksi yang kubuat hanya akan berakhir di blog kata-kata yang tak terkenal itu lalu menjadi debu. Namun, memilikimu yang setia membaca meski banyak lubang di antara katanya memberiku kekuatan sendiri—seperti cahaya yang bersinar di ujung jalan yang gelap; bukan komentar manismu yang sesungguhnya aku inginkan, melainkan eksistensimu. Lalu, ketika semua telah berakhir dan tak ada kata-kata lagi yang tertukar di antara kita untuk memperbaiki keadaan, aku tak lagi sanggup menulis kisah-kisah tak nyata itu karena semua terasa hambar.

Sungguh, luka itu masih ada hingga detik ini. Rasanya masih sakit seperti saat terakhir aku mengingatnya. Namun, itu sudah lama sekali, aku bahkan sudah lupa rasanya air mata yang menetes di pipiku ketika wajahmu terlintas di benak. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa aku kembali menulis fiksi. Tentu aku merindukan bahagia yang pernah kita miliki dulu serta janji-janji yang kini tak akan pernah tergenapi; masih ada secangkir rindu yang tersisa untukmu.

Hanya saja, rindu itu tak lagi kusesap pahitnya, karena senja kelabu, hujan yang mengguyur, hati yang patah, serta semestaku yang sebelumnya kugantungkan pada hubungan kita yang rapuh telah diperbaiki oleh orang lain…

Ya, oleh laki-laki yang baru saja tersenyum saat melihatku duduk dan menulis sendirian di sini; yang senyumnya kubalas dengan kekehan kecil karena mendapati dirinya yang kuyup diguyur hujan; yang mendatangiku dengan aroma particor di pakaiannya; yang mengecup dahiku lembut sembari membisikan maaf karena cuaca menahan geraknya; yang akhirnya duduk di hadapanku dan menemaniku menulis di sini. Ya, laki-laki itu, yang kini padanyalah aku menggantungkan seluruh jagad raya hidupku.

Akhirnya, cerita ini berubah manis. Aku kira pahitnya kenangan akan dirmu akan mempengaruhi alur fiksi yang sederhana ini. Namun, kehadirannya membuyarkan segala keresahan yang masih mengganjal di dada akan kita dan segala kenangannya. Mata almonnya yang berbinar saat mengisahkan hari-harinya di laboratorium mengisi ruang pendengaranku—entah apakah ia telah menemukan jenis buah pisang rasa ubi atau temuan ajaib lain yang selalu ia khayalkan sedari masih menjadi buruh tani di ladang bapaknya, aku tak tahu. Namun, kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat perasaan pahit itu hilang dan larut bersama hujan.

Mengenalnya dan mencintainya tak sama seperti saat aku bersamamu. Ia tak menghilangkan rasa khawatir di dadaku, karena ia bahkan tak menciptakan rasa khawatir itu; ia tak mampu menjelajah dunia, karena bahkan untuk berada di kota ini saja ia telah mengorbankan segalanya; ia tak menjanjikanku masa depan yang lebih baik, karena ia bahkan sedang memperjuangkan masa depannya sendiri sekarang; ya, ia tak lebih baik darimu, karena satu-satunya hal terbaik yang ia miliki adalah dirinya sendiri.

Ya, aku tahu, sudah lama sekali aku tidak menulis fiksi, maka kata-kataku kali ini terasa kaku dan mungkin saja hambar. Namun, ada satu hal yang kuyakini pasti, bahwa pada akhirnya…

Bahagia akan menamatkan kisah fiksi ini.

Fin.

Love Glows Like A Lighted Candle

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA

Aditya Nurrahman tahu bahwa lembayung senja tak akan pernah menunggu kepulangannya di pesisir pantai kampung halamannya itu. Jadi, ia hanya punya satu hal untuk dilakukan selain memaki waktu yang berjinjit melewati hari-harinya yang pendek dan padat; membuat lagu. Ini bukan perkara imajinasi yang kepalang menyesakan jiwa, bukan juga karena mengisi waktu luang di antara hiruk pikuk kehidupan metropolitan yang tengah ia jalani.

Adit hanya sedang jatuh cinta.

Sesederhana menyalakan lilin di tengah-tengah ruang hatinya yang gelap. Adit mengilhami cinta itu dengan cara yang orang lain tak pernah rasakan sebelumnya.

