[Drabble] Empty

empty heart

Title                       :               Empty

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Harris Li (Harris Lim’s OC)

–          Wang Fei Fei (Miss A/JYP Enertainment)

Lenght                  :               Drabble – 527 kata

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

.0.0.0.

Secangkir kafein dan aroma lavender di ruangan ini bukan alasan Harris Li untuk menangis diam-diam dalam keheningan. Meski earphone di telinganya menyerukan suara digital Megurine Luka yang akhir-akhir ini menjadi playlist favorite-nya, ia masih saja merasakan kekosongan yang entah sejak kapan hadir tiap kali ia menatap wajah cantik itu.

Wang Fei Fei, gadis Mongoloid yang kini tengah memintal benang merah bersamanya, lebih memilih mematut perhatian pada lembaran kertas novel di tangannya ketimbang menyentuh gelas Macchiato-nya atau bahkan membuka pembicaraan. Pemandangan itu membuat Harris sangsi dengan tujuan Fei mengajaknya ke café yang telah menjadi tempat ribuan pertemuan mereka selama ini; tidak kah gadis itu lelah dengan semua ini?

Harris mendesah; kepalanya tiba-tiba saja terasa pening. Tubuhnya beringsut menenggelamkan diri pada tumpukan busa sofa, seraya melirik warna abu-abu yang tengah menggantung di langit kota Beijing.  Sejenak ia melamun, memikirkan semua hal yang telah terjadi di hidupnya.

Yah, tak terasa 15 tahun telah berlalu dengan begitu cepat di kota ini. Ia masih ingat ketika seluruh keluarganya terpaksa pindah ke kampung halaman ibunya di Beijing karena toko mereka habis dijarah akibat kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Begitu banyak luka batin yang Harris rasakan akibat tragedi itu,  namun, meninggalkan negeri tropis nan asri itulah sebenarnya luka terbesarnya.

Indonesia adalah bagian dari dirinya.

“Li…”

Harris tersentak ketika ia merasakan tangannya digenggam; secepat kilat ia kembali memandang gadis di hadapannya dan mendapati wajah itu kini teralih padanya.

“Kau memanggilku?” Harris menggantung earphone di tengkuknya dan membebaskan telinganya untuk mendengar.

“Kenapa kau melamun?” Fei malah balas bertanya; merasa tak penting menjawab petanyaan yang menurutnya bodoh itu.

Harris tersenyum kecut, kemudian menjawab dengan nada sinis, “Yah, karena kau mengabaikanku, tentu saja.”

“Hei, ada apa denganmu?” suara Fei meninggi, dilipatnya kedua tangan di depan dada sembari menyandarkan punggunya di sofa. “Kupikir masalah kita sudah selesai.”

Hening.

Diam adalah prioritas utama Harris sekarang; ia tak ingin mengulang pertengkaran besar mereka tempo hari yang nyaris membuat lima tahun hubungan mereka kandas begitu saja. Tapi, setelah pertengkaran besar itu, Harris justru menjadi sadar, mungkin saja berpisah adalah yang terbaik… bagi  mereka berdua.

“Katakan sesuatu, atau kau lebih suka aku pergi?”

“Hah…” Harris benci ancaman Fei. “Aku hanya melamun.”

“Tentang?”

“Indonesia.”

Kini giliran Fei yang terdiam. Harris tahu kalau Fei merasa heran; kenapa ia mengungkit kembali negeri yang sudah lama ia relakan. Namun, Harris tak senang berbohong, terutama berbohong pada Fei.

 “Ada apa dengan Indonesia?” tanya Fei setelah ia terdiam cukup lama.

Harris mencoba tersenyum, namun, menyuarakan kenyataan bukanlah perkara gampang. “Tiba-tiba saja aku teringat, dan kini, aku merindukan tempat itu.”

“Kau ingin ke sana?”

“Kau gila?” Harris tertawa sumbang. “Aku bisa dibunuh orangtuaku.”

Dahi Fei berkerut dalam, dan memandang Harris dengan pandangan penuh pertanyaan. “Lantas, kenapa sekarang kau tiba-tiba saja merindukan tempat itu?”

Untuk yang kesekian kalinya Harris bungkam; kembali bimbang dengan pilihan jujur dan bohong. Namun, kenyataan bahwa berbohong pada Fei adalah hal yang tabu, maka Harris pun menjawab apa adanya.

“Karena sekarang, aku tak punya siapa apa pun lagi untuk mengisi kekosonganku.”

Fei terpekur; Harris diam.

Secangkir kafein dan aroma lavender memang bukan alasan Harris menangis diam-diam dalam keheningan. Namun sekarang, Harris punya alasan untuk menangis terang-terangan dalam mengambil keputusan terbaik.

Fin.

Special For Harris Lim

(Photo taken from: http://www.flickr.com/photos/froggylady/galleries/72157626728213730)

[Drabble] Dream

Title                    :           Dream

Author                :           Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast(s)               :

–       Asa Butterfield

Length                :           Drabble – 467 kata

Genre                :           family, mystery

Rate                   :           G

Keterangan  gambar   :           Street Life in London, 1876 – John Thomson

Disclamer          :           Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Asa Butterfield bukan milik saya, melainkan milik dirinya sendiri, Tuhan dan agency yang mendebutkan dirinya. Sementara plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

“Siapa namamu, Nak?”

Suara rendah pria paruh baya itu akhirnya memecah keheningan yang sudah terjalin di antara kami sejak pertama kali ia memanggilku dengan bahasa tubuhnya. Tolong semir sepatuku sampai mengkilap, wajah penuh kerutan itu berkata dalam diam; aku pun menurut tanpa suara.

“Asa Butterfield, Sir,” jawabku, lantas mendongak untuk memberikan senyum padanya.

