[Fanfiction/Oneshot] The One and Only

cunddle1

Title                       :               The One and Only

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (IKON / YG Entertainment)

–          Lee Seung Young (Original Character)

Lenght                  :               oneshot

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               NC-17

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast kecuali OC bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

===

“Berapa umurmu saat kau menikah dulu?”

Lee Seung Young menyeringai, lalu menggeliat malas sembari merengsek masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh tanpa busananya. Pria yang berbaring di sampingnya itu pun turut masuk ke dalam selimut, melekatkan tubuh mereka bersama dan memeluk wanita itu dari belakang. Sejenak Seung Young merasakan tengkuknya geli karena pria itu kembali menciumi sisa-sisa keringat permainan mereka, sebelum akhirnya pertanyaan itu pun diajukan lagi karena Seung Young tak jua menjawabnya.

“Apa kau menikah karena ‘kecelakaan’?”

Seung Young pun terkekeh, geli karena pria itu tak mau menyerah untuk mengorek masa lalunya.

“Untuk apa mencari tahu, Chanwoo-ya?” Seung Young balas bertanya. Ia menarik jemari pria bernama lengkap Jung Chanwoo itu dan menciumnya mesra. Aroma tembakau menguar dari sana, dan Seung Young menyukainya meski ia bukan perokok.

“Bukankah itu normal?” Chanwoo mengusap cambangnya yg belum sempat ia cukur di punggung Seung Young, kembali menghirup parfume mawar yang selalu membuatnya kepalang sakau untuk menerjang wanita itu ke atas kasur. “Aku kekasihmu, aku ingin tahu tentangmu.”

Mendengar Chanwoo yang terkesan memberengut, Seung Young pun tergelak dan menepuk-nepuk pipi pria itu yang kini menempel di sisi kepalanya.

“Don’t be so rush, Young Man…” sahut Seung Young dan Chanwoo pun mengerang kesal.

“Don’t treat me like a kid.” Chanwoo menggigit telinga Seung Young gemas dan Seung Young pun semakin nyaring tertawa. “Aku sudah 24 tahun,” imbuh Chanwoo.

“Dan aku 40,” timpal Seung Young buru-buru. “Apa yang bisa menahanku untuk tidak memandangmu sebagai anak-anak?”

Dan Chanwoo pun bungkam; tak pernah berhasil memenangkan permainan adu mulut ini barang sekali. Sementara itu, Seung Young pun membiarkan hening merajai di antara mereka sembari terus mengecup jemari yang beberapa saat yang lalu menjelajahi tubuhnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasakan sensasi itu, bibir yang berpagut, dada yang berdebar, desahan  yang meracau di udara, serta puncak birahi yang nikmatnya tiada tara. Seumur hidup masa mudanya ia hanya bercinta dengan satu pria dan bersama dengan pria itu ia membangun keluarga serta memiliki seorang anak. Cinta benar-benar membutakannya, tapi tetap saja, tak pernah sekali pun ia menyesali keputusannya kawin lari kala itu.

“18 tahun.”

“Huh?”

“Umurku baru 18 tahun saat kami menikah.”

Chanwoo mengerjap, mengangkat wajahnya sedikit untuk memandang wanita itu dan berharap menemukan cengiran jenaka di sana. Tapi tidak, Chanwoo tak salah dengar dan Seung Young serius dengan ucapannya.

“Tapi aku tidak menikah dengannya karena ‘kecelakaan’.” Seung Young kembali menerangkan dan Chanwoo pun mendengarkan sembari mengeratkan pelukannya. “Hyun Ra lahir tepat di hari ulang tahunku yang ke-20, ia kado terindah dari Tuhan di umurku yang baru menginjak dua puluhan.”

“Tapi… kenapa?” Chanwoo tak kuasa bertanya, pikirannya masih merasa kalau apa yang dikatakan Seung Young itu hal paling absrud yang pernah didengarnya. Tapi, mengingat umur Hyun Ra yang hanya terpaut tiga tahun lebih muda darinya, rasanya semua menjadi masuk akal.

Mendengar pertanyaan yang barang tentu selalu terlontar dari orang-orang yang ia kisahkan tentang sejarah hidupnya, Seung Young pun tersenyum. Lalu, perlahan ia berbalik hingga matanya berpadu dengan mata Chanwoo yang masih menyisakan sorot tak percaya. Sejenak Seung Young memandang wajah di hadapannya ini lekat-lekat, sebelum akhirnya kembali menjawab pertanyaan yang Chanwoo lontarkan.

“Aku masih muda. Cinta menyapaku terlalu dini dan aku tak bisa berbuat apa pun selain menerimanya.” Seung Young merapatkan tubuhnya pada Chanwoo, menempelkan dahi mereka satu sama lain dan keintiman kembali terjalin di antara mereka. “Saat pertama kali aku mengenalnya, aku langsung tahu, he’s the one. The one and only. I don’t want nobody else but him.

Baca lebih lanjut

[Fanfiction/Chaptered] Part 2: Trilogy – Wait For Me

chanwoo_iKON

Title                       :               Wait For Me

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (YG Entertainment’s Trainee/IKON /Mix&Match)

–          Liz (Original Character)

Lenght                  :               Chaptered – 2/3

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

Note:

Fanfiction ini di buat berdasarkan survival program kerja sama antara YG Entertainment dan Mnet, yaitu Mix and Match

000

Apa yang terjalin di antara Jung Chanwoo dan Liz tidak pernah bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada kalanya, kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing hingga diam pun menjadi satu-satunya cara untuk ditunjukkan. Chanwoo tak pernah terkejut ketika menemukan dirinya merasa begitu nyaman berada di samping Liz, begitu pula gadis punkie itu, yang tidak menyangka laki-laki ‘tenang’ seperti Chanwoo bisa menerima prilaku urakannya dengan santai. Bersama mereka menemukan kenyamanan, bersama mereka menemukan potongan puzzle yang sepertinya telah lama hilang. Namun, jika dengan bersama mereka hanya menjadi lengkap tanpa mengerti arti dari kelengkapan itu, hidup pun punya cara tersendiri untuk membuat mereka mengerti.

