Pak Damar

Pak Damar termangu. Memandang sepeda motornya yang kini hanyalah seonggok mesin tanpa ban dengan dua bola mata bergerak-gerak tak fokus. Dua detik pikirannya kosong, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ini sudah pukul sepuluh malam, kepala sekolah menugasinya lembur menyusun dokumen sore tadi. Pria yang baru menginjak usia tiga puluhan itu menurut saja meskipun tahu bahwa tugas itu tidak biasanya dan sekarang… ia tak bisa pulang.

Ada apa ini?

Kresek.

Pak Damar menoleh ke kanan dengan cepat, semak-semak berisik diterpa angin. Udara malam yang dingin menusuk tulang sum sum pria itu bagai sengatan lembah, namun satu-satunya hal yang dirasakan Pak Damar hanyalah debaran jantungnya yang memburu.

Beberapa detik berlalu dalam hening. Pak Damar mulai mengumpulkan akal sehatnya dan memutuskan untuk pergi ke warung kopi di depan gang sekolah lalu menunggu sampai pagi. Namun, belum sampai sesenti tubuh jangkung itu bergerak, sebuah tangan menerkam mulut dan hidung pria itu dengan selembar kain beraroma lemon lalu sesat setelahnya…  hanya ada gelap yang menyambut.

BYUR!

“BANGUN!!”

Suara melengking perempuan serta guyuran air panas membangunkan Pak Damar. Tubuhnya yang kini hanya berbalut pakaian dalam terikat di sebuah kursi. Rasa panas membakar tubuhnya, di bawah lampu remang-remang kulitnya memerah seperti kepiting. Namun, belum sempat pria itu memproses apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sebuah pukulan benda tumpul menghantam bagian kanan kepala dan membuat telinganya berdengung.

Pak Damar mengerjap. Bingung, kesakitan. Suara tawa sahut menyahut di sekitarnya; begitu halus dan mengerikan, tawa perempuan.

“Sakit, Pak?” Seseorang mendekati Damar, jemarinya yang halus dengan kuku berkuteks merah menggenggam palu. “Kalau begini, bagaimana?”

DUAK!!

Palu menghantam bahu Pak Damar, pria itu sontak mengerang kesakitan. Ia bahkan terlalu ketakutan untuk berkata-kata.

“Bapak tahu tidak apa yang telah Bapak perbuat pada kami semua?” Suara manis yang lain berbisik di belakang kepala Pak Damar, seiring dengan benda dingin yang menyentuh punggungnya. Bulu roma Pak Damar menegang, ia berharap tebakannya salah tentang benda apa itu.

Syaaaat!

Suara daging disobek menggema di ruangan itu. Banyak tawa kembali tumpang tindih ketika Pak Damar hanya mampu mengerang dengan suara tercokol di kerongkongan. Namun, belum selesai otaknya mencerna rasa sakit itu, pukulan kembali meluncur tepat ke kepalanya. Palu pun tak lagi segan menghantam tubuhnya bertubi-tubi hingga remuk. Sementara ia pun tak lagi mampu menduga sudah berapa banyak kulit punggungnnya terkoyak. Suara tawa yang melengking serta kebahagiaan yang terselip di antaranya mengiringi rasa sakit yang tak bisa ditolerir oleh makhluk hidup itu. Pak Damar tak lagi mengerang, bahkan mencicit kesakitan pun ia tak mampu.

Hingga tiba-tiba saja, semua itu berhenti, meninggalkan tubuh yang bersimbah darah itu dalam keheningan yang mencekam. Sampai akhirnya, aroma bensin menguar di udara.

Pak Damar tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Namun, di sela-sela rasa perih yang ia rasakan ketika cairan bansin disimburkan padanya serta tawa yang makin menjadi. Pak Damar tertegun. Ia menduga-duga siapa perempuan-perempuan ini? Siapa yang tega berbuat seperti ini?

Lalu, ketika api disulut dan di lemparkan ke arahnya; di tengah-tengah kobaran api yang membakar tubuhnya dan menerangi seluruh ruangan. Pak Damar akhirnya mengenali murid-muridnya sendiri dan terperanjat hingga kematian menjemputnya.

Sebenarnya, apa yang telah ia perbuat?

FIN.

A/N:
Dibuat saat tugas-tugas mulai menggila
#CERITAHOROR #Anjay #Psikopatsekali #ayotugasnyadiselesaikan #bunuhsaja #bakarsaja #biarramai

Sudah Lama

Sudah lama aku tidak menulis fiksi.

Belakangan kata-kataku menjadi tumpul karena jarang sekali kuasah. Mungkin masalahnya bukan pada waktu yang tidak pernah cukup menyediakan kesempatan, melainkan jemari dan otakku kini tak lagi singkron seperti senja kelabu di hadapanku ini—oh ya, hujan masih datang di bulan April.

Rasanya aku sudah melupakan momen ini—duduk sendirian di sudut kampus, ditemani laptop tuaku dan secangkir rindu yang menggebu-gebu padamu. Dulu, rasanya semua terasa tepat. Rindu dan cinta itu datang silih berganti seperti pelangi yang menanti hujan untuk berhenti. Tak pernah ada masalah yang tercipta, meski jarak dua benua bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh bagi kebanyakan orang. Namun, aku meyakini, suaramu yang masih menggema di hatiku setiap malam sudah cukup untuk membuktikan bahwa semua baik-baik saja.

Entah, angin muson mana yang mengajarkanmu bahwa pergantian musim menandakan ada hati yang beralih haluan.

Aku tak pernah membayangkan, bahkan hanya sekadar di mimpi, kehilangan kontak denganmu. Media sosial bukan ladang bagi gadis desa sepertiku untuk menuai kabar; aku hanya mengerti bagaimana surel dan video call bekerja. Dan ketika semua sarana penghubungku dan dirimu terputus, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah menunggu. Berminggu-minggu aku bertanya-tanya apa yang terjadi denganmu dan hubungan kita yang sepertinya mati suri. Terakhir kali kudengar suaramu, kamu bilang paper dan laporan menghalangi kontak denganku. Aku percaya itu dan terus percaya bahwa itulah satu-satunya alasanmu untuk berhenti menghubungiku, hingga seseorang menunjukkan foto itu padaku dan meleburkan segalanya…

Hah.

