[Triple Kolaborasi] Kisah yang Berbeda

images (1)

Sudah lama tidak melakukan kolaborasi, akhirnya aku putuskan untuk melakukan hal gila dengan melakukan tiga kolaborasi sekaligus dengan tiga orang yang berbeda. Ketiga orang ini bisa dibilang adalah adik kelas karena umurnya di bawahku juga tergabung dalam grup chat line Forum Penulis Borneo yang baru-baru ini aku ikuti dan aku pikir akan sangat menyenangkan jika membuka sejarah dengan menulis duet dengan mereka.

Dalam ketiga cerpen yang akan kusampaikan dalam satu posting ini, masing-masing dari cerpen ini memiliki genre yang sangat bertolak belakang satu sama lain. Berani sumpah? Iya, aku berani sumpah. Karena ketiga adik kelasku ini ternyata punya gaya dan genre kepenulisan yang sangat berbeda pula. Hahahaha. Mau gak mau aku harus mengikuti gaya kepenulisan mereka dan mencoba untuk melebur.

Oh ya, ketika cerpen ini pun sebenarnya punya benang merah. Aku yang membuatnya begitu tanpa disadari oleh ketiga partner duetku ini. Hahaha. Makanya kuputuskan untuk menjadikan semuanya dalam satu posting-an.

Nah, gak usah berlama-lama lagi, mari simak saja cerpen pertama dari kami!

Baca lebih lanjut

[Kolaborasi] Mirror

mirorr

Bagi banyak orang, mungkin punya saudara kembar adalah hal yang mengundang keingintahuan. Ya, bagaimana rasanya memiliki seseorang yang sangat mirip denganmu, sehingga saat melihat saudaramu, kau seperti melihat dirimu sendiri? Bagaimana rasanya memiliki seseorang yang diperlakukan sama persis denganmu, saat hal yang kau dapatkan, juga didapatkan oleh saudaramu? Bagaimana rasanya memiliki seseorang yang tahu segala hal tentang dirimu, karena ia adalah temanmu semenjak dalam rahim ibu?

Kau ingin tahu bagaimana rasanya? Lebih baik jangan. Karena aku tahu persis, rasanya tidak enak.

Dian dan aku, Dana, lahir berselisih 15 menit dari sebuah indung telur yang sama.  Karenanya, kami punya wajah identik, tanpa sedikit pun bagian yang berbeda pada fisik kami. Saat kami berdiri berhadap-hadapan, Dian dan aku bagaikan sedang bercermin. Namun, yang membuatnya berbeda adalah sisi cermin yang dimiliki Dian menunjukkan senyuman, sementara di sisiku? Kau hanya akan menemukan pantulan wajah yang muram.

Dian memiliki segalanya yang diinginkan orangtua dan masyarakat; cantik, ceria, dan cerdas. Sementara aku? Kendati kecantikan Dian adalah milikku juga, aku tak memiliki bagian yang mampu membuat orang lain bangga. Mama dan Papa mungkin memerlakukanku sama seperti Dian, tapi aku tahu, di lubuk hatinya yang paling dalam seorang Dana hanyalah sekedar ‘anak yang harus dirawat’, bukan dicintai.

Pandanganku pada Dian pun semakin hari semakin berlumur iri. Hingga saat kami beranjak remaja dan duduk di bangku menengah tinggi, pandangan iri itu berubah menjadi benci tatkala sebuah kejadian yang merusak hubungan kami.

Dian ternyata menusukku dari belakang.

Saat itu, di jam istirahat, aku tengah duduk sendirian di kelas, menatap ke luar jendela. Tidak seperti Dian yang berlagak Diva, easygoing, dan mudah bergaul, aku seseorang dengan kepribadian penyendiri dan tertutup. Aku hanya punya satu fokus titik pandang. Haqi. Beberapa minggu ini, perhatianku selalu tersita padanya. Darahku
berdesir setiap aku menatapnya meski hanya dari kejauhan. Mungkin inilah yang orang-orang sebut dengan cinta pertama.

“Kamu suka dia, kan?” Seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Suara Dian. “Haqi memang lumayan, sih,” timpalnya. Aku hanya diam, seperti biasa, tak tahu harus menjawab apa. “Kenapa nggak ungkapin perasaan ke dia?”

Wajahku bersemu merah, seperti direbus. “Mustahil, dong.”

“Karena seharusnya cowok yang nembak cewek? Ah, udah ketinggalan zaman itu.”

“Aku nggak bakal bisa ngasih tahu dia.”

“Ya sudah, nanti aku yang sampaikan.” Aku mengangkat alisku. Tak percaya mendengar kata-kata Dian. “Kamu gila,” sahutku pendek.

“Lihat saja nanti.” Ia menimpali.

Dan aku tak menyangka, karena beberapa hari kemudian, yang kudengar adalah Haqi dan Dian yang resmi pacaran. Rupanya bukan perasaanku yang ia sampaikan. Dian yang menyampaikan perasaannya sendiri. Dan saat kutanya, ia hanya menjawab,”Yah, kulihat-lihat, dia lumayan juga, sih. Jadi karena aku yang berani, mending buatku aja kan?”

