[Musikalisasi Puisi] Cinta Anwar

image

(Terinspirasi dari puisi Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil” dan wawancara dengan Sri Ayati)

Sepuluh linting Ji Sam Soe terkapar renyuk di tanah berpasir

Kepak Elang di ujung lembayung terlihat seperti nokhta kecil tak berarti

Tanjung Periuk Sepi

Anwar hanya ditemani desut laut yang membisikan kisah-kisah kematian pelaut ulung

Lelaki itu mendesau
Tak yakin dengan diri sendiri
“Sebenarnya apa yang ia lakukan di sini?”
Menyisiri semenanjung sementara hatinya perlahan-lahan menguapkan harapan akan cinta

Rasanya baru kemarin ia duduk melantai
Dan Sri di atas dipan
Mengenakan daster sutra
Yang mencium setiap lekuk tubuhnya lembut

Kala itu
Anwar mendongengkan kisah tentang
“Sri, gadis berdaster sutra”
Dan Sri pun tertawa
Memamerkan deretan gigi putihnya
Yang siang-malam Anwar ilhami sebagai roncean mutiara terindah

Sri tak sadar
Terselip cinta dalam dongeng picisan itu
Tapi Anwar sadar
Cintanya telah meradang hingga ia tak berani membuatnya gamblang

Maka, di sinilah Anwar berada
Mengenang cinta yang pertama kali singgah
Sepanjang 20 tahun hidupnya di muka bumi ini
Sendirian
Dihujati tatapan dingin dari
Gudang, rumah tua, tiang dan temali
Kapal, perahu yang enggan melaut, dan secarik puisi yang nyaris tuntas

Anwar menatap mayapada
Horizon sebentar lagi kenyang menelan mata picak hari ini
Sejenak ia ragu-ragu

“Apa kata-kata ini akan meraih hati yang kepadanyalah jiwa puisinya berlabuh?”

Tapi akhirnya, pada keheningan ini Anwar berbisik
Membiarkan angin laut membawa pergi kata-katanya
Hilang
Di sembunyikan malam

“Tolong, katakan pada Sri, aku mencintainya.”

Yogyakarta,
28 April 2015
Benedikta Sekar

@ Samudra Kata ’45 – Dongeng Kopi
Untuk memperingati meninggalnya penyair Legendaris Indonesia

Chairil Anwar

[Musikalisasi Puisi] Catur

catur

 

Setiap hari aku menghitung sisa bidak di papan caturku

Satu… dua… tiga…

Tiga pionku telah tandas kemarin lusa

Satu… dua…

Dua bentengku runtuh kemarin

Lalu, satu lagi…

Mentriku terancam dipancung hari ini

Aku mendengus, jengkel juga kesal

Waktu berdecit di sisiku

Tapi aku hanya bertopang dagu

Berpikir keras tentang langkahku setelah ini

Karena langkahku

Menentukan bidak mana yang akan menemui ajalnya besok pagi

“Ini sulit,” keluhku

Meratapi pasukan yang tinggal segelintir

Sejenak aku melirik

Raja gendut tua itu  terlihat gemetaran

Hanya ada kuda di sisinya

Serta dua pion yang mengompol

Sedang sisa bidakku tersebar tak tentu arah

Entah ingin menyerang,

Mengancam,

Atau sekadar ada

Ah… aku memang tak pandai bermain catur

Apalagi melawan kehidupan

Aku tidak tahu strategiku

Bahkan sejak bukaan pertama

Gerakanku acak-acakan

Bunuh saja bidak di depan mata tanpa tahu itu hanya umpan

Sementara kehidupan adalah pemain pro

Ia tahu akan menghancurkanku sejak ia majukan pion pertamanya dua petak

Gerakannya begitu mulus dan manis

Dan aku pun terbuai olehnya tanpa sadar satu demi satu bidakku masuk kubur

Kini ia menyeringai

Menatapku angkuh

Dan berseloroh

“Catur bukan milik kita, Dinda, menyerahlah dan cumbui saja aku malam ini,”

