Pt. 1 – Jakarta Hari Ini.

Jakarta hari ini mengingatkanku pada manik matamu saat kita berpisah dulu—remang dan basah.  Bulan September datang dan membawa hujan tanpa permisi belakangan ini; aku mengira-ngira kejutan apa lagi yang akan ia perlihatkan selain hiruk pikuk yang rasanya tak berkesudahan. Sejak malam ketika aku melihat kakimu yang sejenjang korek api itu melangkah tertatih-tatih membelah angin, telah kupastikan hati ini terkunci rapat.

Aku bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta, semesta tahu itu, sama seperti ia tahu bahwa tak ada yang bisa menghalangi kantuk yang datang tiba-tiba di dalam bus Transjakarta atau mata-mata yang ingin bersembunyi di balik layar smartphone. Yah, aku pun menyibukkan diri dengan lagu-lagu yang bergantian menghibur telingaku. Lagu-lagu indie, beberapa lagu kesukaanmu, oh… kali ini lagu kita. Aku hening dalam kenangan yang menciptakan kebisingan di hatiku, sadar betul bahwa tamparan air hujan di kaca jendela bus tak mampu menembus kebisingan ini.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku merasa seperti ini. Rasanya begitu mencengengkan ala drama korea yang saban hari kamu tonton atau aku lebih senang menamai diriku sendiri ‘The Man Who Can Be Moved’ seperti lagu The Script yang sedang terputar sekarang. Kamu bilang The Script itu band banci karena lagu-lagu mereka terlalu melankolis; aku selalu bilang kamu cengeng karena terlalu banyak menonton drama Korea. Pada akhirnya, perdebatan bodoh itu pun tak pernah dimenangkan oleh siapa pun dan selalu berakhir dengan topik lain yang mungkin dirasa lebih penting. Seperti bagaimana caranya aku menuntaskan perjalanan panjang menjadi sarjana yang tinggal menunggu sidang  atau bagaimana caranya agar kamu berhenti bermimpi memeluk matahari tanpa terbakar.

Hahaha, aku jadi teringat, seorang kawan

Baca lebih lanjut

[Fanfiction/Chaptered] Part 2: Trilogy – Wait For Me

chanwoo_iKON

Title                       :               Wait For Me

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (YG Entertainment’s Trainee/IKON /Mix&Match)

–          Liz (Original Character)

Lenght                  :               Chaptered – 2/3

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

Note:

Fanfiction ini di buat berdasarkan survival program kerja sama antara YG Entertainment dan Mnet, yaitu Mix and Match

000

Apa yang terjalin di antara Jung Chanwoo dan Liz tidak pernah bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada kalanya, kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing hingga diam pun menjadi satu-satunya cara untuk ditunjukkan. Chanwoo tak pernah terkejut ketika menemukan dirinya merasa begitu nyaman berada di samping Liz, begitu pula gadis punkie itu, yang tidak menyangka laki-laki ‘tenang’ seperti Chanwoo bisa menerima prilaku urakannya dengan santai. Bersama mereka menemukan kenyamanan, bersama mereka menemukan potongan puzzle yang sepertinya telah lama hilang. Namun, jika dengan bersama mereka hanya menjadi lengkap tanpa mengerti arti dari kelengkapan itu, hidup pun punya cara tersendiri untuk membuat mereka mengerti.

“Tunggu aku.”

Chanwoo meremas jemari Liz erat dan gadis itu pun tersenyum, menangkap mata Chanwoo dengan kilat-kilat kebahagiaan yang tersembunyi di balik air mata. Liz tidak terisak, tapi ia menangis. Ia turut bahagia, tapi air mata tak mau berhenti mengalir. Kata-kata tak pernah berhasil mengungkapkan perasaannya, jadi ia hanya diam dan menangis. Berharap Chanwoo mengerti hatinya tengah bergumul dengan hebat.

Liz pikir ia gadis yang kuat karena sejak awal ia telah mempersiapkan diri jika momen ini tiba. Tapi tetap saja, kenyataan selalu lebih pahit dari bayangannya. Ia benci harus mengucapkan selamat tinggal, karena selamat tinggal selalu menghantarkan orang-orang yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya.