“Tunggu aku.”

Chanwoo meremas jemari Liz erat dan gadis itu pun tersenyum, menangkap mata Chanwoo dengan kilat-kilat kebahagiaan yang tersembunyi di balik air mata. Liz tidak terisak, tapi ia menangis. Ia turut bahagia, tapi air mata tak mau berhenti mengalir. Kata-kata tak pernah berhasil mengungkapkan perasaannya, jadi ia hanya diam dan menangis. Berharap Chanwoo mengerti hatinya tengah bergumul dengan hebat.

Liz pikir ia gadis yang kuat karena sejak awal ia telah mempersiapkan diri jika momen ini tiba. Tapi tetap saja, kenyataan selalu lebih pahit dari bayangannya. Ia benci harus mengucapkan selamat tinggal, karena selamat tinggal selalu menghantarkan orang-orang yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya.

“Tunggu aku, aku pasti kembali,” ulang Chanwoo, kata-katanya terdengar tegas dan meyakinkan, meski ia sendiri tahu jauh di dalam hatinya ada begitu banyak kekhawatiran, kesedihan dan ketidakpastian yang menggerogoti masa depannya.

Sementara itu, air mata masih meleleh di wajah Liz, celak hitamnya luntur merusak make up malam itu. Tapi untaian senyum masih menghiasi dan Chanwoo tahu gadis itu baik-baik saja. Chanwoo pun balas tersenyum, ia sadar kalau ia tidak perlu berkata apa pun lagi. Seperti biasa, kata-kata tak pernah bekerja untuk mereka, jadi laki-laki itu memilih untuk menarik Liz dalam pelukannya dan menenggelamkan tubuh mungil itu di dadanya. Ia yakin kaos putihnya akan kotor oleh make-up Liz yang luntur. Tapi tak mengapa, ia bisa mencuci bajunya hingga bersih, tapi momen ini tak akan pernah bisa ia hapus untuk selamanya.

Sampai kutemukan jalanku, sampai kugapai mimpiku, tunggu aku Liz, tunggu aku hingga saat takdir memperbolehkan kita bertemu kembali dan akan kukatakan semua yang ingin kaudengar dariku. Chanwoo berbisik di dalam hati, mengeratkan pelukkannya sembari mengecup ubun-ubun gadis itu lembut. Pelan-pelan tetes- tetes air mengalir di sudut matanya, tapi Chanwoo tidak terisak, ia tersenyum. Chanwoo bahagia, tapi ia hanya ingin menangis karena ia tahu kalau ia tak akan bertemu lagi dengan gadis dalam pelukannya ini untuk waktu yang lama.

Sangat lama.

Baca lebih lanjut

[Fanfiction/Chaptered] Part 1: Trilogy – CLIMAX

BwvzdGzCAAEg7kW[1]

Title                       :               Climax

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (YG Entertainment’s Trainee/IKON wannabe/Mix&Match)

–          Liz (Original Character)

Lenght                  :               Chaptered – 1/3

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

Note:

Fanfiction ini di buat berdasarkan survival program kerja sama antara YG Entertainment dan Mnet, yaitu Mix and Match

===

Jung Chanwoo tak pernah tahu bahwa bagaimana rasanya memiliki sesuatu. Sejak kecil, ia hanya mengenal dengung kamera yang berputar mengelilinginya dan menuntut objek terbaik yang bisa ditangkap. Kamera sudah menjadi benda yang merekam hidupnya dan ia merasa hidupnya telah dimiliki oleh kamera-kamera itu. Ya, ia tak memiliki apa pun, kamera telah merebut semua darinya, masa kanak-kanaknya, teman-temannya, serta kemampuannya untuk bermimpi.

Heh? Mimpi?

Hahaha. Sejak kapan ia punya mimpi? Ayahnya mengira berpolah di depan kamera adalah mimpinya, tapi Chanwoo tak pernah merasa kalau ia menginginkan hal itu. Kala itu, umurnya baru 10 tahun, ia tengah digandeng ayahnya di sepanjang Apgujeong-dong untuk menghabiskan akhir pekan yang jarang sekali mereka nikmati bersama. Tiba-tiba seseorang menegur mereka, pria itu berbicara begitu bersemangat sembari menunjuknya dengan mata berbinar, ayahnya pun tersipu lalu tertawa.

Chanwoo menahan napasnya sejenak dan turut tersenyum pada pria yang telah membuat ayahnya tertawa itu. Ia jarang melihat ayahnya tersipu dan tertawa, semenjak ibunya menyerah pada kanker dan meninggalkan mereka, ayah terasa begitu jauh. Chanwoo yakin ayah ingin menenggelamkan kesedihan tentang ibu bersama pekerjaannya, jadi ia tak pernah protes  atau menuntut macam-macam, ia ingin jadi anak yang baik dan patuh agar ayahnya tidak merasa sedih. Apa pun akan ia lakukan agar ayah bisa tertawa lagi bersamanya seperti dulu.

‘Chanwoo-ya, mulai besok kau akan belajar akting di depan kamera.’ Suatu ketika—setelah pertemuan dengan pria di Aphujong-dong itu—ayah berkata padanya sambil tersenyum begitu lebar, matanya berbinar senang dengan bias kebanggaan di sana. Chanwoo tak mengerti apa itu ‘belajar akting’ tapi melihat wajah ayahnya, ia yakin kalau itu satu-satunya kesempatan baginya untuk membuat pria paruh baya bertubuh gempal itu bahagia.