“Berapa umurmu?” tanya pria itu lagi, sembari menggerakkan dagu memintaku untuk kembali fokus pada sepatunya.

“15 tahun.” Aku buru-buru menunduk, mematut wajahku pada sepatu pantofel pria bertopi fedora itu—kutilik sekilas warna rambutnya mulai memutih di balik benda itu.

Pria itu diam sejenak, namun bisa kurasakan tatapan matanya mengarah padaku.

“Bisakah kau ceritakan padaku tentang hidupmu?”

Aku membatu, kuhentikan pekerjaanku lalu kembali mendongak menatap pria itu.

“Kenapa Anda ingin tahu, Sir?” kuberanikan diri untuk bertanya; enggan menjawab tanpa alasan.

Pria itu menarik satu sisi bibirnya ke atas, membentuk senyum yang terlihat aneh bagiku.

“Karena aku ingin tahu,” jawabnya tenang, namun dengan nada menekan.

Aku menelan ludah, lalu kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaanku; merasa tak berhak menolak pertanyaan ini.

“Hidupku pas-pasan…” aku memulai ceritaku, sementara tanganku bekerja tanpa minat, “…aku tinggal bersama kedua orangtuaku serta kakak laki-laki dan adik perempuanku.

“Ayahku pegawai rendahan di sebuah pabrik sepatu, sedangan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Kakak laki-lakiku, Morgan, lebih senang menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukkan sementara adikku terlalu kecil untuk dipaksa bekerja. Hanya aku yang ayah-ibu harapkan membantu perekonomian keluarga. Jadi, di sinilah aku sekarang. Menjadi penyemir sepatu.”

Aku selesai bercerita, hanya itu saja. Rasanya tak pantas menceritakan hal sensitif seperti itu kepada orang asing, toh, ia tak bisa mengubah apa pun—hanya bersimpati.

“Apa kau punya mimpi?”

Aku terperangah, tak menduga dengan reaksi pria paruh baya itu. Mimpi? Kapan terakhir kali aku berpikir tentang mimpi? Dulu aku punya mimpi, dulu sekali, sampai-sampai aku  melupakannya.

Tak ingin dicap rendah karena tak memiliki mimpi; aku pun memandang sekitar dan mencari-cari hal yang bisa dijadikan mimpi, hingga aku menemukan seorang fotografer sedang mengambil gambar di dekatku.

“Tentu, aku punya mimpi,” jawabku buru-buru, takut ia menyadari kalau aku baru saja menemukan mimpiku secara tidak sengaja; mimpi yang tidak masuk akal, ”Aku ingin bekerja di depan kamera, dan semua orang mengenaliku.”

Pria itu terpekur sesaat; melihat si fotografer,  lantas berseru padanya.

“Hey, John! Foto aku dan anak ini!”

Aku terperanjat. Tiba-tiba saja pria pemegang kamera itu mengarahkan kamera analognya ke arah kami. Beberapa pasang mata menatap ingin tahu, sementara aku hanya menunduk dalam-dalam hingga…

Jepreeet!

Suara kamera mengambil gambar terdengar, aku masih menundukkan kepalaku sampai pria paruh baya itu menarik kakinya dan menjabat tanganku.

“Jika di masa kini kau tak bisa mewujudkan mimpimu. Aku yakin di masa yang akan datang kau akan mewujudkan mimpimu; bekerja di depan kamera.”

Pria paruh baya itu berbalik dan pergi beriringan dengan si fotografer, meninggalkanku yang terkesiap mendapati uang 100 pound telah berada di tangan.

[Drabble] Boring Guy – Special For Olvie Leonita’s Birtday

Author                  :               Benedikta Sekar (DictaVIP)

Cast                       :

–          Yong Jun Hyung (Beast/Cube Entertainment)

–          Yong Jae Soon (OC/Olvie Leonita)

Lenght                  :               Drabble—342 kata

Genre                   :               Fluff

Rate                       :               G

Disclamer            : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Yong Jun Hyung adalah member grup Beast yang didebutkan Cube Entertaiment. Sedangkan Yong Jae Soon adalah original caracter milik sahabat saya—Olvie Leonita. Sementara plot dan alur cerita adalah murni milik saya.

Sebentar lagi Hujan.

Jun Hyung menatap langit yang sewarna abu-abu dari balkon kamarnya dengan pandangan sinis. Pria itu lantas menarik napas dalam-dalam, mencoba memenuhi paru-parunya yang kecanduan nikotin dengan aroma petrichor.

Sigh, aromanya tak senikmat tembakau, keluh Jun Hyung dalam hati. Segera pria itu menyulut sebatang Marlboro Red dari dalam saku celana parasutnya dan menikmati rokok itu dalam diam.

Jun Hyung tak begitu menyukai Hujan. Banyak orang yang dengan tololnya berpendapat kalau hujan itu romantis, tapi baginya, hujan sangat jauh dari kata itu.

Masih diingatnya dengan jelas cinta pertamanya—Go Hara—kandas di hari berhujan. Gadis itu dengan dramatis berlari ke pinggir jalan, untuk menghindari dirinya yang memohon untuk mempertahankan hubungan mereka; padahal kota Seoul sedang diguyur hujan hari itu.

Hara berlari begitu kencang, dan Jun Hyung nyaris menyerah saat ia menyadari kalau hujan menderas dan mempengaruhi penglihatannya. Tapi tiba-tiba saja gadis itu berhenti dan Jun Hyung pun melakukan hal yang sama tepat dua meter di belakangnya. Mereka terdiam, mengatur napas yang terengah-engah hingga akhirnya wanita itu pun berbalik, menatap Jung Hyung dan berkata dengan nada jengkel.

“Kau pria yang membosankan! Aku bosan denganmu!”