“Tunggu aku, aku pasti kembali,” ulang Chanwoo, kata-katanya terdengar tegas dan meyakinkan, meski ia sendiri tahu jauh di dalam hatinya ada begitu banyak kekhawatiran, kesedihan dan ketidakpastian yang menggerogoti masa depannya.

Sementara itu, air mata masih meleleh di wajah Liz, celak hitamnya luntur merusak make up malam itu. Tapi untaian senyum masih menghiasi dan Chanwoo tahu gadis itu baik-baik saja. Chanwoo pun balas tersenyum, ia sadar kalau ia tidak perlu berkata apa pun lagi. Seperti biasa, kata-kata tak pernah bekerja untuk mereka, jadi laki-laki itu memilih untuk menarik Liz dalam pelukannya dan menenggelamkan tubuh mungil itu di dadanya. Ia yakin kaos putihnya akan kotor oleh make-up Liz yang luntur. Tapi tak mengapa, ia bisa mencuci bajunya hingga bersih, tapi momen ini tak akan pernah bisa ia hapus untuk selamanya.

Sampai kutemukan jalanku, sampai kugapai mimpiku, tunggu aku Liz, tunggu aku hingga saat takdir memperbolehkan kita bertemu kembali dan akan kukatakan semua yang ingin kaudengar dariku. Chanwoo berbisik di dalam hati, mengeratkan pelukkannya sembari mengecup ubun-ubun gadis itu lembut. Pelan-pelan tetes- tetes air mengalir di sudut matanya, tapi Chanwoo tidak terisak, ia tersenyum. Chanwoo bahagia, tapi ia hanya ingin menangis karena ia tahu kalau ia tak akan bertemu lagi dengan gadis dalam pelukannya ini untuk waktu yang lama.

Sangat lama.

Baca lebih lanjut

[Fanfiction/Chaptered] Part 1: Trilogy – CLIMAX

BwvzdGzCAAEg7kW[1]

Title                       :               Climax

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (YG Entertainment’s Trainee/IKON wannabe/Mix&Match)

–          Liz (Original Character)

Lenght                  :               Chaptered – 1/3

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

Note:

Fanfiction ini di buat berdasarkan survival program kerja sama antara YG Entertainment dan Mnet, yaitu Mix and Match

===

Jung Chanwoo tak pernah tahu bahwa bagaimana rasanya memiliki sesuatu. Sejak kecil, ia hanya mengenal dengung kamera yang berputar mengelilinginya dan menuntut objek terbaik yang bisa ditangkap. Kamera sudah menjadi benda yang merekam hidupnya dan ia merasa hidupnya telah dimiliki oleh kamera-kamera itu. Ya, ia tak memiliki apa pun, kamera telah merebut semua darinya, masa kanak-kanaknya, teman-temannya, serta kemampuannya untuk bermimpi.

Heh? Mimpi?

Hahaha. Sejak kapan ia punya mimpi? Ayahnya mengira berpolah di depan kamera adalah mimpinya, tapi Chanwoo tak pernah merasa kalau ia menginginkan hal itu. Kala itu, umurnya baru 10 tahun, ia tengah digandeng ayahnya di sepanjang Apgujeong-dong untuk menghabiskan akhir pekan yang jarang sekali mereka nikmati bersama. Tiba-tiba seseorang menegur mereka, pria itu berbicara begitu bersemangat sembari menunjuknya dengan mata berbinar, ayahnya pun tersipu lalu tertawa.

Chanwoo menahan napasnya sejenak dan turut tersenyum pada pria yang telah membuat ayahnya tertawa itu. Ia jarang melihat ayahnya tersipu dan tertawa, semenjak ibunya menyerah pada kanker dan meninggalkan mereka, ayah terasa begitu jauh. Chanwoo yakin ayah ingin menenggelamkan kesedihan tentang ibu bersama pekerjaannya, jadi ia tak pernah protes  atau menuntut macam-macam, ia ingin jadi anak yang baik dan patuh agar ayahnya tidak merasa sedih. Apa pun akan ia lakukan agar ayah bisa tertawa lagi bersamanya seperti dulu.