Tak pernah kusangka, dunia maya ternyata begitu menakjubkan. Aku menduga-duga, mungkin inilah alasan kenapa aku selalu menjadi mahasiswi paling tertinggal di antara yang lainnya, karena seandainya saja aku mampu membeli smartphone dan membuat akun di media sosial bernama Instagram itu, aku seharusnya sudah tahu sejak tiga bulan yang lalu kalau kamu telah mencintai perempuan lain.

Jadi, rasanya tak akan sakit.

Aku tak tahu apa aku harus meminta maaf karena tak pernah peka dengan kabar-kabarmu yang semakin jarang itu ataukah kamu yang terlalu jumawa untuk menyuarakan kata selesai. Namun, mengirimimu surel berisikan kata-kata perpisahan serta menyatakan bahwa aku telah mengetahui kenyataan tentang dirimu, barang tentu merupakan keputusan yang tepat untuk menuntaskan drama klasik di antara kita.

Kuakui, tangisku di penghujung malam ketika kenangan menggempur benakku bak air bah yang tak akan surut sampai fajar menjelang. Kamu laki-laki yang begitu manis; tawamu seperti kepak elang yang menggunjang angin di telingaku dan membuyarkan kawanan kupu-kupu di dadaku. Menata hati untuk mencintaimu tentu tidak mudah dengan segala kekurangan yang aku miliki, tapi kata-katamu selalu berhasil meyakinkan berjuta-juta sekenario terburuk yang pernah terlintas di benakku untuk pergi entah kemana. Hingga akhirnya kusadari, bahwa selama ini aku hanya menjadi salah satu momen dari kisah hidupmu yang panjang.

Ah, satu halaman telah selesai, fiksi ini sepertinya akan berakhir teragis. Sungguh, sudah lama aku tidak menulis kisah tak nyata seperti ini, mungkin sejak aku berhenti mencari-cari alasan untuk menulisnya karena kamu tak lagi ada di sana dan memberiku komentar-komentar manis tentang kisahnya. Aku tahu, seluruh fiksi yang kubuat hanya akan berakhir di blog kata-kata yang tak terkenal itu lalu menjadi debu. Namun, memilikimu yang setia membaca meski banyak lubang di antara katanya memberiku kekuatan sendiri—seperti cahaya yang bersinar di ujung jalan yang gelap; bukan komentar manismu yang sesungguhnya aku inginkan, melainkan eksistensimu. Lalu, ketika semua telah berakhir dan tak ada kata-kata lagi yang tertukar di antara kita untuk memperbaiki keadaan, aku tak lagi sanggup menulis kisah-kisah tak nyata itu karena semua terasa hambar.

Sungguh, luka itu masih ada hingga detik ini. Rasanya masih sakit seperti saat terakhir aku mengingatnya. Namun, itu sudah lama sekali, aku bahkan sudah lupa rasanya air mata yang menetes di pipiku ketika wajahmu terlintas di benak. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa aku kembali menulis fiksi. Tentu aku merindukan bahagia yang pernah kita miliki dulu serta janji-janji yang kini tak akan pernah tergenapi; masih ada secangkir rindu yang tersisa untukmu.

Hanya saja, rindu itu tak lagi kusesap pahitnya, karena senja kelabu, hujan yang mengguyur, hati yang patah, serta semestaku yang sebelumnya kugantungkan pada hubungan kita yang rapuh telah diperbaiki oleh orang lain…

Ya, oleh laki-laki yang baru saja tersenyum saat melihatku duduk dan menulis sendirian di sini; yang senyumnya kubalas dengan kekehan kecil karena mendapati dirinya yang kuyup diguyur hujan; yang mendatangiku dengan aroma particor di pakaiannya; yang mengecup dahiku lembut sembari membisikan maaf karena cuaca menahan geraknya; yang akhirnya duduk di hadapanku dan menemaniku menulis di sini. Ya, laki-laki itu, yang kini padanyalah aku menggantungkan seluruh jagad raya hidupku.

Akhirnya, cerita ini berubah manis. Aku kira pahitnya kenangan akan dirmu akan mempengaruhi alur fiksi yang sederhana ini. Namun, kehadirannya membuyarkan segala keresahan yang masih mengganjal di dada akan kita dan segala kenangannya. Mata almonnya yang berbinar saat mengisahkan hari-harinya di laboratorium mengisi ruang pendengaranku—entah apakah ia telah menemukan jenis buah pisang rasa ubi atau temuan ajaib lain yang selalu ia khayalkan sedari masih menjadi buruh tani di ladang bapaknya, aku tak tahu. Namun, kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat perasaan pahit itu hilang dan larut bersama hujan.

Mengenalnya dan mencintainya tak sama seperti saat aku bersamamu. Ia tak menghilangkan rasa khawatir di dadaku, karena ia bahkan tak menciptakan rasa khawatir itu; ia tak mampu menjelajah dunia, karena bahkan untuk berada di kota ini saja ia telah mengorbankan segalanya; ia tak menjanjikanku masa depan yang lebih baik, karena ia bahkan sedang memperjuangkan masa depannya sendiri sekarang; ya, ia tak lebih baik darimu, karena satu-satunya hal terbaik yang ia miliki adalah dirinya sendiri.

Ya, aku tahu, sudah lama sekali aku tidak menulis fiksi, maka kata-kataku kali ini terasa kaku dan mungkin saja hambar. Namun, ada satu hal yang kuyakini pasti, bahwa pada akhirnya…

Bahagia akan menamatkan kisah fiksi ini.

Fin.

Tentang Ani dan Senja

holding-hands

Ani,
Tolong katakan pada senja, terima kasih untuk waktu yang telah ia berikan padaku. Dua puluh menit yang lalu ia menemaniku di ujung dermaga sembari menyisipkan puisi tentang buih laut yang mencintai bulir pasir. Kepak elang di ujung cakrawala bilang puisi itu sudah basi, tapi aku menyukainya karena mayapada selalu berhasil membuatku mengingat tentangmu dengan berbagai cara.