Yah, barang tentu ini bukan kali pertama Adit jatuh cinta. Anak nelayan itu sudah jutaan kali jatuh cinta, sudah berkali-kali memagut bibir dengan wanita, memeluk mereka dengan kehangatan nyata serta cinta yang menggebu-gebu. Namun, cinta yang satu ini berbeda, ada sisi magis yang tak bisa Adit jelaskan dengan kata-kata bahkan ia nalar dengan pikiran-pikiran jeniusnya yang selalu dipuji atasan serta rekan-rekannya.

Adit lalu bertanya-tanya, apakah ini sungguh cinta? Cinta mana mungkin sesederhana ini. Ia selalu disuguhi film-film romantis serta kisah-kisah percintaan yang menunjukkan betapa jatuh cinta adalah sesuatu yang membakar jiwa hingga mampu mendorong seseorang melakukan hal-hal yang mustahil. Cinta di mata Adit adalah gempa bumi; menjungkirbalikan perasaan, membuat seseorang tak bisa berpikir jernih, dan mengganggu ritme kehidupan. Hanya saja, itu bukan pertanda yang Adit rasakan, karena sekarang, Adit hanya merasa…

Hangat.

Tenang dan damai.

Baca lebih lanjut

Penunggang Ombak

Hiya!

Danum memicingkan mata pada seorang pria Kaukasoid yang berada di laut, duduk nyaman di atas board, dan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sembari memberi wanita itu shaka sign[1] dengan mengacungkan jempol dan kelingking.

Hiya!” Wanita itu pun sontak menancapkan board yang ia angkut ke pasir pantai Tanah Lot yang berwarna gelap lantas membalas shaka sign yang ia terima meski tak mengenali pria itu. Segera setelah selesai bertukar salam, pria itu pun kembali sibuk mendayung diri ke tengah laut untuk mencari ombak dan Danum pun melanjutkan langkahnya ke bibir pantai.

Sekarang pertengahan September, cuaca di Bali masih terasa terik meski waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Danum memandang sekitar, Tanah Lot memang bukan destinasi wisata bagi peselancar dunia. Ombak di tempat ini sangat sulit didapat pun tidak begitu tinggi, lantaran pantainya yang curam dan penuh dengan karang-karang terjal. Namun, bagi Danum, Tanah Lot punya aura mistis tersendiri yang selalu berhasil membuat perasaannya nyaman.

Danum berhenti melangkah tepat di bibir pantai dan memejamkan matanya sejenak. Wanita itu pun lantas menghirup udara asin di sekitarnya dalam-dalam lalu mulai memanjatkan doa-doa di dalam hati seperti yang Apang dan Indang[2]nya ajarkan dulu. Setelah itu, barulah Danum menceburkan diri ke air laut dan mendayung tubuhnya yang tengkurap di atas board menuju lautan.

Baca lebih lanjut

High Wire

Hanna Elizabeth

Hidup di Las Vegas membuat Sandra Smith melupakan apa itu ketenangan. Ia sudah terbiasa berada di bawah lampu sorot, bergelantungan di atas hoop  dan memanipulasi besi berbentuk lingkaran itu hingga membantunya menari erotis di udara. Orang bilang ia punya bakat, lantaran menjadi satu dari ratusan artis di Cirque Du Soleil saat umurnya belum lagi menginjak usia tujuh belas tahun dan tampil di pertunjukan utama sebagai artis solo tak lama kemudian. Tapi bakat tak pernah ada di dalam sejarah hidup Sandra, karena semua hal yang ia dapatkan sekarang adalah hasil dari mengorbankan seluruh kesenangan masa kecilnya.

“Apa kaudengar ucapan si Sinting Smith pada Lisa tadi?” Sandra mengangkat wajahnya tatkala ia mendengar sebuah suara dari luar bilik toilet yang tengah ia tempati menyebut-nyebut surname-nya dengan tidak hormat.

“Tentu saja! Ia membentak nyaring sekali hingga nyaris seluruh orang di gymnasium mendengarnya. Oh, haruskah ia berlaku barbar seperti itu? Lisa yang malang.” Suara lain menyahut dengan penuh rasa jijik, tanpa tahu orang yang tengah mereka bicarakan mendengarnya.

“Wanita itu sepertinya sudah gila.” Kini suara ketiga turut memanasi—toilet perempuan memang tempat paling tepat untuk bergosip. “Dengar-dengar, dulu ia tidur dengan manejer untuk mendapatkan penampilan solo di Zumanity.”