Sigh, mengingat hal menyakitkan seperti itu membuat Jun Hyung semakin kuat menghisap rokoknya hingga tanpa sadar benda adiktif itu pun tandas. Tapi saat ingin mengambil batang rokok kedua, tiba-tiba saja sebuah tangan menyelip di antara pinggang dan lengan Jun Hyung, lalu mengambil Marlboro Red-nya dengan cepat.

No more, Jun Hyung,” kata sebuah suara di belakang tubuhnya. Suara wanita. “Sudah berapa kali kubilang berhenti merokok?”

Jun Hyung menegakkan tubuhnya, lantas menarik kedua tangan wanita itu hingga melingkar di pinggangnya.

“Aku bosan mendengar hal itu, Jae Soon. Kau yang seharusnya berhenti mengomel,” kata Jun Hyung sembari menghirup aroma kamomil di tubuh wanita bernama Jae Soon itu dalam-dalam.

“Kau pikir aku tidak bosan menegurmu terus, hah?” balas Jae Soon tak mau kalah.

 “Kalau sama-sama bosan, kenapa kita tidak berpisah saja?” kata Jun Hyung dengan nada menantang.

Mendengar apa yang Jung Hyung katakan, Jae Soon sontak tertawa. Ia pun meneratkan pelukannya pada pinggang Jun Hyung dan mencium punggung pria itu sekilas.

 ”I always enjoy my boring time with you, My Hubby,”

***

  Baca lebih lanjut

[Drabble] Wife Selling

Author             :           Benedikta Sekar arum Setyorini (DictaVIP)

Cast(s)                        :

–       Elizabeth Bennet (Pride and Prejudice/Jane Austen)

–       Fitzwilliam Darcy (Pride and Prejudice/ Jane Austen)

–       George Wickham (Pride and Prejudice/ Jane Austen)

Lenght             :           Drabble – 483 kata

Genre              :           Tragedy, Gore, Romance, AU

Rating              :           NC-17

Aready Been Posting in : The Heroine

Disclaimer       :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang mau pun honor materi. Semua tokoh dalam fanfiksi ini bukanlah milik saya, melainkan milik (almh.) Jane Austen, dalam bukunya yang berjudul Pride and Prejudice. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

“Oh, tersenyumlah Lizzy sayang…”

Napas busuk pria itu menerpa wajahku ketika ia berbicara sembari mengikat tambang di leher dan pergelangan tanganku. Kekehannya terdengar kemudian, sementara seringai bengis terpampang jelas di wajah itu.

“Kau sendiri yang meminta berpisah denganku…” ia menepuk-nepuk wajahku, lantas tertawa singkat, “…ini satu-satunya cara; kau tahu itu.”

Aku membuang muka; menghindari sentuhan tangannya. “Keparat kau, George Wickham,” desisku penuh kebencian.

George tertawa begitu nyaring, menggema di gang sempit nan lembap di sudut kota London ini.

“Yah, terserah apa katamu, yang penting sekarang…”

Srreeek!

“Arrrgh!”

“…aku harus bisa menjualmu dengan harga tinggi[i]. Hahaha!”

Aku menjerit-jerit kesakitan, George menarik leherku yang terikat tambang sekuat tenaga. Diseretnya aku dengan kasar—selayaknya sapi yang digiring ke tempat penjagalan— menuju  bar yang berada di ujung gang; tempat nasibku ditentukan.

“Teman-teman!!”

George berseru sangat nyaring sesaat setelah kami berdua berada tepat di tengah-tengah ruangan yang beraroma bir itu.

“Aku ingin menjual istriku! Adakah yang ingin membeli?!”

Pria-pria yang ada di bar ini datang mendekat, aku memaki dalam hati ketika beberapa di antara mereka mulai meraba-raba tubuhku; termasuk payudara dan bokongku. Berengsek, keparat, seandainya pria terkutuk itu tidak mengikat tanganku.

“Hey, Wickham! Kau buka dengan harga berapa?!” seorang pria bertubuh gempal membuka acara lelang; ia yang sedari tadi menyentuh payudara serta bokongku.

“50 pound!”

“Kalau begitu, kubeli 60 pound!”

“Aku naikkan 75 pound!” pria yang lain menyahut, namun pria gempal itu masih tak mau kalah hingga penawaran terus berlanjut.

Diam-diam aku menangis di dalam hati. Aku tak pernah merasa sehina ini sebagai seorang manusia, juga wanita. Harga diriku benar-benar di nilai begitu rendah; mereka melecehkanku—secara fisik mau pun mental. Namun, bagiku sama saja. Meski negeri ini di pimpin oleh seorang Ratu, namun harga diri kaumku tak pernah berubah. Tugas kami di dunia ini hanya dua; menikah dan memiliki anak.

Penawaran berhenti di 350 pound, si pria bertubuh gempal itu memberikan penawaran terakhirnya, tak ada yang mampu menawar lebih tinggi lagi. Tiba-tiba saja, sebelum pria itu mengambil kontrak yang sudah George siapkan sebelumnya, seseorang berseru….

“Kutukar Nyonya Elizabeth Wickham dengan 1000 pound!”

Seorang pria bertubuh jangkung nan  gagah muncul dari tengah kerumunan orang, merebut surat kontrak dari genggaman George dan menyimpan kertas lusuh itu di saku jasnya.

“Akan kukirim uangnya besok,” katanya dingin, tepat di wajah George. Kemudian pria itu beralih padaku. Secepat kilat ia melepas tali yang menjerat tubuhku, lantas membawaku pergi.

Sepanjang jalan menuju kereta milik pria itu aku hanya mampu menangis haru, merasakan penyesalan menyergapku penuh seluruh.

“Maafkan aku, Tuan Darcy, maafkan aku…” aku berkata ditengah-tengah tangisku, sementara pria itu tetap diam, “Seandainya aku tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini…”

Sssst…” tiba-tiba saja Tuan Darcy memotong ucapanku; genggaman tangannya mengerat, “Kau aman sekarang, Elizabeth, kau aman. Kau bersamaku.”

