[Resensi Buku] All She Ever Wanted – Patrick Redmond

PIC_14-04-20_16-16-56

Judul                     : All She Ever Wanted

Penulis                 : Patrick Redmond

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Jakarta, 2010

Tebal                     : 504 halaman

Rate                       : 4,5/5

“Cinta bukan sekedar emosi, melainkan penyerahan diri. Penyerahan kekuasaan paling besar. Kalau kau mencintai seseorang, artinya kau memberi kekuasaan pada mereka untuk melukaimu lebih dari orang lain.”hal 311

Aku menemukan buku ini di antara buku-buku diskon yang lembar-lembarnya sudah menguning. Aku sudah melihat buku ini dua kali di tempat yang sama sebelumnya dan tidak punya rasa untuk menyentuh mau pun membelinya kala itu. Tapi tiba-tiba saja, hari Kamis kemarin aku menemukan diriku langsung membeli buku itu tanpa berpikir dua kali.

Kenapa?

Karena buku ini tiba-tiba saja mengingatkan tentang diriku yang dulu. Dan benar saja, tokoh Christina Ryan di buku ini seperti cerminan dari sosokku yang dulu. Seorang gadis gendut-besar yang mengalami tekanan batin yang hebat. Well, sebenarnya tidak sehebat itu sih, tapi cukup hebat untuk memacu semangatku hingga akhirnya mampu menurunkan berat badan sampai 21 kg. Hahaha XD. Lain kali aku akan menceritakan fase hidupku ini pada kalian, soalnya taget penurunan berat badanku sekarang belum tercapai.

Aduh, sepertinya aku selalu ngelantur di awal resensi. Okeh, kembali ke laptop, kisah ini tentang seorang gadis kecil berambut merah dan bermata hijau yang pada suatu hari mengalami guncangan batin saat ayahnya yang seorang pelaut pergi meninggalkannya dan ibunya. Ibunya yang sangat mencintai ayahnya langsung depresi dan malah menumpahkan rasa depresinya itu kepada Tina (nama kecil Christina Ryan). Tina yang masih kecil hanya ingin dicintai dan memohon kasih sayang pada ibunya namun yang ia dapatkan justru kata-kata kasar yang menusuk jantungnya.

“Coba lihat dirimu, Tina. Lihat dirimu sendiri! Bodoh, jelek, dan tidak berguna. Begitulah kau dan begitulah dirimu selamanya. Tidak heran ayahmu meninggalkanmu. Tak heran ia tergesa-gesa minggat dan meninggalkanmu.” – Liz Ryan kepada anaknya Tina Ryan, hal. 49

Wow, bagaimana mungkin seorang ibu berbicara seperti itu kepada anaknya? tapi ternyata tidak cuman itu tekanan batin yang harus ia terima. Di sekolah ia mengalami hal yang sama. Di bully secara mental, dikucilkan, dijelek-jelekan dan lain sebagainya. Orang-orang mengatainya si Jelek, buruk rupa dan gadis yang ditinggalkan ayahnya karena ayahnya dipenjara. Ia mengalami semua penderitaan itu selama bertahun-tahun. Ia mengalami tekanan batin itu selama bertahun-tahun. Sampai suatu ketika, ia menemukan dirinya ‘meledak’.

Semua kejadian yang menikamnya itu, tiba-tiba saja memberinya kekuatan untuk melawan. Ada amarah yang memaksanya untuk bangkit dan membuat rasa percaya dirinya tumbuh sedikit demi sedikit, dan ia berhasil. Melawan semua orang yang mengejek dan menghinanya, bahkan meledak sampai nyaris membunuh ibunya sendiri.

Luar biasa. Kebangkitan yang luar biasa drastis sampai-sampai orang-orang terdekat Tina tercengang dengan perubahan itu.

Maka, waktu pun berlalu. Tina yang sebelumnya tinggal di pesisir, kemudian pindah dan bekerja di London. Menjadi gadis yang penuh percaya diri dan disegani semua orang, menjadi seorang Chrissie. Hidup gadis itu penuh dengan kesempurnaan, kestabilan, kepribadian yang tercipta dari luka-lukanya di masa lalu. Dan kemudian, Jack datang, cinta datang mengguncang kestabilan itu. Chrissie yang semula tidak ingin sosok Tina yang lemah, kecil dan penuh derita itu kembali di kehidupannya justru menjadi sosok seperti itu di depan Jack. Chrissie tergila-gila pada laki-laki itu, tapi ternyata, harga dirinya yang tinggi, keinginannya untuk mengendalikan dan semuanya itu, memenangkan dirinya. Hingga ia merusak hubungannya dengan Jack dan berakhir dengan hati yang merana ketika mengetahui kalau Jack justru kembali kepada mantan kekasihnya, Ali.

Maka, ada sosok lain yang datang, sosok lain yang mencintai Chrissie sama gilanya seperti Chrissie mencintai Jack: Alexander Gallen. Seorang jutawan, seorang yang mewarisi harta, ketenaran, dan kekuasaan yang sudah tersohor di segala penjuru Inggris. Chrissie mendapati dirinya berlari ke sosok pria itu dan mencoba mencintainya sama seperti ia mencintai Jack. Tapi tidak bisa. Sosok Jack mengingatkannya pada Ayahnya yang telah lama pergi, dan ternyata, itulah yang selama ini ia cari-cari dari semua pria yang ia kencani. Luka batinnya, luka-lukanya masih membekas di hati anak kacilnya.

Nah, bagaimana jadinya cerita cinta Chrissie ini? Apa ia bisa mewujudkan semua yang ia inginkan? Atau malah, sebuah tragedi tragis justru terjadi. Tragedi yang terjadi karena ada pihak yang terlalu mencintai hingga rela membunuh untuk mempertahankan cintanya. Mari, cari dan temukan buku ini! 😀 Kalian tidak akan menyesal!

Sungguh. Buku ini benar-benar membuatku seperti menemukan diriku di masa lalu. Sosok Tina adalah sosok Arum yang dulu kutinggalkan bersama sosok-sosok buruk rupaku yang dulu. Sama seperti Chrissie, sosok Dicta yang kumiliki adalah pembaharuan. Aku juga mengalami saat-saat tertekan, kecil, dan tidak berdaya karena di-bully oleh orang-orang. Dan aku juga mengalami saat-saat itu: membenci diriku sendiri.

Sama seperti Chrissie yang membenci sosok Tina, aku juga pernah membenci sosok Arum yang selama ini bersemayam di dalam diriku. Hubunganku dengan Mama juga sempat menegang, karena selama ini aku tidak pernah cukup akrab dengan Mama. Wow, aku benar-benar merasakan kalau di dalam buku ini adalah aku. Aku benar-benar terbawa, aku bahkan bisa memahami perasaan sakit hati Chrissie dan turut membenci Jack saat pria itu memutuskan kembali ke mantan pacarnya. Kesengsaraannya, cintanya yang menggebu-gebu, dan kerinduannya kepada ayahnya.

Luar biasa.

