[Coretan Dicta] Tentang Benedict Cumberbatch yang Ganteng Banget Kalau Bewokan

Baru selesai menonton “Doctor Stranger” meskipun ada tugas yang menghimpit. This film talking about time, about “penyerahan diri”, pengakuan bahwa adanya kekuatan yang lebih dari apa yang kita tahu. Saya rasa film ini seharusnya menjadi TOP of the list semua orang. Para karakternya memanusiakan manusia, terlepas dari kekuatan tidak masuk akal yang menjadi basic dari semua film superhero, tokoh Dr. Strange menunjukkan pada penonton oposisi biner yang selalu ada di dalam diri setiap orang. Oh, saya tidak berbicara tentang tugas Sastra Sejarah yang sekarang memaksa saya untuk mengkaji cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (yang saya pilih dengan sembrono dan tanpa perhitungan lalu membuat saya kehilangan akal sehat sekarang) dengan pendekatan posmodernisme. Saya kira memahami tentang sastra itu jauh lebih rumit dari pada memahami diri saya sendiri. Satu, mungkin karena saya dipaksa memahami dan menginterpretasikan apa yang orang lain pikirkan. Dua, kenapa kita terlalu sibuk mencoba memahami orang lain daripada memahami diri sendiri? Saya masih mencoba mencari jawaban dari pertanyaan itu karena kadang-kadang toh lebih seru bergosip tentang hidup orang lain daripada membicarakan hidup kita sendiri. Oh ya, tulisan ini mulai menyimpang dari apa yang sebenarnya saya ingin sampaikan, mungkin Anda sudah tidak ingin meneruskan bacaan yang sesungguhnya membuang-buang waktu Anda yang sangat berharga. Tapi saya tahu, Anda tidak bisa berhenti, rasa penasaran Anda memaksa untuk terus membaca tulisan bodoh ini karena semua orang selalu mencari tentang akhir dari sebuah permulaan. Itulah mengapa konsep ketuhanan begitu laris manis dan tak bisa dihentikan penyebarannya. Konsep ini menjajakan mimpi tentang surga, akhir dari dunia dalam kematian. Kita terbuai. Saya pun terbuai. Orang-orang pun bahkan banyak yang dibutakan. Pada akhirnya, semua orang berorientasi pada akhir, bukan pada proses. Anda bahkan tidak peduli apa tulisan saya singkron dengan judul atau ketika saya menyelipkan bahasa Inggris di beberapa bagian just like this. So, in the end… Anda hanya mencoba mencari tahu akhir dari tulisan ini dan berusaha memahami apa yang saya coba sampaikan atau bahkan siapa saya dalam tulisan ini. Saya tidak menyalahkan Anda; juga tidak berusaha membenarkan diri saya apabila yang saya tuliskan ini benar adanya. Tidak ada yang pasti dalam hidup ini, sama seperti jodoh. Bisa jadi pasangan yang sekarang sedang bersama Anda, entah itu istri, suami, kekasih, teman dekat, atau terserah bagaimana kalian menyebut pasangan Anda itu, bukanlah orang yang sesungguhnya telah dipersiapkan untuk melengkapi Anda. Bisa jadi mereka hanyalah bagian kecil dari film kehidupan Anda yang panjang; adegan ketika si Tokoh Utama merasakan gejolak-gejolak serta momentum yang selalu kita pahami sebagai ‘Yah, namanya kehidupan’. Toh, yang terpenting sekarang hanyalah bagaimana akhirnya saja bukan? Well, saya sendiri saja tidak tahu akhir dari kehidupan saya, apa hak saya berbicara tentang akhir kehidupan orang lain? Namun mungkin ada satu hal yang pasti, dari segala ketidakpastian tentang akhir dari coretan ini. Waktumu adalah milikmu sendiri. Ketika kalian memutuskan untuk membaca coretan ini secara implusif dan tak bisa berhenti sampai pada titik ini, kalian tahu kalian hanya membuang-buang waktu, saya bahkan sudah memberikan pernyataan ini berkali-kali. Memperingatkan kalian tentang