‘Chanwoo-ya, mulai besok kau akan belajar akting di depan kamera.’ Suatu ketika—setelah pertemuan dengan pria di Aphujong-dong itu—ayah berkata padanya sambil tersenyum begitu lebar, matanya berbinar senang dengan bias kebanggaan di sana. Chanwoo tak mengerti apa itu ‘belajar akting’ tapi melihat wajah ayahnya, ia yakin kalau itu satu-satunya kesempatan baginya untuk membuat pria paruh baya bertubuh gempal itu bahagia.

‘Ya, Ayah! Aku akan belajar akting!’ sahutnya penuh semangat, dan ayahnya pun tertawa senang sembari memeluknya. Chanwoo benar-benar tak akan pernah melupakan hari itu, karena mulai detik itu ia telah melupakan kepentingan dirinya sendiri demi senyum bangga ayahnya.

“Chanwoo-ya on set!”

Lamunan Chanwoo buyar tatkala suara lantang sutradara drama tempatnya beperan sebagai cameo memanggilnya. Ia pun langsung berdiri dan melangkah cepat menuju lokasi penggambilan gambar, seorang make up aktris membuntutinya dan memperbaiki sedikit tatanan rambutnya sebelum kamera berputar dan dunianya kembali tersedot ke dalam sosok yang tak pernah ia kenali.

Camera rolling, action!

===

Tidak, Chanwoo tidak pernah berperan sebagai tokoh utama dalam sebuah drama. Karirnya dalam berakting tidak gemilang, selain hanya menjadi cameo sosok muda dari aktor ternama Lee Min Ho, mengambil sedikit bagian di beberapa film layar lebar ber-budget rendah dan sekali muncul dalam video musik boy band legendaries Dong Bang Shin Ki. Kebanyakan waktunya ia habiskan untuk belajar di sekolah, mengerjakan tugas-tugasnya, serta les akting seminggu sekali di sebuah sanggar. Namun, meskipun karirnya tak begitu bersinar, tak urung Chanwoo melihat ayahnya tersenyum tatkala memutar ulang rekaman-rekaman dirinya saat pulang bekerja. Ayahnya tak pernah tahu kalau ia selalu mengintip dari balik pintu dan turut menonton bersama sembari menikmati tawa bangga ayahnya. Pemandangan itu adalah sesuatu yang berharga bagi Chanwoo, ia ingin terus membuat ayahnya bangga seperti itu agar kesedihan akan ibu tak lagi menyelimuti mereka berdua. Tapi…

‘CUT! Jung Chanwoo! Ekspresimu terlalu datar! Kau berakting frustasi, bukan berperan sebagai batu!’

‘Hei, Chanwoo! Jika kusuruh berlari, jangan hanya berlari! Kau juga harus berakting! Kau tidak hanya menjual wajahmu di depan kamera!’

 ‘Yak! Chanwoo! Apa kau mendengar apa kataku?’

‘Chanwoo! Seriuslah!’

 ‘Chanwoo!’

Sudah cukup. Chanwoo sudah muak. Kamera benar-benar menelannya bulat-bulat, ia tidak bisa menyangkal dirinya sendiri, dirinya lebih kuat dari peran yang ia mainkan. Berakting di depan kamera belakangan membuatnya tersiksa dan nyaris gila. Meski semangat membuat ayahnya bahagia masih membara, tapi tekanan yang ia terima mulai melunturkan semuanya.

Chanwoo ingin berhenti.

Tapi jika ia berhenti, apa yang lagi yang bisa ia lakukan untuk ayahnya?