‘Ya, Ayah! Aku akan belajar akting!’ sahutnya penuh semangat, dan ayahnya pun tertawa senang sembari memeluknya. Chanwoo benar-benar tak akan pernah melupakan hari itu, karena mulai detik itu ia telah melupakan kepentingan dirinya sendiri demi senyum bangga ayahnya.

“Chanwoo-ya on set!”

Lamunan Chanwoo buyar tatkala suara lantang sutradara drama tempatnya beperan sebagai cameo memanggilnya. Ia pun langsung berdiri dan melangkah cepat menuju lokasi penggambilan gambar, seorang make up aktris membuntutinya dan memperbaiki sedikit tatanan rambutnya sebelum kamera berputar dan dunianya kembali tersedot ke dalam sosok yang tak pernah ia kenali.

Camera rolling, action!

===

Tidak, Chanwoo tidak pernah berperan sebagai tokoh utama dalam sebuah drama. Karirnya dalam berakting tidak gemilang, selain hanya menjadi cameo sosok muda dari aktor ternama Lee Min Ho, mengambil sedikit bagian di beberapa film layar lebar ber-budget rendah dan sekali muncul dalam video musik boy band legendaries Dong Bang Shin Ki. Kebanyakan waktunya ia habiskan untuk belajar di sekolah, mengerjakan tugas-tugasnya, serta les akting seminggu sekali di sebuah sanggar. Namun, meskipun karirnya tak begitu bersinar, tak urung Chanwoo melihat ayahnya tersenyum tatkala memutar ulang rekaman-rekaman dirinya saat pulang bekerja. Ayahnya tak pernah tahu kalau ia selalu mengintip dari balik pintu dan turut menonton bersama sembari menikmati tawa bangga ayahnya. Pemandangan itu adalah sesuatu yang berharga bagi Chanwoo, ia ingin terus membuat ayahnya bangga seperti itu agar kesedihan akan ibu tak lagi menyelimuti mereka berdua. Tapi…

‘CUT! Jung Chanwoo! Ekspresimu terlalu datar! Kau berakting frustasi, bukan berperan sebagai batu!’

‘Hei, Chanwoo! Jika kusuruh berlari, jangan hanya berlari! Kau juga harus berakting! Kau tidak hanya menjual wajahmu di depan kamera!’

 ‘Yak! Chanwoo! Apa kau mendengar apa kataku?’

‘Chanwoo! Seriuslah!’

 ‘Chanwoo!’

Sudah cukup. Chanwoo sudah muak. Kamera benar-benar menelannya bulat-bulat, ia tidak bisa menyangkal dirinya sendiri, dirinya lebih kuat dari peran yang ia mainkan. Berakting di depan kamera belakangan membuatnya tersiksa dan nyaris gila. Meski semangat membuat ayahnya bahagia masih membara, tapi tekanan yang ia terima mulai melunturkan semuanya.

Chanwoo ingin berhenti.

Tapi jika ia berhenti, apa yang lagi yang bisa ia lakukan untuk ayahnya?

Slurp! Chanwoo menyedot milkshake cokelat yang baru saja ia dibeli kuat-kuat hingga membuat beberapa orang yang melangkah di dekatnya menoleh, tapi ia terus saja berjalan dan mengabaikan sekelilingnya. Mullae-dong pukul tujuh malam terlihat mulai ramai, ditambah lagi ini akhir pekan, biasanya banyak sekali musisi jalanan yang melakukan pertunjukan di sepanjang trotoar. Belakangan Chanwoo memilih untuk ke sini ketimbang pergi ke sanggar. Ayahnya tidak tahu akan hal ini, tentu saja, karena ayah pasti akan sangat sedih jika sampai mengetahuinya.

Hey ho, pretty boy!”

Chanwoo mendengar sebuah suara menyapa dan tubuhnya langsung terasa tertarik ke belakang ketika seseorang merangkul bahunya erat. Chanwoo mengenali suara itu dan langsung menoleh ke samping untuk menemukan mata kenari yang menjadi salah satu alasan ia memilih untuk kemari.

“Oh, annyeong, Liz,” sapa Chanwoo, senyumnya mengembang membalas cengiran gadis berpakaian punk itu.

“Hei, bagi minumanmu!” seru Liz saat melihat milkshake cokelat di tangan Chanwoo.  Rambut pendek bergaya bob-nya berkibar saat ia melompat-lompat kecil mencoba meraih milkshake yang langsung Chanwoo sembunyikan di balik jaket denimnya.

“Kau ‘kan ada pertunjukan malam ini,” kata Chanwoo sama sekali tidak membiarkan Liz menyeruput sedikit pun cairan cokelat itu.

“Ya, ampun Chanwoo, yang benar saja. Milkshake tidak akan membuat suaraku terdengar seperti Hulk!” Liz berkacak pinggang dan Chanwoo pun tergelak.

“Baiklah, baiklah.” Chanwoo pun menyodorkan milkshake cokelatnya dan gadis itu pun langsung menyambar minuman itu senang.

Slurp! Milkshake kembali tersedot hingga mengeluarkan suara dan orang-orang pun kembali menoleh,  Chanwoo masih tak peduli apa lagi Liz yang dari dandanannya saja melabeli dirinya sendiri sebagai gadis paling cuek di dunia.