ke-un-faedahan coretan ini. Namun kalian masih saja menuntut akhir, menuntut jawaban, menuntut kepastian, menuntut saya untuk memberikan penjelasan kenapa saya menulis coretan ini. Apa kalian pikir saya akan memberikan apa yang kalian mau? Kalian saja mungkin tidak sadar kalau saya sekarang menyebut kalian itu ‘kalian’ bukan lagi dengan ‘Anda’. Oh, saya tidak ingin berdusta, saya senang ketika Anda akhirnya menyadari hal itu. Itu tandanya saya berhasil membuat Anda terkejut. Membuat pembaca terkejut adalah keberhasilan sebuah karya fiksi, bukan? Oh, jadi ini fiksi? Entahlah, saya tidak suka mendefinisikan sesuatu secara sepihak. Itu tandanya saya tidak adil dengan indra-indra milik orang lain yang mungkin saja mendefinisikan coretan ini sebagai SAMPAH. Jadi ya sudahlah… terserah kalian mau berpikir apa tentang diri saya. Lain kali, tolong berhati-hati dalam membaca sesuatu, kadang kala bacaan tersebut tidak akan memberikan apa yang Anda inginkan. Kadang mereka mengecewakan dan menyedihkan hati dan membuang-buang waktu berharga milik Anda sendiri. Nah, jadi ini salah satu bacaan itu. Saya sudah memutuskan untuk tidak memberi akhir pada tulisan ini, saya tidak ingin tulisan ini berakhir. Saya ingin tulisan saya abadi dan tertinggal di benak kalian hingga besok hari, hingga hari berikutnya, hingga nanti kalian memiliki seorang anak, dan menamainya dengan nama yang merupakan doa. Doa yang mungkin saja tidak akan pernah terkabul. Saya tidak akan mengakhiri tulisan ini karena saya hanya ingin memulainya. Tapi bagaimana bisa? Semua yang telah diawali harus diakhiri. Konsep Alpa dan Omega dibawa oleh seorang laki-laki bernama Yesus ke dalam kehidupan saya, ia menjanjikan awal dan akhir yang hanya bisa ditemukan dalam dirinya. Tapi sekarang saya ingin mendekonstruksi hal itu, saya hanya akan memberikan tanda elipsis. Menurut Wikipedia yang baru saja saya tengok, tanda elipsis adalah tanda baca yang biasanya menandai penghilangan sengaja suatu kata atau frasa dari teks aslinya. Tapi saya tidak hanya akan menghilangkan kata atau frasa, Saya ingin menghilangkan akhir, ending, serta omega dari tulisan ini. Namun hati kecil Anda pasti mendebat, pada akhirnya tulisan ini akan berakhir dan yang mengakhirinya adalah tanda baca elipsis itu! Hahaha, GOBLOK! Sekarang segalanya menjadi ambigu, apa kata GOBLOK itu ditujukan kepada saya atau kepada Anda? Ah, sudahlah, untuk apa mendebatkan satu kata yang memiliki tafsir yang berbeda-beda tergantung bagaimana tanda bacanya, bagaimana cara mengucapkannya, atau apa agama orang yang mengucapkan kata itu. Tidak penting. Sungguh tidak penting. Seperti isi coretan ini. Maka dari itu saya hanya ingin meninggalkan sebuah kehampaan pada diri Anda. Kehampaan. Yang dilambangkan dengan … yang mungkin bisa menjadi tempat Anda berpikir. Tempat Anda merenung. Tempat Anda menemukan diri Anda sendiri. Tidak ada akhir ketika kehampaan itu datang, kehampaan bukanlah akhir tapi moment of silent. Momentum yang selalu dilupakan dalam setiap tokoh utama dalam kehidupan ini.. Momentum seperti … ini lalu akan berlanjut menjadi sebuah pemikiran yang seperti … lalu Anda akan terjebak dalam kebingungan yang … yang begitu itu lalu membuat Anda … dan … dan … begitu terus dan … Anda akan marah dengan banyak sekali … ini, lalu saya akan merasa … karena saya sendiri, di momentum seperti … ini suka sekali melihat … kefrustasian … manusia … dan manusia … dengan … begitu saja terus … ini karena … saya … juga … … … …. … … …. … ….