Tangisku semakin nyaring terdengar, penyesalan itu tetap terasa, namun kutemukan lagi diriku utuh dan berharga di tangan pria yang dulu kutolak setengah mati.


[i] Kebiasaan pria-pria Inggris untuk menjual istrinya di mulai pada abad ke-17 (dan berakhir di awal abad ke-20) sebagai satu-satunya cara untuk mengakhiri pernikahan bagi orang-orang menengah ke bawah.  Setelah memamerkan istrinya dengan tali di leher, tangan atau lengan,  suami akan menawarkan ke publik dan melakukan lelang ke penawaran tertinggi.

[Drabble] In The Next Life

Author             :           Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast (s)           :

–       Lee Seung Ri a.k.a Victory/Victor (Big Bang/YG Entertainment)

–       Kang Daesung (Big Bang/YG Entertainment)

–       Lee Seung Young (OC)

Length             :           Drabble – 486 kata

Genre              :           Romance, Angst, Pluff

Rating              :           G

Already been published in : The Heroine

Disclamer        :           Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Semua cast yang bukan OC bukanlah milik saya, melainkan dirinya sendiri, menejer dan agensi yang mendebutkan mereka. Sedangkan plot dan latar cerita ini adalah murni milik saya.

Hal pertama yang aku temukan saat tirai jendela kamarku tersingkap adalah langit yang membisikkan kemuramannya. Hujan membayang; sementara gerimis sudah turun sejak subuh. Kutempelkan kesepuluh jariku pada kosen jendela dan mendapati udara dingin di luar sana menembus pori-pori kulitku.

“Kumohon, jangan hujan…” bisikku pada udara, membentuk sepotong embun di kaca jendela.

Honey! Are you ready now?

Yeah, wait a minute!” seruku, menyahut suara bariton pria yang tengah menungguku di lantai dasar.

Setelah menyambar sebuket bunga anyelir di atas ranjang, aku pun buru-buru ke luar kamar; menghampiri pria yang sudah siap dengan kemeja hitam dan celana panjang katunnya. Saat melihatku, pria itu tersenyum lebar dan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang bisa kutebak apa itu…

Yes, I look beautiful. Thank you, Victor.

Semburat wajah tampan itu mendadak muram; tak suka kalau aku melakukan hal itu.

“Oh, Come on, nanti keburu hujan,” kataku buru-buru sembari menggenggam tangan pria berkantung mata gelap itu erat dan mengiringya menuju Porsche 997 yang sudah terparkir di depan rumah.

Sepanjang perjalanan aku dan Victor tak bicara. Keheningan yang merengkuh kata entah mengapa membuat perasaanku tenang; membawaku mengarungi kenangan yang  tersimpan rapi di hatiku.

 

“Jiwa kita memang akan terpisah, Seung Young… tapi kau harus ingat, setiap jengkal langkah yang kau ambil untuk berbahagia tanpaku adalah kebahagiaan untukku juga.”

“Mungkin di kehidupan yang sekarang aku tak bisa membahagiakanmu, tapi aku yakin, yang berikutnya tak akan seperti ini.”

Aku tersenyum getir, sembari menggenggam buket anyelir di pangkuanku semakin erat; mengingat kalimat-kalimat yang diutarakan seorang pria sekarat untuk menghibur kekasihnya yang bersedih.

“Kita sudah sampai.”

Mesin mobil telah mati, aku pun keluar dari mobil saat Victor membuka pintu untukku. Aku dan pria itu melangkah beriringan di kompleks pemakaman tua yang terlihat terawat ini, hingga kami pun tiba di depan sebuah pusara dengan patung malaikat di kedua sisinya.

 

Beristirahat dalam damai

Kang Daesung

1989 – 20XX

 

Kupandang nanar tulisan yang terukir indah di tengah-tengah pusara itu; getaran itu masih saja terasa hangat tiap kali aku menyebut namanya. Entah melisankannya secara verbal atau pun hanya di dalam hati. Perlahan-lahan aku meletakkan buket anyelir di dalam pelukanku ke depan pusara itu lantas berlutut dan membuat tanda salib; mendoakan jiwa yang telah terpisah denganku itu setulus hati.

“Kau sudah selesai berdoa, Seung Young?”

Baru saja aku membuat tanda salib untuk menutup doa, suara Victor langsung menyeruak masuk ke rongga pendengaranku; aku mulai tidak suka dengan tingkahnya yang mengisyaratkan kecemburuan seperti itu.

“Berhentilah cemburu pada orang yang sudah meninggal, Victor,” sahutku lalu berdiri bersisian dengan pria itu.

“Aku tidak cemburu,” elak Victor, lantas melirikku sekilas sebelum kembali menatap pusara Daesung lekat-lekat, “Aku hanya ingin mengingatkan kalau aku tak akan menyerahkanmu pada siapa pun meski di kehidupan yang akan datang, bahkan kepada cinta pertamamu ini;  hanya aku yang dapat membahagiakanmu.”

Mendengar apa yang Victor katakan aku pun tergelak, menatap geli ke arahnya sembari menautkan jari manis kami yang disemati cincin platina; benda yang menjadi saksi bisu ketika Tuhan menyatukan tubuh kami menjadi satu.