“Hei, Chanwoo…” Liz mulai melangkah dan Chanwoo mengiringinya. Milkshake telah tandas tapi Liz suka mengunyah es batu, jadi ia hanya membuang tutup gelas dan mulai memasukan potongan-potongan kecil es batu ke dalam mulutnya. “Kau ingin bernyanyi bersamaku malam ini?” katanya sambil mengunyah es batu.

“Apa?” Chanwoo terbelalak, merasa konyol dengan ide itu. “Aku tidak bisa bernyanyi,” imbuhnya.

Liz menyikut laki-laki itu. “Suaramu lumayan,” katanya.

“Kau ingin mempermalukanku di depan umum, huh?” Chanwoo balas menyikut dan membuat Liz nyaris tersedak es batu.

“Tidak, aku serius, aku ingin kau ikut bernyanyi denganku,” desak Liz lagi.

“Tidak mau, aku menonton saja.” Chanwoo masih bersikukuh.

“Kau takut?”

“Aku tidak takut. Aku tidak mau, tidak bisa.”

“Hahaha, dasar penakut!”

Liz melempar gelas milkshake yang kini benar-benar kosong ke tempat sampah di dekatnya lalu mendelik sinis pada Chanwoo. “Kalau kau tak ingin berakting lagi, kenapa tidak bernyanyi saja?” sindirnya.

Chanwoo terdiam, sejenak ia berpikir ada benarnya juga, tapi ide menjadi penyanyi itu kelewat batas. “Aku tidak pernah berpikir sampai ke sana,” aku Chanwoo dan Liz pun menyeringai.

“Kau bisa bernyanyi lagu apa?”

“Huh?”

“Kau tahu lagu Twinkle Twinkle Little Star?”

Chanwoo mengerjap, masih tidak paham apa maksud pertanyaan Liz  hingga gadis itu mengabaikannya dan berlari menuju segerombolan musisi jalanan yang sedang check sound dengan perkakas elektriknya di  sebuah bench. Liz berbicara sebentar pada pemimpin kelompok yang sepertinya ia kenali kemudian berlari kembali pada Chanwoo untuk menyeret laki-laki itu ke sana.

“Tidak… tidak, Liz!” Chanwoo berseru tatkala menyadari apa yang baru saja Liz prakarsai, tapi Liz keburu menyampirkan sebuah gitar elektro di bahunya, memainkan senarnya beberapa saat untuk memastikan benda itu berfungsi dan berteriak cukup nyaring di depan mic.

Hey ho, everyone!”

Chanwoo ingin kabur, tapi dua orang laki-laki—komplotan musisi jalanan yang sepertinya sudah diperintahkan Liz—menahan gerakannya, mendorongnya maju hingga terjengkang ke sisi Liz dan memberinya mic. Kini Chanwoo tak bisa kabur, orang-orang mulai berkumpul; lebih-lebih merasa malu pada dirinya sendiri, ia justru takut mempermalukan Liz dan rombongan musisi jalanan yang panggungnya ia pijak ini.

“Namaku Liz!” sapa Liz dan orang-orang bersorak, kebanyakan dari mereka telah mengenal Liz karena gadis itu memang salah satu bintang di jalan ini. Chanwoo semakin gugup, dadanya berdebar kencang, lirik lagu Twinkle Twikle Little Star berantakan di kepalanya, dan ia tak tahu harus berbuat apa selain merasa canggung.

“Malam ini aku ingin memperkenalkan seorang teman pada kalian.” Liz melirik Chanwoo, dan seluruh perhatian tertuju pada laki-laki itu. Chanwoo mencoba menarik senyum, tapi gugup membuat senyumnya terlihat mengerikan dan beberapa orang tertawa melihat kegugupannya yang begitu kentara.

“Namanya Jung Chanwoo. Ia tidak pernah menyanyi sebelumnya dan aku memaksanya bernyanyi sekarang juga, yah, kalian bisa lihat dari wajahnya sih.” Tawa semakin banyak terdengar menanggapi perkataan Liz itu dan membuat Chanwoo semakin kikuk. “Jadi, untuk lagu pertama aku akan membukanya dengan lagu yang sangat mudah.” Senar gitar dipetik dan intro lagu anak-anak itu terdengar. “Kalian tahu lagu apa itu?”

Semua orang tertawa dan beberapa di antaranya menyerukan judul lagu Twinkle Twinkle Little Star. Sejak awal, Chanwoo tahu itu bukan tawa yang mengejek—orang-orang yang bergaul di tempat ini tak pernah mengejek satu sama lain—melainkan tawa geli dan gembira karena tengah menonton sebuah pertunjukan. Tapi tetap saja…

“Hei, Chanwoo.” Liz menjauhi mic dan mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Chanwoo. “Relax man, anggap saja kau sedang berakting. Hanya saja, kali ini tidak ada kamera dan…” Liz menggantung ucapannya dan Chanwoo melihat gadis itu tersenyum begitu lebar, memamerkan gingsul gigi serinya yang manis sebelum akhirnya menyelesaikan kalimatnya.

“Kau menjadi dirimu sendiri.”

Chanwoo terperangah, dalam beberapa detik kegugupannya langsung hilang dan saat intro lagu mulai bergaung dan Liz menyanyikan frasa pertama, Chanwoo pun mengiringi Liz dengan suaranya yang apa adanya. Semua orang tertawa, gembira, dan merasa terhibur, tapi kegugupan, rasa takut dan malu yang semula menggerogoti Chanwoo kini sirna. Yang tersisa hanya dirinya sendiri serta Liz yang berdiri bersama-sama dengannya di sana, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Chanwoo ia merasakan sesuatu yang lain juga berbeda. Karena kali ini ia memiliki sesuatu.

Chanwoo memiliki sebuah panggung.