Tapi aku menolak

Bosan sudah membanting papan dan menggauli bibirnya

Selalu begitu kalau aku sudah muak mencoba menaklukannya

Kali ini, aku masih punya bidak untuk dimainkan

Dan aku tak ingin menyerah

Sampai nanti kepala raja bersimbah darah di atas papan

Baru bisa dengan puas kubiarkan

Kehidupan menjajah tubuhku

Seenak jidatnya

[Musikalisasi Puisi] Untuk Jodohku yang Sedang Disimpan Tuhan

romantic couple love kiss cute alone sad wallpapers (7)

Untuk jodohku yang sedang disimpan Tuhan

Kira-kira seperti apa kita akan bertemu?

Pernahkah kau bertanya-tanya?

Bagiku

Aku selalu ingin bertemu denganmu dalam keadaan tidak sengaja

Seperti cinta pada pandangan pertama

Saat tubuh kita bertabrakan di lobi hingga kertas-kertas berhamburan

Dan tangan kita yang tak sengaja bersentuhan

Heh, lucu ya? Murahan gitu

Kok bisa-bisanya aku ingin mengenang kita dalam adegan seperti itu

Tapi aku ingin merasakannya

Cinta yang murahan itu

Tampaknya indah

Bukan begitu?

Cinta?

Sudah banyak bukan?

Mereka yang menghargai mahal cinta

Berakhir dengan sendirian menanti di sudut

Karena cinta yang mahal kadang kala terlalu sulit untuk dimiliki

Makanya

Untuk jodohku yang sedang disimpan Tuhan

Aku ingin cinta kita murahan

Kalau malam minggu

Kita di rumah saja

Duduk di teras

Ngobrol

Sambil makan martabak

Kalau kamu mau jalan

Ajak aku ke pasar malam

Gak usah bawa uang atau ponsel

Cukup ceban di saku kita masing-masing

Gak usah beli apa-apa di sana

Cukup makan jajanan sambil berdiri

Murah kan?

Ingat ya

Untuk jodohku yang sedang disimpan Tuhan

Cinta yang murahan namanya juga cinta

Siapa bilang

Cinta harus nonton di bioskop

Nge-mall

Belanja

Ngabisin duit

Hanya untuk menunjukan kalau cinta

Dihargai sebegitu mahalnya

Padahal

Cinta tidak pernah meminta label harga

Cinta tumbuh

Cinta hidup

Cinta ada

Karena kita bersama

Mengisi ruang juga waktu

Yang nantinya saat kita tinggalkan

Menyisakan jejak kupu-kupu kebahagian

Sesederhana itu?

Iya, sesederhana itu

Jadi,

Untuk jodohku yang sedang disimpan Tuhan

Saat kita bertemu nanti

Biarkanlah semesta bekerja

Jangan malu untuk mengenalku

Tatap mataku dan jabat tanganku erat-erat

Saat itu juga kita akan mengobrol panjang lebar

Bertukar kata juga kisah tentang sejarah hari-hari lalu

Pada saat itulah cinta akan jatuh lagi untuk kedua kalinya

Di antara kita

Setelah pandangan pertama

[Puisi] Separuh Cahaya

separuh cahaya

Satu tahun yang lalu,

kita terpisah dalam ruang, waktu,

juga dunia yang berbeda.

 

Tatkala elegi menghantar

tubuhmu dalam kotak putih gading

dingin di bawah bumi

itulah waktu separuh cahayaku

 

padam

 

Aku hilang arah

 

Pusing bukan kepalang

 

Tapi waktu harus tetap berjalan

meski tertatih

dan melalui kala dengan letih

semua pun berubah,

antara aku dan sekitarku,

dan aku berhasil bertahan

 

Waktu yang tak pernah berhenti

mengajariku,

dirimu memang separuh cahayaku

dan aku oleng karena kehilanganmu

tapi Tuhan masih sisakan cahaya lain

yang lebih kuat, meski redup

yang masih tegar, meski ditiup

yang harus kujaga, agar hidup

satu-satunya cahaya yang tersisa

 

Maka,

dengan sisa-sisa keringat

dan waktu yang tenggat

berselubung hikayat-hikayat

milikmu yang menjadi rahmat

 