Slurp! Chanwoo menyedot milkshake cokelat yang baru saja ia dibeli kuat-kuat hingga membuat beberapa orang yang melangkah di dekatnya menoleh, tapi ia terus saja berjalan dan mengabaikan sekelilingnya. Mullae-dong pukul tujuh malam terlihat mulai ramai, ditambah lagi ini akhir pekan, biasanya banyak sekali musisi jalanan yang melakukan pertunjukan di sepanjang trotoar. Belakangan Chanwoo memilih untuk ke sini ketimbang pergi ke sanggar. Ayahnya tidak tahu akan hal ini, tentu saja, karena ayah pasti akan sangat sedih jika sampai mengetahuinya.

Hey ho, pretty boy!”

Chanwoo mendengar sebuah suara menyapa dan tubuhnya langsung terasa tertarik ke belakang ketika seseorang merangkul bahunya erat. Chanwoo mengenali suara itu dan langsung menoleh ke samping untuk menemukan mata kenari yang menjadi salah satu alasan ia memilih untuk kemari.

“Oh, annyeong, Liz,” sapa Chanwoo, senyumnya mengembang membalas cengiran gadis berpakaian punk itu.

“Hei, bagi minumanmu!” seru Liz saat melihat milkshake cokelat di tangan Chanwoo.  Rambut pendek bergaya bob-nya berkibar saat ia melompat-lompat kecil mencoba meraih milkshake yang langsung Chanwoo sembunyikan di balik jaket denimnya.

“Kau ‘kan ada pertunjukan malam ini,” kata Chanwoo sama sekali tidak membiarkan Liz menyeruput sedikit pun cairan cokelat itu.

“Ya, ampun Chanwoo, yang benar saja. Milkshake tidak akan membuat suaraku terdengar seperti Hulk!” Liz berkacak pinggang dan Chanwoo pun tergelak.

“Baiklah, baiklah.” Chanwoo pun menyodorkan milkshake cokelatnya dan gadis itu pun langsung menyambar minuman itu senang.

Slurp! Milkshake kembali tersedot hingga mengeluarkan suara dan orang-orang pun kembali menoleh,  Chanwoo masih tak peduli apa lagi Liz yang dari dandanannya saja melabeli dirinya sendiri sebagai gadis paling cuek di dunia.

“Hei, Chanwoo…” Liz mulai melangkah dan Chanwoo mengiringinya. Milkshake telah tandas tapi Liz suka mengunyah es batu, jadi ia hanya membuang tutup gelas dan mulai memasukan potongan-potongan kecil es batu ke dalam mulutnya. “Kau ingin bernyanyi bersamaku malam ini?” katanya sambil mengunyah es batu.

“Apa?” Chanwoo terbelalak, merasa konyol dengan ide itu. “Aku tidak bisa bernyanyi,” imbuhnya.

Liz menyikut laki-laki itu. “Suaramu lumayan,” katanya.

“Kau ingin mempermalukanku di depan umum, huh?” Chanwoo balas menyikut dan membuat Liz nyaris tersedak es batu.

“Tidak, aku serius, aku ingin kau ikut bernyanyi denganku,” desak Liz lagi.

“Tidak mau, aku menonton saja.” Chanwoo masih bersikukuh.

“Kau takut?”

“Aku tidak takut. Aku tidak mau, tidak bisa.”

“Hahaha, dasar penakut!”

Liz melempar gelas milkshake yang kini benar-benar kosong ke tempat sampah di dekatnya lalu mendelik sinis pada Chanwoo. “Kalau kau tak ingin berakting lagi, kenapa tidak bernyanyi saja?” sindirnya.

Chanwoo terdiam, sejenak ia berpikir ada benarnya juga, tapi ide menjadi penyanyi itu kelewat batas. “Aku tidak pernah berpikir sampai ke sana,” aku Chanwoo dan Liz pun menyeringai.

“Kau bisa bernyanyi lagu apa?”

“Huh?”

“Kau tahu lagu Twinkle Twinkle Little Star?”

Chanwoo mengerjap, masih tidak paham apa maksud pertanyaan Liz  hingga gadis itu mengabaikannya dan berlari menuju segerombolan musisi jalanan yang sedang check sound dengan perkakas elektriknya di  sebuah bench. Liz berbicara sebentar pada pemimpin kelompok yang sepertinya ia kenali kemudian berlari kembali pada Chanwoo untuk menyeret laki-laki itu ke sana.