Baca lebih lanjut

[Ficlet] The Man

seungri-MV - copia - copia

Title                       :               The Man

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Lee Seung Ri (Big Bang/YG Entertainment)

–          Sandara Park (2NE1/YG Entertainment)

Length                  :               Ficlet—1.310 kata

Genre                   :               Romance

Rate                       :               G

Disclamer            :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Sandara Park mungkin akan menjadi perawan selamanya.

Umurnya tak lagi memungkinkan dirinya untuk berkedip genit pada pria yang menarik perhatiannya di bar, atau bahkan sekedar memilih-milih pria untuk menemaninya semalam suntuk. Meski tak sedikit pria-pria itu jatuh hati padanya terlebih dahulu, mereka sontak mundur teratur ketika wanita itu mengatakan berapa umurnya di pertemuan mereka yang kesekian.

‘Wanita yang terlalu matang itu merepotkan,’ kalimat itu yang tertempel di wajah-wajah pria yang semula mendekatinya. Ya, mereka menyukai Dara—yang berwajah remaja seolah-olah jarum jam bernama  penuaan berhenti hanya untuk wanita itu—tapi tidak umurnya.  Sandara Park dianggap terlalu tua bagi jiwa muda mereka. Jika mereka bisa mencari wajah-wajah remaja yang selaras dengan umur mereka, untuk apa mereka bersanding dengan wanita yang lebih tua?

Ah, itu menyakitkan.

Dara sudah berulang kali patah hati dan ia muak dengan semua rasa sakit itu. Ia benar-benar sudah lelah mencari dan kini saatnya berpasrah diri; berusaha mengabaikan ratapan ibunya yang memintanya cepat menikah atau pun tatapan sinis kerabatnya yang selalu muncul dengan menggandeng pasangan. Tapi pada kenyataannya, Dara tak pernah menganggap Tuhan itu tidak adil, Tuhan justru sangat adil. Ketika nyaris semua wanita seumuran dirinya berlomba-lomba menyingkirkan kerut dan tanda-tanda penuaan, Dara masih bisa berlenggak di atas panggungnya dengan wajah percaya diri tanpa perlu memikirkan hal-hal seperti itu terjadi padanya.

Ya, Ajjhuma, ayo pulang! Mulutmu sudah berlumuran soju. Aku akan meninggalkanmu di pinggir jalan kalau kau sampai muntah di mobilku.”

Hic…” Dara menyeringai, akhirnya rekan kerjanya itu bersuara setelah sedari tadi diam mendengarkan segala ocehan dan caci makinya tentang kekasih yang baru saja mencampakannya. “Satu botol lagi, Seung Ri, satu botol lagi dan aku akan beranjak. Sungguh.”

“Hah, sudahlah, kau sudah mengatakan hal itu sejak botol keduamu. Aku muak mendengarnya.” Lee Seung Ri, pria yang menyandang status sebagai ‘tong penampung air mata Dara’ itu sudah tak tahan lagi untuk tidak menggerutu. Ia ingin sekali menyeret Dara keluar dari bar langganan mereka ini, tapi terakhir kali Seung Ri melakukan hal itu, ia justru mendapatkan beberapa luka cakar dan lebam di wajahnya.

Tiba-tiba saja, keheningan memeluk udara di antara mereka. Dara kini berhenti meracau dan hanya menggerak-gerakan gelas soju di tangan tanpa minat menegak isinya. Seung Ri pun menghormati keadaan ini, ia sudah sering menemani wanita yang umurnya terlampau jauh di atasnya itu menangis dan ia tahun kapan saatnya untuk berhenti berbicara dan hanya mendengarkan; mendengarkan seluruh luapan hati dan penderitaan yang sebenarnya sangat ingin pria itu akhiri—hanya saja kesempatan itu tak kunjung datang.

Baca lebih lanjut

[Epilogue] The Stories of 31 May: Our Stories Has Begun

Epilogue

Title                       : Our Stories Has Begun

Author                  : Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

–          Sa Ri (Eka Maisari’s OC)

–          Jang Hyun Seung (Beast/Cube Entertainment)

–          Jang Hyun Ra (Tamara Putra’s OC)

Lenght                  : Chaptered [Part 1 | Part 2 — End]

Genre                   : Romance, Slice of Life

Rate                       : G

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

 

His Flat.

Ok Taecyon tak pernah menyangka akan  menemukan dirinya sefrustasi ini hanya karena kemungkinan kehilangan seseorang. Ia telah terbiasa hidup mandiri, terpisah jauh dari orangtuanya yang bersekukuh tinggal di Boston, dan mengadu nasip di kampung halamannya. Orang-orang datang dan pergi silih berganti di hidupnya; ada yang kembali, ada pula yang benar-benar pergi. Tapi Taecyon tak pernah ambil pusing dengan kenyataan itu, ia tak peduli dengan sebuah perpisahan karena ia tahu hal itu pasti akan datang.

Namun, pikiran idealis Taecyon itu hancur tatkala takdir mempertemukannya dengan gadis itu. Hidupnya porak poranda, mengenal gadis itu membuat emosinya labil hingga ia lupa untuk menstabilkan diri. Ia mengutuk pertemuan mereka, karena pertemuan itu memaksanya untuk membenci perpisahan.

Oppa? Kenapa melamun?” suara sopran gadis itu menyentakan Taecyon dari lamunannya dan kembali menyeretnya duduk di hadapan gadis itu.

Taecyon hanya tersenyum tipis dan tak mengatakan apa pun, ia tak perlu menjawab karena gadis itu akan menemukan analisisnya sendiri.

“Jangan terlalu sering melamun, Oppa,” kata gadis itu lagi sembari memakan kue ulang tahunnya yang ia bawa sendiri; waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, dan gadis itu masih saja kukuh untuk merayakan 31 Mei yang telah lewat.