Ani,
Tolong katakan pada senja, aku akan kembali esok hari. Jika tidak, mungkin lusa. Mungkin juga keesokan harinya lagi. Aku sudah meninggalkan janji di batu karang itu, ada namamu di sana, dilumati lendir dan lumut tapi masih jelas terasa. Seseorang bilang padaku, bangunlah rumah di atas batu karang agar bebas dari gempuran ombak. Maka dari itu, kutinggalkan namamu di sana, sejenak untuk mengingatkan karang bahwa di sanalah rumah hatiku berada.

Ani,
Tolong katakan pada senja, jangan merindukanku karena aku tak pernah merindukannya. Apa yang datang,  pasti akan pergi. Siklus itu sama persis dengan siklus yang biasa kamu sebut kehidupan sementara aku menyebutnya kematian. Iya, cara kita memandang semesta memang berbeda, kamu selalu menjadi Nona Optimis sementara aku Si Lelaki Tukang Nyinyir. Tawamu tujuh tahun yang lalu di kedai itu mengingatkanku pada gempuran ombak yang biasanya kutunggangi di Pantai Kuta; menggempurku dengan perasaan kalah yang tak berkesudahan. Kamu selalu memenangkan segalanya, termasuk hidupku.

Ani,
Tolong katakan pada senja, aku tidak mengharapkan apa pun darinya. Cukuplah aku tahu ia ada; setia di dermaga itu dan aku sudah puas dengan semua yang ada di hidupku saat ini. Bila senja tanya mengapa, tersenyumlah padanya, peluk senja dengan tangan-tangan indahmu dan ucapkan terima kasih padanya.

Karena hanya ialah satu-satunya penghubung hatiku dan hatimu…

Reuni

Menghirup udara yang sama denganmu membuatku sadar  sudah begitu lama aku tak mencium aroma mentol itu. Lima tahun yang berjalan singkat, kita bukan lagi sepasang begudal yang acapkali disetrap di bawah bendera sambil cekikikan lantaran ketahuan merokok di pemburit sekolah. Sekarang, kamu sudah berubah menjadi tawanan kubikel kantoran di salah satu perusahaan ternama, sementara aku masih mengandalan deretan kata yang siang malam kutulis di layar datar. Kamu bilang hidupmu berjalan baik, gaji besar, imbuhmu. Namun, kutemukan ada lubang hitam di manik mata itu.

Aku tahu, Sobat, kamu iri padaku… dua tahun menggelandang lepas ditendang Bapak keluar dari rumah. Aku hidup bagai hantu siang dan malam; menjual diri pada peluh di siang hari dan komputer busuk di malam hari. Sampai akhirnya, aku berhasil menjual satu cerpenku pada sebuah surat kabar dan dibayar murah untuk itu; hari itu, akhirnya aku mampu membeli nasi padang dengan honor pertamaku.

Aku tertawa tiba-tiba tatkala mengingat kembali hari-hari mengerikan itu dan kamu pun hanya mengerutkan dahi kebingungan. Kukibaskan tangan ke udara untuk mengalihkan perhatian, sampai kutemukan lagi matamu terpaut dengan pandanganku.

“Sobat,”kataku, kutepuk bahumu, dan tersenyum. “Tidak ada kata terlambat untuk bermimpi.”

Kamu mengerjap. Terpukau.  Lalu, kutinggalkan kamu dengan selembar tiket orkestra di atas meja. Membiarkanmu menangisi mimpi masa muda yang dulu kamu serahkan pada orangtua untuk dibakar dengan “harapan dan nasihat”.

Devon

Hanya ada dua hal yang Devon lakukan saat malam minggu. Satu, mengisi pulsa. Dua, menunggu panggilan masuk. Seperti sekarang…

Drrr… Drrr… Drrr…

iPhone 5 warna hitam itu bergetar di atas meja dan Devon pun langsung melonjak dari kasurnya.

“Halo?”

“Dev, Sayang, kamu lagi sibuk gak?”

Senyumnya merekah tatkala suara manis itu menyusupi gendang telinganya.

“Gak kok,” jawabnya mantap. “Aku telepon balik ya. Matiin aja, Say.”

Sampai rela Devon membiarkan gadis itu kehabisan pulsa meneleponnya, barang tentu laki-laki itu gak dapat memaafkan dirinya sendiri.

Tut… tut… tut…

Nada tunggu. Paggilan diangkat.

“Halo, May?”

“Beb!”

“Apaan?”

“Aku mau cerita lagi tentang malam ini.” Suara di seberang terdengar genit dan menggemaskan. Devon suka sekali suara itu, membuatnya selalu mengerang senang di dalam hati.

“Malam ini aku lagi senaaaang banget, Beb! Kamu tahu gak kenapa?”

Devon tersenyum, ada getir di sudut bibirnya.

“Emang kenapa, Cantik? Situ kayak gak pernah hepi aja pas malam minggu. Emang kali ini ada apa?”

Suara tarikan napas dalam di ujung telepon. Terdengar tak sabar ingin menjeritkan kisah luar biasanya malam ini.

“Devina, Sayaaaang! Malam ini Romeo nembak akuuuu! Kyaaa! Kita jadian!”

Teriakan gembira itu sama sekali tak selaras dengan hati di balik babydoll pink yang pecah dan hancur. Devon menatap nanar meja rias di samping tempat tidurnya yang penuh dengan kosmetika perempuan yang ia beli bersama Maya; hanya untuk menunjukkan pada sahabat masa kecilnya itu kalau mereka bisa melakukan segalanya bersama tanpa memandang jenis kelamin.

Tapi hanya untuk satu hal, yang selama ini ingin ia ungkapkan pada Maya dan memohon pada gadis itu untuk merubahnya.

Namanya bukan Devina, melainkan Devon.

Ia lelaki dan sudah mencintai Maya lama sekali…

“Selamat ya, Beb, semoga langgeng nih!”

Beginilah… ritual malam minggu Devon.