Aku terdiam. Tak dapat berkata-kata, apa lagi mencaci maki gadis itu. Rasa iri yang sudah mengakar daging, akhirnya semakin tertumpuk dengan kebencian dan membuatnya semakin menjadi. Sejak saat itu aku semakin menarik diri dari Dian. Aku iri, dan sekarang benci padanya. Tak pernah lagi kubercerita dengannya tentang diriku, masalah Haqi, cinta pertamaku itu, akan menjadi yang terakhir.

“Kamu bertengkar dengan adikmu?” tanya satu-satunya sahabatku di kelas, Ninda.”Kalian makin hari makin jarang tegur sapa. Kalian ‘kan kembar, harusnya kalian kompak.” Rupanya ia memperhatikan bahwa aku dan Dian semakin hari semakin jauh saja. Sudah tak seperti layaknya saudara.

“Aku merasa dikutuk, karena berwajah sama sepertinya. Dia licik. Dia jahat.” Kemudian tanpa sadar aku menitikkan air mata sambil membicarakan apa yang menjadi bebanku selama ini pada Ninda. Perlakuan mama dan papa yang seakan lebih menyayangi Dian yang periang daripada aku yang pemurung. Dian yang selama ini berhasil membuatku cemburu setelah merebut Haqi. Dan perasaan rendah diriku yang semakin besar karena aku tahu aku tak mampu menyaingi ‘pesona’ Dian. Karena menjadi kembarannya, aku sangat lelah terus-menerus dibandingkan dengannya.

“Aku merasa Dian juga pasti merasakan hal yang sama, Dan.” Ninda berpendapat.

“Maksudmu?”

“Kamu renungkan, deh, untuk apa dia capek-capek pacaran dengan Haqi? Dia mau buat kamu iri. Tapi kenapa? Pasti, dia juga ngerasa insecure terhadap kamu.”

“Oh ya?” Aku tersentak. Jika dipikir, perkataan Ninda ada benarnya.

“Mungkin kalau kamu tahu perasaan Dian ke kamu, hubungan kalian juga membaik.”

Aku diam. Mencoba merenungkan perkataan Ninda.

Apa benar Dian begitu?

Perasaanku mulai tak tenang. ada sebagian dari diriku yang berharap kalau Dian bukan seperti yang kukira. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajak Dian berbicara empat mata di kamar kami.

“Yan, sebenernya apa maksud kamu ngerebut Haqi dariku?” tanyaku serius, dan Dian langsung membuang muka.

“Emangnya Haqi punya kamu sampai-sampai kamu bilang aku ngerebut dia?” jawabnya sinis, dan aku semakin naik pitam.

Kutarik bahu Dian dan memaksa saudara kembarku itu bersetatap. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. “Dian! Jawab jujur! Kamu kenapa bersikap brengsek kayak gini? Kamu punya segalanya! Kamu punya yang gak aku punya! Aku iri sama kamu, dan aku gak mau jadi benci ke kamu!”

“Lebih baik kamu benci sama aku dari pada kamu iri, Dana!”

Aku terperangah. “Ap-apa?”

“Aku kepengen kamu lebih percaya diri,” jawab Dian akhirnya. “Kamu kira aku nggak tahu, kalau selama ini kamu iri sama aku, Dan? Kita ini kembar! Aku bisa ngerasain perasaan kamu. Tapi kamu selalu sibuk sama diri kamu sendiri. Kamu sibuk mempermasalahkan apa yang bisa kulakukan dan kamu nggak bisa lakukan. Kamu sibuk mengeluh kenapa kamu nggak sehebat aku, nggak seperti aku!” Dian berkata dengan nadayang sedikit meninggi.

Aku seperti tertampar. Benarkah aku seperti yang dikatakan Dian? Benarkah bahwa selama ini aku terlalu sibuk mengeluh, dan lupa mensyukuri apa yang aku punya?
“Kamu terbutakan oleh rasa iri dan benci kamu, Dan. Kamu nggak lihat kalau selama ini Papa, Mama, dan aku, juga sayang kamu. Aku pengen kamu mengembangkan potensi kamu, meraih prestasi berdasarkan bakat
kamu. Aku pengen kamu jadi diri sendiri, Dan, nggak sibuk membandingkan diri kamu dengan aku. Meski kembar, kita ini individu yang berbeda.” Dian berkata lembut, sambil menggenggam tanganku erat.

Aku terperangah. Aku baru sadar bahwa selama ini akulah yang memilih untuk menjadi penyendiri, pendiam, dan pemurung. Seandainya waktuku kugunakan lebih produktif, pasti aku akan meraih banyak hal. Hidupku juga akan lebih bahagia, tanpa harus menjadikan diriku seperti saudara kembarku. Aku bisa menjadi diriku sendiri, yang lebih baik dari ini.

“Terima kasih, Dian…” Aku seketika memeluknya. “Dan maafkan aku, selama ini sudah berburuk sangka sama kamu.” Dian mengelus punggungku. Akhirnya kurasakan lagi sentuhan hangat dari ‘kawan satu rahim’ku itu. Saudara kembarku yang aku sayang.