Dalam diam Taecyon menilik mata sembab gadis itu masih menunjukkan semburat yang biasa ditunjukkannya. Ini aneh, terakhir kali Taecyon menatap mata itu ia justru merasa ingin menghapusnya dari muka bumi ini. Tapi, beberapa jam yang lalu saat gadis ini meneleponnya dan mengungkapkan keinginan untuk berhenti mencoba menaklukannya. Seketika itu juga pikiran Taecyon menghitam dan bayangan kehilangan sosok itu membuatnya ketakutan setengah mati.

“Lihat! Oppa melamun lagi!” seruan gadis itu kembali menyeret Taecyon; ia memang tak habis pikir, kenapa perasaannya berubah sedemikan drastisnya terhadap gadis itu. Tapi apa mau dikata? Hati kadang tidak sekubu dengan otak, jadi, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menghadapi kenyataan perasaannya.

“Kata ibuku, jika orang sering melamun dengan pikiran kosong, hantu-hantu akan mendatangi orang tersebut dan merasukinya! Dalam bahasa Indonesia disebut kesurupan. Nah! Makanya jangan sering-sering melamun, Oppa. Aku tidak tahu apa hantu-hantu di Korea sama dengan di Indonesia, tapi aku tak ingin kau kesurupan.

Lagi-lagi, Taecyon tertawa dalam hati, polah delusional gadis itu membuatnya muak sekaligus candu baginya.

“Aku tidak melamun dengan pikiran kosong, Sa Ri-ya,” jawab Taecyon sembari menyandarkan punggungnya di kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.

 Gadis Indonesia yang lebih senang ia panggil Sa Ri itu, menarik alisnya ke atas dan berhenti mengunyah kue ulang tahunnya. “Lalu? Apa yang Oppa pikirkan?”

“Aku sedang berpikir untuk membeli flat yang lebih besar dari ini.”

“Kenapa?”

“Karena tahun depan kau mungkin akan tinggal bersamaku.”

Taecyon menyuarakan kekehannya saat melihat wajah Sa Ri yang tercengang. Sekarang ia percaya, bahwa kehilangan ekspresi seperti ini akan membuatnya berhenti memiliki hidup.

***

Jang House

Jang Hyun Seung tahu kalau ia suami yang keterlaluan. Ia mungkin sukses menaklukan perusahaan tempatnya bekerja dengan didikasi dan keuletannya, tapi saat ia berhadapan dengan istrinya sendiri, ia benar-benar seperti anak umur 3 tahun yang belum bisa baca-tulis.

“Nyonya Jang, berhentilah mendiamiku…” Hyun Seung duduk di samping istrinya yang duduk melipat dada di atas ranjang mereka. Wajahnya masam, masih marah dengan prilaku suaminya sebelum ini. “Aku bukannya sengaja melupakan ulang tahunmu ‘kan? Aku hanya ingin ada kesan.”

Jang Hyun Ra, istrinya, masih bergeming; tak memiliki tanda-tanda untuk berbicara. “Hei, Nyonya Jang, bicaralah padaku. Apa aku harus berlutut agar kaumau memaafkanku?”

Hyun Seung lantas berluntut di hadapan Hyun Ra, lalu menarik jemari istrinya yang terlipat ke dalam genggaman tangannya. “Hyun Ra,” panggil Jung Hyung dengan nada lembut, ia benar-benar merasa bersalah dengan sikap egoisnya hari ini.

“Aku janji 31 Mei tahun depan kita akan merayakan ulang tahunmu seharian; berdua saja. Aku akan ambil cuti satu minggu dan kita akan berlibur ke mana pun kaumau. Aku benar-benar akan merayakan ulang tahunmu senormal mungkin, aku akan berhenti bertindak bodoh dan mencoba hal-hal baru yang akan membuatmu senang. Aku berjanji, tahun depan akan menjadi 31 Mei yang tak akan terlupakan bagimu.”

Hyun Seung menatap istrinya lekat-lekat, berharap hati wanita itu tergerak dan memaafkannya. Namun, Hyun Ra tetap berwajah masam dan membuang muka ke tembok sembari menyahut perkataan suaminya ketus.

“Bukan berdua, tapi bertiga,”

“Huh?”

Hyun Ra mengambil sesuatu dari laci meja samping tempat tidurnya dan langsung memberikannya pada Hyun Seung.

“Aku sudah ingin mengatakannya padamu sejak pagi tadi, tapi kau membuatku kesal seharian ini.” Hyun Seung berhenti bernapas, dadanya berdebar sangat cepat. “Memang belum pasti karena aku belum memeriksakannya ke dokter, tapi benda itu 99% akurat. Jadi, kau tahu apa artinya itu kan?”

Hyung Seung  tak bisa berkata-kata, air matanya langsung meleleh saat mendapati test pack di tangannya menunjukkan tanda positif. Sungguh, ia pria paling berbahagia di muka bumi ini.

Fin.

  Baca lebih lanjut

[Chaptered 2/2] The Stories of 31 May: Haengbok

hyunseung

Title                       : Haengbok

Author                  : Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jang Hyun Seung (Beast/Cube Entertainment)

–          Jang Hyun Ra (Tamara Putra’s OC)

–          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

Lenght                  : Chaptered

Genre                   : Romance, Slice of Life, Friendship

Rate                       : G

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Jang Hyun Ra ingin sekali membalik meja makan mewah di hadapannya ini sekuat tenaga dan akhirnya merusak hari yang menurutnya sudah buruk sejak matahari terbit.

Dasar suami tak berperasaan!