“Oh, aku juga dengar soal itu. Pantas saja ia begitu menjiwai karakter The Hoops, dia benar-benar ja—“

BRAK!

Sandra mendobrak pintu toilet kencang hingga ketiga wanita yang bergunjing tentangnya menoleh. Lalu melangkah keluar dengan wajah angkuh sembari mengibaskan mini skirt-nya ke udara. Ketiga wanita tadi menahan napas, langsung merapat ke sisi lain kamar kecil dan membiarkan Sandra menggunakan wastafel. Untuk beberapa detik suasana begitu mencekam, diamnya Sandra membuat ketiga wanita itu kepalang takut untuk pergi atau bahkan sekadar menggerakan ujung jari, hingga akhirnya wanita pirang yang jadi bahan gunjingan tadi menoleh dan menatap mereka lekat-lekat.

“Masih ada  lagi yang ingin kalian katakan tentangku?” Sandra melipat tangannya di atas perut, menonjolkan payudara montok yang terlihat sangat menggoda dibalik kaus super ketat warna abu-abunya. Dagu lancipnya turut berpongah, terangkat agak tinggi untuk menunjukkan betapa rendah derajat ketiga wanita itu.

“Jika kalian punya waktu untuk bergunjing, lebih baik kalian berlatih lebih keras karena dengan kemampuan kalian yang sekarang…” Sandra membuang muka dan menyeringai, “Bahkan untuk tampil sebagai piguran di luar big top saja kalian tak pantas.”

Sandra berlalu dengan tawa mengejek, meninggalkan wanita-wanita yang  menggerutu dan mengumpatnya itu di belakang karena apa yang ia katakan memang benar adanya.

  Baca lebih lanjut

Bagong

Aku tidak pernah suka dengan ikat pinggang Bapak, makanya kunamai ikat pinggang itu Bagong. Bagong itu benda kebanggan Bapak karena memiliki kepala besi yang besar dan berat sekali, jadi bisa dipakai untuk berkelahi. Bapak bilang, ia mendapatkan Bagong dari Mbah yang dulunya seorang veteran perang dan Bagong menjadi satu-satunya harta warisan yang diberikan pada Bapak. Makanya Bapak sangat menyayangi Bagong sampai-sampai telingaku panas karena nyaris tiap hari Bapak membicarakan Bagong melulu.

“Heh, Bud, lu tahu gak? Ikat pinggang ini dipakai Mbah waktu perang! Lu jangan macam-macam sama ikat pinggang ini! Bertuah! Sudah sering bunuh orang!” kata Bapak dengan penuh bangga sementara aku diam saja mengangguk-angguk.

Waktu itu kira-kira umurku  enam atau tujuh tahun, entah aku tidak yakin. Pokoknya, kala itu aku bahkan tak punya gambaran lain tentang perang selain perkelahian yang sering Bapak lakukan di warung remang-remang. Mungkin orang-orang Belanda yang Bapak ceritakan itu adalah pemabuk sama seperti Bapak dan teman-temannya, lalu Mbah menggunakan Bagong untuk memukuli pantat  penjajah itu. Makanya, aku tak pernah melihat Bapak mengenakan Bagong di tubuhnya, karena Bagong memang bukan untuk digunakan sebagai pelengkap pakaian, melainkan untuk berperang dan memukuli pantat orang.

Sepanjang yang kuingat tentang Bagong. Selain biasa dipakai Bapak untuk berkelahi,  Bagong juga selalu siap siaga di tangan Bapak tiap kali aku ketahuan mencuri lihat buku cerita yang kudapat dari hasil memulung. Kata Bapak, untuk apa melihat buku toh aku tidak bisa membaca, jadi lebih baik buku itu dikilo saja dan dijadikan duit. Tapi meskipun begitu, aku tetap saja membandel, mengendap-endap di belakang gerobak Bapak, mengambil satu atau dua buku, dan menyelipkannya di balik baju sampai nanti kusimpan di bawah kasur.  Barulah, saat Bapak sudah tidur dan malam telah tinggi; di bantu dengan sinar lampu minyak dan bulan yang menyempil samar-samar di balik tumpukan sampah yang menggunung di sekitar gubuk reotku, aku mulai melihat buku itu—mencoba menerka maksud dari huruf-huruf yang  tertera dan menikmati setiap gambar yang ada.