Tapi kenapa harus minus 0.5, Dict? Bukannya kamu sampai kebawa seperti itu? yah, jawabannya karena aku tidak menginginkan diriku untuk benar-benar seperti Chrissie, dan aku juga tidak suka dengan sikapnya yang terlalu pongah. Hahaha. Aku bahkan tak sampai hati jika aku harus mengalami kehidupan seperti itu. Penuh dengan kepalsuan dan hati yang tidak damai. Aku tidak pernah merasa palsu saat aku menjadi Dicta, aku pun telah berdamai dengan Arum dan mengakui kalau Arum adalah salah satu fase dalam hidupku. Sosok ulat buruk rupa yang sekarang dalam masa kepompongnya menjadi sosok yang baru. Memikirkannya justru membuatku semakin bersemangat untuk menjadi orang yang aku inginkan. 😀

So, kesimpulannya, bintang 4,5 ya. Buku ini benar-benar cocok untuk kalian-kalian yang demen cerita-cerita psikologi romantis. Yang mengungkapkan perasaan-perasaan terdalam dan tersembunyi dari diri kalian masing-masing. Coba cari bukunya dan rasakan sendiri ketegangannya!

[Resensi Buku] By The River Piedra I Sat Down and Wept – Paulo Coelho


PIC_14-04-19_19-33-20

Judul                     : By The River Piedra I Sat Down and Wept (Di Tepi Sungai Piedra aku Duduk dan Menangis)

Penulis                 :Paulo Coelho

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Cetakan kedelapan, 2013

Tebal                     : 222 halaman

Rate                       : 5/5

“Cinta tak perlu didiskusikan; cinta memiliki suaranya sendiri dan berbicara untuk dirinya sendiri.” – hal. 91

Jadi, meskipun aku berhenti menulis, sejujurnya aku tidak pernah berhenti membaca. Dua bulan yang lalu aku membeli beberapa buku Eyang Coelho lagi dan membacanya ketika aku punya waktu. Pria ini adalah satu-satunya penulis yang karyanya ingin kukumpulkan selengkap mungkin dan meresapinya sampai ketetes terakhir. Yah, sepertinya aku benar-benar tergila-gila dengan tulisannya. Hahaha, jadi maaf ya kalau resensiku ini rada-rada bias. Tapi aku akan terus mencoba untuk membuat resensi buku seobjektif mungkin tanpa mengurangi perasaan damaiku yang meluap-luap setiap kali aku selesai membaca ataupun membuat resensi buku-buku Eyang Coelho.

Baiklah, back to the topic, kali ini aku ingin meresensi buku yang memiliki judul yang menurutku romantis. Entahlah, ketika aku sedang memilih-milih buku Eyang Coelho yang ingin aku beli, aku langsung jatuh hati pada buku ini dan membelinya. Dari cover bukunya, kalian bisa lihat kalau buku ini adalah jenis buku yang penuh dengan perasaan emosional dan terobang-ambing. Dan memang, buku ini benar-benar penuh dengan perasaan seperti itu.

Buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Pilar. Suatu hari wanita muda ini bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya. Jujur saja, sinopsis di belakang buku ini menceritakan kalau ia bertemu kembali dengan kekasihnya, tapi di dalam buku ini pria itu bukan kekasihnya. Ia cinta pertama Pilar, dan Pilar menyimpan perasaan itu sampai akhirnya mereka berpisah karena pria itu ingin menantang dunia dan menceburi risiko-risikonya. Yah, ini hanya klarifikasi saja sih, biar kalian tidak tertipu saat membaca sinopsisnya.

Nah, saat bertemu dengan teman masa kecilnya itu kembali, ternyata teman masa kecilnya telah berubah menjadi seorang pemimpin spiritual yang sangat terkenal. Pria itu penuh dengan karisma, dan diselimuti oleh mujizat-mujizat. Awalnya, Pilar berniat untuk menghindarinya, tapi ternyata hatinya berkata lain dan akhirnya pertemuan mereka berujung dengan ajakan menghadiri sebuah konfrensi bersama-sama. Pilar memutuskan untuk menerima ajakan itu, tanpa tahu, bahwa hal itu memulai sebuah pengakuan tak terduga yang dikemukakan  teman masa kecilnya.

“Telah lama aku mencoba melupakannya, tapi kalimat itu tetap ada dan aku tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Kalimat itu sangat sederhana: aku mencintaimu.”Teman masa kecil Pilar, hal. 38

Pilar terkejut dengan pengakuan itu. Ia benar-benar tidak menyangka dan mencoba menyangkalnya. Mengatakan dalam hati bahwa teman masa kecilnya itu bisa saja salah. Bahwa semua ini tidak masuk akal. Maka, ketika konfrensi berakhir, hal pertama yang ingin dilakukan Pilar adalah kembali ke kediamannya di Saragoza. Ia ingin cepat-cepat kembali dan melupakan mimpi semalamnya itu. Tapi ternyata, teman masa kecilnya itu justru berhasil membujuk Pilar untuk ikut bersamanya melakukan sebuah perjalanan kecil menuju tempat konfrensinya yang lain. Perjalanan yang memakan waktu satu minggu sembari menghampiri beberapa kota.

Perjalanan ini penuh dengan perasaan emosional. Pilar yang berperang dengan hatinya, terus-menerus dipaksa merenung dan mengaduk-aduk perasaannya; mencari-cari senjata untuk menghadapi gempuran emosi yang dipancarkan oleh teman masa kecilnya itu. Perjalanan  mereka diiringi dengan pembicaraan-pembicaraan panjang tentang kehidupan, visi-visi mereka, pandangan-pandangan spiritual dan sebagainya.

Sampai suatu ketika, mereka tiba di sebuah kota bernama Saint-Savin untuk merayakan hari raya Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Di kota inilah puncak pergejolakan perasaan Pilar yang tertinggi, di mana akhirnya ia menemukan dirinya juga penuh dengan cinta dan hasrat yang menggebu-gebu terhadap teman masa kecilnya itu. Cinta masa kecilnya yang selama ini ia tahan membeludak dan akhirnya tumpah ruah.

Namun, saat Pilar mantap dengan perasaannya. Sebuah kenyataan harus ditelannya bulat-bulat. Teman masa kecilnya itu bukanlah orang biasa. Teman masa kecilnya adalah seorang pria yang memiliki bakat dan di berkahi mujizat dari Bunda Ilahi. Ia adalah seorang calon imam, dan ia mengemban tugas berat: mewartakan sosok feminine Tuhan.

Ya, benar. Tugas mulia memanggil pria itu, namun hatinya terganjal cinta pada Pilar. Ia harus memilih, cinta harus memilih, antara mengemban tugas atau menuruti hatinya? Tapi pada kenyataannya, apa pun pilihan pria itu, pilihan itu sama-sama mulia. Cinta juga adalah sebuah kemuliaan. Karena saat manusia dilahirkan, masing-masing jiwa memiliki tugas dan jalannya masing-masing.

“Ya. Dunia ini berada di titik di mana banyak orang menerima perintah yang sama:  ‘Ikuti impianmu, ubah hidupmu, ambilah jalan yang membawamu kepada Tuhan. Lakukan Mujizatmu. Sembuhkanlah. Bernubuatlah. Dengarkan malaikat pelindungmu. Ubahlah dirimu. Jadilah seorang kesatria, dan berbahagialah saat engkau maju berperang. Ambil risiko.”Seorang Padre, hal. 166

Nah, bagaimana? Apa yang akhirnya teman masa kecil Pilar itu pilih? Apa ia akhirnya tetap menerima tugasnya sebagai pewarta, atau akhirnya memutuskan jalan yang lain, yang sama mulianya: hidup bersama wanita yang ia cintai? Cepat beli buku ini, dan ketahui akhir ceritanya di Tepi Sungai Piedra 🙂

Well, sesungguhnya, kenapa aku memberi bintang sempurna pada buku ini bukan karena cerita cintanya yang menggebu-gebu atau pun karena kutipan-kutipannya yang begitu kuat menohok. Tapi karena buku ini menguatkan imanku; keyakinan dan kepercayaanku.

