RIUH;

Fragment Sebelumnya > #1 DOPAMINE; #2 SAMSARA; Dia tidak suka berpesta. Sayang, pesta membuatnya pusing. Sayang, dia tinggal di negara ini; kota ini; dalam keluarga ini. Jadi pesta itu selumrah bernapas. Untuk apa saja, misal untuk kelahiran anak anjing, lalu ulang tahun pernikahan, mungkin bisa untuk merayakan hal-hal tidak penting lainnya. Ada bir dan ganja. Nikmat [...]

Pt. 1 – Jakarta Hari Ini.

Jakarta hari ini mengingatkanku pada manik matamu saat kita berpisah dulu—remang dan basah.  Bulan September datang dan membawa hujan tanpa permisi belakangan ini; aku mengira-ngira kejutan apa lagi yang akan ia perlihatkan selain hiruk pikuk yang rasanya tak berkesudahan. Sejak malam ketika aku melihat kakimu yang sejenjang korek api itu melangkah tertatih-tatih membelah angin, telah [...]

Ik Ben…

Empat puluh tahun berlalu secepat angin menghempaskan serpihan debu di trotoar Malioboro. Paru-paru pria kaukasoid itu melumat dalam-dalam cerutu pertamanya hari ini dan menyelimuti wajah yang kini penuh dengan bintik-bintik usia itu dengan asap beracun. Ia tersenyum tipis, mata biru kelabunya melirik miris pada kusir-kusir andong yang telah siap siaga di atas dokar dan menanti [...]

Seandainya Pongah itu Kita Buang ke Laut Saja

  Putih adalah warna kesukaan Bellatrix selain merah muda. Namun, ketika ia melihat pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, mencukur rambutnya hingga cepak, dan menghilangkan bulu-bulu di wajahnya begitu bersih serta rapi—seperti  yang selalu ia bayangkan dalam benaknya, entah mengapa Bella merasa risih.  Terlalu tidak biasa. Terlalu bukan David yang ia kenal dulu saat masih [...]

Reuni

Menghirup udara yang sama denganmu membuatku sadar  sudah begitu lama aku tak mencium aroma mentol itu. Lima tahun yang berjalan singkat, kita bukan lagi sepasang begudal yang acapkali disetrap di bawah bendera sambil cekikikan lantaran ketahuan merokok di pemburit sekolah. Sekarang, kamu sudah berubah menjadi tawanan kubikel kantoran di salah satu perusahaan ternama, sementara aku [...]

Penunggang Ombak

“Hiya!” Danum memicingkan mata pada seorang pria Kaukasoid yang berada di laut, duduk nyaman di atas board, dan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sembari memberi wanita itu shaka sign[1] dengan mengacungkan jempol dan kelingking. “Hiya!” Wanita itu pun sontak menancapkan board yang ia angkut ke pasir pantai Tanah Lot yang berwarna gelap lantas membalas shaka sign [...]

Kebebasan Cinta

Apa esensi dari menulis? Jika ditanya seperti itu aku pasti hanya akan menggeleng dan mengangkat bahu. Menulis adalah kegiatan yang misterius. Ada saat-saat ketika menulis sebagai sebuah kebutuhan, sementara di lain waktu bisa menjadi hal yang paling diabaikan. Mulanya, aku berpikir menulis untuk dikenal, meninggalkan jejak keberadaanku di dunia ini barang setitik, namun perasaan itu [...]

Smile Through The Rain

Bian benci sekali dengan musim hujan juga guntur yang menggelegar. Baginya, musim yang menghabiskan waktu dua bulan dalam setahun itu benar-benar kala yang paling buruk. Ia harus siaga setiap waktu dengan jas hujan, payung, atau jaket, dan hal itu sangat merepotkan. Ditambah lagi kondisi cuaca yang tidak bersahabat itu acapkali menyebar virus-virus penyakit dan jika [...]

Robotic Guy

Mulutku terjahit. Rasanya tidak sakit, hanya saja hal itu membuatku tak dapat berbicara dengan orang lain. Selayaknya orang tunawicara, aku mengerjakan semuanya dalam diam. Aku mendengar perintah dan kukerjakan dalam diam. Aku mendengar tugas dan kukerjakan dalam diam. Kerja dan diam. Diam sambil bekerja.  Talk less do more, itu prinsipku. Aku benci orang-orang yang banyak [...]

Ready in Love

Brio tahu betul kelakuan jalang sahabat masa kecilnya ini tak mungkin bisa diubah. Jadi, ia hanya bisa menekan perasaannya tiap kali gadis itu mendobrak masuk flatnya dengan berburai air mata. Seperti ini. “Brioooo!! Gue diputusin!!” Brio menghela napas. Melirik sedikit pada Tania yang sudah mengempaskan diri di atas kasurnya, tangis gadis yang lebih muda 5 [...]