 

 

 

[Drabble] Karena Itu Kamu

Author             : Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast(s)                        :

–       Benedikta Sekar (Tokoh 3/The Heroine)

–       Aoi Yamaguchi (Tokoh 1/The Heroine)

–       Sora Yamamoto (Tokoh 2/The Heroine)

Lenght             : Drabble – 437

Genre              : Romance, Fluff

Rating              : G

Already been published in : The Heroine

Disclaimer       : Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan (fan)fiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Semua tokoh adalah milik dirinya sendiri. Saya hanya memberi mereka nama dan penokohan sesuai imajinasi saya, sama halnya plot dan latar (fan)fiksi ini

Aku memandang geli pada lembar demi lembar kertas-kertas foto di tanganku, ada sedikit rasa malu di hatiku saat menyadari kalau objek utama di dalam semua foto itu adalah aku – foto itu diambil tanpa kusadari, dan benar-benar terkejut karena aku tampak cantik di sana.

“Aku datang hanya untuk menyerahkan ini padamu.”

“Apa ini?”

“Foto.”

“Foto? Aku tidak ingat kalau aku pernah meminta foto padamu.”

“…”

“Hey, Sora, kenapa kau tersenyum aneh seperti itu?”

“Tidak apa-apa… Aku hanya ingin bilang kalau foto ini milikmu, Dicta-san, karena kaulah objeknya. Errr… maaf karena mengambil fotomu sembarangan. Aku hanya ingin mengabadikan waktu yang menurutku terlalu indah untuk dilewatkan.”

Senyumku langsung berubah menjadi kekehan tatkala mengingat kejadian yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu; aku tak pernah menyangka kalau aku akan mengalami kejadian seperti di dalam novel roman picisan.

“Hey! Kau ingin makan gaji buta, ya!?”

Aku tersentak lantas menoleh ke arah samping, mendapati raut jengkel dari seorang remaja laki-laki berumur 18 tahun yang sedari tadi berkutat dengan buku pelajarannya.

“Aku tidak makan gaji buta,” aku buru-buru membantah, “Kau kan sedang sibuk mengerjakan soal yang aku berikan. Jadi aku punya waktu untuk mengerjakan urusanku sendiri.”

Remaja laki-laki bernama Aoi itu menggeram kesal sembari menggeser buku dengan kasar ke hadapanku. “Aku sudah selesai!”

Kulempar senyum puas ke arah Aoi, lalu memeriksa jawabannya. “Nomor tiga dan lima salah, seharusnya kau menggunakan rumus yang ini. Kerjakan ulang!” Aku menarik buku kumpulan rumus di hadapanku dan menunjuk persamaan matematika yang kumaksud; Aoi hanya mengangguk enggan dan mengambil bukunya kembali.

“Hey, apa kau benar-benar menyukai fotografer itu?”

Aku menoleh ke arah Aoi dan mendapati laki-laki berambut acak-acakan itu juga menatapku.

“Maksudmu Sora?” Aoi diam saja dan aku hanya tersenyum. ”Dia pria yang baik, juga perhatian; aku pun baru tahu ia juga cukup romantis. Jadi… yeah, I like him.

Aoi tak menanggapi ucapanku, ia sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tiba-tiba saja laki-laki itu menggenggam jemari tanganku erat dan membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat .

“Jika aku menjadi orang baik dan juga perhatian, lalu melakukan hal-hal romantis padamu, apa kau akan menyukaiku juga?”

Aku terperanjat, mendapati kesungguhan di mata laki-laki itu. Aoi mengeratkan genggamannya, mengisyaratkan kalau ia mengharapkan jawaban dariku sekarang.

“Kurasa tidak…” jawabku akhirnya, dan saat laki-laki itu ingin melepaskan genggaman tangannya aku pun buru-buru menambahkan, “…aku akan menyukaimu karena itu dirimu, bukan karena kau berubah menjadi orang lain atau semacamnya.” Kulebarkan senyumku dan memandang Aoi lekat, “Lagipula, kau cukup baik padaku, meskipun kau cuek aku juga tahu kau perhatian dan soal romantis… hahaha, bukankah menggenggam tanganku seperti ini juga romantis, Bocah?”

Aoi terkesiap, kedua mata sipitnya melebar dan dalam sekejap aku pun jatuh dalam pelukannya.

 

 

 

[Drabble] Future 2NE1

Author                  :               Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast (s)                 :

–          Choi Seung Hyun/TOP (Big Bang/YG Entertainment)

–          Gong Min Ji (Big Bang/YG Entertainment)

Length                  :               Drabble – 412 kata

Genre                   :               Fluff

Rate                       :               G

Disclamer            :               Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau honor materi. Semua cast yang bukan OC bukanlah milik saya. Melainkan milik dirinya sendiri, menejer dan agensi yang mendebutkan mereka. Sementara plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya sendiri.

Future 2NE1, huh?”

Aku memandang halaman Youtube di layar laptop gadis yang tengah duduk membelakangiku itu dengan pandangan bingung.

“Kerjaan YG, Oppa,” jawab gadis berambut pendek sebahu itu ketus, kentara sekali kalau ia tidak senang dengan title video itu.

“Ah, YG memang suka begitu, abaikan saja,” sahutku tak acuh, sembari mengambil tempat duduk di hadapan gadis itu.

“Aku tak suka dibandingkan,” kata gadis itu lagi, lantas mematikan laptop dan memasukkan benda persegi itu ke dalam tas ransel yang berada di samping tempat duduknya, “Rasanya tidak adil,” tambahnya.

Aku tertawa singkat, “Seharusnya mereka yang berkata seperti itu, Min Ji.”

Gadis bernama Min Ji itu diam saja, menopang dagu lancipnya dengan satu tangan. “Aku benci mengakui ini, tapi mereka memang hebat.” Min Ji mendesah berat, lalu menatapku lekat, “Empat tahun lagi… apa yang terjadi pada 2NE1, TOP oppa?”

Aku mengangkat bahu. “Mana kutahu? Kalian sendiri yang menentukan hal itu, bukan?”

Min Ji diam lagi dan tersenyum ke arahku. “Benar, masa depan memang ditentukan oleh kami sendiri; bukan orang lain.”