Kampus Fiksi #19 Bag. 3 : Menulis itu Perkara Isi dan Bungkus

book-writing-ideas

Okay, aku menulis coretan ini di perpustakaan lantaran dosen pengampu mata kuliah Menyimak I yang kuulang semester ini tidak hadir (again!). For a God sake, deh ya! Kuliah udah jalan dua minggu dan ini dosen gak datang-datang juga. Bukannya apa sih ya, siapa yang gak seneng ada kuliah yang kosong sih? Tapi satu, aku udah bela-belaan bangun pagi dan datang ke kampus dengan gagah perkasa untuk menuntut ilmu, tapi akhirnya itu sia sia! Dua, puhlez… jangan sampai semangat belajarku semester ini luntur cuman gara-gara mata kuliah yang satu ini ya!

Huft.

Baiklah, aku mulai saja ya coretan ini, daripada makin stres mikirin kuliah lagi. Jadi, Gaes… setelah kemarin aku kasih tahu kalian pengantar dari Pak Edi, hari ini aku bakal kasih tahu kalian tentang Teknik Penulisan yang dipersentasikan oleh Reza Nufa Oppa, eak! Beliau ini salah satu editor, pemegang akun media sosial Kampus Fiksi, juga penulis kritis. Kalau gak lagi micin sebenarnya Oppa ini baik dan bakal banyak ilmu yang bakal kalian dapat, tapi sayang, dia kebanyakan micin. Mungkin micin itu kayak heroinnya Sherlock Holmes buat Oppa yang satu ini.

Anyway, sesi teknik penulisan ini dibuka dengan dasar dari segala dasar menulis, yaitu mengingatkan kembali kepada kita bahwa hakekatnya menulis itu adalah menyampaikan ide atau ideologi si penulis.

Khususnya untuk penulisan fiksi yang berdasarkan pada hal yang ‘tidak nyata’ atau karangan si penulis. Ide ini tentu saja harus dikemas sedemikan rupa agar pembaca mampu memahami isi ide yang ingin disampaikan. Ibaratnya ide adalah isi, maka teknik menulis  adalah bungkusnya—wadah, kata Mas Reza. Maka dari itu, aku akan menjelaskan pada kalian dua hal penting di sini, yaitu perkara ide dan teknik menulis.

Pertama, ide. Sesungguhnya aku berencana untuk membuat satu coretan khusus yang membahas tentang ide ini. Dari awal sampai akhir. Jadi sekarang aku hanya akan kasih kalian pengantar sedikit-sedikit saja ya. Untuk lebih jelasnya akan aku sampaikan di bagian empat yang akan kutulis pas lagi kesambet atau jam kosong kayak gini. LOL.

Perkara penulis pemula yang kadang mengganggu adalah kehabisan ide lalu akhirnya mengklaim bahwa sedang writer’s block. Hal ini akan berujung pada kemalasan untuk menulis dan produktivitas yang terhenti. Ah, yes… I know your feeling. Aku juga mengalaminya setahun belakangan ini, makanya blog ini seperti kuburan.

Ada tiga hal yang harus kalian ketahui tentang ide.

Baca lebih lanjut

Kampus Fiksi #19 Bag. 2 : Sadarilah Kalau Tulisanmu Itu Busuk!

 

busuk

Hari pertama kuliah di Kampus Fiksi dibuka dengan pengantar dari Pak Edi, selaku Bapak dari anak-anak overdosis micin (elah, micin lagi! Micin lagi!). Kata pengantar yang beliau sampaikan secara garis besar menggambarkan sebuah kata sederhana yang biasanya dilupakan oleh penulis muda kebanyakan.

Proses.

Proses yang menghantarkan seorang manusia biasa menjadi super saiyan! Ciaaat! Pipipipipipi!

Okay, otakku lagi konslet. Abaikan kalimat penuh kemicinan di atas. So, maksud dari proses di sini apa? Itu juga yang sempat aku pertanyakan dalam permenunganku sepanjang Pak Edi berbicara. Hingga akhirnya, setelah aku mencatat beberapa kalimat yang menurutku menarik dan merenunginya, akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan bahwa menulis merupakan pembelajaran tanpa akhir.