Kadang kala, tanpa sengaja aku pun tertidur di atas buku-buku yang tengah kubaca dan pada pagi harinya becutan Bagong membangunkanku. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa menangis sembari memohon ampun pada Bapak, sampai akhirnya Bapak puas mencetak bilur-bilur di tubuhku dan membiarkanku mandi air dingin sambil menahan perih dan sakit. Sudah begitu, aku pun masih saja di paksa Bapak ikut memulung tanpa peduli luka-lukaku terbuka lagi sepanjang jalan.

Tapi, meskipun ancaman dibecut Bagong terus menghantuiku, aku tetap tak menyerah melakukan hal yang sama hingga berulang-ulang karena buku-buku itu memang pantas untuk dibeli dengan bilur-bilur di tubuhku.

Aku tak pernah mengetahui dunia lain selain berada di tempat pembuangan sampah dan jalanan. Aku pun tak tahu rasanya memiliki ibu karena sepanjang yang aku ingat di duniaku hanya ada Bapak seorang. Dan dengan melihat-lihat gambar di buku itu, aku belajar, kadang semua hal yang terlihat pada gambar tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Aku ingat salah satu buku yang diam-diam kucuri dari gerobak, aku tidak tahu judulnya karena aku tak bisa membaca tapi di dalamnya ada banyak gambar tentang sosok seorang wanita yang menggendong bayi dan menuntun bayi itu hingga besar. Terlihat seperti sosok yang sangat lembut dan baik hati, dan aku mengira-ngira apa ini adalah sosok seorang ibu. Apa semua wanita yang menggendong bayi adalah seorang ibu?

Maka, hari itu ketika aku dan Bapak sedang memulung di bawah jembatan. Aku melihat ada seorang pengemis wanita tengah lesehan di pinggir jalan sembari menadah tangan. Ia menggendong seorang bayi yang tengah terlelap. Maka, diam-diam aku pun meninggalkan area pulunganku dan berlari mendatangi wanita itu. lalu dengan ngos-ngosan, aku bertanya, “Bik, rasanya jadi ibu seperti apa sih?”

Baca lebih lanjut

Saturn Cycle

Saturnus membutuhkan waktu dua puluh sembilan tahun untuk kembali ke titik di angkasa di mana planet itu berada pada saat kita dulu dilahirkan. Sampai hal itu terjadi, semua tampak mungkin, impian-impian kita jadi kenyataan, dan dinding-dinding apa pun yang mengelilingi kita masih dapat dirubuhkan. Ketika Saturnus menyelesaikan siklus ini, romantisme apa pun akan berakhir. Pilihan-pilihan bersifat pasti dan nyaris tidak mungkin berubah arah.[1]Dan tepat pada hari ini, aku telah menyelesaikan siklus Saturnus-ku yang pertama.

“Jadi, kapan kau mau menikah?”

“Ma…”

“A Chen, apa kamu tidak malu tiap kali temu keluarga, Nai Nai[2] menyindirmu dengan panggilan Sheng Nu[3]?”

Aku memutar kedua bola mataku yang kini terlihat lebih jelas dan bulat setelah melakukan eyelid surgery dua tahun lalu. Ma Ma bilang mataku  terlalu sipit dan zaman sekarang wanita yang punya mata seperti itu tidak populer, jadi ia memaksaku menguras tabungan untuk melakukan operasi plastik tak berguna itu.

“Ma, aku tidak peduli apa yang Nai Nai atau keluarga kita katakan tentangku. Aku bisa mengurus hidupku sendiri,” jawabku sembari melipat kedua tangan di depan dada. Kulirik jam dinding di apartemenku was-was karena kehadiran Ma Ma bukanlah yang aku harapkan—pukul tujuh malam dan ia  datang ke sini hanya untuk mengingatkan tentang umurku yang bertambah juga pernikahan. Cih, sungguh menyenangkan.

“Apa kauingin aku mengatur kencan buta untukmu?”

“Ma!” aku berseru nyaring dengan wajah risih; muak ditawari hal yang sama jutaan kali. Dulu, pernah sekali aku menurut, tapi Ma Ma malah memberiku duda tua menjijikan yang belakangan ini baru kuketahui adala kolega bisnis Ba Ba.