“Oh ya, untuk masalah Haqi…” Tiba-tiba Dian menarik jarak dariku dan menatapku lekat-lekat. ”Aku bohong pada orang-orang kelau Haqi dan aku pacaran.”

“Hah?”

“Yah, memang benar kalau aku menembaknya, tapi waktu itu aku…” Dian mengulum senyum dan menatapku lembut, “…menggunakan namamu.”

Aku terkesiap, mengerjap, jadi itu artinya… Haqi tidak…

“Dan Haqi marah padaku karena dia tahu kalau aku berbohong.” Dian tertawa renyah dan kembali memelukku lebih erat. “Kamu tahu gak apa yang Haqi bilang padaku? ‘Yan, wajah kamu emang mirip sama Dana, meski kamu berusaha bertingkah semirip mungkin sama dia. Aku tahu Dana yang sebenarnya gak bakalan mau nembak aku duluan. Kalian beda, dan yang aku suka itu Dana.

Aku yang bakalan nembak Dana duluan.’”

“Kyaaaa!” Dian memekik kesenangan seolah-olah dialah yang menerima ucapan itu. Aku yang mendengarnya bahkan tak dapat bekedip sedikit pun. Aku terlalu kaget; terlalu bahagia.

“Makanya, Dan! Entar kalau nanti Haqi tembak kamu, kamu harus jawab ‘iya’ dengan percaya diri. Kamu pantes mendapatkan hal-hal terbaik! Pantes! Ih, aku jadi iri deh sama kamu.”

Dian tertawa lagi, dan aku pun tertular oleh tawanya. Untuk pertama kalinya, kutemukan potongan diriku yang hilang. Untuk pertama kalinya, kurasakan setiap sisi bayangan yang ada di cermin, memiliki ekspresi yang sama.

Fin.

Colaboration With Jusmalia Oktaviani

(Photo taken from http://kimberlykinrade.com/2011/03/a-tale-of-two-women/blackandwhitephotographyfacefemalemirrorreflection-64898a07781698ac7d311da16306a8df_h/)

[Kolaborasi] Menggenggam Cahaya

Beberapa sering bertanya. Ada pula yang kemudian menerka-nerka. Ada keinginan mereka untuk mengikuti jejak yang selama ini tengah kulakukan belasan tahun lamanya. Berguru. Belajar lagi mengenai sesuatu yang mungkin saja belum sepenuhnya mereka tahu. Dibandingkan dengan masa-masa awal perkenalanku dengannya, belasan tahun ini telah menjadikanku begitu dekat dengannya. Ia, guru spiritualku. Seseorang yang benar kuhormati dan kutuakan. Ucapnya adalah tulah, bila tak diikuti. Perintahnya adalah kewajiban, bahkan bila terkadang itu melanggar atau menabrak apa-apa yang sebelumnya kupercayai.

Ya, aku memang terdengar seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya; begitu menuruti dan meyakini apa pun yang ia katakan. Tapi kehadiran guru spiritual itu nyatanya mampu membuat hidupku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku yang dulunya pecandu narkoba, aku yang dulunya hidup berantakan, aku yang dulu yang berbidah pada Tuhan, aku yang begitu ‘sakit’, kini menjadi menjadi tahir dan berjalan lurus kembali.

Bersama guru spiritualku itu, aku menemukan cahaya yang hilang dari hidupku. Setiap kali aku menuruti apa yang ia katakan, aku merasa sangat bahagia. Ada kepuasan batin tersendiri yang aku dapatan tatkala ia memberiku pujian atas tindakan yang aku lakukan berdasarkan titahnya. Dan hal itu telah berlangsung sangat lama, ya lebih tepatnya tiga belas tahun sudah berlalu sejak pertama kali aku mengenalnya. Aku benar-benar mempercayai guru spiritualku itu.

Tapi ternyata, seluruh rasa hormat dan pengabdian yang aku berikan untuknya selama belasan tahun itu hanya sia-sia belaka; persepsiku terhadap citranya benar-benar tergilas hancur. Ketika tiba-tiba saja, sebuah berita buruk menamparku hingga aku tak tahu apa  yang harus aku lakukan terhadap hubunganku dengan guru spiritualku itu. Seandainya saja berita itu berasal dari oknum tak terpercaya, aku mungkin hanya menganggap hal itu hanyalah cemooh untuk menjatuhkan guru spiritualku itu, tapi sumber dari pemberitaan ini adalah… istri guru spiritualku sendiri.

Entah mengapa hatiku menjadi remuk redam mendengar setiap ucapan yang terlontar dari istri guruku. Bukan satu hal yang aneh bila kemudian aku juga mengenalnya. Istrinya selalu ada di setiap perhelatan dan juga di setiap pertemuanku dengan guru spiritualku. Tak mungkin bila tak pernah sekali pun bertemu dengannya.