Mengapa?

Jika kalian bertanya seperti itu, aku hanya bisa menjawab seperti ini:

“Akan selalu ada penulis yang lebih keren dari pada kamu, Nak.”

Ketika kamu merasa tulisanmu sudah cukup keren dan membanggakan, kamu akan menemukan tulisan lain yang lebih keren dari pada tulisanmu. Begitu terus sampai lebaran bekicot. Namun, itu bukan sesuatu yang harus kamu sedihkan. Justru ketika kamu berada di titik kesadaran itulah maka jiwamu memberontak dan memaksa untuk membuat karya yang lebih keren lagi.

Nah, itulah proses.

Baca lebih lanjut

Kampus Fiksi #19 Bag. 1 : Ke-micin-an yang Hakiki

 

img-20170129-wa0011
KF-19, minus satu orang, Mbak Yuan

Jadi, setelah menunggu kurang lebih dua tahun pasca diterimanya aku di salah satu angkatan Kampus Fiksi. Akhirnya minggu ini, pada tanggal 27 – 29 Januari 2017, aku pun menggenapi kewajiban untuk menimba ilmu di Kampus Fiksi bersama teman-teman di angkatan ke-19. Ya, benar sekali, Saudara, baru beberapa jam yang lalu aku tiba di rumah dan sekarang langsung menulis coretan ini mumpung rasa hangat-hangat tai kucingnya belum hilang. Hahaha.

 Aku mengenal Penerbit Diva Press pada tahun 2014 melalui media sosial Twitter. Bertepatan saat aku mengenal penerbit ini, Kampus Fiksi yang merupakan kampus yang didirikan oleh CEO Diva Press yaitu Bapak Edi Akhiles, membuka seleksi penerimaan mahasiswa untuk angkatan-angkatan baru tahun 2014 – 2017. Aku yang saat itu sedang gila-gilanya menulis serta mencoba mengikuti beragam kesempatanyang ada akhirnya pun mengikuti seleksi lalu dinyatakan sebagai salah satu mahasiswa yang terdaftar untuk mengikuti kegiatan Kampus Fiksi yang diadakan setiap 2 – 3 bulan sekali sesuai angkatannya.

Kampus Fiksi dibentuk dengan tujuan untuk memberikan wadah bagi para penulis-penulis pemula yang menginginkan kesempatan belajar lebih intensif tentang dunia kepenulisan. Di mulai dari teknik-teknik menulis sampai dengan industri buku Indonesia yang terus berkembang setiap waktu. Mendengar hal ini, kalian sebagai penulis pemula yang kebetulan membaca coretan ini pasti langsung mupeng ya ‘kan? Satu, kalian pasti merasa Kampus Fiksi itu keren karena bisa langsung diberi arahan dan ilmu dari orang-orang di penerbit mayor seperti Diva Press. Dua, ya memang penulis itu keren. Hahahaha, itu kata Pak Edi.

Namun, ketahuilah, Kisanak.

Baca lebih lanjut

[Sudut Vegan] Ya, Aku Seorang Vegan

Sudah lama.

Sudah lama sekali aku tidak menulis sambil berlinangan air mata seperti ini. Sekarang pukul 23.35 malam dan aku sungguh tiak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menangis sambil menulis seperti ini. Mungkin ini terdengar absrud, sinting, juga kekanak-kanakan, tapi aku sungguh-sungguh melakukannya sekarang. Layar laptopku terlihat kabur, aku menulis dengan mata penuh air dan isakan tak berhenti keluar dari bibirku. Aku pun tidak tahu apa dengan menulis ini perasaanku bisa menjadi lebih baik atau tidak, tapi seperti biasa aku hanya ingin menulis perasaanku yang paling jujur.

Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, kepada semesta, juga pada Tuhan tentang jalan yang ia berikan di depanku. Aku tahu ada skenario besar yang sedang Tuhan tulis untukku, lebih indah dan megah dari pada tulisan ecek-ecekku sekarang ini. Maka dari itu, aku selalu menerima segala bentuk kesialan, ketidak beruntungan, kesedihan, serta cobaan sebagai sebuah proses pendewasaan diriku, hingga akhirnya aku mampu mengambil keputusan-keputusan bijak dan terbaik serta paling sesuai untukku.