Aku tak membalas ucapan Min Ji, dan gadis itu pun tak berbicara lagi – kami tenggelam dalam keheningan kafetaria mewah gedung YG Entertainment. Tapi lama-kelamaan, aku pun mulai muak dengan keheningan ini.

“Hei, aku datang jauh-jauh begini tidak untuk berbicara dengan angin.”

Min Ji tersentak dan menatapku lurus-lurus, senyumnya kembali terlihat meski kutahu agak dipaksakan. “Mian, Oppa…” Gadis itu berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arahku, kemudian mengecup pipiku sekilas, “Aku merindukanmu,” bisiknya; aku mengulum senyum.

“Bagaimana persiapan comeback kalian?”

“Hampir selesai,” jawabnya singkat, masih terdengar muram.

Aku memandang gadis itu frustasi, tak suka melihat wajahnya seperti itu. “Hei, kau masih memikirkan video itu?”

Min Ji tersenyum miris. “Sedikit,” jawab Min Ji, “Tapi sebenarnya aku lebih memikirkan masa depanku…”

“Masa depanmu?”

Gadis itu mengangguk dan kembali bertopang dagu. “Pasti ada kalanya aku berhenti dan tak mungkin bisa menyanyi lagi, bukan?” aku mengangguk mengiyakan; Min Ji pun melanjutkan, “Dan ketika saat itu tiba… Apa lagi yang bisa aku lakukan? Bagaimana jadinya aku nanti? Bagaimana nasibku? Hah, semua pikiran itu mulai memenuhi kepalaku dan membuatku jengkel, Oppa.”

Aku tersenyum menenangkan dan mengusap wajah gadisku itu penuh sayang, “Itu masalah gampang…” Min Ji memandangku lekat-lekat, bingung dengan perkataanku barusan. “Saat kau sudah tidak bisa bernyanyi lagi, lelah dengan segala ingar-bingar dunia keartisan ini dan bingung apa lagi yang harus kau lakukan…

“Jadilah istriku.”

Mata sipit Min Ji terbuka sangat lebar dan menatapku tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Sementara aku hanya terkekeh pelan dan melebarkan senyum ke arahnya.

“Gampang, ‘kan?”

[Drabble] Eomma, Aku Juga Ingin Bermain

Author             : Benedikta Sekar Arum Setyorini (Sekar Arum)

Cast(s)                        :

–       Choi Min Ho (Shinee/SM Entertainment)

–       Min Ho’s Eomma (OC/Bubble-The Heroine)

Lenght             : Drabble – 471 kata

Genre              : Psy-thriller, Gore

Rating              : NC 17

Status              : Prekuel Endless Qualm/Bubble-The Heroine

Endless Qualm (part 1 of 4)

Endless Qualm (part 2 of 4)

Endless Qualm (Part 3 of 4)

Endless Qualm (part 4 of 4)

Already been published in: The Heroine

Disclaimer       : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau honor materi. Choi Min Ho adalah milik dirinya sendiri, menejer dan SM Entertainment yang mendebutkannya. Cerita utama – Endless Qualm adalah milik Bubble, salah satu pengajar di The Heroine, termasuk tokoh OC yang ada di dalam cerita. Namun, Plot, alur dan latar dalam fanfiksi ini adalah murni milik saya sendiri.

Min Ho tahu ia tak seharusnya mengintip apa yang eomma-nya lakukan di gudang belakang; meski berkali-kali sudah diperingatkan untuk tidak melihat, tapi laki-laki berumur 18 tahun itu terlalu bebal untuk menurut.

Sekarang ia ada di sini, memandang eomma-nya memukuli seekor kelinci menggunakan palu dari balik celah pintu yang tidak terkunci. Ia tak memiliki gagasan apa-apaatas dasar apa eomma-nya melakukan hal itu. Tapi anehnya, Min Ho tak sedikit pun  merasa jijik melihat

Kedua iris tembaga Min Ho mengikuti dengan saksama setiap gerakkan memukul yang dilakukan eomma-nya, darah kelinci yang berceceran dan bercipratan di mana-mana begitu menyita perhatiannya. Ia bisa melihat bagaimana wajah wanita terlihat sangat menikmati kegiatan mengerikan itu, dan entah mengapa, ia merasakan hal yang sama.

“Min Ho-ya,” Laki-laki bertubuh jangkung itu terperanjat kemudian mundur beberapa langkah ketika mendengar suara lembut milik eomma-nya. Sebutir keringat dingin menetes dari pelipisnya, jantungnya berdegup kencang. “Eomma tahu kamu ada di depan pintu.”

Krrrek…

Pintu kayu di depan Min Ho perlahan-lahan terbuka dan eomma-nya pun muncul  sembari mengangkat palu yang berlumuran darah di tangannya. Eomma Min Ho tersenyum lebar, ekspresi wajahnya tak menunjukan rasa marah sedikit pun; malah cenderung terlihat senang.

“Kamu ingin coba juga?” Eomma Min Ho menyodorkan palu berlumuran darah di tangannya ke arah Min Ho sembari melebarkan senyum.

Untuk sesaat Min Ho ragu, namun ia tak bisa menahan gelegak aneh di dalam dirinya. Hingga ia pun mengambil palu itu dan tiba-tiba saja merasa ingin berbuat sesuatu yang mengerikan dengan benda itu.

“Masuklah. Eomma punya banyak mainan.” Eomma Min Ho menyingkir sedikit, memberikan ruang  pada Min Ho. Dan setelah anak sulungnya itu masuk, ia pun menutup pintu.

Bau anyir darah yang bercampur dengan bau busuk bangkai langsung memenuhi rongga penciuman Min Ho, matanya mengitari gudang  sebesar tiga meter persegi itu dengan pandangan ngeri; cahaya remang-remang menambah suasana yang kian mencekam. Namun, ketika Min Ho melihat eomma-nya mengganti kelinci yang baru saja dibunuh dengan kelinci yang baru, ia mulai merasa tidak sabar ingin mengayunkan palu ke arah makhluk mungil berbulu putih bersih itu.