“Kalau begitu, kaucarilah sendiri!” sahut Ma Ma sama frustasinya. “Kau tak ingin dijodohkan, tapi sampai sekarang pun tak satu orang pria yang kaukenalkan. Sebenarnya apa maumu?”

Aku terdiam. Membuang muka ke tembok sembari mengenang banyak luka. Tidakkah kau ingat, Ma, aku pernah memperkenalkan seseorang padamu? Dan kaubilang pilihanku itu tak pantas. Keluarga Hong punya standar yang tinggi, mana mungkin menerima seorang musisi serabutan ke dalam keluarga. Kau memaki pria yang kucintai itu dengan kata-kata kasar, kau buat hatinya mendera begitu juga aku. Hingga akhirnya kami berpisah dan ia mengutukku karena perlakuan Ma Ma telah membuatnya merasa sangat terhina.

Sejak itu, Ma. Mencintai pria lain adalah ketakutan terbesarku.

Baca lebih lanjut

Railway Trip

Dear,

 Ivan Romanov Rulin

Kutuliskan surat tentang perjalanan panjang ini di dalam kereta yang akan menghantarkanku menuju pulang-mu juga pulang-ku.

Membutuhkan waktu empat hari lamanya untuk tiba di Moscow. Musim semi sebenarnya begitu indah di Hyde Park, seperti biasa, Amrita selalu menyeretku ke sana dengan alasan yang sama—India tak punya musim semi pun bunga seindah di London—dan kamu tahu aku tak bisa menolak karena sifat pemaksanya itu. Tapi, tiga minggu sebelum musim semi berakhir, aku sudah mengingatkan pada gadis berkulit legam itu untuk membiarkanku sendiri di dalam kereta ini. Ia barang tentu sudah tahu kalau kita merencanakan railway trip ini sejak musim panas tahun lalu, dan ia tak bisa begitu saja meloncat masuk ke lingkaran kita. Tenang saja, Ivan, aku benar-benar meyakinkannya kalau aku tidak pergi untuk selamanya.

Seperti yang direncanakan, kita hanya mengambil cuti kuliah selama satu bulan untuk pulang.

Menuju Moscow, seperti yang kamu minta, aku mengambil rute melalui Paris. Menginap semalam di kota cahaya itu tentu bukan perkara pelik. Meski hanya melihat dari jendela kamar motel murah, Paris memang pantas digelari kota paling indah di dunia.

Setibanya di Moscow dan mendengar sendiri bagaimana kaummu berbicara, aku baru menyadari kalau selama ini kamu hanya mengajariku mengucapkan ‘privet’ dan ‘pahka’ [1]. Sangat tidak membantu. Aku nyaris tertinggal kereta karena tak menyadari kalau the Rossiya adalah nama kereta yang akan membawaku menuju Vladivostok! Oh, Ivan…

Dua hari pertama di dalam kereta aku habiskan dengan merekam apa saja yang aku lihat dengan mata dan otakku—pemandangan, suasana gerbong penumpang, gerbong makan, dan lain-lain. Aku tak bisa menuliskannya di surat ini karena terlalu banyak detil yang ingin kubagi denganmu. Teman satu bilikku pun—seorang wanita Rusia bernama Anastasia—sampai-sampai mengingatkanku untuk berhenti menulis dan memandang keluar jendela untuk menikmati hari-hari dalam railway trip ini.

Oh, apa semua orang Rusia seperti ini? Maksudku, lebih senang memandang keluar jendela dan menyimpan segalanya dalam ingatan? Kata-katanya padaku, tentang melihat keluar jendela, mengingatkanku pada pertemuan pertama kita di kelas Bahasa Inggris saat semester perdana dulu. Kamu bilang:

‘Lihatlah keluar, Miss, jangan hanya menggores pada kertasmu. Menulislah dalam ingatanmu karena itu abadi.’

Sontak saja, kilas balik tentang kenangan itu membuatku tak kuasa tersenyum. Kala itu kamu lanjut menyindir tentang mata sipitku yang kamu percayai adalah alasan utama aku malas melihat keluar jendela, dan hal itu membuat kesan pertamaku tentangmu sangatlah buruk. Aku tahu kamu mungkin tak bermaksud begitu, tapi menjadi satu-satunya ras Mongoloid di kelas manusia bermata biru itu barang tentu sudah menjadi beban. Dan kau datang tanpa diundang seperti bom yang menghancurkan hariku dalam hitungan detik.

Baca lebih lanjut