_________

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://t.co/pVsAoDeknx di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tentang Tuhan, Jiwa-Jiwa dan Benang-Benang Kehidupan

Aku melihat kehidupan ini seperti benang. Tuhan memintalnya dengan begitu rapi dan menyerahkannya pada jiwa-jiwa di muka bumi ini sambil berkata, “Buatlah sesuatu dengan ini.”

Seluruh jiwa saling berpandangan, memandang pintalan benang itu bingung. Ya, Tuhan meminta buatlah sesuatu. Ia tidak meminta jiwa untuk membuat baju dengan itu atau sesuatu yang lebih spesifik. Tapi kebanyakan jiwa akhirnya memutuskan untuk menjahit dengan benang itu. Mereka pikir benang memang untuk menjahit dan benang tak berguna jika tidak digunakan untuk menjahit.

Tapi sayang, mungkin Tuhan lupa, tak semua jiwa bisa menjahit dengan baik. Mereka yang bisa menjahit berlomba-lomba untuk menjahit barang-barang terindah yang nanti bisa dipersembahkan kepada Tuhan. Ada yang membuat jas, gaun, pakaian Tidur, kerudung, sarung tangan, selimut dan lain-lain. Semua itu Tuhan terima dengan baik dan mereka pun mendapatkan imbalan sesuai dengan apa yang mereka berikan. Namun, Tuhan pun bertanya kepada mereka, “Kenapa kalian menjahit?”

“Karena benang memang untuk menjahit,” jawab jiwa-jiwa itu serempak.

Tuhan tersenyum lalu menunjuk benang-benang yang masih tersisa di mesin-mesin jahit mereka. “Apa yang akan kalian lakukan dengan sisa benang-benang itu?”tanya Tuhan.

“Kami telah selesai. Kami tidak tahu apa lagi yang harus kami lakukan dengan sisa benang-benang itu,” jawab salah satu dari mereka.

Lalu, sekali lagi Tuhan berkata, “Buatlah sesuatu.”

Namun, mereka yang telah menjahit memutuskan untuk tidak menggubris dan akhirnya memilih untuk istirahat. Mereka sudah menjahit dan untuk menjahit lagi memerlukan wakti yang tidak sebentar, lagipula tubuh mereka sudah terlalu renta untuk melakukan sesuatu. Beristirahat pun menjadi pilihan terbaik, sampai akhirnya Tuhan mengambil lagi benang-benang sisa itu dan jiwa-jiwa pun hanya mendapatkan apa yang sudah mereka terima.

Sementara itu, bagaimana dengan jiwa-jiwa yang tak bisa menjahit? Apa yang mereka lakukan dengan benang-benang itu?

Kebanyakan dari mereka tetap memutuskan untuk menjahit meski tidak tahu sama sekali caranya menjahit. Mereka percaya, benang hanya untuk menjahit, mengaitkan kain yang satu dengan yang lainnya menjadi sesuatu yang berguna. Namun, karena tak bisa menjahit, kadang kala benang-benang mereka terlilit mesin jahit lalu menjadi kusut. Setiap kali mereka mencoba mengurai benang-benang itu dan kembali menjahit, benang kembali kusut bahkan semakin kusut. Tapi mereka terus mencoba dan mencoba untuk membuat sesuatu dengan menjahit, karena benang memang untuk menjahit. Hingga mereka kehabisan benang dan apa yang mereka hasilkan pun jauh dari berguna. Yah, mereka menjahit karena benang untuk menjahit, apa pun hasilnya, itu tidak penting bagi mereka karena yang mereka tahu mereka harus menjahit. Maka, Tuhan kembali bertanya pada jiwa-jiwa itu, “Kenapa kalian menjahit?”

“Karena yang kami tahu benang itu untuk menjahit.”

Tuhan pun kembali tersenyum dan memberikan imbalan yang pantas bagi mereka sesuai apa yang mereka lakukan.

Lalu, kemanakah sisa jiwa-jiwa yang tak bisa menjahit pun tak ingin mencoba untuk menjahit?

Mulanya, segelintir jiwa-jiwa ini merasa panik. Mereka hanya bisa menyimpan benang-benang itu di saku kumal mereka dan merenung. Apa yang harus mereka lakukan dengan benang-benang indah yang diberikan Tuhan itu? Pagi, siang, malam mereka terus berpikir, waktu bergulir dan pada tiap detiknya kata-kata Tuhan terus meneror mereka untuk membuat sesuatu dengan benang-benang itu. Sampai akhirnya, beberapa dari segelintir orang-orang itu pun menyerah untuk mencari cara lain agar benang-benang itu menjadi sesuatu dan memutuskan untuk memaksa diri mereka menjahit seperti jiwa-jiwa kebanyakan. Mereka menyerah untuk menemukan dan kembali berputar.

Kini yang tersisa hanya sebuah jiwa. Jiwa ini begitu keras kepala untuk tidak menggunakan benang miliknya menjahit, ia yakin bahwa benang ini bisa membuat sesuatu yang lain, bukan hanya sekedar untuk menjahit. Jiwa-jiwa lain menghinanya, menyebutkan kebodohannya, merayunya untuk menjahit saja, dan hanya menyebutkan kesalahan-kesalahannya.

Lalu suatu hari, ia termenung di bawah pohon besar dan bersandar di batangnya yang kokoh. Ia mulai bertanya-tanya apa jalan yang diambilnya ini telah benar? Segala nasihat serta ejekan, pun hinaan yang ia terima mulai mempengaruhi hatinya. Kebanyakan dari mereka memang benar, terutama pada bagian keras kepala itu, apa ia bermimpi terlalu besar? Ia memang ingin benangnya membuat sesuatu yang besar, menggunakannya untuk menjahit membuatnya sama saja seperti jiwa-jiwa yang lainnya. Jiwa yang satu ini ingin benangnya menghubungkan banyak hal, ia ingin jiwanya dilihat dunia dan menghubungkan hal-hal besar, bukan hanya sekedar kain. Mimpi itu terus di bergema di kepalanya, membayangi tidur dan jaganya hingga ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Sampai sebuah pertanyaan yang paling ingin dihindarinya pun terlintas.