Darinya kudengar banyak hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, layaknya bayi yang belum bisa memutuskan apa-apa. Aku pun seperti ikut menjadi bebal dengan kenyataan yang tengah aku hadapi. Jadi selama ini semuanya adalah kebohongan? Sandiwara saja? Aku tak ingin sekali pun percaya, tapi sedikit demi sedikit, semuanya terasa semakin jelas. Keanehan-keanehan yang dahulu pernah kuanggap wajar, ternyata berarti lain setelah kudengarkan semuanya dari istrinya.

Guru spiritualku ternyata memiliki banyak istri simpanan dan menjunjung ‘makhluk gaib’.

Baca lebih lanjut

[Kolaborasi] The Perfect One

Ada sesuatu yang saat ini masih mengganjal di benakku. Seperti ada sebuah duri yang bersarang di hatiku. Aku sudah coba untuk berpura-pura tak merasakan sakit yang ditimbulkan oleh duri ini, tapi semakin aku berusaha semakin dalam ia menancap ke dasar hati. Entah sampai kapan harus kutahan semua perih dari tajamnya belati kehidupan yang tak henti menyayat-nyayat dinding hatiku. Bahkan dengan segala kekuatanku, sepertinya mustahil aku mampu melawan…

“Lu bikin tokoh utama di cerita lu menderita lagi, Bay?”

Secepat kilat aku menoleh ke arah samping dan mendapati seorang wanita tengah berdiri di belakangku. Tubuh lampainya membungkuk untuk melihat apa yang baru saja kutulis di kertas putih Microsoft Word, kemudian terkekeh geli.

“Sudah gue duga,” katanya sembari menarik kursi dan duduk di sebelahku. “Bayu, Bayu… coba sekali-kali bikin tokoh utama yang berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, terus lu bikin komedi-tragis aja ceritanya,” imbuhnya lagi.

Mendengar coletehan wanita itu aku hanya tersenyum, memaklumi dirinya yang tak mengerti apa-apa. “Gue enggak bisa bikin tokoh kayak gitu, Ambar,” tanggapku, lantas kembali menarikan tangan di atas keyboard, menambahkan beberapa kalimat lanjutan. “Gue menulis berdasarkan hidup yang gue jalani, dan nyatanya, hidup gue menderita kan ya?” kataku lagi sembari tertawa hambar. Baca lebih lanjut

[Kolaborasi] Silence Letters

Kita sudah lama tidak pernah lagi saling bertukar cerita atau hanya sekedar saling menyapa. Aku bertanya – tanya mengapa, tapi kau tak pernah memberi jawaban. Lalu ku putuskan untuk menulis sepucuk surat. Mungkin saja hatimu akan luluh sutu waktu nanti.

Hari ini tepat hari ke seratus aku mengirim lembaran -lembaran kertas kepadamu. Setiap lembaran yang kuisi penuh dengan ribuan huruf sampai benar-benar penuh.  Aku sudah pastikan tak ada lagi sudut yang kosong pada mereka.  Huruf-huruf itu sudah ku lumuri dengan cinta dan rindu yang berlebih. Aku yakin kau pasti akan senyum-senyum sendiri lalu loncat-loncat kegirangan saat menerimanya. Disetiap surat itu juga kuselipkan aroma kopi kesukaanmu.  Ah, mengapa kau suka sekali barang yang bisa membuatku terjaga sepanjang malam?

Kubungkusi surat itu dengan amplop biru, biru langit, warna  favoritmu. Tapi sampai detik ini, tak satu pun surat balasan yang kuterima darimu. Padahal disetiap akhir surat aku telah menulis pesan “P.S: Kunanti balasan darimu”. Tidak, surat ini tidak salah alamat. Aku sendiri yang meletakkan nya di depan rumahmu.

Apakah kamu terlampau marah padaku hingga tak pernah membalas surat ini?

Aku tahu, cepat atau lambat kau akan mengetahui semua hal yang aku sembunyikan darimu. Dan aku pun sudah mempersiapkan diri untuk  menghadapi reaksimu yang pasti tak terima akan kenyataan itu. Namun, mau bagaimana lagi? Ayah dan ibu tak memberiku pilihan.

Pria itu telah menjadi jodohku bahkan sebelum aku mampu berbicara.

Baca lebih lanjut

[Kolaborasi] Tertawa Kembali

cincin pernikahan

Tawa bukan lagi cara terbaik untuk mengisi kekosongan suara di antara kita. Kini detik-detik berlalu percuma dan banyak hal yang kita lewati begitu saja, tanpa tawa yang berkumandang untuk menyatakan rasa bahagia. Hanya nada datar darimu atau balasan dingin darikulah yang menjadi melodi yang mengiringi perjalanan panjang kita.

“Din, aku tidur duluan ya?” Pria itu menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut menutupi dada. Tanpa melihatku terlebih dulu, ia langsung memunggungiku dan memejamkan mata.

“Iya. Selamat malam, Bi,” sahutku tanpa sedikit pun mengalihkan  pandangan dari punggung lebarnya. Ingin aku menyelinap masuk ke dalam selimut, dan memeluknya, tapi tumpukan pekerjaan yang masih menuntut tanggung jawabku merantai kaki hingga aku tak punya pilihan lain selain membuang keinginan itu.

