Penunggang Ombak

Hiya!

Danum memicingkan mata pada seorang pria Kaukasoid yang berada di laut, duduk nyaman di atas board, dan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sembari memberi wanita itu shaka sign[1] dengan mengacungkan jempol dan kelingking.

Hiya!” Wanita itu pun sontak menancapkan board yang ia angkut ke pasir pantai Tanah Lot yang berwarna gelap lantas membalas shaka sign yang ia terima meski tak mengenali pria itu. Segera setelah selesai bertukar salam, pria itu pun kembali sibuk mendayung diri ke tengah laut untuk mencari ombak dan Danum pun melanjutkan langkahnya ke bibir pantai.

Sekarang pertengahan September, cuaca di Bali masih terasa terik meski waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Danum memandang sekitar, Tanah Lot memang bukan destinasi wisata bagi peselancar dunia. Ombak di tempat ini sangat sulit didapat pun tidak begitu tinggi, lantaran pantainya yang curam dan penuh dengan karang-karang terjal. Namun, bagi Danum, Tanah Lot punya aura mistis tersendiri yang selalu berhasil membuat perasaannya nyaman.

Danum berhenti melangkah tepat di bibir pantai dan memejamkan matanya sejenak. Wanita itu pun lantas menghirup udara asin di sekitarnya dalam-dalam lalu mulai memanjatkan doa-doa di dalam hati seperti yang Apang dan Indang[2]nya ajarkan dulu. Setelah itu, barulah Danum menceburkan diri ke air laut dan mendayung tubuhnya yang tengkurap di atas board menuju lautan.

Baca lebih lanjut

Yearning

Elizabeth  Parker duduk termangu di kursi kayunya, menatap bunga-bunga Bougainvillea berbagai warna yang ia tanam di pekarangan belakang rumahnya hampa.

Hatinya risau.

Hari ini ulang tahunnya yang ke-80, dan ia sendirian di sini—di rumah masa tua yang seumur hidup ia impikan, tapi kenapa ia tidak bahagia? Diliriknya kursi kosong di sampingnya, dan bibirnya mengulas senyum getir.

Seharusnya kau di sini, Sam, bisiknya dalam hati dan seketika itu juga rindu meledak di dadanya. Elizabeth mendesah; napasnya patah-patah. Dengan satu tarikan napas panjang Elizabeth memejamkan matanya, menahan air yang nyaris menetes di sudut matanya. Sementara angin sepoi-sepoi menerbangkan aroma sore; membuainya dengan kadamaian yang selalu ia harapkan datang menjemput.

Saat Elizabeth membuka matanya yang ia temukan bukanlah bunga-bunga Bougainvillea-nya, namun sebuah altar yang penuh dengan nuansa putih; menantinya melangkah mendekat.

Seketika itu juga Elizabeth menyadari kalau ia tengah mengenakan gaun pengantinnya dulu. Ia melihat tangannya yang berbalut sarung tangan putih, lalu menyentuh wajahnya. Tak ada kerutan. Kulit-kulit tuanya yang kendur kembali kencang. Di mana dia?

Elizabeth lantas kembali menatap altar, matanya kemudian menangkap sesosok pria yang berdiri di depan altar dan langsung menyadari bahwa pria itu adalah dia.

Sammy.

Elizabeth ingin berlari menerjang pria itu dan memeluknya erat untuk meluapkan rindunya yang menggebu-gebu, tapi langkahnya pelan—begitu anggun. Ia bisa mendengar suara lonceng gereja yang beradu dengan lantunan organ meskipun hanya ada dirinya dan Sammy di ruangan itu. Aroma mawar yang lembut mengecup cuping hidungnya, dan perasaan bahagia menyebar ke seluruh tubuhnya.

Kini Elizabeth bisa melihat sosok Sammy semakin jelas. Mata hazel pria itu menatapnya begitu lekat, senyuman manis terukir di wajah persegi itu, dan ia terlihat seperti saat pertama kali mereka bertemu; begitu muda, begitu menawan.