“Ayo, pukul saja, eomma yakin kamu pasti senang.”

Min Ho melirik eomma-nya sekilas dan mendapati wanita itu tersenyum lebar, kemudian tanpa ragu ia menghantamkan palu di tangannya ke arah kelinci yang ada di atas meja. Ketika kelinci itu mencicit kesakitan, entah mengapa Min Ho semakin bersemangat menghantamkan palunya.

“Kau ingin bermain yang lain, Min Ho?”

Min Ho berhenti bergerak dan menoleh ke arah eomma-nya, ia pun tersenyum lantas mengangguk.

“Eomma sudah bosan dengan binatang-binatang ini…” Wanita itu berjalan menuju jendela dan memandang ke luar, “Apa kamu ingin bermain dengan mainan itu?”

Min Ho pun ikut melihat ke luar jendela, ada appa dan dongsaeng perempuannya sedang bercengkerama di salah satu sudut halaman belakang ini. Melihat hal itu, Min Ho pun tersenyum lebar; sudah lama ia ingin melakukan sesuatu pada wajah mulus milik dongsaeng-nya itu.

“Ya, Eomma, aku juga ingin bermain…”

 

 

 

[Drabble] Omnia Vicit Amore

Author             : Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast(s)                        :

–       Choi Jong Woon (tokoh 2/The Heroine)

–       Lee Seung Young (tokoh 3/The Heroine)

–       Kim Paul (tokoh 1/The Heroine)

Lenght             : Drabble – 481 kata

Genre              : Spiritual

Rating              : G

Already been published in: The Heroine

Disclaimer       : Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan (fan)fiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Semua tokoh adalah milik dirinya sendiri. Saya hanya memberi mereka nama dan penokohan sesuai imajinasi saya, sama halnya plot dan latar (fan)fiksi ini

“Dosa saya hanya satu, saya membenci hidup saya.”

Choi Jong Woon menatap secarik kertas buram di tangannya dengan gusar. Ini bukan penitensi[1] yang ia harapkan saat memutuskan untuk mengaku dosa setelah sekian tahun terjerembab dalam kemaksiatan. Hanya selembar kertas bertuliskan ‘Omnia Vicit Amore’[2] dan perintah…

 

“Ambil kertas ini dan bacalah, penitensi Saudara adalah berjalan-jalan di sekitar bangunan Gereja ini dan merenungkan hidup Saudara.”

…dari pastor yang menjadi tempatnya menjalani Sakramen Tobat di bilik pengakuan dosa.

Mata tembaga Jong Woon kembali menilik tulisan pada kertas itu kalau-kalau ada yang ia lewatkan, tapi benda itu tak ada bedanya; tetap lecek dan bertuliskan kalimat yang sama.

Hah, apa-apaan ini… Pria yang berbalutkan kemeja hitam dan celana jins itu mulai mengeluh dalam hati. Ia melemparkan pandangan ke sekitar, berharap taman gereja bisa membantunya membuang rasa mangkel pada penitensi aneh ini, tapi sayang,  ia hanya menemukan seorang wanita yang tengah bermain bersama anak-anak kecil dan bunga-bunga bakung berwarna putih pucat; sungguh tak menarik.

Dengan kesal Jong Woon meremukkan kertas itu dan membuangnya ke sembarang arah. Ia pun melangkah lagi.

Sambil berjalan, Jong Woon mulai merenungi hidupnya yang hancur. Tatkala ia terjerumus dalam lembah hitam kota Seoul; serpihan  memori buruk itu tak ayal berkelebat di benaknya. Ia masih tak habis pikir bagaimana bisa ia terjerat hal-hal seperti itu. Memang dia yang salah karena tak bisa menjaga diri, tapi sebuah pikiran egois berpendapat, itu karena Tuhan telah meninggalkannya…

“Hei, Tuan, ini milik Anda?”

Secepat kilat Jong Woon berbalik dan menemukan wanita yang tadi bermain bersama anak-anak kecil telah berada di depannya.

Jong Woon melihat wanita bertubuh lampai itu mengangkat kertas buram yang dibuangnya dan mengangguk. “Benar, aku membuangnya karena tidak berguna. Siapa kau?”

Wanita itu tersenyum dan maju mendekati Jong Woon. “Namaku Lee Seung Young, aku pengasuh Panti Asuhan Santa Monica yang dikelola gereja ini. Anda?”

“Choi Jong Woon, bukan siapa-siapa.”

“Dari mana Anda mendapatkan kertas ini?” tanya wanita bernama Seung Young itu lagi.

“Pastor di bilik penebusan dosa yang memberiku. Aku tak tahu maksudnya, jadi kubuang saja,” jawab Jong Woon ketus.

Seung Young terkekeh geli. “Pastor Paul memang selalu mempunyai cara unik untuk memberikan penitensi bagi orang-orang seperti Anda.”

Dahi Jong Woon berkerut dalam, “Maksudmu?”

“Apa Anda menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi pada hidup Anda?” Seung Young malah balik bertanya.

Jong Woon bungkam; wanita itu pun tersenyum.

“Satu Korintus, bab 13 ayat 13…” Seung Young melipat kertas itu; membentuk sebuah hati yang begitu rapi seraya meraih satu tangan Jong Woon dan meletakannya di telapak tangan pria itu.

“Apa-apaan ini? Kau tahu maksud tulisan itu?” tanya Jong Woon tidak sabaran; ia butuh penjelasan.

Kedua tangan Seung Young mendorong tangan Jong Woon hingga ke depan dada, lantas melebarkan senyum, dan menatap pria itu lekat dengan mata kelabunya.