“Malam.” Pria itu membalas lirih, dan tak lama kemudian hanya ada dengkuran pelan yang terdengar dan bahunya yang naik-turun beraturan.

Aku meringis di dalam hati, kemudian kembali dengan naskah-naskah di hadapanku. Ucapan selamat malam yang dulu terdengar manis, kini hanya sekedar basa-basi; pembuktian bahwa bahtera ini masih memiliki penghuni yang mencoba untuk tidak terjun dan  saling meninggalkan satu sama lain.

Aku tak tahu bagaimana cara menyelamatkan bahtera rumah tangga ini, yang semakin lama semakin mendekati karang kehancuran. Perlahan tapi pasti, kami berdua seperti bukan lagi seperti sepasang kekasih yang sama-sama saling mencintai. Tapi kami malah seperti tamu yang datang untuk singgah. Hanya untuk singgah makan, mandi, dan tidur.

Sementara itu, pekerjaanku sebagai penulis, membuatku semakin tak punya waktu memikirkan rumah tanggaku. Suamiku, dengan pekerjaannya sebagai seorang desainer interior, juga sama sibuknya. Aku merasa kami hampir-hampir tak saling mengenali. Semua terasa hambar. Tanpa kehadiran anak di antara kami, semua terasa sunyi.

Aku membenamkan wajahku di kedua tanganku, dan tiba-tiba merasakan tanganku basah. Aku menangis? Ya, tanpa sadar air mataku tumpah ruah. Ternyata, aku tak rela rumah tanggaku menuju kehancuran. Jauh dalam hatiku, ternyata aku tak mau kekakuan dan kesenyapan ini terus berlangsung. Aku ingin semua kembali seperti semula, seperti dulu, di saat kami masih dipenuhi rasa sayang di hati kami. Tapi aku bingung, apa yang harus aku lakukan?

Baca lebih lanjut

[Kolaborasi] Udin Sapirudin Anak Orang Kaya

Udin Sapirudin tak pernah merasa kekurangan, semua hal yang tidak dimiliki teman sebayanya ia miliki. Rumah besar, gadget yang selalu up to date, sampai pacar yang selalu berganti. Padahal jika ditilik dari cara ia berpakaian serta wajah yang tidak begitu menarik perhatian, mana mungkin orang percaya jika ia adalah seorang anak anggota DPR yang memiliki kekayaan bertriliunan rupiah.

Sayangnya, seribu sayang, segala kelebihan itu ternyata tidak sebanding dengan perilaku si Anak Pak Dewan ini.

“Heh, lu! Kenapa jalan di depan gue enggak pake permisi?!”

Udin turun dari singgasananya—sebuah meja yang berada di tengah-tengah kantin sekolahnya—dan menatap seorang laki-laki berkacamata yang sedari tadi berkutat dengan buku Biologi di genggaman tangannya.

Laki-laki berkacamata itu menoleh singkat ke arah Udin dan mendengus, “Ini kantin bukan punya kamu aja,” sahutnya tenang, tak secuil pun merasa terintimidasi dengan perlakukan Udin. Semua orang yang berada di sekitar kejadian langsung bringsut menjauh. Hingga di kantin hanya ada laki-laki itu dan Udin beserta antek-anteknya.

“Heh!? Lu enggak tahu ya siapa gue?!” Udin mencengkram kerah baju laki-laki itu , ia menjilat bibir tebalnya dan menyeringai lebar—memamerkan gigi-gigi kuning yang tak rapi.

“Aku tahu kok, kamu cuman seorang anak yang dikuasai oleh harta orangtua, yang masuk sekolah ini karena nyogok, enggak pernah ngerjain tugas tapi selalu dapat nilai bagus di rapot, playboy cap cicak, sukanya cari masalah, dan masih banyak keburukan lain yang aku tahu dari kamu.”

Anak laki-laki itu mengangkat dagu setinggi mungkin, matanya penuh kilat kepercayadirian, tak sedikit pun ia takut pada Udin.

“Mulut lu di jaga, ya!”

Duak! Brak! Srak!

Bogem mentah Udin bersarang di wajah laki-laki itu dan membuatnya jatuh tersungkur di lantai. Baru kali ini ia menemukan seseorang yang berani melawannya dan ia benar-benar merasa terhina.

“Heh, lu!” Udin menunduk lantas meraih kerah laki-laki itu dengan kasar, “Lu ngomong sekali lagi! Gue tonjok lu!”
Laki-laki berkacamata itu diam saja, wajahnya tak berubah dari sebelumnya hingga membuat Udin semakin marah.

“Lu tuh ya—“

“Bos! Guru, Bos!”

Udin menoleh ke arah pintu masuk kantin, didapatinya beberapa orang guru merengsek masuk, dan ia pun sontak menghempaskan kembali tubuh laki-laki berkacamata itu ke lantai. “Dasar! Liat aja pembalasan gue!”
Udin dan para antek-anteknya buru-buru berlari melalui pintu lain, tapi sebelum sempat Udin melewati pintu keluar, ia mendengar laki-laki berkacamata itu berteriak nyaring, “UDIN! SEMUA YANG KAMU LAKUKAN PASTI ADA KARMANYA!!”