Ketika Tuhan mengambil Papa dari hidupku. Sejak awal aku tahu, ada sebuah pesan yang Ia kirimkan padaku. Pesan yang Ia harapkan dapat aku terima dengan baik karena aku tahu Tuhan begitu menyayangiku. Papa meninggal karena gagal ginjal, ia meninggal saat tubuh ringkihnya tengah terbaring di samping mesin pencuci darah. Usianya baru 47 tahun kala itu dan aku—anak tertuanya—masih duduk di kelas dua sekolah menengah.

 Aku mendapat kabar kematian Papaku di parkiran rumah sakit, saat tidak sengaja aku berpapasan dengan eyang putriku yang tengah membawa barang-barang perbekalan menginap untuk menjaga Papa. Kala itu aku dengan polosnya bertanya, “Papa dipindah ke mana lagi, Yang?” dan Eyangku tertegun, memandangku prihatin, lantas menjawab dengan lirih…

Baca lebih lanjut

20 Hal Tentang Dikta

LOL.

Sudah lama sekali rasanya gak dapat tag-tagan beginian. Terakhir dikasih tantangan pas zamannya blog award gitu. Hahaha. Terima kasih ya Fadilla Sukraina atas tantangannya. Sebenarnya kebetulan sekali aku sudah lama tidak mengisi tulisan di blog lantaran sibuk berlaga di dunia perkampusan. Mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bisa membuatku lebih mengenali diri sendiri, karena kadang kala, aku pun bisa tersesat saat mencoba memahami diriku sendiri.

***

  1. Your real name?

Benedikta Sekar Arum Setyorini. Panjang ya? Iya, hahaha. Benedikta itu nama baptisku, diambil dari nama Santo Benediktus, artinya berkat atau yang diberkati. Sekar Arum artinya bunga yang mekar dan harum. Sementara Setyorini adalah singkatan nama Papa dan Mamaku. Banyak doa yang dipanjatkan dalam namaku, semoga saja aku bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan menjadi bunga yang mekar dan harum untuk kedua orangtuaku.

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Untuk Musuh-Musuhku: Aku Mengasihmu

Sudah lama aku tidak merasa setergoboh-goboh ini untuk menulis sebuah coretan. Sudah lama aku tidak merasa ingin sekali menulis dan menuangkan segala sesuatunya dalam gerakan tangan ini. Sudah lama aku ingin mengungkapkan apa yang ada dibenakku hingga hari ini hal itu pun tercapai karena desakannya begitu tak tertahankan. Maka, tanpa perlu memperpanjang paragraf pembuka yang membosankan ini, aku ingin mengawali coretan dengan sebuah kalimat sederhana.

“Aku sungguh membenci musuh-musuhku.”

Ada banyak hal yang terjadi di kehidupanku pasca kepindahan ke Yogyakarta serta menjalani dinamika kampus yang begitu melelahkan jiwa dan raga. Ada kesukacitaan yang besar, juga kesedihan yang menyesakkan datang silih berganti. Aku ingin menjelaskan hal itu satu persatu, namun akan sangat panjang-kali lebar-kali tinggi dan semalaman pun tak akan cukup menuntaskan kisah itu. Jadi, aku hanya akan mempersingkatnya dengan sangat-sangat sederhana dan berharap kalian mengerti.

Aku masuk ke dalam dunia yang baru di kampus. Hal yang begitu mempesona namun menyimpan prahara serta intrik yang tidak terelakan di kemudian hari. Untuk bertahan dalam dunia yang gila itu, salah satu caranya adalah menemukan sekutu. Untuk menemukan sekutu, yang harus aku lakukan tentu saja mencari teman yang bisa diajak bekerjasama. Lalu, untuk mencari teman, apa yang harus dilakukan? Tentu saja berusaha untuk fit in dengan memasang topeng ke mana pun aku berada. Aku harus menjadi seperti teman-temanku, agar mereka mau berteman denganku. Maka hal itulah yang aku lakukan, aku sangat ingin memiliki teman hingga aku berusaha untuk selalu terlihat menyenangkan di depan mereka.