“Kasih… mengalahkan segalanya.”

Jong Woon terkesiap, kedua mata sipitnya melebar dan balas menatap Seung Young takjub. Seketika itu juga semua terasa jelas, kalimat itu cukup untuk membuat Jong Woon sadar akan satu hal penting. Tuhan tidak meninggalkannya…

…Tuhan mengasihinya.

_____________

[1]Dalam Gereja Katolik, penitensi adalah denda yang diberikan bagi para pengaku dosa sebagai ganjaran atas apa yang telah mereka lakukan dengan harapan hal tersebut mampu membuat si Pengaku Dosa menyesali perbuatannya. Penitensi kebanyakan berupa doa, namun tak jarang pastor memberikan penitensi berupa perbuatan atau hal yang harus dilakukan.

[2](bahasa Latin) 1 Kor 13: 13 “Kasih mengalahkan segalanya”

 

 

 

[Drabble] Karena Aku Seorang Ibu

Author             : Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast                 :

–          Naruto Uzumaki (Naruto/Masashi Kisimoto)

Lenght             : Drabble – (497 kata)

Genre              : Spiritual, Family

Rating              : G

Already been published in : The Heroine

Disclaimer       : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Naruto Uzumaki adalah tokoh komik (Naruto) karangan Masashi Kisimoto. Sedangkan plot dan latar adalah murni dari imajinasi saya.

“Aku benci ibu!”

Sraaak! Bruk!

Naruto Uzumaki berlari ke luar dari balik pintu tempat pemandian air panas. Kedua tangan bocah lelaki berambut oranye itu mencengkram keras-keras ujung parka-nya, berusaha keras menahan tangis. Naruto tak menghiraukan salju yang menyelimuti Desa Tazawako, Prefektur Akita tempat tinggal dengan warna putih; dia hanya ingin menjauh dari sini.

Tanpa sadar, kedua kaki Naruto membawanya menuju sebuah kapel kecil yang berjarak 500 meter dari pemandian air panas milik keluarganya dan memutuskan untuk bersembunyi. Ibunya tak pernah tahu kalau ia selalu bersembunyi di kapel itu.

Setibanya di dalam, Naruto melesakan tubuhnya di bawah patung seorang wanita dan menangis di sana. Hari ini ibu memarahinya karena ia berkelahi dengan teman-teman. Padahal kenyataannya dia tidak salah, dia hanya membela seorang teman yang ditindas! Dan ibu malah memarahinya.

“Kau bertengkar dengan ibumu lagi, Naruto?”

Naruto tersentak, refleks mendongakkan kepala untuk mencari sumber suara itu. Seorang wanita berdiri di depannya. Dia mengenakan baju putih panjang dengan secarik kain biru melingkar di pinggangnya. Rambutnya panjang dan ditutupi kerudung sewarna langit hingga Naruto tak dapat melihat wajah wanita itu lebih jelas.

“Aku benci ibu,” sahut Naruto ketus; membuang muka.

Wanita itu tersenyum dan menyibak ujung gaunnya yang menyapu lantai, sembari menempatkan dirinya di samping Naruto . “Jangan membenci ibumu Naruto, dia sangat sayang padamu,” sahut wanita itu.

“Memangnya Anda tahu apa tentang ibuku? Jangan sok tahu!”

“Tentu saja Aku tahu; Aku juga memiliki seorang anak…,” Nada suaranya begitu tenang dan lembut, siring usapan jemarinya di sela-sela halai rambut bocah itu, “Dia memang tidak nakal sepertimu, tapi Anakku suka melakukan hal-hal yang menentang tradisi.”

Naruto bungkam. Iris hazel wanita ini memancarkan aura yang mampu menenangkan jiwa dan membuatnya berhenti menangis.

“Anakku suka mencari perhatian orang-orang banyak dan pergi ke tempat yang jauh,” wanita itu merangkul tubuh Naruto perlahan. “Dia telah banyak melakukan perbuatan baik. Melindungi si Lemah dan memaafkan si Jahat; cinta kasih, itu perinsip hidup-Nya.

“Namun orang-orang pendengki yang merasa hidup mereka terancam berusaha menghancurkan Anakku.” Suara wanita itu berubah lirih, “Mereka menuduh Anakku dengan tuduhan yang tidak benar dan menghukum-Nya dengan dera dan siksa.”

Naruto mengangkat wajah dan memandang wanita itu lekat, menunjukan keprihatinannya.

“Kamu tak akan tahu bagaimana rasanya menjadi diri-Ku, Naruto.” Wanita itu berdiri dan memandang Naruto, “Bayangkan, Anakku jatuh tiga kali di bawah balok kayu yang Ia pikul dan aku hanya bisa menangisi penderitaan-Nya; rasanya sangat menyakitkan. Saat melihat Anakku menderita, aku mulai menyalahkan diri-Ku sendiri. Andai saja Aku melarang-Nya berbuat hal-hal itu, Ia pasti baik-baik saja.

“Ibumu berada di posisi yang sama dengan-Ku, Naruto,” wanita itu melanjutkan, “Ia hanya ingin melindungimu. Ibumu takut kamu mendapatkan banyak kesulitan akibat perbuatanmu dan ia… tak mampu menolong.”

Naruto terkesiap. Pikiran dan hatinya seketika itu terbuka; penyesalan menyergap. “Kenapa Anda menghiburku?”

Wanita itu menuntunnya berdiri dan membalikkan tubuh, Naruto terperanjat akan kemiripannya dengan patung di atas mereka berdua duduk.

“Karena Aku seorang ibu…”

Saat Naruto berbalik kembali, wanita berpakaian putih itu telah menghilang. Ia mencari-cari, namun yang ditemukannya hanyalah ukiran nama di bawah patung itu bertuliskan…

Bunda Maria