Ketika Elizabeth berhenti di depan Sammy, pria itu langsung menyambut tangan Elizabeth dan mengajaknya berdansa dalam diam. Mereka berdansa begitu luwes, berputar di sekeliling altar seolah-olah ingin menunjukkan kepada Tuhan betapa bahagianya mereka sekarang ini. Elizabeth tertawa lepas, jiwanya gembira; kembali ke masa ketika cinta masih membungkusnya seperti kepompong—rasanya nyaman dan tentram—dan Sammy terus tersenyum lebar, membuatnya semakin merasa luar biasa.

Namun kemudian, musik berhenti, lonceng tak lagi terdengar. Dansa mereka berakhir dan Sammy melepaskan genggaman tangannya. Sejenak ia menatap Elizabeth, lalu meraih wajah wanita itu untuk mencium dahinya lembut sebelum akhirnya melangkah pergi.

Elizabeth sontak merasa kehilangan. Hatinya yang semula berbunga-bunga tiba-tiba saja mencelus. Ia ingin berlari mengejar Sammy, tapi kakinya tertahan di lantai. Hingga akhirnya ia hanya bisa berteriak.

“Sam! Bawa aku!”

Sammy yang berada di depan pintu sontak berbalik, menatap Elizabeth dengan cara yang jauh berbeda. Di sana ada amarah, senyum tak lagi tampak, Elizabeth bahkan bisa merasakan gemeretak giginya yang terkatup rapat.

Sammy tidak ingin membawanya.

Elizabeth ingin menjerit lagi, memohon-mohon agar diizinkan pergi bersama dengan belahan jiwanya itu. Tapi seketika itu juga dunianya menjadi gelap. Sammy menghilang, pijakkannya runtuh, dan ia mendengar sebuah suara malaikat memanggil.

Malaikat kecilnya.

 

Granny? Granny? Wake up!”

Elizabeth membuka matanya perlahan dan sorot matanya pelan-pelan menangkap wajah bulat seorang gadis kecil yang memeluk kakinya.

“Granny? Apa yang terjadi? Kau tertidur di kursimu. Kupikir kau tidak akan bangun lagi!” Amanda, cucu pertama Elizabeth memandangnya khawatir, sontak ia teringat mimpinya barusan lantas tertawa dalam hati.

 “Tidak papa, aku hanya kelelahan.” Elizabeth bangkit, menggandeng tangan malaikat kecilnya masuk. “Apa ayah dan ibumu membawa manisan yang kuinginkan?”

“Tentu saja! Malam ini semua akan berkumpul merayakan ulang tahun Granny!”

Amanda tertawa renyah, dan Elizabeth tersenyum lebar. Hatinya menghangat kembali; penuh diisi cinta dari gadis kecil itu.

‘Tentu saja, Sam, tentu saja. Aku tidak boleh menyusulmu sebelum malaikat-malaikat kecil kita tahu bagaimana caranya mencintai,’ bisik Elizabeth dalam hati, diiringi suara lonceng gereja di ujung cakrawala.

End.

(Words Count 598)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Hujan Daun-Daun

Jiwa-Jiwa yang Menuntut Damai

Jiwa orang-orang yang meninggal tetap bersama kita meskipun kita hanya bisa melihat mereka melalui mimpi. Ketika datang, mereka tak banyak bicara, kadang kala hanya tersenyum dan mengangguk atau barang kali terlihat murung karena jiwa mereka mendamba pertolongan.

 “Apa enak di sana, Pak?”

Pria berkumis tebal yang kulihat itu berwajah murung. Tubuhnya yang besar dan gemuk terlihat kaku seolah-olah kesulitan bergerak. Ia tak langsung menjawab pertanyaan yang kulontarkan. Selama beberapa detik keheningan menyelimuti kami di ruangan penuh cahaya putih itu sebelum akhirnya ia menggeleng dan menjawab.

“Enggak.”

Dan aku terjaga. Pelan-pelan aku bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur. Mengatur napas juga kesadaranku yang masih berada di dua dunia. Lagi-lagi ada jiwa yang datang padaku dan kali ini Pak Koco. Ya, aku kenal pria berkumis tebal itu. Ia tetanggaku,  seorang tukang gigi yang cukup terkenal di kota ini; meninggal beberapa bulan yang lalu karena serangan jantung.

Setelah berhasil mengendalikan diri, secepat kilat aku meraih  Rosario yang selalu kuletakan di atas nakas dekat tempat tidurku dan mulai berdoa. Mendoakan jiwa Pak Koco, mohon kedamaian baginya dan juga jiwa-jiwa lain yang masih mengais doa damai bagi mereka.