Kulanjutkan hidup

meski tanpa separuh cahaya

30.11.12

Muara Teweh

Setelah peringatan satu tahun kepergian Papa

[Puisi] Pasar Kata-Kata

pasar tempo dulu

Aku telisik (risik)

Persegamaan kata tumpang tindih

Di pemburit mayapada

 

Ada raungan ayat-ayat dan mazmur suka cita

Saling tempur di lapangan penuh mata

Mengumbar kesunyian selangkang

Mengkidungkan larik-larik anti birahi

 

Ada pula leguhan janji-janji materi

Saling gempur di medan kuasa selebar kelor

Mengobral kemerdekaan masa-masa lampau

Melantunkan nada-nada kemakmuran ‘suatu hari nanti’

 

Lalu kelakar tawa kaum perwira pun turut berdesakan

Memparodikan lelakon pandawa

Yang memerangi culas kurawa

Yang seyogyanya tergilas

 

Namun, Kawan

Tiap kata

Selalu bertopeng ganda

 

Masih jelas kucerna

Suara hawa memperkosa martabat

Demi segenggam beras

Yang ingin ia tabur

Di perut-perut bocah jembatan layang

Yang tangisnya lebur

Menutupi sajak-sajak penderitaan!

 

Ya.

Paradigma

Menjadi tempo stagnan

Di tiap desau napas

Pasar kata-kata

 

 

[puisi tanpa gelar ini dibuat untuk lomba FLS2N tingkat Provinsi Kalimantan Selatan]

[Puisi] Fana

Dia menyenandungkan gema hujan di batas senja

Memeluk bulan dalam kesendirian abadi

Kenangan tumbang di keheningan nuansa mendung

Sementara di semenanjung lautan, mimpi kesatria musnah

Angan suci sirna

Suara keberhasilan semu

Bayangan kebahagiaan binasa

Kasih sayang pun lenyap

Fana

Kini Dunia berusaha bersandiwara

Menuai bencana antara hidup dan mati

___________________________

A/N:

Aku tahu ini gaje sodara-sodaraaaa! *sembunyi di kolong meja* Salahkan Guru Bahasa Indonesia-ku yang tiba-tiba saja menyuruh setiap muridnya menulis 3 kata ke depan, kemudian dengan santainya berkata, “Silakan bikin puisi dari kata-kata tersebut!”

Omaigat! Itu kata-kata pada enggak nyambung semuaaaa!!

Akhirnya, dengan perjuangan yang berdarah-dara (ehem, lebay) akhirnya aku berhasil membuat puisi di atas. Semoga masih nyambung dan artinya dapat dipahami ya? *crossing fingers*

[Puisi] Rindu

Malam menyingsing

Ada hati yang terasing

Dalam elegi tentang kesakitan

Dalam kidung tentang keperihan

Gelap tersungging

Ada senyum yang menguning

Dalam penantian  pada pelita

Dalam kerinduan pada cinta

_____________________

A/N: Hahaha, ini puisi yang saya pakai buat ulangan Bahasa Indonesia tadi pagi. Serius, ini mikirnya lama banget. Paragraf narasi, eksposisi, deskriptif, dan lain-lain udah beres. Tinggal ini yang kesisa. 😛 Semoga gak gaje ya?

[Puisi] Pikirkan Aku Sedikit Saja

Pernahkah kamu?

Ingat kala itu

Katika Senja menggelitik rasa

Ingkari waktu yang bergerak cepat

Rasaku itu, labil

Ada kalanya bersungut-sungut pada takdir

Namun nyatanya, tetap kembali ke titik awal

 

Ah…

Kala itu…

Untaian rasa itu

 

Sudahkah kamu mengingatnya?

Elegi kita di kala senja

Desiran hangat yang memanggut bibir kita

Indah benar ‘kan?

Kita kala itu

Impianku padamu

Tak lekang oleh waktu

 

Sudah pernah kuingat,” katamu

Aku mengulum senyum, berharap

Jadi, apa maumu?”

Ah… katam hatiku, ternyata, tak sedikit pun kamu memikirkannya