Hyun Ra melirik sinis pada pria yang tengah duduk di sampingnya—tertawa sangat lebar kepada kolega-kolega kerjanya yang duduk di sekitar mereka. Suasana meja makan sangat ramai, petinggi-petinggi perusahaan sangat menyukai suaminya itu; entah karena ia muda dan cerdas atau karena sangat pandai membuat joke. Ah, Hyun Ra tak peduli, yang ia tahu hanyalah hari ini akan menjadi hari terburuk sepanjang tahun ini.

 “Ya, Jang Hyun Seung,” Hyun Ra memanggil nama lengkap suaminya dengan nada sinis sementara jemarinya meremas ujung gaun malamnya yang berwarna pastel di bawah meja karena jengkel. “Kau tahu kan hari ini tanggal berapa?”

“Tanggal 31 Mei ‘kan?” jawab Hyun Seung tanpa melihat ke arah Hyun Ra, perhatiannya tertuju pada CEO perusahaannya yang tengah menceritakan koleksi cerutu terbaiknya dari seluruh dunia.

“Benar sekali, lalu?” Hyun Ra tetap kukuh mengorek ingatan suaminya tentang hari ini.

“Lalu, apa?” bukannya menjawab, Hyun Seung justru malah balas bertanya, hati Hyun Ra semakin geram dibuatnya.

“Sudahlah, lupakan saja…” kata Hyun Ra akhirnya, menyerah dengan tindak tanduk suaminya yang menjengkelkan dan kembali berkutat dengan steak di hadapannya.

Hyun Ra akan menghajar suaminya itu setibanya di rumah.

  Baca lebih lanjut

[Chaptered-1/2] The Stories of 31 May: Kajima

Ok Taecyon

Title           : Kajima

Author     : Benedikta Sekar

Cast           :

–          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

–          Eka Maisari

Lenght     : Chaptered [1/2]

Genre      : Romance, Slice of Life

Rate          : G

Disclaimer:

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Eka Maisari sadar diri, dengan tinggi 155 cm ia tak mungkin mendobrak pintu kayu flat itu hingga rusak. Jadi, yang dapat ia lakukan hanyalah duduk  bersila di lantai sembari memeluk cake di tangannya dengan hati-hati.

Pukul 23.00 KST.

Tinggal satu jam lagi sebelum Mei digusur Juni, dan Eka benar-benar tak habis pikir untuk menghabiskan sisa hari ulang tahunnya ini di depan pintu flat milik seorang pria yang umurnya terpaut nyaris sepuluh tahun darinya.

“Aku mungkin sudah gila…” bisik Eka sembari tertawa getir, tubuhnya beringsut menempel pada pintu flat bernomor 102 itu lalu menangis dalam hati. “Kali ini yang terakhir, dan  setelah itu aku akan berhenti,” teguhnya.

Eka tidak tahu apa yang membuat sosok pria itu menjadi sangat superior di matanya; dia hanya seorang pegawai kantoran biasa yang tak laku-laku di umurnya yang sudah nyaris berkepala tiga. Pria kasar yang tak segan-segan memarahi orang-orang sekitarnya, tapi juga secara bersamaan adalah orang yang dengan sabar menolongnya saat ia tersesat di tengah-tengah keramaian kota Seoul.

Mengenal pria itu membuat Eka seperti duduk sendirian di sebuah roller coaster yang tengah melaju kencang. Sering kali pria itu menghempaskan tubuhnya ke bawah hingga dia ingin menangis meraung-raung, namun perhatian-perhatian kecil yang diberikan pria itu juga membuatnya berdebar hingga perlahan-lahan merangkak kepuncak yang tertinggi.

Benar, Ok Taecyon adalah pria yang mencuri cinta pertamanya.

Baca lebih lanjut

[Drabble] Empty

empty heart

Title                       :               Empty

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Harris Li (Harris Lim’s OC)

–          Wang Fei Fei (Miss A/JYP Enertainment)

Lenght                  :               Drabble – 527 kata

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

.0.0.0.

Secangkir kafein dan aroma lavender di ruangan ini bukan alasan Harris Li untuk menangis diam-diam dalam keheningan. Meski earphone di telinganya menyerukan suara digital Megurine Luka yang akhir-akhir ini menjadi playlist favorite-nya, ia masih saja merasakan kekosongan yang entah sejak kapan hadir tiap kali ia menatap wajah cantik itu.

Wang Fei Fei, gadis Mongoloid yang kini tengah memintal benang merah bersamanya, lebih memilih mematut perhatian pada lembaran kertas novel di tangannya ketimbang menyentuh gelas Macchiato-nya atau bahkan membuka pembicaraan. Pemandangan itu membuat Harris sangsi dengan tujuan Fei mengajaknya ke café yang telah menjadi tempat ribuan pertemuan mereka selama ini; tidak kah gadis itu lelah dengan semua ini?

Harris mendesah; kepalanya tiba-tiba saja terasa pening. Tubuhnya beringsut menenggelamkan diri pada tumpukan busa sofa, seraya melirik warna abu-abu yang tengah menggantung di langit kota Beijing.  Sejenak ia melamun, memikirkan semua hal yang telah terjadi di hidupnya.

Yah, tak terasa 15 tahun telah berlalu dengan begitu cepat di kota ini. Ia masih ingat ketika seluruh keluarganya terpaksa pindah ke kampung halaman ibunya di Beijing karena toko mereka habis dijarah akibat kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Begitu banyak luka batin yang Harris rasakan akibat tragedi itu,  namun, meninggalkan negeri tropis nan asri itulah sebenarnya luka terbesarnya.

Indonesia adalah bagian dari dirinya.

“Li…”

Harris tersentak ketika ia merasakan tangannya digenggam; secepat kilat ia kembali memandang gadis di hadapannya dan mendapati wajah itu kini teralih padanya.