Setelah selesai berdoa aku bangkit, berjalan menuju balkon kamarku dan menyandarkan perutku pada pagar pembatasnya. Udara pagi menyapa lembut wajahku, aku pun tersenyum sembari merapikan helai-helai rambutku di belakang telinga. Pagi yang damai, batinku. Maka, aku pun menutup mata, membiarkan suasana pagi menenggelamkanku, dan mulai mengosongkan pikiran untuk bermeditasi.

Aku tahu, bukan hanya aku seorang yang pernah mengalami hal ini. Mereka yang kehilangan anggota keluarga atau kerabatnya acapkali mengalami mimpi serupa. Tapi kadang-kadang mereka tidak mengerti maksud dari mimpi-mimpi tersebut; beberapa dari mereka bahkan mengacuhkannya, menganggapnya hanyalah bunga tidur semata. Tapi ketahuilah, mereka—jiwa-jiwa orang yang meninggal itu—muncul bukan tanpa alasan.

Pertama kali hal ini terjadi ketika aku, yang duduk di kelas tiga SMA, mengalami depresi berat karena tidak bisa mengerjakan UAS dengan baik. Aku sudah belajar mati-matian, les setiap hari, dan berjuang untuk memahami semua pelajaran yang diperlukan, tapi tetap saja tes itu masih terlalu sulit bagiku. Maka siang itu—usai menjalani UAS—aku tertidur, lelah dengan belajar dan muak untuk pergi les yang sia-sia. Dan saat itulah, Papa yang sudah meninggal mendatangiku untuk pertama kalinya.

Papa terlihat lebih muda daripada saat terakhir kali kuingat, mengenakan kaus, celana jins, jaket kulit dan topi—penampilan kegemarannya sejak muda. Ia sedang memerhatikanku yang tengah belajar di tempat bimbel. Kemudian, saat lesku usai ia pun mendekatiku dan menandatangani catatan belajarku hari itu tanpa bicara.

Papa datang setiap hari, dan selalu menandatangani catatan lesku seperti itu. Sampai suatu hari ia tidak datang; aku bingung dan bertanya-tanya. Maka, ketika Papa datang lagi untuk melihatku belajar keesokan harinya, aku pun memanggil Papa.

“Hai, Papa!” seruku sambil melambai. Papa pun mendekatiku dan duduk di sampingku. “Kenapa kemarin Papa gak datang?” tanyaku.

Papa hanya tersenyum sembari balas bertanya, “Memangnya kapan Papa pernah gak datang?”

Aku pun membuka buku catatanku dan mencari-cari bagian yang tidak ditandatangani Papa karena ketidakdatangannya. Tapi anehnya, semua catatanku bertandatangan; tidak ada yang tidak. Aku yang bingung, kembali menatap Papa, dan Papa pun hanya tersenyum simpul untuk mengakhiri pembicaraan kami.

Di sanalah titik awal saat kusadari bahwa jiwa-jiwa orang meninggal itu ada, mereka masih terhubung dengan kita dan kita harus membantu mereka untuk menemukan kedamaian.

Kubuka mataku dan menatap langit pagi yang kini mulai membiru. Bermeditasi membantuku menata ulang perasaan dan pikiranku. Bertemu dengan jiwa-jiwa itu kadang membuatku sedih, tapi mereka yang datang tidak selalu menuntut doa dariku. Beberapa di antara mereka justru menolongku dan membantuku untuk menghadapi hidup ini dengan cara lebih baik meski tanpa mereka di sisiku.

Demi kedamaian mereka.

End.

(Words Count 593)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Hujan Daun-Daun

The Black Hair Guy

holding-hands-

Pukul empat pagi, aku terbangun dari tidur tanpa mimpiku. Menggeliat sedikit, berusaha mengumpulkan nyawa yang berserakan di alam bawah sadarku; alam yang dulu sangat kugemari karena menebar cerita-cerita aneh dan ajaib, tapi kini cerita-cerita itu hilang entah ke mana.  Ah, apa karena aku telah tumbuh dewasa? Entahlah. Memangnya, kapan terakhir kali aku memiliki bunga-bunga tidur itu?