Apa ia harus menyerah atas mimpinya?

Kepalanya berkata ya, dan hatinya pun nyaris menuruti hingga tanpa sengaja ia melihat tangkai-tangkai pohon yang patah di bawah kakinya dan dalam sekejap hatinya pun menjerit.

Jika tak ingin menjahit jangan menjahit! Jika tak bisa meraih mimpimu, ubah mimpimu!

Jiwa ini pun mengeluarkan benang di sakunya, lalu memungut tangkai-tangkai pohon yang patah sebanyak mungkin dan memilahnya sesuai ukuran yang sama. Lalu tak lama kemudian, ia mulai disibukan dengan pekerjaan melilitkan tangkai-tangkai pohon yang patah itu satu sama lain. Awalnya ia melakukan itu karena tak punya pilihan dan hasrat hati sesaat. Namun, lama kelamaan ia mulai menyukainya.

Secara ajaib benang-benang itu mengaitkan tangkai-tangkai yang patah satu sama lain, membentuk pola, lalu tanpa sadar menjadi figura, hiasan dinding, pajangan, dan karya seni lainnya. Ketika jiwa ini kehabisan benang dan napasnya mulai putus-putus karena lelah. Ia pun berdoa kepada Tuhan untuk memberinya benang yang lebih panjang, ia ingin terus menghubungkan tangkai-tangkai yang patah. Maka, Tuhan pun berkata, “Mengapa kau gunakan benangmu untuk mengaitkan tangkai-tangkai yang patah?”

Jiwa itu pun menyahut, “Karena aku tidak bisa menjahit dan tak ingin menjahit. Aku ingin benangku menghubungkan hal-hal besar, tapi ternyata aku hanya bermimpi. Lalu kuputuskan melalukan apa yang aku bisa dan ternyata aku bisa menghubungkan tangkai-tangkai yang patah menggunakan benangku. Aku sangat menyukai apa yang telah kubuat dengan benangku sekarang dan berharap Tuhan mau memberiku benang yang lebih panjang agar aku bisa terus melakukannya.”

Tuhan pun kembali tersenyum, Ia mengumpulkan seluruh karya yang telah jiwa itu buat sampai sejauh ini dan meletakannya di atas lemari-lemari yang menyimpan seluruh pakaian dari pekerjaan jahit menjahit. Karya itu terlihat sangat berbeda dari yang lainnya, mencolok dengan cara yang luar biasa.

“Benangmu telah habis dan aku tak bisa memberimu lebih dari itu. Tapi ketahuilah, kau telah membuat sesuatu yang luar biasa dengan benangmu.”

Dan jiwa itu pun mendapatkan imbalan yang setimpal dengan apa yang telah ia buat.

Ya, akhir kata, beginilah caraku memandang kehidupan, karena kehidupan bagiku adalah sebuah benang dan aku sendirilah jiwa yang akan menentukan apa yang akan aku buat dengan benangku ini.

Yearning

Elizabeth  Parker duduk termangu di kursi kayunya, menatap bunga-bunga Bougainvillea berbagai warna yang ia tanam di pekarangan belakang rumahnya hampa.

Hatinya risau.

Hari ini ulang tahunnya yang ke-80, dan ia sendirian di sini—di rumah masa tua yang seumur hidup ia impikan, tapi kenapa ia tidak bahagia? Diliriknya kursi kosong di sampingnya, dan bibirnya mengulas senyum getir.

Seharusnya kau di sini, Sam, bisiknya dalam hati dan seketika itu juga rindu meledak di dadanya. Elizabeth mendesah; napasnya patah-patah. Dengan satu tarikan napas panjang Elizabeth memejamkan matanya, menahan air yang nyaris menetes di sudut matanya. Sementara angin sepoi-sepoi menerbangkan aroma sore; membuainya dengan kadamaian yang selalu ia harapkan datang menjemput.

Saat Elizabeth membuka matanya yang ia temukan bukanlah bunga-bunga Bougainvillea-nya, namun sebuah altar yang penuh dengan nuansa putih; menantinya melangkah mendekat.

Seketika itu juga Elizabeth menyadari kalau ia tengah mengenakan gaun pengantinnya dulu. Ia melihat tangannya yang berbalut sarung tangan putih, lalu menyentuh wajahnya. Tak ada kerutan. Kulit-kulit tuanya yang kendur kembali kencang. Di mana dia?

Elizabeth lantas kembali menatap altar, matanya kemudian menangkap sesosok pria yang berdiri di depan altar dan langsung menyadari bahwa pria itu adalah dia.

Sammy.

Elizabeth ingin berlari menerjang pria itu dan memeluknya erat untuk meluapkan rindunya yang menggebu-gebu, tapi langkahnya pelan—begitu anggun. Ia bisa mendengar suara lonceng gereja yang beradu dengan lantunan organ meskipun hanya ada dirinya dan Sammy di ruangan itu. Aroma mawar yang lembut mengecup cuping hidungnya, dan perasaan bahagia menyebar ke seluruh tubuhnya.

Kini Elizabeth bisa melihat sosok Sammy semakin jelas. Mata hazel pria itu menatapnya begitu lekat, senyuman manis terukir di wajah persegi itu, dan ia terlihat seperti saat pertama kali mereka bertemu; begitu muda, begitu menawan.

Ketika Elizabeth berhenti di depan Sammy, pria itu langsung menyambut tangan Elizabeth dan mengajaknya berdansa dalam diam. Mereka berdansa begitu luwes, berputar di sekeliling altar seolah-olah ingin menunjukkan kepada Tuhan betapa bahagianya mereka sekarang ini. Elizabeth tertawa lepas, jiwanya gembira; kembali ke masa ketika cinta masih membungkusnya seperti kepompong—rasanya nyaman dan tentram—dan Sammy terus tersenyum lebar, membuatnya semakin merasa luar biasa.

Namun kemudian, musik berhenti, lonceng tak lagi terdengar. Dansa mereka berakhir dan Sammy melepaskan genggaman tangannya. Sejenak ia menatap Elizabeth, lalu meraih wajah wanita itu untuk mencium dahinya lembut sebelum akhirnya melangkah pergi.