“Tidak… tidak, Liz!” Chanwoo berseru tatkala menyadari apa yang baru saja Liz prakarsai, tapi Liz keburu menyampirkan sebuah gitar elektro di bahunya, memainkan senarnya beberapa saat untuk memastikan benda itu berfungsi dan berteriak cukup nyaring di depan mic.

Hey ho, everyone!”

Chanwoo ingin kabur, tapi dua orang laki-laki—komplotan musisi jalanan yang sepertinya sudah diperintahkan Liz—menahan gerakannya, mendorongnya maju hingga terjengkang ke sisi Liz dan memberinya mic. Kini Chanwoo tak bisa kabur, orang-orang mulai berkumpul; lebih-lebih merasa malu pada dirinya sendiri, ia justru takut mempermalukan Liz dan rombongan musisi jalanan yang panggungnya ia pijak ini.

“Namaku Liz!” sapa Liz dan orang-orang bersorak, kebanyakan dari mereka telah mengenal Liz karena gadis itu memang salah satu bintang di jalan ini. Chanwoo semakin gugup, dadanya berdebar kencang, lirik lagu Twinkle Twikle Little Star berantakan di kepalanya, dan ia tak tahu harus berbuat apa selain merasa canggung.

“Malam ini aku ingin memperkenalkan seorang teman pada kalian.” Liz melirik Chanwoo, dan seluruh perhatian tertuju pada laki-laki itu. Chanwoo mencoba menarik senyum, tapi gugup membuat senyumnya terlihat mengerikan dan beberapa orang tertawa melihat kegugupannya yang begitu kentara.

“Namanya Jung Chanwoo. Ia tidak pernah menyanyi sebelumnya dan aku memaksanya bernyanyi sekarang juga, yah, kalian bisa lihat dari wajahnya sih.” Tawa semakin banyak terdengar menanggapi perkataan Liz itu dan membuat Chanwoo semakin kikuk. “Jadi, untuk lagu pertama aku akan membukanya dengan lagu yang sangat mudah.” Senar gitar dipetik dan intro lagu anak-anak itu terdengar. “Kalian tahu lagu apa itu?”

Semua orang tertawa dan beberapa di antaranya menyerukan judul lagu Twinkle Twinkle Little Star. Sejak awal, Chanwoo tahu itu bukan tawa yang mengejek—orang-orang yang bergaul di tempat ini tak pernah mengejek satu sama lain—melainkan tawa geli dan gembira karena tengah menonton sebuah pertunjukan. Tapi tetap saja…

“Hei, Chanwoo.” Liz menjauhi mic dan mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Chanwoo. “Relax man, anggap saja kau sedang berakting. Hanya saja, kali ini tidak ada kamera dan…” Liz menggantung ucapannya dan Chanwoo melihat gadis itu tersenyum begitu lebar, memamerkan gingsul gigi serinya yang manis sebelum akhirnya menyelesaikan kalimatnya.

“Kau menjadi dirimu sendiri.”

Chanwoo terperangah, dalam beberapa detik kegugupannya langsung hilang dan saat intro lagu mulai bergaung dan Liz menyanyikan frasa pertama, Chanwoo pun mengiringi Liz dengan suaranya yang apa adanya. Semua orang tertawa, gembira, dan merasa terhibur, tapi kegugupan, rasa takut dan malu yang semula menggerogoti Chanwoo kini sirna. Yang tersisa hanya dirinya sendiri serta Liz yang berdiri bersama-sama dengannya di sana, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Chanwoo ia merasakan sesuatu yang lain juga berbeda. Karena kali ini ia memiliki sesuatu.

Chanwoo memiliki sebuah panggung.

Baca lebih lanjut

[Chaptered 2/2] The Stories of 31 May: Haengbok

hyunseung

Title                       : Haengbok

Author                  : Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jang Hyun Seung (Beast/Cube Entertainment)

–          Jang Hyun Ra (Tamara Putra’s OC)

–          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

Lenght                  : Chaptered

Genre                   : Romance, Slice of Life, Friendship

Rate                       : G

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Jang Hyun Ra ingin sekali membalik meja makan mewah di hadapannya ini sekuat tenaga dan akhirnya merusak hari yang menurutnya sudah buruk sejak matahari terbit.