Aku menarik tubuhku bangkit duduk di atas kasur dan bersandar ke dinding, berpikir dan mengingat-ingat, mengabaikan kewajibanku sebagai wanita di dapur  sejenak. Aku banyak bermimpi saat aku masih remaja, kebanyakan mimpi-mimpi itu kabur dan langsung kulupakan saat aku terbangun, tapi aku punya beberapa mimpi yang… emmmh, sepertinya masih kuingat sampai sekarang…

O, ya… dia. The Black Hair Guy.

Aku terkekeh singkat, dan tersipu. Bisa kurasakan pipiku menghangat tatkala berhasil mengingat bunga tidur masa remajaku itu. Dulu, aku pernah iseng menuliskan kembali mimpi-mimpi yang berhasil aku lihat dengan jelas di alam bawah sadarku. Hahaha, itu konyol memang, dan benar saja, kegiatan itu tak bertahan lebih dari seminggu karena aku tak sanggup mengingat-ingat mimpiku lagi saat terbangun.  Tapi kisah The Black Hair Guy ini yang paling berkesan untukku. Mimpi yang sederhana, tapi punya pesan yang membuat hatiku hangat setiap kali kurenungi.

Aku berdiri di sebuah tebing curam.

 Pijakanku rapuh, aku bisa saja terjatuh dan mati, tapi anehnya aku tidak takut. Dadaku penuh dengan perasaan berani untuk melewatinya. Di sana, di ujung tebing itu, aku punya mimpi-mimpi yang ingin kuraih, ambisi dan pencapaian yang seumur hidup kukejar, dan aku harus melalui tebing curam ini untuk mendapatkan itu semua. Ya, di bawah sana, kegelapan menyelimuti dan aku tahu kalau aku bisa melaluinya.

Tapi, saat aku ingin memulai langkahku, ada sebuah perasaan yang menahanku. Ketidaktenangan. Ketidaktenangan yang muncul karena aku belum menggenggam sebuah izin. Lantas aku berbalik, dan di sana berdiri seorang pria. Pria berambut hitam pekat. Ia mengenakan kemeja dan celana hitam katun yang membuatnya terlihat gagah. Aku menatapnya lekat dan seketika itu juga aku langsung mengetahui kalau dia…

Suamiku.

Pria itu tersenyum, mengangguk—memberiku izin—lantas, ia mengulurkan tangan dan menawariku sebuah rasa aman. Ya, ia ikut melewati tebing curam itu. Ia membiarkanku berjalan mendahuluinya, sementara tangannya tetap menggenggam tanganku. Menjagaku agar tidak terjatuh meskipun ia sendiri tahu kalau aku bisa melalui tebing ini tanpa bantuannya.

Dan saat kami berhasil melalui tebing itu, kami melihat sebuah tempat yang sungguh indah yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Tempat di mana mimpiku berakhir.

Ah, sungguh, mimpi itu benar-benar berakhir dengan indah. Waktu itu teman-teman SMA-ku begitu muak dengan kisah bunga tidur yang indah itu karena aku nyaris mengulanginya setiap hari. Dan untuk beberapa tahun dalam hidup masa remajaku, aku sedikit banyak terobsesi dengan The Black Hair Guy ini karena jujur saja, mimpi itu terasa begitu jelas dan nyata. Hahaha. Ya ampun, mengingatnya kembali saat aku berada di posisi seperti ini rasanya benar-benar menggelikan.

“Errrh, Hon?”

Aku tersentak saat sebuah suara yang selalu menyapa setiap pagiku selama setahun belakangan ini terdengar. Buru-buru aku menoleh ke sisi lain tempat tidurku dan tersenyum.

Morning, Kebo…” sapaku setengah tertawa, masih terpengaruh dengan ingatan tentang mimpi itu.

“Kenapa kau tertawa-tawa?” pria itu turut bangkit duduk sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Iris birunya menatapku nanar, kebingungan tertera di sana, sementara aku hanya menggelengkan kepalaku sambil terus tersenyum, merapatkan tubuh kami dan melingkarkan kedua tanganku di bahunya.

“Kau bermimpi indah semalam?” pria itu bertanya lagi, tapi pertanyaannya justru membuat tawaku kembali pecah.

“Ya,” jawabku akhirnya di sela tawaku. “Aku bermimpi sangat indah semalam.”