Mungkin, beberapa peresensi yang agak sulit meresapi isi buku ini hanya akan menikmati cerita cintanya dan mengkritisi kesederhanaan plotnya yang kurang gereget. Yah, aku pun mengakui hal itu jika memandang dari kacamata mereka. Tapi aku menemukan, bahwa buku ini tidak bertitik berat pada sisi romansanya, tapi justru pada sisi spiritualnya. Ada sebuah doa tertulis di buku ini, yang membuat dadaku sesak dan mataku berair hingga meneteskan air mata. Doa yang penuh penyerahan dan kesederhanaan.

“Jadilah kehendakmu, Ya Tuhanku. Karena Engkau mengenal kelemahan di hati anak-anakmu, dan Engkau hanya memberi beban yang sanggup mereka pikul. Semoga Engkau memahami cintaku—karena hanya itu satu-satunya milikku, satu-satunya yang dapat kubawa bersamaku ke kehidupan selanjutnya. Kumohon, jadikan cintaku berani dan murni; mampukan cinta itu bertahan menghadapi berbagai perangkap dunia.”hal. 111

Kadang, kita lupa saat kita berdoa, kita hanya meminta kepada Tuhan tanpa memahami bahwa Tuhan mengerti bahkan tanpa perlu kita meminta. Maka, ‘Jadilah kehendak-Mu’, itu adalah kalimat yang menurutku benar-benar menohok. Selama ini doa-doa yang aku panjatkan penuh rasa meminta, ini dan itu, ini dan itu, tanpa ada rasa penyerahan dengan diakhiri kalimat ‘Jadilah kehendak-Mu’. Sehingga, saat doa-doa kita tidak sesuai dengan apa yang terjadi di kehidupan kita. Kita sering merasa kecewa kepada Tuhan. Kita kecewa kepadanya dan akhirnya meninggalkannya; malas berdoa dan lain sebagainya. Meminta kepada Tuhan tentu saja sangat diperbolehkan, tapi kita harus sadar Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Karena Ia mengenali segala kelemahan-kelemahan kita.

Sekali lagi, aku ingin mengatakan, meskipun tema spiritual di dalam buku ini bernuansa Katolik. Tapi ketahuilah, bahwa inti yang diajarkan buku ini sungguh universal. Sangat bisa diaplikasikan pada setiap agama di muka bumi ini karena tujuan kita beragama adalah menemukan kedamaian dan pegangan hidup. Eyang Coelho hanya kebetulan saja adalah seorang Katolik, dan ia menyampaikan tema spiritual di buku ini dengan caranya sebagai orang Katolik. Namun pesannya, pahamnya, dan ajakkannya untuk hidup damai bersama Tuhan sesuai dengan agama yang kita anut masing-masing dapat kita temukan di dalam buku-bukunya, termasuk di buku ini.

Akhir kata, bintang lima untuk buku ini. Kudidikasikan kepada Eyang Coelho karena ia telah menebar kasih dan kedamaian di hatiku dengan bukunya. Semoga, kalian Para Penikmat Kata juga bisa merasakan kasih dan kedamaian itu di hati kalian! 🙂

[Resensi Buku] Mitos dan Fakta Kesehatan – Erikar Lebang

PIC_13-12-27_14-52-27

Judul                     : Mitos dan Fakta Kesehatan

Penulis                 : Erikar Lebang

Penerbit              : Penerbit Buku KOMPAS

Tahun terbit       : Juni, 2012

Tebal                     : 198 halaman

Rate                       : 5/5

Harga                    : –

“Manusia tidak ditakdirkan untuk hidup dalam kelaparan mau pun kekenyangan bekepanjangan, ia harus hidup dengan asupan makanan yang cukup untuk membuatnya mampu hidup sejahtera.” –Erikar Lebang,  Mitos dan Fakta Kesehatan, hal 75

 

Sebenarnya  ini bukan buku pertama yang aku baca dari Mas Erikar Lebang, sebelumnya aku sudah baca Food Combining itu Gampang  dan Mitos dan Fakta Olahraga dan Yoga. Tapi dari semua buku Mas Erikar yang udah aku baca, aku memilih buku ini karena lebih mudah diresensi (berhubung ini resensi buku non-fiksi pertamaku) dan lebih awam untuk dibaca segala kalangan.

Buku ini berisi tentang kumpulan kultwit dari sang penulis yang disiarkan dan disebarluaskan oleh beliau di akun twitternya @erikarlebang. Kultwit beliau dibagi dalam lima bab “kibulan” yaitu kibulan pencernaan, kibulan makanan, kibulan sayur dan buah, kibulan air, dan kibulan susu. Masing-masing bab menjelaskan banyak sekali fakta serta jawaban dari mitos-mitos kesehatan yang bersangkutan dengan kelima kibulan tersebut.

Kebanyakan kibulan dari Mas Erikar emang sangat kontroversial dan bertentangan dengan pemikiran konvesional kebanyakan. Makanya Mas Erikar menyebutnya kibulan biar yang baca menanggapi dengan santai. “Suka Syukur, gak suka silakan unfoll” kata-kata tersebut yang kerap sekali Mas Erikar keluarkan saat selesai berkibul ria di Twitter (coba cek sendiri di twitternya kalau gak percaya XD).

Salah satu kibulan Mas Erikar yang paling kontroversial adalah kibulan tentang susu. Mas Erikar kentara sekali memerangi pemberian produk susu bagi anak sebagai minuman utama dan memerangi susu sebagai indikasi kesehatan seseorang.

“Somehow some people are insane enough dalam ‘menempatkan’ susu sapi dalam bentuk susu formula, terutama sebagai asupan utama.” –  hal 158

Semua kibulan Mas Erikar dikemas dengan bahasa santai nan asyik khas anak gaul sehingga gak terkesan diceramahi dan di nasihati dalam buku ini. Dan sebagai follower setianya selama 6 bulan belakangan ini, aku pun terkibuli seratus persen sama kibulan Mas Erikar Lebang. Hahaha. Semua Mitos dan Fakta dalam buku ini benar-benar terbukti dan menurut aku sangat bisa dipercaya, karena aku mengaplikasikannya sendiri dalam kehidupanku.

Dimulai dari jeniper (jeruk nipis peres) di pagi hari, kemudian sarapan buah, lalu menium air putih tanpa substansi lain (sudah enam bulan aku lupa rasanya teh, aku cuman minum air putih!), banyak makan sayur mentah, mengurangi asupan protein hewani, dan semuanya! Dan kini aku merasakan sendiri dampak positifnya di hidupku. Well, aku tak akan menceritakan lebih lanjut bagaimana Food Combining telah mengubah hidupku, karena aku akan menceritakannya di lain kesempatan buat kalian. Ceritanya panjang soalnya! XD

Intinya buku ini sangat cocok bagi kalian yang mulai merasa kualitas hidupnya menurun, terutama yang suka pusing, flu, batuk, kurang fit, asam lambung tinggi dan lain-lain. Biar kalian gak salah kaprah menyalahkan sumber penyakit kalian. Karena sumber permasalahan yang kalian alami itu ternyata sesederhana apa yang masuk ke mulut kalian!