Selama beberapa waktu pergumulan dengan hatiku sendiri—mengelak kebenaran hati serta menutupi jati diriku, akhirnya aku menemukan teman-teman itu. Teman-teman yang bersekutu dengan mengatasnamakan diri sebagai perkumpulan ‘pembenci orang yang sama’. Apa yang kami lakukan? Membicarakan dan mendiskusikan tingkah laku buruk orang lain serta memberikan stampel buruk padanya dan membuat perasaan kami nyaman karena menganggap kami lebih baik dari orang yang kami benci. Di mana kami melakukannya? Di tengah-tengah orang banyak agar orang lain ikut menyimak kebencian kami. Output apa yang aku dapatkan dari diskusi itu? sebuah ikatan yang bagiku pribadi sangatlah busuk, namun mau tidak mau harus kupertahankan bila aku tak ingin berada di dasar rantai makanan.

Baca lebih lanjut

#6 To My Future Husband: Space

Sepertinya aku perlu jeda.

Terlalu banyak cinta yang ingin aku ungkapkan padamu hingga akhirnya aku bingung bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkannya. Aku bahkan punya daftar hal-hal apa saja yang akan kutulis dalam surat-suratku—semua berkisah tentangku serta harapan-harapan di masa depan kita. Namun, pada akhirnya aku tidak menggunakannya sebagai acuan karena setiap hari ketika aku terbangun, selalu ada hal menarik yang ingin aku kisahkan padamu.

Hanya saja, hari ini berbeda, hari ini berjalan terlalu biasa bagiku. Aku terbangun dan semua terasa hampa. Kepalaku kosong hingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain mandi dan membuka laptop untuk menulis surat untukmu. Aku bahkan lupa sarapan, hanya air yang masuk ke tubuhku ketika aku mulai menulis surat ini karena sepanjang pagi sampai siang tak ada satu kata pun yang terlontar. Akhirnya, aku menulis surat aneh ini.

Mungkin, seperti itulah cinta.

To much love will kill you.

Aku pernah membaca kalimat itu di sebuah buku dan sepertinya itu benar. Aku percaya cinta bukan sesuatu yang harus di jalani dengan berlebihan. Aku tak perlu kata-kata romantis setiap hari; janji dan harapan di ungkapkan tanpa henti. Terkadang, aku perlu jeda, untuk sekadar diam dan merenungi semuanya. Apakah semua sudah benar atau belum?

Ini baru surat hari keenam, namun aku tahu, kamu pasti sudah bosan dengar segala kisah tentangku dan tentang semua hal yang mungkin saja tidak kamu mengerti. Tapi untuk sekarang aku hanyalah seorang gadis kesepian, aku belum bertemu denganmu, kamu terasa jauh sekali dari jangkauan tanganku—sosok kabur di masa depanku yang abu-abu. Jadi untuk hari ini, aku ingin memberi jeda bagimu pun diriku sendiri. Untuk sekadar mengingatkan diri kita, bahwa ketika kamu mengulang sebuah kata secara terus menerus, kata itu akan kehilangan makna magisnya yang istimewa.

‘Aku mencintaimu.’

Simpan kalimat itu di hatimu dan tunjukkan padaku maknanya. Aku tak perlu mendengarnya setiap hari, ungkapkan saja di momen-momen tertentu saat kamu benar-benar perlu mengatakannya, karena aku pun akan berbuat demikian. Aku tidak akan membanjirimu dengan surat-surat cinta atau kata-kata penuh pujaan setiap hari, meski aku ingin melakukannya begitu. Karena sesungguhnya cinta bukanlah sesuatu yang hanya diungkapkan dengan kata-kata, namun diabadikan dengan perbuatan.

Yah, cinta tanpa perbuatan sama dengan mati. So, show me love, don’t just tell.

Dari gadismu

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 5 Feruari 2016

P.S:
Aku akan kembali menulis surat untukmu dua hari lagi, karena besok dan lusa aku akan menulis surat untuk orang lain. Hehe. Jangan cemburu.