Elizabeth sontak merasa kehilangan. Hatinya yang semula berbunga-bunga tiba-tiba saja mencelus. Ia ingin berlari mengejar Sammy, tapi kakinya tertahan di lantai. Hingga akhirnya ia hanya bisa berteriak.

“Sam! Bawa aku!”

Sammy yang berada di depan pintu sontak berbalik, menatap Elizabeth dengan cara yang jauh berbeda. Di sana ada amarah, senyum tak lagi tampak, Elizabeth bahkan bisa merasakan gemeretak giginya yang terkatup rapat.

Sammy tidak ingin membawanya.

Elizabeth ingin menjerit lagi, memohon-mohon agar diizinkan pergi bersama dengan belahan jiwanya itu. Tapi seketika itu juga dunianya menjadi gelap. Sammy menghilang, pijakkannya runtuh, dan ia mendengar sebuah suara malaikat memanggil.

Malaikat kecilnya.

 

Granny? Granny? Wake up!”

Elizabeth membuka matanya perlahan dan sorot matanya pelan-pelan menangkap wajah bulat seorang gadis kecil yang memeluk kakinya.

“Granny? Apa yang terjadi? Kau tertidur di kursimu. Kupikir kau tidak akan bangun lagi!” Amanda, cucu pertama Elizabeth memandangnya khawatir, sontak ia teringat mimpinya barusan lantas tertawa dalam hati.

 “Tidak papa, aku hanya kelelahan.” Elizabeth bangkit, menggandeng tangan malaikat kecilnya masuk. “Apa ayah dan ibumu membawa manisan yang kuinginkan?”

“Tentu saja! Malam ini semua akan berkumpul merayakan ulang tahun Granny!”

Amanda tertawa renyah, dan Elizabeth tersenyum lebar. Hatinya menghangat kembali; penuh diisi cinta dari gadis kecil itu.

‘Tentu saja, Sam, tentu saja. Aku tidak boleh menyusulmu sebelum malaikat-malaikat kecil kita tahu bagaimana caranya mencintai,’ bisik Elizabeth dalam hati, diiringi suara lonceng gereja di ujung cakrawala.

End.

(Words Count 598)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Hujan Daun-Daun

Jiwa-Jiwa yang Menuntut Damai

Jiwa orang-orang yang meninggal tetap bersama kita meskipun kita hanya bisa melihat mereka melalui mimpi. Ketika datang, mereka tak banyak bicara, kadang kala hanya tersenyum dan mengangguk atau barang kali terlihat murung karena jiwa mereka mendamba pertolongan.

 “Apa enak di sana, Pak?”

Pria berkumis tebal yang kulihat itu berwajah murung. Tubuhnya yang besar dan gemuk terlihat kaku seolah-olah kesulitan bergerak. Ia tak langsung menjawab pertanyaan yang kulontarkan. Selama beberapa detik keheningan menyelimuti kami di ruangan penuh cahaya putih itu sebelum akhirnya ia menggeleng dan menjawab.

“Enggak.”

Dan aku terjaga. Pelan-pelan aku bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur. Mengatur napas juga kesadaranku yang masih berada di dua dunia. Lagi-lagi ada jiwa yang datang padaku dan kali ini Pak Koco. Ya, aku kenal pria berkumis tebal itu. Ia tetanggaku,  seorang tukang gigi yang cukup terkenal di kota ini; meninggal beberapa bulan yang lalu karena serangan jantung.

Setelah berhasil mengendalikan diri, secepat kilat aku meraih  Rosario yang selalu kuletakan di atas nakas dekat tempat tidurku dan mulai berdoa. Mendoakan jiwa Pak Koco, mohon kedamaian baginya dan juga jiwa-jiwa lain yang masih mengais doa damai bagi mereka.

Setelah selesai berdoa aku bangkit, berjalan menuju balkon kamarku dan menyandarkan perutku pada pagar pembatasnya. Udara pagi menyapa lembut wajahku, aku pun tersenyum sembari merapikan helai-helai rambutku di belakang telinga. Pagi yang damai, batinku. Maka, aku pun menutup mata, membiarkan suasana pagi menenggelamkanku, dan mulai mengosongkan pikiran untuk bermeditasi.

Aku tahu, bukan hanya aku seorang yang pernah mengalami hal ini. Mereka yang kehilangan anggota keluarga atau kerabatnya acapkali mengalami mimpi serupa. Tapi kadang-kadang mereka tidak mengerti maksud dari mimpi-mimpi tersebut; beberapa dari mereka bahkan mengacuhkannya, menganggapnya hanyalah bunga tidur semata. Tapi ketahuilah, mereka—jiwa-jiwa orang yang meninggal itu—muncul bukan tanpa alasan.

Pertama kali hal ini terjadi ketika aku, yang duduk di kelas tiga SMA, mengalami depresi berat karena tidak bisa mengerjakan UAS dengan baik. Aku sudah belajar mati-matian, les setiap hari, dan berjuang untuk memahami semua pelajaran yang diperlukan, tapi tetap saja tes itu masih terlalu sulit bagiku. Maka siang itu—usai menjalani UAS—aku tertidur, lelah dengan belajar dan muak untuk pergi les yang sia-sia. Dan saat itulah, Papa yang sudah meninggal mendatangiku untuk pertama kalinya.

Papa terlihat lebih muda daripada saat terakhir kali kuingat, mengenakan kaus, celana jins, jaket kulit dan topi—penampilan kegemarannya sejak muda. Ia sedang memerhatikanku yang tengah belajar di tempat bimbel. Kemudian, saat lesku usai ia pun mendekatiku dan menandatangani catatan belajarku hari itu tanpa bicara.

Papa datang setiap hari, dan selalu menandatangani catatan lesku seperti itu. Sampai suatu hari ia tidak datang; aku bingung dan bertanya-tanya. Maka, ketika Papa datang lagi untuk melihatku belajar keesokan harinya, aku pun memanggil Papa.