So, bintang 5 ya untuk buku ini. Bintang sempurna ini kudedikasikan untuk ilmunya, karena hanya dengan kicauan twitter-nya Mas Erikar telah mengubah hidupku. *sungkem*

[Resensi Buku] The Fifth Mountain – Paulo Coelho

IMG00618-20130929-0935

Judul                     : The Fifth Mountain (Gunung Kelima)

Penulis                 : Paulo Coelho

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Cetakan kelima, 2013

Tebal                     : 379 halaman

Rate                       : 5/5

Harga                    : 62.500,-

“Mungkinkah Tuhan itu jahat?” desak si anak laki-laki

“Tuhan maha kuasa. Jika ia membatasi dirinya hanya dengan melakukan apa-apa yang baik. Dia tidak bisa disebut Maha Kuasa; itu berarti Dia hanya menguasai satu bagian alam semesta, dan ada orang lain yang lebih berkuasa daripada-Nya, yang mengawasi dan menilai tindakan-tindakannya. Kalau demikian halnya, aku lebih memilih memuja orang yang lebih berkuasa itu.” – percakapan Nabi Elia, hal 311

Sekali lagi aku jatuh cinta dengan tulisan pria yang menurutku masih terlihat tampan di umurnya yang sudah nyaris mengecup angka 80 tahun. Di lembar-lembar terakhir buku ini, tanganku gemetaran, rasanya ada hati yang terjatuh ke lantai rumah; dan itu hatiku. Ada perasaan, harga 62.500,- buku ini tidak seberapa berharga dengan apa yang telah diajarkannya pada hidupku. Jika bisa lebih dari rate 5 bintang, mungkin aku akan kasih rate buku ini 10/5 bintang. Hahahaha.

Baiklah cukup memuji-mujinya, buku ini menceritakan atau diambil dari cuplikan kisah hidup Nabi Elia—salah satu nabi terkenal pada kitab perjanjian lama di Alkitab—tapi tema yang ditawarkan bersifat SANGAT UNIVERSAL dan pastinya bakal sangat menyentuh hati setiap umat beragama yang ada di dunia ini, kususnya di Indonesia sih.

Eyang Coelho menawarkan tema hubungan antara umat dan Tuhannya di dalam konflik batin yang sering kali terjadi ketika kita mengalami cobaan-cobaan berat dan sengit. Buku ini mengisahkan bagaimana pada mulanya Elia mendapat panggilan sebagai Nabi Tuhan, hingga akhirnya ia lari dari kampung halamannya sendiri yaitu Yerusalem, lalu diutus Tuhan kepada seorang janda yang tinggal di Akbar, salah satu kota di Fenisia (orang Israel menyebutnya Lebanon).

Elia menjadi buronan tatkala raja Israel, Raja Ahab, akhirnya menyembah berhala karena pengaruh putri Fenisia yang ia nikahi. Putri bernama Izebel itu memaksa rakyat Israel menyembah Baal—dewa-dewa Fenisia—dan membunuh semua nabi-nabi Tuhan yang berteguh pada imannya. Nabi-nabi itu disuruh memilih menyembah Baal atau mereka akan dibunuh, namun bagi Elia, satu-satunya pilihan adalah ia harus mati. Maka, sesuai petunjuk Malekat Tuhan yang datang padanya, Elia pun kabur ke padang pasir dan menunggu di sana. Di padang pasir, akhirnya Tuhan pun memberinya perntah untuk pergi menemui seorang janda beranak satu di kota Akbar, salah satu kota Fenisia, kota penyembah berhala.

Widih, ajegile ya? Apa gak langsung dibunuh tuh si Elia? Hehehe, intermezo dikit ah.

Jadi, menurut sejarah yang tertulis di Alkitab, Elia menunjukkan mukjizat pada janda tersebut dan akhirnya di terima di dalam rumah perempuan itu. Tapi di kota seperti Akbar, berita tentang datangnya Nabi Israel ke tanah mereka langsung menyebar dengan cepat, tapi para penduduk tidak dapat mengusir nabi Elia karena adanya hukum keramahtamahan. Apaan itu? Hukum keramahtamahan adalah hukum karma yang waktu itu mereka percayai, jadi, setiap orang asing yang datang di daerah mereka harus mereka sambut dengan baik, karena jika tidak, anak-cucu mereka akan diperlakukan buruk di negeri-negeri asing. Wew, seandainya Indonesia (masih) menganut hukum itu ya 😀

“Ada saat-saat kita mengalami cobaan, dan ini tak bisa dihindari. Tapi ada alasannya mengapa semua itu terjadi.”

“Alasan apa?”

“Pertanyaan itu tak dapat kita jawab sebelum atau bahkan selama kita mengalami cobaan-cobaan itu. Setelah berhasil mengatasinya, barulah kita mengerti mengapa kita diberi cobaan-cobaan tersebut.” – Percakapan Nabi Elia dan Imam Agung, hal 60

Saat kemunculan Elia menjadi buah bibir, abdi Tuhan itu pun dihadapkan kepada Imam Agung, seorang pemuka agama yang berada di Akbar. Ia ditanyai berbagai macam hal, sampai akhirnya dibiarkan untuk tinggal sebagai ‘tawanan’. Nilai kepala Elia akan sangat berarti bagi kota tersebut. Itulah tujuan dan keputusan Gubernur Akbar juga Imam Agung untuk mempertahankan Elia di kota mereka.

Waktu pun berlalu. Tiba-tiba anak dari perempuan yang rumahnya ia tinggali jatuh sakit. Orang-orang mulai beranggapan bahwa Elia membawa kesialan dan kebencian ke kota mereka. Gubernur Akbar pun diminta untuk mengusir Elia, tapi karena ia masih memikirkan betapa berharganya kepala Elia, ia tidak melakukannya. Sampai akhirnya anak perempuan itu meninggal dan Elia pun langsung dijatuhi hukuman oleh warga Akbar.

Tapi kembali, Tuhan memberinya anugrah dan Elia pun membangkitkan anak itu dari kematian. Tapi keajaban itu bukan malah membuat warga Akbar kembali ke jalan Tuhan, tapi malah menganggap Elia mendapat anugrah dari Dewa-Dewa Baal yang bermukim di Gunung Kelima. Tapi Elia membiarkan hal itu terjadi, asalkan ia masih bisa tinggal di sana.

Waktu kembali bergulir di kota Akbar. Seiring munculnya kemah-kemah Bangsa Asyur di ujung cakrawala yang terlihat ‘akan menyerang’ kota Akbar, kecemasan pun meningkat. Tapi berbulan-bulan berlalu, pasukan Asyur tidak juga menyerang hingga pelan-pelan terlupakan. Elia pun, meski masih diliputi kegalauan dan kecemasan akan tugasnya mengembalikan bangsa Israel ke jalan Tuhan, kembali mengisi waktunya sebagai penasehat di masyarakat Akbar karena kebijaksanaannya. Tapi di lain pihak, sosok perempuan yang rumahnya ia tinggali semakin menyilaukan hatinya dan menyelimuti dirinya dengan cinta. Tanpa sadar, Elia jatuh cinta pada wanita itu.