Kulumat bibir pria itu dengan ciuman sementara jemariku meremas rambut pirangnya yang tebal.

Merasa bersyukur karena telah menemukan The Black Hair Guy-ku sendiri sekarang.

End.

(Words count 593)

“Diikutsertakan dalam Giveaway Novel Hujan-Hujan Daun

[Kompetisi #NulisKilat] Resolusi

 banner_nulis_kilat

“Resolusi tahun 2013: aku ingin lebih kurus dari tahun 2012.”

Kalimat itu mengawali diriku yang baru saat tahun 2013 dimulai hampir setahun yang lalu. Tanpa pikir panjang kulontarkan begitu saja di Twitter dan menyadari aku tak bisa menariknya kembali. Semua melihatnya, kabar menyebar begitu cepat di media jejaring sosial, dan keesokan harinya semua warga SMA tempatku menuntut ilmu tertawa terbahak-bahak.

Aku diperolok.

Aku, Bernadeta Utari, yang sejak kecil telah dicap sebagai ‘Anak Botol Galon’ ingin kurus?!

Hahaha. Lelucon macam apa itu? Mereka saling bertanya, saling berbisik, saling bergunjing, bahkan berani tertawa di depanku. Meremehkan resolusiku dan kalau bisa dibilang menginjak-injaknya. Aku bukan gadis populer, bahkan cenderung tersisih, tapi berani berkicau muluk-muluk seperti itu di media sosial? Astaga. Congkak sekali, kata mereka.

Hari berikutnya aku masih bisa sabar dan berpikir mungkin mereka akan cepat melupakan kicauanku. Tapi hari-hari berlalu, dan perlakuan mereka justru semakin parah karena mendapati tubuhku yang tak kunjung berubah.

Aku mulai depresi.

Aku meruntuki diri dan menyesali segala perbuatan yang telah kulakukan di awal tahun baru. Seharusnya aku menjadi manusia baru di tahun 2013, manusia yang lebih baik, tapi mengapa malah berujung mendapatkan pem-bully-an mental seperti ini? Padahal, itu akun pribadiku, aku bebas mengutarakan apa yang aku inginkan, mereka tidak berhak menghakimi atau bahkan merendahkanku. Tapi kenapa mereka seenaknya menggunjing dan memperolokku?

Apa salahku? Kenapa mereka begitu jahat?

“Itulah hukum sosial, Deta. Kamu gak bisa menyalahkan lingkungan sosialmu karena sejak awal sudah seperti itu adanya.”

Baca lebih lanjut

[Pos Cinta #6] Bonjour, Monsieur Lupin!

Arsene-Lupin

Bonjour, Monsieur Arsène Lupin!

Ini! Ada surat tantangan dariku! Jika kau ingin barang milikmu kembali! Datanglah ke alamat yang telah kita janjikan sebelumnya dan buktikan padaku, jika kau bukan hanya seorang pencuri ulung; tapi juga pecinta yang beruntung.

Kusayangkan semua teman wanita dan mendiang istri-istrimu, mereka sebenarnya tak pantas mendapatkan nasib buruk hanya karena begitu mencintai pria berbahaya sepertimu. Tapi kau selalu datang, dan menunjukkan pesona kepicikanmu yang mampu meluluhkan hati-hati mereka—menjanjikan perlindungan dan cinta yang besar.

Oh, masih ingatkah dirimu pada wanita pirang itu[1]? Yang senantiasa memberikan jiwa raganya padamu demi mendapatkan perlindungan dari tindakannya membunuh karena membela diri. Oh, Clotilde yang malang, pada akhirnya ia tertangkap dan kau berhasil kabur dari inspektur Ganimard dan kawanannya yang ceroboh karena terlalu pongah mengira telah mengikat seluruh tubuhmu.