Dasar suami tak berperasaan!

Hyun Ra melirik sinis pada pria yang tengah duduk di sampingnya—tertawa sangat lebar kepada kolega-kolega kerjanya yang duduk di sekitar mereka. Suasana meja makan sangat ramai, petinggi-petinggi perusahaan sangat menyukai suaminya itu; entah karena ia muda dan cerdas atau karena sangat pandai membuat joke. Ah, Hyun Ra tak peduli, yang ia tahu hanyalah hari ini akan menjadi hari terburuk sepanjang tahun ini.

 “Ya, Jang Hyun Seung,” Hyun Ra memanggil nama lengkap suaminya dengan nada sinis sementara jemarinya meremas ujung gaun malamnya yang berwarna pastel di bawah meja karena jengkel. “Kau tahu kan hari ini tanggal berapa?”

“Tanggal 31 Mei ‘kan?” jawab Hyun Seung tanpa melihat ke arah Hyun Ra, perhatiannya tertuju pada CEO perusahaannya yang tengah menceritakan koleksi cerutu terbaiknya dari seluruh dunia.

“Benar sekali, lalu?” Hyun Ra tetap kukuh mengorek ingatan suaminya tentang hari ini.

“Lalu, apa?” bukannya menjawab, Hyun Seung justru malah balas bertanya, hati Hyun Ra semakin geram dibuatnya.

“Sudahlah, lupakan saja…” kata Hyun Ra akhirnya, menyerah dengan tindak tanduk suaminya yang menjengkelkan dan kembali berkutat dengan steak di hadapannya.

Hyun Ra akan menghajar suaminya itu setibanya di rumah.

  Baca lebih lanjut

[Chaptered-1/2] The Stories of 31 May: Kajima

Ok Taecyon

Title           : Kajima

Author     : Benedikta Sekar

Cast           :

–          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

–          Eka Maisari

Lenght     : Chaptered [1/2]

Genre      : Romance, Slice of Life

Rate          : G

Disclaimer:

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Eka Maisari sadar diri, dengan tinggi 155 cm ia tak mungkin mendobrak pintu kayu flat itu hingga rusak. Jadi, yang dapat ia lakukan hanyalah duduk  bersila di lantai sembari memeluk cake di tangannya dengan hati-hati.

Pukul 23.00 KST.

Tinggal satu jam lagi sebelum Mei digusur Juni, dan Eka benar-benar tak habis pikir untuk menghabiskan sisa hari ulang tahunnya ini di depan pintu flat milik seorang pria yang umurnya terpaut nyaris sepuluh tahun darinya.

“Aku mungkin sudah gila…” bisik Eka sembari tertawa getir, tubuhnya beringsut menempel pada pintu flat bernomor 102 itu lalu menangis dalam hati. “Kali ini yang terakhir, dan  setelah itu aku akan berhenti,” teguhnya.

Eka tidak tahu apa yang membuat sosok pria itu menjadi sangat superior di matanya; dia hanya seorang pegawai kantoran biasa yang tak laku-laku di umurnya yang sudah nyaris berkepala tiga. Pria kasar yang tak segan-segan memarahi orang-orang sekitarnya, tapi juga secara bersamaan adalah orang yang dengan sabar menolongnya saat ia tersesat di tengah-tengah keramaian kota Seoul.

Mengenal pria itu membuat Eka seperti duduk sendirian di sebuah roller coaster yang tengah melaju kencang. Sering kali pria itu menghempaskan tubuhnya ke bawah hingga dia ingin menangis meraung-raung, namun perhatian-perhatian kecil yang diberikan pria itu juga membuatnya berdebar hingga perlahan-lahan merangkak kepuncak yang tertinggi.

Benar, Ok Taecyon adalah pria yang mencuri cinta pertamanya.

Baca lebih lanjut