“Dia merasa bebas. Sebab cinta membebaskan.” – hal 119

“Cinta akan menang dalam pertempuran ini, dan aku akan mencintai perempuan ini sepanjang sisa hidupku.” – hal 121

Dari lengan pakaiannya perempuan itu  mengeluarkan lempeng tanah liat bertulisan.

“Apa arti kata itu?” tanya Elia.

“Cinta.”

Elia mengambil lempeng itu, tidak  berani menanyakan mengapa perempuan itu memberikan lempeng ini padanya.  – Percakapan Nabi Elia dan perempuan yang dicintainya, hal 161

Tapi Elia tahu, tugasnya mengharuskan hati yang total. Dan jatuh cinta adalah salah satu hal yang harus ia hindari. Maka ia tetap memendam perasaan itu hingga akhirnya, bencana datang pada kota Akbar.

Perang terjadi.

Perang yang seharusnya bisa dihentikan secara damai namun gagal ditangani oleh Elia terjadi. Perang ini pula yang merenggut banyak kehidupan di kota itu, membumi hanguskan segala isinya, juga… membunuh orang yang sangat dicintai Elia.

Pada titik ini, Elia merasa benar-benar sengsara, merasa begitu ditinggalkan, merasa gagal. Mengapa Tuhan memalingkan wajah darinya? Mengapa doa-doanya tak didengarkan? Mengapa Tuhan harus merenggut orang yang ia cintai?

Mengapa tragedi mengerikan ini harus terjadi di hidupnya?

Dan dengan semua kesedihan dan kesengsaraan itu. Elia pun memulai pergumulannya dengan Tuhan. Apakah Elia mampu membangun kembali kota yang telah hancur itu? Apa Elia mampu menarik kembali bangsa Israel dari dewa-dewa Baal yang hanya mitos?

Mari! Beli buku ini, SEGERA!

Well, ada satu pesan yang benar-benar tertanam dalam benakku selama membaca buku ini.

“Kalau kau pejuang yang baik, kau tidak akan menyalahkan dirimu, tapi kau juga tidak akan mengulangi kesalahanmu.” –  Nabi Elia, hal 171

Ketika aku lagi down, stress dan bingung menjalani hidup. Aku menemukan diriku menyesali masa lalu dan mengutuki diri. Tapi buku ini menyadarkanku, menyematkan pejuang di hatiku dan mengatakan kalau masa lalu harus di ubah untuk membentuk masa depan yang lebih baik. Masa lalu tidak untuk disesali, kita hidup di masa sekarang dan belajar untuk mengubah masa depan. Ah, ini kutipan yang sungguh luar biasa. Kuulang-ulang setiap hari 😀 sampai aku memahaminya sekuat tenaga.

Hal yang berbeda dan unik dari buku ini adalah bagaima Eyang Coelho menyampaikan cerita penuh inspiratif ini tanpa terkesan mengguri. Ini pula yang kutemukan dari dua buku sebelumnya yang telah kubaca Aleph dan The Winner Stands Alone. Dalam kedua buku tersebut, Eyang Coelho berhasil menginspirasi jiwaku tanpa membuatku memiliki kesan ‘dinasehati’ oleh si penulis. Berbeda dengan semua buku inspiratif yang pernah kubaca.

 Di setiap susunan katanya kutemukan ajaran, ide-ide, dan gagasan yang dimiliki Eyang Coelho dengan jelas. Bagaimana ia menuangkan ‘dirinya sendiri’ dalam setiap tulisannya. Bagaimana ia menceritakan dirinya sendiri dalam bukunya. Oh, I can’t tell you more how much I love him and how much he changes my life, just with his books!Buku Eyang Coelho adalah buku yang GUEH BANGETZ.

Again, no complain.Meski sedikit ada typo dari penerbit dari bagian tanda baca, dan beberapa huruf yang kabur karena pencetakan yg kurang bagus. Aku sudah terlanjur terpesona dengan isi buku ini sampai-sampai tak peduli dengan typo dan sebagainya.

Buku ini benar-benar pantas untuk kalian baca. Bagi anak-anak muda labil sepertiku, bagi kalian yang merasa betapa beratnya hidup ini dan betapa tidak adilnya Tuhan, yang merasa tragedi datang silih berganti, dan sebagainya.

Kalian harus baca buku ini dan kalian akan sadar, betapa Maha Kuasanya Sang Pencipta 😀

[Resensi Buku] The Ocean at The End of The Lane – Neil Gaiman

ocean

Judul                     : The Ocean at The End of The Lane

Penulis                 : Neil Gaiman

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Juli, 2013

Tebal                     : 264 halaman

Rate                       : 4,5/5

“Tidak ada yang lulus atau gagal dalam menjadi manusia, Sayang.”Mrs. Hempstock Tua (The Ocean at The End of The Lane, Neil Gaiman, hal. 253)

Aku membeli buku ini tanpa berpikir dua kali. Masih berandalkan feeling dan believe kalau apa yang kupegang adalah buku keren. Dan berbeda jauh dengan perasaanku saat membaca serial #STPC dari Swiss milik Alvi Syahrin, buku yang satu ini adalah jeckpot!

Secara garis besar, buku ini menceritakan pengalaman masa kecil seorang pria yang mengalami petualangan mengerikan, menakjubkan, mengesankan, juga yang tak terlupakan sampai akhirnya ia menua.

Saat itu ia baru berumur 7 tahun, ia tinggal bersama keluarga kecilnya di sebuah desa kecil di Inggris. Hidupnya normal sampai suatu hari, karena keluarganya memiliki kendala finansial, kamarnya harus disewakan pada seorang penambang opal dari Afrika Selatan. Apa yang terjadi pada penambang ini? Penambang ini bunuh diri karena perasaan bersalah pada kawan-kawannya di Afsel tatkala ia menghabiskan semua uang yang dipercayakan padanya. Ternyata, bunuh diri ini berdampak pada rentetan kejadian mengerikan yang diakibatkan oleh seorang Kutu—begitu keluarga Hempstock memanggil mahkluk-mahkluk pengganggu yang lolos dari Samudra.

bocah itu tak tahu apa-apa tentang asal muasal kejadian itu akhirnya diajak seorang gadis kecil bernama Lettie Hempstock ke perkebunan mereka yang berada di ujung jalan setapak. Keluarga Hempstock-lah yang menemukan mayat si Penambang Opal pertama kali dan merasa bertanggung jawab untuk melindungi si bocah dari ulah si Kutu.

Di sinilah pertama kali si bocah mengenal Lettie. Gadis kecil berumur 11 tahun itu mengajak si bocah menuju Samudra yang pada kenyataanya adalah sebuah kolam ikan kecil di perkebunan hempstock. Tapi Lettie bersikeras kalau itu adalah Samudra. Aneh, bagi bocah kecil itu, tapi ia tak begitu ambil pusing dengan perkataan Lettie.

Setelah kembali dari rumah Lettie Hempstock, kejadian mengerikan mulai terjadi. Diawali dengan si bocah yang tiba-tiba saja memuntahkan sekeping uang logam, yang akhirnya menuntunnya kembali ke keluarga hempstock (oh ya, lupa cerita, kalau keluarga hempstock hanya terdiri dari tiga orang, Littie Hempstock, Gienne Hempstock, dan Mrs. Hempstock Tua) untuk meminta pertolongan sampai akhirnya ia menalami sebuah kejadian mengerikan saat ia bertemu langsung dengan sosok Kutu berbentuk kain kanvas penuh sobekan dan wajah yang meleleh.