Udin membatu, napasnya kempat-kempot seakan-akan apa yang di dengarnya itu adalah sebuah kutukan. Sesegera mungkin ia menoleh ke belakang, dan terkaget-kaget, ketika ia tidak mendapati laki-laki berkacamata itu di tempatnya semula ia tinggalkan. Para guru yang berdatangan pun ikut bengong karena mereka hanya mendapati Udin di sana—tanpa laki-laki berkacamata seperti yang tadi dilaporkan—dan kemudian ada hening yang panjang.

Dalam keheningan itu, entah setan atau malaikat yang telah merasuki tubuh besar Udin. Ia berlari kencang meninggalkan kantin menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Ia ingin segera pulang, menghempaskan tubuhnya di extra large bed-nya. Dalam rongga kepalanya, suara anak berkaca mata tadi terus menggema, membuat pikirannya kalut.

“Karma… karma… karma…”

Belum sempat ia memasuki pintu depan rumahnya yang terbuka, Udin mendengar kedua orang tuanya sedang bertengkar. Di antara mereka ada seorang gadis muda berpakaian seksi yang merangkul bahu anggota dewan itu.

“Siapa gadis ini, Pa? Selingkuhanmu? Dasar lelaki brengsek!” teriak Mama Udin.

“Kemarin juga ngapain Mama jalan bareng brondong anak teman arisan Mama? Pake ciuman di mobil segala lagi. Hih.”

“Dia…dia cuma nganterin Mama setelah arisan kemarin,” suara perempuan itu bergetar, menyiratkan kebohongan kepada suaminya.

“Udah, lupakan masalah brondong itu. Papa sudah muak. Lagian seharusnya Mama nyadar. Mama nggak bisa ngasih Papa keturunan, wajar dong kalau Papa menghadirkan perempuan lain dalam hidup Papa.”

“Kita kan udah mengadopsi Udin dari panti asuhan, Pa?” perempaun paruh baya itu memasang wajah memelas.

“Udin? Anak nakal itu? Kamu gagal mendidiknya. Kamu terlalu asyik belanja, arisan, nongkrong hore di mall bareng brondong-brondong kamu itu…”

Air mata Udin meleleh mendengar apa yang dibicarakan orang tuanya. Ia urungkan niat untuk bernyaman-nyaman di tempat tidurnya setelah kejadian di kantin tadi. Pikirannya semakin kalut menyadari bahwa ia bukan anak kandung anggota dewan itu. Pun terhadap perilaku orang tuanya yang doyan selingkuh dengan brondong dan cewek muda. Duh. Ia tak tahan lagi. Ia memutuskan untuk kabur dari rumah. Menggelandang.

* * *

Tiga hari kemudian…

Petugas kepolisian telah dikerahkan untuk mencari tahu keberadaan Udin. Nihil. Tak seorang pun mengetahui keberadaannya, pun antek-anteknya.

* * *

Dua hari yang lalu, anak berkaca mata itu menemui Udin yang sedang kelaparan di salah satu sudut taman kota. Ia memberikan seiris roti dan sekotak susu putih, lalu mengajak Udin untuk tinggal di rumahnya. Ia menarik tangan Udin. Dan seketika, kabut tebal melingkupi tubuh mereka. Mereka menghilang dari taman.

Fin.

“Collaboration With A. Abdul Muiz ‘Aam'”

A/N:

Our First Duet! Enjoy All!

[Kolaborasi] Putri Intan Cari Pacar!

“Papiiiii!! Aku mau punya pacaaaar!” Putri Intan melangkah memasuki ruang kerja ayahandanya dengan wajah kusut. Rambut bergundinya berkibar ke sana kemari setiap kali kepalanya bergoyang dasyat; kebiasaannya saat sifat manjanya kembali kambuh.

 “Pacar? Bukankah banyak lelaki di kerajaan kita yang hendak menjadi pacarmu?” sahut Raja Permata tenang tanpa sekalipun mengalihkan pandangan matanya dari koran pagi ini. Ckckckck, nilai Ruby menurun drastis, sepertinya ia masih harus menunggu sampai nilai jual batu itu kembali naik.

 “Aaahhh Papiiii… mereka tidak keren…. Senyumnya terlalu dibuat-buat. Aku tak suka. Makanya, ijinkan aku untuk jalan-jalan sebentar keluar istana. Siapa tahu aku bisa dapat pacar disana….” kalimat panjang diberondong Putri Intan kepada ayahanda. Ia mengguncang-guncang lengan Raja Permata yang hanya mengangguk-angguk pelan. “Papiii… jangan hanya mengurus batu… ” rengeknya lebih serius.

 “Kamu mau cari pacar di mana?” Raja Permata masih menanggapi putri tunggalnya itu dengan tenang, “Belajar aja yang benar, baru cari pacar.”

 “IKKKH! Tapi aku malu sama Putri Lily dari Kerajaan Bungaaa! Dia udah punya pacar yang kereeeen!” Putri Intan menghentak-hentakkan kakinya lebih kencang. Ia paling benci jika ayahandanya itu mulai bersikap seperti itu.