[Coretan Dicta] Menjadi Keluarga: Tentang Komunikasi dan Tempat Untuk Pulang

 

Family_quotes_3

Membaca ulang coretan sebelumnya tentang Menjadi Keluarga membuatku amat sangat bersalah dengan diriku sendiri. Ketika aku menulis coretan itu, aku benar-benar kebingungan dengan kondisiku di dalam rumah. Aku tak pernah tahu caranya berperan sebagai keluarga.

Ada banyak prasangka dalam hatiku yang mengatakan bahwa keluarga yang aku miliki sekarang bukan keluarga sesungguhnya. Karena keluarga bagiku adalah tempat untuk tidur dan makan serta mesin ATM. Sesederhana itu. Ya, aku tahu ini kasar, tapi ketika aku memikirkannya lagi, berulang-ulang dan berulang-ulang. Tradisi di dalam keluargaku penuh dengan individualisme yang tinggi hingga akhirnya aku tumbuh menjadi sosok yang hanya memikirkan diri sendiri, kaku, dan canggung. Aku tidak terbiasa menerima tanpa membalas, tidak terbiasa ditolong tanpa balas menolong, tak terbiasa memberi dengan tulus tanpa mengharapkan balasan.

Ah, susah sih menjelaskan perasaanku sekarang ini. Membicarakan hal-hal mengenai keluarga itu terdengar sederhana namun sebenarnya sulit. Ada sisi-sisi kehidupan yang begitu krusial dimulai dari keluarga, nilai-nilai kehidupan yang hanya akan kamu dapat dalam keluarga, dan hanya di dalam keluargamu saja kamu akan menemukan hal yang tak akan kamu dapatkan di luar sana.

Anyway, fyi aja sih, sekarang aku sedang dalam kelas agama, dosenku sedang membahas tentang poligami dan monogami. Memperdebatkan tentang pandangan agama tentang pernikahan tanpa menjelaskan apa esensi dari menikah itu sendiri. Sebenarnya aku menyukai gaya mengajar dosen ini, ia ingin mengajak mahasiswanya untuk lebih bisa bertindak daripada omong doang (karena iman tanpa perbuatan itu sama dengan mati, katanya). Namun bagi diriku sendiri, agama bukanlah hal yang patut untuk diperdebatkan, banyak orang-orang mencari tahu kebenaran tentang agama dan mencari kesalahan-kesalahan serta kebusukan-kebusukan agama yang penuh manipulasi dan lain-lain. Hal-hal seperti inilah yang kadang kala memicu perdebatan tentang agama sayalah yang paling benar dan aku benar-benar membenci pemikiran seperti itu. Kalau boleh jujur, aku selalui menghindari diri sendiri untuk memandang agama lebih dari sekadar rumah.

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Menjadi Keluarga

Tolong aku.

Aku merasa tak bisa bernapas. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan perasan busuk ini. Sekarang aku sedang duduk di kamar kontrakanku, pintu terbuka, dan di luar kamarku ada teman-teman satu rumah kontrakanku yang sedang bercengkrama asyik mengenai dunia mereka. Aku tidak tahu apa yang harus lakukan sekarang. Aku ingin mengerjakan tugasku, tapi perasaan sesak ini lebih menekanku ketimbang deadline tugas-tugas anak kuliahan yang mulai terasa menggila ini.

Aku tak pernah menyangka, tinggal serumah dengan orang lain terasa begitu melelahkan dan penuh tekanan. Kalau boleh jujur, ini bukan pertama kalinya aku tinggal serumah dengan orang lain (bukan keluarga inti). Aku sudah pernah mengalami hal seperti ini dua kali selama enam tahun hidupku, yang pertama aku jalani saat tinggal bersama keluarga tanteku selama tiga tahun masa SMP dan yang kedua saat aku tinggal serumah dengan eyang putri (bersama keluarga om-ku) selama tiga tahun masa SMA-ku. Dan selama enam tahun pengalaman itu…

Aku tidak belajar apa pun.

Baca lebih lanjut