Ia pikir segalanya usai saia Lettie mengusir kutu tersebut, tapi ternyata, dengan ceroboh si bocah melepaskan tangan Lettie saat gadis itu memerintahkannya untuk tidak melepaskan tangannya dan membuat bocah malang itu menjadi media atau portal antara Samudra dan dunia nyata.

Melalui tubuh bocah itu si Kutu masuk ke dunia nyata dalam bentuk cacing di kakinya. Si Kutu kemudian berubah sosok menjadi seorang wanita bernama Ursula Monkton yang kemudian menjadi pengasuh si bocah dan adiknya. si bocah yang mengetahui sosok asli dari Ursula Monkton pun mengalami depresi berat. Ia tak boleh keluar rumah, ia dihukum, dan lain sebagainya bahkan sosok Ursula Monkton itu sampai mengancam akan membunuh si bocah jika ia belari kabur dari rumah mereka dan pergi ke rumah Para wanita Hempstock untuk meminta pertolongan.

Nah, apa yang terjadi pada bocah ini selanjutnya? Apa ia selamat dari sosok Ursula Monkton itu? Apa Para wanita Hempstock dapat menolong mereka? Atau justru ada bahaya yang lebih besar dari hanya sekedar Kutu menunggu? Kekekeke~ Temukan sendiri pada bukunya!

Buku ini bergenre fantasi, misteri, dan petualangan. Harusnya menjadi buku yang sangat sulit untuk ditulis karena penulis harus berhasil membawa sosok fantasi ke dalam cerita. Tapi Paman Gaiman berhasil membangun perasaan mencekam, luar biasa, berdebar, dan takjub pembaca dengan kesederhanaan narasi dan cerita dari sudut pandang seorang anak berumur 7 tahun.

Meski menggunakan alur mundur dan sudut pandang orang pertama tunggal pelaku utama, Paman Gaiman tak kesulitkan membangun latar, alur, dan plot yang rumit itu menjadi sesuatu yang begitu nyata di mata pembaca. Sungguh, membaca buku ini seperti menonton sebuah film yang gak kalah kerennya kayak nonton HarPot or Lord of The Ring. Tapi, meskipun buku ini sungguh luar biasa dalam penggambaran plot dan cerita. Aku agak sedikit kurang srek dengan bagaimana cara penulis menunjukan amanat dalam cerita ini.

Sampai setengah buku ini aku hanya menikmati cerita, belum mendapatkan pesan apa pun dari buku ini. Sampai akhir pun, aku masih merasa kalau cerita ini sedikit menggantung, meskipun pada akhirnya si bocah mampu melanjutkan hidupnya seperti sedia kala. Something missing, klimaks sangat terasa anti klimas dapet banget, tapi ada pemanis di buku ini yang bagiku kurang. Ah, mungkin lebih kepada taste dan pandangan subjektifku sebagai pembaca. Hahaha. Jadi, minus 0,5 ya, terlepas dari beberapa typo yang aku temukan di buku ini sih (lagi malas ngebahas typo :P)

Akhir kata, buku ini benar-benar pantas menjadi salah satu bacaan dan koleksi kalian, selain covernya yang keren abis itu, cerita dan plot buku ini benar-benar pantas menjadi teman kalian di hari yang suntuk!

[Resensi Buku] The Winner Stands Alone – Paulo Coelho

Diriku yang bersembunyi di balik kata-kata, hahaha. Biarlah temen sebangku aja yang eksis XD (90% buku ini aku baca di sekolah soalnya)
Diriku yang bersembunyi di balik kata-kata, hahaha. Biarlah temen sebangku aja yang eksis XD (90% buku ini aku baca di sekolah soalnya)

Judul                     : The Winner Stand Alone

Penulis                 : Paulo Coelho

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2009

Tebal                     : 472 halaman

Rate                       : 5/5

“Kalau dosa menghasilkan sesuatu yang baik, itulah kebajikan, dan jika kebajikan digunakan untuk tindak kejahatan, itulah dosa.” – Paulo Coelho, The Winner Stand Alone, hal. 279

Apa kalian pernah berpikir tentang bagaimana kehidupan orang-orang yang punya uang yang tak akan habis selama tujuh turunan? Apa kalian pernah berharap menjadi salah satu dari mereka? Orang-orang terkenal, orang-orang sukses, orang-orang yang telah memiliki segalanya di muka bumi ini?

Ah, mungkin buku ini akan sangat cocok bagi kalian. Agar mata kalian terbuka, agar hati kalian terbuka, tentang apa yang sesungguhnya terjadi di kalangan superclass itu dan berpikir dua kali dengan impian itu. Hehehe *nyengir*

Buku ini bercerita tentang seorang pria kaya raya bernama Igor, yang memiliki misi (yang bagi Igor) mulia, yaitu menghancurkan banyak dunia agar mantan istrinya Ewa bersedia kembali padanya. Igor menganggap membunuh demi cinta itu memang sesuatu yang diperlukan, terutama bagi Ewa yang benar-benar sangat dicintainya.

Maka, untuk memenuhi misinya itu, ia pergi ke Cannes dan menghadiri Festival Film Cannes yang dihadiri pula oleh Ewa dan Hamid—suami Ewa yang sekarang—dan mulai melaksanakan misinya dengan membunuh seorang gadis penjaja kaki lima. Igor memilih acak para korbannya, tapi ia memiliki pembawaan normal sehingga korban-korbannya tidak tahu kalau dirinya adalah calon korban Igor. Seperti Olivia, si gadis penjaja kaki lima yang menjadi korban pertamanya itu, pada mulanya Igor memberi gadis itu uang hanya untuk menemaninya mengobrol. Setelah tahu sedikit-banyak tentang kehidupan gadis itu, Igor mengambil kesimpulan kalau ia harus membunuh untuk ‘menyelamatkan’ gadis itu dari kekasihnya yang suka menyiksa dan kehidupan yang miskin. Dengan cara apa? Seni bela diri Sambo. Seni bela diri yang berasal dari Rusia, tempat asal Igor dan Ewa.

Igor mantan tentara dan pernah berurusan dengan orang-orang di pasar gelap sebelum memulai karirnya di bidang telekomunikasi, jadi ia banyak tahu tentang seni bela diri dan mampu memiliki berbagai peralatan membunuh seperti racun (curare dan hidrogen sianida, yang sangat sulit ditemukan) dan Barreta Px4. Dan meski ia mampu membayar pembunuh bayaran untuk melaksanakan misinya, Igor lebih memilih untuk mengerjakan seluruh misinya sendirian.

Dalam buku ini, Eyang Coelho tidak hanya menceritakan tentang dunia Igor, tapi juga menceritakan dunia-dunia yang dihancurkan oleh Igor. Di mulai dari Olivia, lalu Igor membunuh seorang distributor film bernama Javits yang ternyata memiliki usaha gelap dan incaran interpol, kemudian Maureen yang bekerja siang-malam untuk membuat sebuah film yang setidaknya mampu didistributorkan, setelah itu seorang aktor terkenal yang baru saja menandatangi sebuah kontrak film, dan akhirnya ia membunuh… ah, gak seru kalau aku ceritakan di sini. Hahaha. Temukan sendiri dalam buku ini dan kalian akan benar-benar tak menyangka bahwa Igor pada akhirnya beralih dari tujuan awalnya.