 “Memang kamu tahu dari mana, emm?”

 “Tadi dia BBM aku, Piiii!” seru Putri Intan gemas. “Dia pamerin pacarnya ke akuuu!”

 Mendengar cerita Putri Intan, Raja Permata justru tertawa terbahak-bahak. Sambil sesekali mengelus kepala putri tunggalnya. “memangnya menurut kamu, pacar itu apa sih?” tanya Raja Permata.

Putri Intan menatap lugu kepada Sang Ayahanda. Ia menunduk, memainkan jemarinya sendiri, sambil berpikir, apa artinya pacar. Sesekali dia mengerut-ngerutkan dahinya. “Mmmm…mmmm…” suara Putri Intan kemudian terdengar setelah cukup lama terdiam.

Raja Permata melekatkan tatapannya pada sang putri. Mencoba meraba-raba apa yang akan diucapkan putri tunggalnya itu. “Pacar ituuuuu…. yang bisa diajak ketawa-ketawa dan makan es krim bersama, Pi….” ujar Putri Intan sambil memetik ibu jari dan jari tengahnya. “Iya kan, Piiii…? ” senyumnya lepas tanpa ada yang ia sembunyikan.

 Mendengar jawaban Puri Intan, Raja Permata justru merasa sedih. Ia berpikir bahwa Putri Intan sedang merasa sangat kesepian. Sejak Permaisuri, sang ibunda meninggal, Putri Intan tak banyak waktu lagi bermain, atau sekadar bercerita. Raja Permata menyadari, ia tak punya waktu banyak untuk mendengarkan cerita-cerita putri tunggalnya. lalu ia berpikir, mencari-cari cara untuk membuat sang putri tak lagi kesepian.

“Putriku…” Raja Permata meletakan koran paginya, kemudian berdiri dan menggenggam kedua tangan putrinya. “Apa kamu membutuhkan seorang pacar karena Papi jarang menemanimu, emmh?”

Putri Intan terkesiap, sesungguhnya ia tak pernah berpikiran seperti itu, tapi ia tetap tak bisa memungkiri jika kadang kala ia merasa kesepian karena ayahandanya terlalu sibuk dengan urusan kerajaan dan perdagangan batu-batuan.

 “Errrh, sebenarnya Intan nggak pernah mikir gitu sih, Pi…” kata Putri Intan jujur.

“Lantas, kenapa kamu begitu ingin punya pacar?”

“Kan Intan sudah bilang, Papiiii! Intan NGIRI sama Putri Lily! HUH!” tiba-tiba saja Putri Intan meledak, ia pun berkacak pinggang dan menatap ayahnya jengkel. “Dia pasang foto pacarnya di DP BBM-nya, terus mention-mention-an sama pacarnya di Twitter! Terus Intan ngiri! Terus Intan pengen punya pacaaaar, Papiii!

 “Hmmmm bagaimana kalau kamu pasang saja foto Papi waktu masih muda. Papi juga ganteng lohh… Nihhh…” seru Raja Permata tiba-tiba seraya menunjukkan sebuah foto pemuda cungkring dengan rambut mohawk dan sedang tersenyum dengan memamerkan sebaris giginya yang putih.

Putri Intan menganga ,melihat foto sang ayahanda.”Nah, nanti Papi juga akan membuat akun twitter, kamu bisa mention Papi di sana, nanti Papi balas,” lanjut Raja Permata bersemangat.

Putri Intan semakin bersungut-sungut. “Iiihh Papi deh… masa aku mention-mention-an sama Papi?! Itu kan pacar palsu namanya…” Putri Intan menukas sambil menahan geram.

“Hmmm pacar palsu? Tapi kasih sayang Papi tak pernah palsu, Nak… Bagaimana dengan pacar? Bisa saja mereka membohongimu kan?” berondong Raja Permata sekali lagi.

 Bibir Putri Intan spontan mengatup. Bayangan masa lalu bersama ayahandanya berkelebat di kepalanya. Ia masih ingat bagaimana ayahandanya itu selalu berusaha menyempatkan diri mencium dahinya setiap malam di tengah-tengah kesibukan harinya. Bagaimana ayahandanya bekerja mati-matinya untuk memimpin Kerajaan Batu-Batuan hingga semakmur sekarang ini. Bagaimana ayahandanya tetap berusaha menjadi ibunda baginya meski ia sendiri tahu, tak ada seorang pun yang dapat menggantikan Ratu Ruby; ibunda Putri Intan dan istri tercintanya.

Bagaimana ayahandanya, Raja Permata, menjadi satu-satunya orang terdekat baginya dan selalu berusaha menjadi orang yang paling pertama tahu segala permasalahannya. Oh, semua hal itu mulai membuat Putri Intan semakin enggan untuk memikirkan masalah pacarnya lagi!

“Bagaimana? Kamu mau terima tawaran papi?”

 Suara Raja Permata membuyarkan lamunan Putri Intan. Namun setelah terdiam cukup lama, akhirnya Putri Intan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan; sebuncah perasaan sentimentil tiba-tiba saja merasuki hatinya. Kapan terakhir kali ia menghabiskan waktu bersama ayahandanya itu secara khusus?