Ada lagi, Sonia Kirchnoff dan penggantinya, Raymonde[2]. Kedua wanita tolol itu rela mengikat janji pernikahan denganmu, namun, pada akhirnya mereka tewas hanya karena cinta yang diberikan seutuhnya padamu. Baiklah, aku tak menyalahkanmu yang ditodong pelatuk oleh rival abadimu Holmlock Shere (dan pria kalap itu menembakannya padamu) aku hanya menyayangkan tindakan Raymonde yang tanpa ragu meloncat di depanmu sembari menyerahkan diri pada kematian. Isidore Beautrelet—detektif muda yang nyaris mengalahkanmu—pun sampai tergugu, syok dengan kejadian yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

Emmh, lalu siapa lagi? Ah, Madame Mergy[3]? Terberkatilah wanita itu! Untunglah kekerasan hati mampu melindungi dirinya dari rayuan serta kata-kata cintamu. Memang, kaulah penyelamat kedua buah hatinya—Gilbert, sekertaris kesayanganmu dan Jacques kecil yang malang—tapi rasa terima kasih tak serta merta dihibahkan dengan cara menyerahkan cinta. Dua perasaan itu berbeda, Gubernur, berbeda!

Dan masih banyak lagi, wanita-wanita bernasib malang di hidupmu yang penuh petualangan. Wanita-wanita itu punya kisah tersendiri bagimu dan menjadi bagian dari petualanganmu. Namun sayangnya, mereka bukanlah akhir dari petualanganmu yang hebat.

Maka, terimalah tantanganku! Sederhana saja, kau datang dan kita saling mengenal. Aku mungkin bukan wanita yang menantang dengan segala kemolekan duniawi. Tapi jika kau ingin barangmu kembali, maka beranikanlah diri meninggalkan komplotanmu dan akhiri petualanganmu bersamaku.

Kupastikan, kali ini, aku tak akan membiarkanmu meninggalkanku atau bahkan mati karenamu.

Si Pencuri Hatimu,

Mademoiselle  Béné


[1] The Blonde Lady – Maurice LeBlanc

[2] The Hollow Needle – Maurice LeBlanc

[3] The Crystal Stopper – Maurice LeBlance

[Pos Cinta #4] Untuk W

love letters cookes

Untuk W  yang tak akan pernah tahu,

Kupastikan, surat ini tak akan bertele-tele dan mengumbar banyak kata padamu karena waktuku yang kian menipis di penghujung Minggu ini—oh! Salahkan seluruh kegiatanku yang tak pernah mau berhenti barang sejenak.

Jadi, aku hanya ingin bilang, aku cinta kamu. Sudah lama, sebenarnya, sejak tahun-tahun yang kita lewati di sekolah dasar hingga kita terpisah di pendidikan menengah pertama sampai sekarang.

Aku memang mem-follow Twitter-mu, kita berteman di Facebook, bahkan aku dapat dengan mudahnya mengirim BBM. Tapi aku tak menggunakannya, aku tak pernah berani merangkai alasan bahkan hanya untuk mengucapkan ‘hai’ padamu.

Iya, aku pengecut. Sampai saat ini pun aku masih menjadi pengecut.

Tapi hari ini, akan kuambil secuil keberanianku, dan melalui surat ini aku ingin mengakui perasaanku padamu di depan khalayak umum–pengunjung blog-ku. Perasaanku yang tak pernah tersampaikan untuk cinta pertama yang kini telah memiliki cintanya sendiri.

Akhir surat untukmu W, sekali lagi aku tulis, aku cinta kamu.

I will move on, but my first love never dies.

Terima kasih telah memberikan perasaan ini padaku, karena hadirmu menjadikan masa mudaku begitu sempurna.

Dari aku,

Yang tak pernah berani mengaku

(Photo taken from: http://www.baking-in-heels.com/2012/01/love-letter-cookies.html)

[Pos Cinta #3] Untuk Kamu, Penikmat Kata!

Jemari menulis

Iya, untuk kamu, siapa lagi orang yang membaca surat ini selain kamu di sana.

Keget ya?

Sama. Aku juga kaget, kenapa tiba-tiba kepikiran nulis surat ini untuk kamu. Padahal kita enggak pernah ketemuan. Kamu ‘kan cuman penikmat kata yang enggak sengaja terdampar di blog remaja ababil ini. Niat menjejak kata pun tak ada, hanya sekedar ingin tahu, apa gerangan yang tertulis pada setiap halaman dan terbitan di lapak kumuh ini.

Tapi tetap terima kasih ya sudah mau bertandang! Tak mengapa jika hanya kerlingan yang kamu berikan; sekilas menatap heran pada pemilik-blog-narsis-yang-menempatkan-namanya-sendiri sebagai-domain-blog pun aku senang.