“Kau memanggilku?” Harris menggantung earphone di tengkuknya dan membebaskan telinganya untuk mendengar.

“Kenapa kau melamun?” Fei malah balas bertanya; merasa tak penting menjawab petanyaan yang menurutnya bodoh itu.

Harris tersenyum kecut, kemudian menjawab dengan nada sinis, “Yah, karena kau mengabaikanku, tentu saja.”

“Hei, ada apa denganmu?” suara Fei meninggi, dilipatnya kedua tangan di depan dada sembari menyandarkan punggunya di sofa. “Kupikir masalah kita sudah selesai.”

Hening.

Diam adalah prioritas utama Harris sekarang; ia tak ingin mengulang pertengkaran besar mereka tempo hari yang nyaris membuat lima tahun hubungan mereka kandas begitu saja. Tapi, setelah pertengkaran besar itu, Harris justru menjadi sadar, mungkin saja berpisah adalah yang terbaik… bagi  mereka berdua.

“Katakan sesuatu, atau kau lebih suka aku pergi?”

“Hah…” Harris benci ancaman Fei. “Aku hanya melamun.”

“Tentang?”

“Indonesia.”

Kini giliran Fei yang terdiam. Harris tahu kalau Fei merasa heran; kenapa ia mengungkit kembali negeri yang sudah lama ia relakan. Namun, Harris tak senang berbohong, terutama berbohong pada Fei.

 “Ada apa dengan Indonesia?” tanya Fei setelah ia terdiam cukup lama.

Harris mencoba tersenyum, namun, menyuarakan kenyataan bukanlah perkara gampang. “Tiba-tiba saja aku teringat, dan kini, aku merindukan tempat itu.”

“Kau ingin ke sana?”

“Kau gila?” Harris tertawa sumbang. “Aku bisa dibunuh orangtuaku.”

Dahi Fei berkerut dalam, dan memandang Harris dengan pandangan penuh pertanyaan. “Lantas, kenapa sekarang kau tiba-tiba saja merindukan tempat itu?”

Untuk yang kesekian kalinya Harris bungkam; kembali bimbang dengan pilihan jujur dan bohong. Namun, kenyataan bahwa berbohong pada Fei adalah hal yang tabu, maka Harris pun menjawab apa adanya.

“Karena sekarang, aku tak punya siapa apa pun lagi untuk mengisi kekosonganku.”

Fei terpekur; Harris diam.

Secangkir kafein dan aroma lavender memang bukan alasan Harris menangis diam-diam dalam keheningan. Namun sekarang, Harris punya alasan untuk menangis terang-terangan dalam mengambil keputusan terbaik.

Fin.

Special For Harris Lim

(Photo taken from: http://www.flickr.com/photos/froggylady/galleries/72157626728213730)

[Oneshot] Loving You Was Red

Loving You Was Red

Title                       :               Loving You Was Red

Author                  :               Benedikta Sekar (Dictavip)

Cast (s)                 :

-Park Jung Min (SS501)

-Lee Soon Hye/Sonia (Sonia Luice Andreta’s OC)

-Kim Yesung (Super Junior)

Lenght                  :               Oneshot—1756 kata

Genre                   :               Romance, Angst, Fluff

Rate                       :               G

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk yang atau pun materi. Semua cast bukan milik saya, namun plot dan cerita murni dari imajinasi saya sendiri.

“Merah.”

Sonia menjawab bahkan sebelum petugas salon menanyakan warna yang ingin dipilih untuk menuntaskan sesi manicure pedicure-nya.

“Ingin diberi warna lain atau—“

“Merah,” potong Sonia lagi, “merah saja. Hari ini aku ingin merah.”

Petugas salon tersebut pun tersenyum, lantas melanjutkan pekerjaannya dengan mewarnai kuku-kuku pucat Sonia dengan kuteks merah.

“Anda baru di sini?” tanya Sonia dan petugas itu mengangguk.

Ne, saya baru bekerja dua minggu yang lalu,” jawab petugas itu sembari tersenyum; Sonia mengangguk-angguk mengerti.

Pantas ia tidak tahu hari ini hari apa, gumam Sonia dalam hati, seraya tersenyum dan bersenandung menirukan suara manis Taylor Swift—penyanyi yang beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu nama wajib di playlist mp3-nya.

 

***Loving him is like driving a new Maserati down a dead end street***

Baca lebih lanjut

[Ficlet] This is Really Goodbye

yoona SNSD

Title                           :               This is Really Goodbye

Author                     :               Benedikta Sekar

Cast(s)                     :

-Kim Seungwon (Seungwon Entertaiment owner’s OC)

-Im Yoona (SNSD/SM Entertaiment)

Lenght                     :               Ficlet—756 kata

Genre                      :               Romance, Angst, songfic

Rate                          :               G

Inspired by             :               M to M, This is Really Goodbye (OST. Lie To Me)

Disclaimer               :               Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang atau pun materi. Im Yoona adalah penyanyi yang dinaungi SM Entertaiment, sementara Kim Seungwon sendiri adalah pemilik blog Seungwon Entertaiment. Sementara plot dan jalan cerita murni dari pikiran saya sendiri.

***

Apa jalan itu penuh duri?

Kim Seungwon memandang tikungan yang berada di ujung gang lekat-lekat. Hawa dingin di penghujung tahun meremas tubuhnya tanpa ampun, tapi ia tetap kukuh, berdiam diri di balkon flatnya dan memandangi jalanan yang sepi kehidupan itu.

Ia sedang menunggu.

Siapa?

Seorang wanita.

Berikan namanya!

Im Yoona.

Kekasihnya?

Bukan.

Lantas?

Hidupnya.

Baca lebih lanjut