Well, selain menceritakan dunia orang-orang yang dibunuh oleh Igor, Eyang Coelho juga menceritakan dunia orang-orang yang berubah akibat apa yang dilakukan oleh Igor. Yaitu dunia Gabriela, seorang aktris yang sangat ambisius dengan keinginannya menjadi superstar, ia nyaris mendapatkan mimpinya itu kalau seandainya Igor tidak membunuh aktor  yang seharusnya menjadi lawan mainnya. Dan juga dunia Jasmine, seorang gadis belia 19 tahun, super model yang jatuh cinta pada disainner asal Belgia dan akan selalu menjadi menjadi partner wanita itu seumur hidup—tak mau bekerja sama dengan Hamid. Lalu yang terakhir adalah dunia seorang polisi bernama Savoy yang berharap dapat menapaki puncak karirnya saat memecahkan kasus pembunuhan berantai ini.

Ya. Dunia semua orang tersebut di atas memiliki benang merah, dan benang merah itu bernama Igor. Ini bukan sebuah kebetulan, mungkin bisa dibilang kebetulan, tapi sungguh! Buku ini TIDAK menunjukkan bahwa benang merah itu disengaja dan membuat ceritanya menjadi boring. Justru kebetulan-kebetulan itu membuat buku ini benar-benar luar biasa dan sangat menakjubkan.

Hal unik dan luar biasa dalam cerita ini adalah bagaimana Eyang Coelho menggambarkan dunia superclass yang sangat didamba-dambakan oleh semua orang. Berlatar Festival Film Cannes yang melambangan dunia glamor, Eyang Coelho menjelaskan satu-satu setiap profesi yang bertolak belakang dengan pemikiran konvensional orang awam. Benar-benar luar biasa. Dari ucapan terima kasih Eyang Coelho di akhir buku, ia berterima kasih pada semua orang yang telah membantunya dalam riset meski orang-orang itu tidak sadar kalau telah menjadi narasumbernya. Beliau tak pernah membicarakan tentang buku yang sedang ia kerjakan pada siapa pun. Beugh, luar biasa.

Tak ada komplain di buku ini, sungguh, bintang lima memang pantas diberikan pada buku ini. Meski dibagian akhir agak menggantung karena pemecahan kasus Igor tak dijelaskan kembali dan pria itu lolos dengan mulus menggunakan jet pribadinya, namun seperti judul buku ini, The Winner Stands Alone, Igor is The Winner in this book! Dan pemenang selalu berdiri sendirian. Bahkan polisi tak bisa mengambil tempat Igor. Hehehe.

Buku ini memang sangat pantas untuk kalian baca, mungkin tak memiliki cover sehebat novel-novel romansa, tapi isi buku ini memberikan gambaran jelas tentang hal-hal yang tak pernah kalian imajinasikan sebelumnya tentang kehidupan glamor. Cocok untuk di baca saat kalian sudah mulai menyerah dengan kehidupan yang membosankan.

Cepat beli buku ini!

[Resensi Buku] Swiss: Little Snow in Zurich – Alvi Syahrin

swiss

Judul                     : Swiss: Little Snow in Zurich

Penulis                 : Alvi Syahrin

Penerbit              : Bukune

Terbit                    : 2013

Tebal                     :297 halaman

Rate                       : 2/5

Harga                    : Rp 52.000,-

“Yang sebenarnya aku pikirkan selama ini hanya kamu. Yang aku sayang selama ini hanya kamu. Dan, kalaupun aku menyukai salah seorang perempuan di sana, aku tidak akan memilih mereka. Aku sudah memilihmu.” – Rakel to Yasmine, Swiss: Little Snow in Zurich, hal. 279

Saat membeli buku, aku bertaruh dengan feeling-ku. Kadang buku-buku yang kutaruhkan dengan menginvestasikan uangku untuk membelinya kumenangkan dengan kualitas cerita yang sangat keren dan dasyat. Maka, selayaknya aku membeli serial #STPC dari kota Melbourne, Paris, Roma, dan Barcelona yang lain, aku pun mempertaruhkan uangku dengan buku ini. Tapi sayangnya, untuk kali ini aku cukup merugi.

Pertama-tama, mari kuceritakan garis besar dari plot buku yang kubaca dengan sekuat tenaga ini. Buku ini menceritakan tentang dua orang anak manusia yang dipertemukan oleh nasip di sebuah dermaga kota Zurich. Mereka pengunjung reguler di tempat itu, tapi tak saling menyapa atau bahkan bersuara, hanya melirik dan diam-diam mengagumi. Sampai akhirnya, salah seorang dari mereka, Karel Steiner melangkahi garis pembatas itu dan memulai percakapan dengan Yasmine.

Percakapan yang mengawali cerita panjaaaang cinta mereka.

Pada mulainya, semua terasa biasa-biasa saja. Karel dan Yasmine menjalin hubungan layaknya muda-mudi kebanyakan yang meniti semuanya dari pertemanan. Musim dingin membekukan kebersamaan mereka dalam potret-potret kamera Yasmine yang terasa hidup. Menyebabkan, benih-benih cinta mulai merekah di hati Yasmine, dan perasaan itu semakin menguat saat Rakel mengajaknya melakukan kegiatan musim dingin yang tertera di sebuah daftar kegiatan miliknya. Yasmin percaya itu adalah kencan terselubung dari Rakel.

Tapi ternyata, daftar kegiatan musim dingin itu merupakan cerita lain bagi Rakel. Anak laki-laki, remaja berumur 16 tahun itu, ternyata memiliki rahasia yang bersangkut paut dengan keberadaan Dylan dan Elena. Siapa kedua orang ini? Mereka adalah teman Yasmine di high school. Teman Yasmine yang dulunya adalah sahabat Rakel dan mereka memiliki masa kelam tersendiri, dan kini mereka saling membenci.

Terutama Rakel dan Dylan. Kedua anak laki-laki ini sudah memiliki masalah sebelumnya, berhubungan dengan masa lalu, dan masalah mereka semakin runyam ketika Dylan yang cinta mati pada Yasmine mengetahui bahwa gadis itu ternyata menyukai Rakel. Terlepas dari rasa cintanya, Dylan merasa kalau dirinya harus menyelamatkan Yasmine dari rasa sakit atas perasaan gadis itu untuk Rakel. Karena Dylan tahu, bahwa Rakel punya maksud lain terhadap Yasmine yang berhubungan dengan daftar kegiatan musim dingin mereka dan kamera.

Jadi, apakah perasaan Yasmine terbalaskan? Apakah Dylan akhirnya dapat mendapatkan Yasmine? Apa Rakel pada akhirnya mengaku pada Yasmine tentang daftar kegiatan musim dingin itu?

Jeng, jeng! Penasaran dengan rahasia itu? Kalau maksa tahu ya baca aja bukunya di toko buku atau beli segera. Hehehe.

Well, untuk resensinya. Aku gak menemukan hal-hal menarik dalam buku ini selain covernya yang sialnya keren banget dan ilustrasi-ilustrasi di dalamnya yang setengah mati apik banget. Sedikit banyak kutemukan kejutan dalam buku ini, terutama tentang daftar kegiatan itu yang ternyata bukan dituliskan oleh pihak yang diperebutkan dalam hubungan asmara di masa lalu, melainkan oleh adik Rakel yang meninggal dan belum sempat mewujudkannya (hubungan adik Rakel dengan persahabatan Dylan, Elena dan Rakel tetap kurahasiakan biar gak terlalu spoiler). Cukup terkejut di sini, tapi gak benar-benar bikin ‘WOW’ gitu dan malah membuat plot di buku ingin terkesan maksa.