Maaf ya, untuk setiap kata absrud yang kusuguhkan di sini. Aku tahu kata-kataku tak lebih baik dari sekedar kumparan kertas usang di pelipir jalan. Tapi, aku begitu senang berbagi kisah denganmu. Seperti kawan lama yang sudah tak bertemu, tak ayal, aku pun ingin kita dapat bertukar pikiran dan saling menanggapi.

Tapi tetap terima kasih, kamu menyimak saja aku sudah senang.

Aku tak pernah berharap banyak darimu, kata kepala sekolahku saat upacara bendera bendera minggu lalu, “Bekerjalah tanpa pamrih.”

Jadi, aku pun berkisah tanpa mengharapkan balasan darimu.

Hihihi, aneh. Katakanlah aku ini aneh. Jika berkisah sendiri bukannya sama saja dengan orang gila?

Tapi mau bagaimana lagi, aku jarang memilik orang atau bahkan tempat untuk benar-benar berkisah tentang segalanya. Blog inilah satu-satunya tempatku untuk membuka diri dan menunjukkan siapa diriku sebenarnya—aku yang bersembunyi dibalik bongkahan kata-kata absrud ini.

Aku memang bukan orang yang terbuka, bercerita pada keluarga bahkan hal terakhir yang ingin aku lakukan (mungkin aku hanya tak ingin diceramahi tentang hidup zaman dulu, hahaha). Jadi aku bercerita dalam tulisan dan menaruhnya di sini, siapa saja boleh menyimak, dan punya hak untuk tertawa, mencemooh, atau apa pun itu.

Ada kolom komentar di bawah, dan kusediakan untukmu berkata-kata. Digunakan atau tidak, itu hakmu. Aku telah memberikan milikku, dan tak menuntutmu untuk melakukan hal yang sama.

Karena inilah cintaku padamu, Penikmat Kata. Kuberikan semua kata-kata yang kupunya; tanpa pamrih dan setulus hati padamu. Tapi jika ada setitik cinta yang ingin kamu beri padaku.

Sudikah kamu memberitahuku?

Si Pengumbar Kata,

Benedikta Sekar

[Pos Cinta #2] Jatuh Cinta Pada Kata-Kata

love

Teruntuk kicauan yang selalu kunanti di @frostbitiggy

Terima kasih atas perkenalan tak terduga yang terjalin di antara  140 karakter Twitter hingga akhirnya melipir pada malam-malam panjang penuh kata yang berserakan melalui jaringan GSM. Tak pernah kusangka kita akan menjadi sejoli yang marak bertukar kisah—entah itu hal umum tentang cuaca hingga yang spesifik tentang penempatan imbuhan –kan yang benar.

Padahal kita tak pernah bersetatap, yang terdekat hanyalah bertukar gelak tawa di   saluran telepon GSM dan itu pun kadang kala tak benar-benar sejalan. Hahaha, well, kita memang hanya ahli mencacak balok-balok kata di ranah layar digital, tak sungguh mampu bersuara dalam arti harafiah—atau itu hanya probelmatika diriku?

Entah.

Yang jelas, aku yakin kamu pasti bertanya-tanya, kenapa surat ini teruntuk padamu? Apa yang spesial dari kicauanmu yang saban hari menyesaki TL followers-mu dengan kalimat-kalimat absrud?

Ya, bagimu absrud. Tapi bagiku pribadi, kutemukan kegembiraan tersendiri tatkala mata ini menemukan namamu di TL-ku.

Tak pernah bosan kutelusuri petak-petak kicauan keluh kesah atau pun komentarmu pada sesuatu. Pun kicauanmu tentang buku terbaru yang kamu baca, juga perkembangan tulisanmu yang sangat kunanti-nanti. Ada juga tentang penyanyi lawas atau baru kegemaranmu, serta beberapa kutipan berdasarkan pengalaman pribadi.

 Tapi yang paling aku suka dari semua kicauanmu adalah ketika unsername-ku tertera di sana; dan kita pun berakhir dengan saling berbalas mention. Entah tujuan kicauanmu itu hanya untuk memberitahu ada sesuatu yang baru di blog-mu atau menanggapi kacauan ababilku tentangmu juga masalahku.

Aku sangat suka itu.