“Hai, Papa!” seruku sambil melambai. Papa pun mendekatiku dan duduk di sampingku. “Kenapa kemarin Papa gak datang?” tanyaku.

Papa hanya tersenyum sembari balas bertanya, “Memangnya kapan Papa pernah gak datang?”

Aku pun membuka buku catatanku dan mencari-cari bagian yang tidak ditandatangani Papa karena ketidakdatangannya. Tapi anehnya, semua catatanku bertandatangan; tidak ada yang tidak. Aku yang bingung, kembali menatap Papa, dan Papa pun hanya tersenyum simpul untuk mengakhiri pembicaraan kami.

Di sanalah titik awal saat kusadari bahwa jiwa-jiwa orang meninggal itu ada, mereka masih terhubung dengan kita dan kita harus membantu mereka untuk menemukan kedamaian.

Kubuka mataku dan menatap langit pagi yang kini mulai membiru. Bermeditasi membantuku menata ulang perasaan dan pikiranku. Bertemu dengan jiwa-jiwa itu kadang membuatku sedih, tapi mereka yang datang tidak selalu menuntut doa dariku. Beberapa di antara mereka justru menolongku dan membantuku untuk menghadapi hidup ini dengan cara lebih baik meski tanpa mereka di sisiku.

Demi kedamaian mereka.

End.

(Words Count 593)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Hujan Daun-Daun

The Black Hair Guy

holding-hands-

Pukul empat pagi, aku terbangun dari tidur tanpa mimpiku. Menggeliat sedikit, berusaha mengumpulkan nyawa yang berserakan di alam bawah sadarku; alam yang dulu sangat kugemari karena menebar cerita-cerita aneh dan ajaib, tapi kini cerita-cerita itu hilang entah ke mana.  Ah, apa karena aku telah tumbuh dewasa? Entahlah. Memangnya, kapan terakhir kali aku memiliki bunga-bunga tidur itu?

Aku menarik tubuhku bangkit duduk di atas kasur dan bersandar ke dinding, berpikir dan mengingat-ingat, mengabaikan kewajibanku sebagai wanita di dapur  sejenak. Aku banyak bermimpi saat aku masih remaja, kebanyakan mimpi-mimpi itu kabur dan langsung kulupakan saat aku terbangun, tapi aku punya beberapa mimpi yang… emmmh, sepertinya masih kuingat sampai sekarang…

O, ya… dia. The Black Hair Guy.

Aku terkekeh singkat, dan tersipu. Bisa kurasakan pipiku menghangat tatkala berhasil mengingat bunga tidur masa remajaku itu. Dulu, aku pernah iseng menuliskan kembali mimpi-mimpi yang berhasil aku lihat dengan jelas di alam bawah sadarku. Hahaha, itu konyol memang, dan benar saja, kegiatan itu tak bertahan lebih dari seminggu karena aku tak sanggup mengingat-ingat mimpiku lagi saat terbangun.  Tapi kisah The Black Hair Guy ini yang paling berkesan untukku. Mimpi yang sederhana, tapi punya pesan yang membuat hatiku hangat setiap kali kurenungi.

Aku berdiri di sebuah tebing curam.

 Pijakanku rapuh, aku bisa saja terjatuh dan mati, tapi anehnya aku tidak takut. Dadaku penuh dengan perasaan berani untuk melewatinya. Di sana, di ujung tebing itu, aku punya mimpi-mimpi yang ingin kuraih, ambisi dan pencapaian yang seumur hidup kukejar, dan aku harus melalui tebing curam ini untuk mendapatkan itu semua. Ya, di bawah sana, kegelapan menyelimuti dan aku tahu kalau aku bisa melaluinya.

Tapi, saat aku ingin memulai langkahku, ada sebuah perasaan yang menahanku. Ketidaktenangan. Ketidaktenangan yang muncul karena aku belum menggenggam sebuah izin. Lantas aku berbalik, dan di sana berdiri seorang pria. Pria berambut hitam pekat. Ia mengenakan kemeja dan celana hitam katun yang membuatnya terlihat gagah. Aku menatapnya lekat dan seketika itu juga aku langsung mengetahui kalau dia…

Suamiku.

Pria itu tersenyum, mengangguk—memberiku izin—lantas, ia mengulurkan tangan dan menawariku sebuah rasa aman. Ya, ia ikut melewati tebing curam itu. Ia membiarkanku berjalan mendahuluinya, sementara tangannya tetap menggenggam tanganku. Menjagaku agar tidak terjatuh meskipun ia sendiri tahu kalau aku bisa melalui tebing ini tanpa bantuannya.

Dan saat kami berhasil melalui tebing itu, kami melihat sebuah tempat yang sungguh indah yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Tempat di mana mimpiku berakhir.

Ah, sungguh, mimpi itu benar-benar berakhir dengan indah. Waktu itu teman-teman SMA-ku begitu muak dengan kisah bunga tidur yang indah itu karena aku nyaris mengulanginya setiap hari. Dan untuk beberapa tahun dalam hidup masa remajaku, aku sedikit banyak terobsesi dengan The Black Hair Guy ini karena jujur saja, mimpi itu terasa begitu jelas dan nyata. Hahaha. Ya ampun, mengingatnya kembali saat aku berada di posisi seperti ini rasanya benar-benar menggelikan.

“Errrh, Hon?”

Aku tersentak saat sebuah suara yang selalu menyapa setiap pagiku selama setahun belakangan ini terdengar. Buru-buru aku menoleh ke sisi lain tempat tidurku dan tersenyum.

Morning, Kebo…” sapaku setengah tertawa, masih terpengaruh dengan ingatan tentang mimpi itu.

“Kenapa kau tertawa-tawa?” pria itu turut bangkit duduk sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Iris birunya menatapku nanar, kebingungan tertera di sana, sementara aku hanya menggelengkan kepalaku sambil terus tersenyum, merapatkan tubuh kami dan melingkarkan kedua tanganku di bahunya.

“Kau bermimpi indah semalam?” pria itu bertanya lagi, tapi pertanyaannya justru membuat tawaku kembali pecah.