 Rasanya sudah lama sekali.

 “Papi… maafin Intan,” kata Putri Intan lirih.

 Putri Intan memeluk Raja Permata. Ia justru menangis sejadi-jadinya. “Intan janji nggak lagi-lagi minta pacar, Pi… Papi sudah cukup sayang sama Intan..” kalimat sang putri tetap bisa dipahami Raja Permata meski diantara sesenggukan tangisnya. Raja Permata mengelus kepala putrinya, kemudian mencium keningnya. “Tapi, Pi… ” sela Putri Intan tiba-tiba.

“Apa lagi, sayang?” tanya Raja Permata lembut.

“Aku mau jalan-jalan keluar istana…sama Papi…” ucap Putri Intan dengan semburat senyum yang menggantikan sembab wajahnya.

Raja Permata pun tergelak dan menganngguk dengan pasti. Ia terlihat sangat bersemangat dengan tawaran putri tunggalnya itu.  “Ayo! Ayo kita pergi! Kebetulan Papi ada keperluan di Pasar Berlian, ada barang baru yang harus Papi beli untuk keperluan proyek di tambang batu bara. Hehehe.”

“Ehhhh!? PAPI JANGAN PIKIRIN KERJA MULU?!”

Fin

“Collaboration With Wulan Martina (Again 😛 We Love Comedy!)”

[Kolaborasi] Pangeran Cinta

“KAMPRET!!”

Sulis berseru pada Teguh, ketika cowok berambut bergundi itu menyambar dengan kasar buku tulisnya.

“Apa-apaan si lo?!”

Teguh hanya cengar-cengir dan teetap menyembunyikan buku tulis Sulis di balik punggungnya. Sulis mencoba meraih sebisanya. Tapi Teguh justru membawa buku itu, berlari ke seluruh penjuru kelas.  Spontan teman-teman sekelasnya bersorak-sorai. Pipi Sulis memerah. Ia malu, kesal, dan entahlah

“Oh, pangeran! Kapankah enggkau datang? Menghampiriku dengan cinta yang menggebu-gebu!” Teguh membacakan tulisan yang tertera di buku tulis Sulis keras-keras. Sorak-sorai di kelas semakin menjadi-jadi, bahkan sampai ada yang tertawa terpingkal-pingkal sambil menunjuk-nunjuk Sulis.

Wajah Sulis lama-kelamaan berubah menjadi merah, tak kuasa menahan malu yang ia tanggung akibat berbuatan Teguh yang menurutnya telah di ambang batas. Tapi karena ia tak bisa berbuat apa-apa, rasa kesal serta malu, juga rasa-rasa yang lainnya pun menjadi satu dan membuat kantong air matanya pecah.

“Lo TEGA!”

Sulis menangis. Ia berlari keluar kelas. Ia bersembunyi di kamar mandi. Sulis sesenggukan. Mirna, sahabatnya, mengejar Sulis, dan berusaha menenangkannya.

Teguh terdiam diantara riuh teman-teman sekelasnya. Ia sebenarnya bingung harus berbuat apa. “Kejar Guh.. kejar…” sorak beberapa teman kepadanya.

Teguh membuka lagi tulisan Sulis, kemudian cepat menutupnya kembali. Ia berlari mengejar kemana Sulis pergi. Langkahnya pun terhenti, tak mungkin ia masuk ke kamar mandi putri. “Ahh”, desahnya sambil menggaruk kepalanya.

“SULIS!!”
Teguh berseru nyaring, tak tahu apa yang harus ia lakukan lagi. Beberapa orang yang lewat menatapnya heran, namun rasa bersalah membuat rasa malunya mengkerut seketika.

“SULIS!! MAAFIN GUE!”  Lagi-lagi Teguh berseru, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya

Di dalam Sulis dan Mirna mendengar jelas teriakan Teguh. Mirna mencoba membujuk sahabatnya untuk keluar dan menemui Teguh.

Sulis berjalan pelan, di depan pintu kamar mandi, Sulis melihat Teguh sudah basah dengan keringatnya sendiri. Seperti habis mengikuti lomba lari. Seketika matanya berbinar mendapati Sulis ada di depannya. “Maafin gue ya.. gue nggak punya niat nyakitin lo.. Ini buku lo”, katanya pada Sulis.

“Gue suka aja dengan tulisan-tulisan yang ada di setiap halaman belakang buku kamu. Dan, ini buat lo…” lanjut Teguh sambil menyerahkan selembar kertas dari saku seragamnya.

Wahai bidadariku, aku akan datang menjemputmu. Mengajakmu menari di angkasa, melukis bahagia. Maukah kau menjadi milikku?

Sulis menganga melihat tulisan di selembar kertas yang diberikan Teguh padanya. Ada kupu-kupu yang menari dalam perutnya. Ia tak bisa menahan derap jantung yang kian cepat.

Wajahnya semburat memmerah. Ini Rona malu karena cinta. Terjawab sudah segala tanya dalam puisi-puisinya. Ya, pangerannya telah hadir dihadapannya.

Fin

“Collaboration With Wulan Martina”