Kita bak orang yang terjebak dalam dunia tersendiri meski terpisah berpuluh-puluh kilometer. Layar datar jadi penuh dengan seluruh isi percakapan kita tentang apa saja, dan ketika kata-kata itu melipir kepada problema hidupku—yang penuh kisah remaja picisan tentang fisik buruk rupa yang mengganggu hubungan sosial. Kamu hanya berkicau…

“Jangan gitu, Dek. Kamu cantik kok. Coba denger lagu ini deh: Backstreet Boys-What Makes You Different  *saia suka nangis kalau denger lagu ini* *obat pengusir hawa jelek*”

Aku pun langsung tersenyum sumringah dan buru-buru membuka Google untuk mencari situs men-download lagu itu. Ludes sudah rasa kalutku, beriringan dengan musik asing yang memiliki lirik yang mendalam itu. Perasaanku lebih baik. Selalu lebih baik setiap kali kudengar saran dan tanggapan darimu.

Dan kicauan itu hanyalah sepersekian dari semua kata penuh makna yang kamu bagi untukku. Sepersekian dari semua kata yang menjadikanku begitu beruntung mengenal sosokmu yang telah menjadi sahabat juga kakak bagiku.

Karena meski benar, kamu bukan selebtwitt terkenal dengan ribuan followers. Benar, kicauanmu absrud dan biasa-biasa saja. Benar, kamu ya kamu, nothing special.

Tapi bagiku, bukan hanya kamu yang kusayangi, melainkan setiap kata yang kamu toreh untukku juga khalayak.

Aku jatuh cinta pada kata-katamu. Jatuh setengah mati.

Dikirim oleh

Benedikta Sekar (@Okage_de)

Note: Ditulis sembari mendengar lagu Backstreet Boys-What Makes You Different 

[Pos Cinta #1] Terima Kasih dan Maaf

Untuk kamu yang kini tak berdaya,

Terima kasih dan maaf kusisipkan di setiap sudut surat ini untukmu. Ya, terima kasih untuk malam-malam indah yang telah kamu bagi untukku; juga untuk semua cumbu serta kepasrahan dirimu akan tindak tanduk bringasku. Terima kasih.

Tapi juga ada maaf, yang kuberikan dari hati kacil yang kadang terhimpit oleh ego serta keserakahan diri menjajah; karena aku sadar, kamu begini pun karena ulahku.

Yah, benar, semua orang tahu jika penyesalan selalu datang terlambat.

Apa lagi yang bisa kuperbuat ketika pria berseragam putih itu sudah berkata dengan mimik muka datar kepadaku, ‘maaf, kami sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi’ hah?

Sesak.

Hanya sesak yang terasa. Aku bahkan nyaris limbung ketika kudekap kamu yang tak lagi bernyawa keluar dari tempat berdinding hijau itu. Semua orang di lorong menatapku prihatin; berdoa dalam hati agar milik mereka tak bernasib sama denganku, bahkan si penjaga pintu yang acapkali melihatku di sana pun hanya tersenyum kaku—turut berbelasungkawa.

Kini. Setelah kepergianmu.

Bagaimana nasibku?

Di mana lagi bisa kubuang semua sampah birahi imajiku?

Siapa lagi yang dapat menggantikanmu?

Kamu terlalu berharga untukku.

Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk dihabiskan bersama. Kita telah saling memahami. Jemariku ini telah terbiasa menari di atasmu; menyentuh setiap lekuk tubuh dinginmu, hingga sesekali kudengar kamu mendesah lelah dan kemudian sesaat menghilang ditelan kegelapan. Tapi kamu selalu kembali… kembali hidup, dan membiarkan jemari ini kembali menjajah tubuhmu.

Melampiaskan nafsu yang tertunda sepanjang hari.

Oh, bagaimana mungkin aku berhenti mencintaimu yang seperti itu? Kamu terlalu berharga untuk dilupakan. Terlalu berharga untuk direlakan.

Seandainya ada hal yang bisa aku lakukan untukmu, mengembalikanmu dan menghidupkanmu lagi. Aku pasti akan melakukannya. Pasti kulakukan…

Jika biayanya tidak lebih dari dua juta.

Your owner,

Benedikta Sekar

Dalam Kenangan: Baca lebih lanjut