“Ya,” jawabku akhirnya di sela tawaku. “Aku bermimpi sangat indah semalam.”

Kulumat bibir pria itu dengan ciuman sementara jemariku meremas rambut pirangnya yang tebal.

Merasa bersyukur karena telah menemukan The Black Hair Guy-ku sendiri sekarang.

End.

(Words count 593)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Novel Hujan-Hujan Daun

Be Sparkling With Me

Lusi memandang orang-orang yang tengah berlalu lalang di hadapannya dengan jenuh. Sesekali ia mencibir bahkan tak jarang tertawa datar karena orang-orang itu tak ubahnya lelakon gadungan baginya. Sudah setengah jam ia bertahan seperti ini—sendirian di depan kelas Kimia-2 tanpa seorang pun kawan.

Yeah, pelajaran kosong untuk yang kedua kalinya hari ini.

Dan Lusi tak tahu apa yang harus ia lakukan ketika saat-saat seperti itu muncul. Sebagian besar teman sekelasnya menjarah kantin; sisanya bahu membahu mendekorasi lapangan sekolah untuk event tahunan yang membosanankan ini.

“Heh, Gus! Talinya tadi mana? Mana?” Seseorang berseru nyaring di tengah-tengah pekerjaannya menyambung kayu yang patah, sementara yang lainnya menyahut jika ia tak tahu dengan lebih nyaring.

 Lagi-lagi Lusi tertawa datar. Semua orang sibuk di tengah lapanan basket; ada yang benar-benar sibuk ada juga yang sok sibuk. Dalam hati Lusi hanya bisa mencibir dan menyayangkan acara konyol yang menyebabkan uangnya untuk membayar sekolah ini terbuang percuma.

Cih. Kenapa HUT Sekolah saja harus sedemikian besarnya?

Jangka waktu tiga bulan untuk merayakan seluruh rangkaian acara HUT baginya adalah pemborosan waktu juga uang; karena akan banyak sekali waktu belajar yang terpotong hingga uang sekolah pun terbayar percuma selama tiga bulan itu.

Huh, kenapa sekolahnya harus seperti ini sih?

“Jangan bengong sendirian, Lus, entar kesambet setan.”

Bahu Lusi berjengkat; terkejut dengan suara bariton yang tiba-tiba saja menyusup di indra pendengarannya. Lusi lantas menoleh ke suara itu berasal, dan mendapati seorang cowok jangkung telah berdiri tak jauh darinya.

“Kamu enggak kerja, Lan?” tanya Lusi ketus, ketika ditiliknya kartu panitia yang masih bergantung di leher cowok itu.

“Lagi ganti sift sama teman bentar,” jawab cowok bernama Rolan itu seraya duduk di samping Lusi; menempelkan bahu satu sama lain.

“Kenapa sih kamu mau ikut beginian?” Lusi melipat kedua tangannya di depan dada lalu menyilangkan kakinya. “Buang-buang waktu tahu enggak.”

Mendengar komentar cewek di sampingnya, Rolan hanya tergelak sembari menautkan pandangan matanya pada gadis itu. “Ikut organisasi itu seru loh, sakit dan  seneng di tanggung bareng-bareng; bagus buat bekal kalau mau kerja nanti,” jawab Rolan diplomatis, kemudian ia menunjuk baleho yang tergantung di salah satu tembok sekolah sembari berkata, “Plus, aku suka tema HUT tahun ini.”

Lusi melirik sembentar ke baleho yang ditunjuk Rolan dan tersenyum sarkaktis. “Be sparkling? So what kalau kamu suka?”

“Hahahaha, serius nih Lus, temanya bikin aku ingat kamu terus,” jawab Rolan jenaka, namun di lain pihak, Lusi hanya mampu terpaku dengan wajah kaku.

“Maksud kamu?”

Ekspresi wajah Rolan perlahan-lahan berubah serius, tatapannya semakin lekat dan tanpa sadar ia meraih satu tangan Lusi yang terlibat di depan dada; menggenggamnya demikian erat seolah-olah itu adalah genggaman terakhirnya.

“Kamu orangnya kaku, susah bergaul sama orang, enggak pernah mikir hal lain selain belajar, paling males ikut kegiatan-kegiatan ini-itu dan lebih suka diam di rumah sambil baca buku. Kamu kayak punya dunia sendiri, Lus…”

Rolan menarik napas panjang dan mendesah sembari menarik kedua sudut bibirnya; membentuk senyum lebar di wajah tampannya.

“Tapi itu yang bikin kamu bersinar di mata aku; kamu berbeda, jauh beda dari aku,” Rolan terkekeh sebentar dan mengeratkan genggaman tangannya. “Tapi hebatnya, cuman aku yang bisa menemukan sinar itu di kamu; cuman aku, cowok beruntung itu.  Dan pada akhirnya, sinar kamu memang cuman buat aku,  dan kamu…

“Hanya dapat bersinar bersamaku. Hehehe.”

“WOI! ROLAN! KAMPRET LU! Malah asyik pacaran pas lagi sibuk-sibuknya gini! Buruan panggil Paman Huri!!”

“Iya, Des! Bentar doang! Cewek gue lagi pasang muka bete makanya gue gombalin dulu!” Rolan tertawa renyah sembari berdiri, bersiap untuk pergi. Tapi sebelum Rolan benar-benar menghilang, ia masih sempat berbisik di telinga Lusi.

Be sparkling like always, Darling, be sparkling with me.

Wajah Lusi langsung memanas dan ia mulai merasakan seluruh darahnya mengalir langsung ke wajahnya. Buru-buru Lusi memalingkan wajah ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, tapi Rolan terlanjur menangkap ekspresi itu dan pergi sambari tertawa penuh kemenangan.

Sepeninggal Rolan, Lusi hanya bisa terdiam dengan perasaan dipernuhi oleh perkataan cowok itu. Sekarang, ia tak punya waktu lagi untuk merasa kesal dengan event tahunan ini, karena wajah tengil pacarnya kembali membuat perasaannya jauh lebih baik.

Fin.

A/N: Baca lebih lanjut