Penulis sepertinya berusaha untuk memanipulasi tema dan plot mainstream dengan kejutan itu, tapi (bagiku) gagal karena tidak benar-benar mampu membangun gunung berapi dalam cerita ini. Klimaks-nya nyaris gak terasa, mungkin yang paling tinggi di bagian Yasmine, Rakel, Dylan, dan Elena duduk bersama dan berusaha menyelesaikan masalah mereka namun, berakhir bencana karena masalah mereka justru semakin runyam. Rakel dan Yasmine berpisah; Yasmine akhirnya mencoba untuk berkencan dengan Dylan untuk melupakan Rakel dan Rakel pun mulai mengencani gadis-gadis yang mendekatinya untuk mengisi sesuatu yang hilang dari dirinya saat berpisah dari Yasmine.

Pokoknya, setelah adegan ini, plot cerita jadi luar biasa garing dan membosankan. Terutama saat Rakel dan Yasmine saling memiliki teman kencan sendiri. Penulis terkesan memanjang-manjangkan anti-klimaks biar novelnya tebal, dan karena hal itu di bab-bab terakhir aku hanya membaca skimming. Aku sudah tahu endingnya bahkan sejak awal klimaks, tapi gak bisa cepet-cepet ke ending karena untuk meresensi sebuah buku harus baca dari awal sampai akhir.

Aku pribadi pun ngerasa kalau penulis juga sadar kalau anti-klimaksnya kurang gereget, sampai akhirnya ia menambahkan klimaks lain yang menurutku lebih dipaksakan. Rakel dan Ibu-nya pindah ke New York saat hubungan Rakel dan Yasmine mulai membaik. Errrhm, di buku ini pun tidak diceritakan kenapa ibunya memutuskan pindah. Tahu-tahu ia bilang kalau segala sesuatunya sudah disiapkan dan mereka tinggal pindah, terus gimana bisa ngurus surat-surat kepindahan tanpa tanda tangan dari orang-orang yang pindah? Bisa ya? Atau emang hukum di Swiss kayak gitu? #Duak *Ditendang* Okay, aku ngelantur, abaikan saja. Tapi serius, rada bete juga dibagian ini, bener-bener bete karena bikin capek bacanya. Maaf untuk penulis, kesimpulannya, plot mainstream Anda kurang berhasil dimanipulasi dan cenderung gagal.

Fuuuh, panjang bener tentang plotnya. Eits, tunggu dulu, masih ada hal-hal lain yang mengganggu di buku ini. Yaitu tentang bahasa Swiss-Jerman  atau Jerman dalam buku ini yang kayaknya penempatannya kurang tepat, to much, menurutku. Kadang terkesan kurang konsisten karena aku gak bisa bahasa Jerman, jadi lebih enak kalau baca dialog yang fokus pake bahasa Indonesia dan sedikit diselingi bahasa Jerman biar lebih kerasa latarnya. Dan ngomong-ngomong soal latar, penulis pun tanpa kurang mendalami latar tempat ini. Penjelasannya terkesan setengah-setengah dan kurang dalam, hanya berkisar tentapa apa? Di mana? Atau kenapa? Tidak benar-benar bercerita. Mungkin itu disebabkan oleh riset yang kurang mendalam atau karena seri tempat di Swiss ini memang susah dicari data-datanya. Aku tidak tahu. Yang pasti, feel latar tempat yang seharusnya menjadi pedoman dalam seri #STPC kurang dapat dihidupkan oleh penulis. 😦 sorry to say, ya.

Untuk gaya kepenulisan penulis, ermmh, jujur saja aku gak bisa membandingkan karena ini buku pertama yang aku baca dari penulis. Tapi jujur saja, gaya menulisnya bukan cangkir kopi saya. Ada hal-hal dari gaya kepenulisannya yang membuat penggambaran tokoh ceritanya menjadi absrud. Seperti penggunaan istilah anak laki-laki yang aku konotasikan sebagai anak-anak berumur 10 – 12 tahun dan bukannya anak remaja berumur 16 tahun, serta dialog-dialog yang antar tokoh yang terkesan lebih dewasa dari umur dalam cerita yaitu remaja. Kenapa aku bilang begitu? Soalnya, aku sekarang remaja, berumur 17 tahun, jadi aku tahu bagaimana perasaan-perasaan remaja sesungguhnya dan nyaris tak bisa membayangkan ada remaja atau anak-anak berpikiran sedewasa itu tentang cinta. Hahaha. Begitulah.

Jadi, kesimpulannya, bintang 2 ya! Awalnya mau kasih 3, tapi aku gak tega untuk membohongi perasanku sendiri 😦 jadi bisanya kasih segitu. Satu bintang untuk cover dan ilustrasinya, satu bintang untuk bacaannya. Buku ini sangat bagus sebagai koleksi kalian karena cover dan ilustrasinya keren abis, bakal sangat bagus dipajang deh! Silakan dibeli! 😀

[Resensi Buku] The Way We Were – Sky Nakayama

Judul                     : The Way We Were

Penulis                 : Sky Nakayama

Penerbit              : Gagas Media

Terbit                    : 2013

Tebal                     : 257 halaman

Rate                       : 3/5

Ihiy, buku kedua Kak Omi yang aku beli dan baca. Nah, karena ini sudah buku kedua, aku benar-benar berharap sangat besar pada buku ini!

Cerita dikit, setengah dari buku ini aku baca sekitar jam 2 malam karena gak bisa tidur dan akhirnya tuntas jam 4-an WITA. Buku ini berhasil membuatku penasaran karena menunggu-nunggu klimaks seperti gunung berapi meletus di kepalaku. Dan apakah aku menemukannya? Sayangnya, sampai buku ini tutas kulahap, gunung berapi itu tak meletus-leteus juga.

Beberapa hal unik yang dapat kuambil dari buku ini adalah pertama, cover dan ilustrasi-ilustrasinya. Di cover ada dua pasang tangan yang terlihat saling menyambut dan menurutku itu sangat manis tatkala disandingkan dengan judul bukunya The Way We Were. Mulanya melihat cover yang begitu aku mengira cerita ini adalah tetang sepasang muda mudi yang memiliki masa lalu yang berhubungan, tapi ternyata enggak, hihihi, ini tetang bagaimana cara mereka menemukan apa itu cinta sesungguhnya.

Lanjut ke isi, novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Laut Senja—nama tokohnya keren ya?—yang mengalami pergolakan dengan keluarganya yang rusak karena sang ayah ketahuan selingkuh. Akhirnya, gadis ini pun memutuskan untuk kuliah di bandung dan menghindari orang rumah, terutama ibunya yang Laut anggap tak pernah menyayanginya setara dengan kakak-kakaknya.

Di saat yang bersamaan, Laut yang juga gak pernah merasakan cinta akhirnya merasakan getaran aneh itu tatkalah ia bertemu dengan Oka dan Kei. Kedua cowok itu adalah sahabat, awalnya, bagi Laut mereka berdua hanyalah kakak. Tapi lama kelamaan, setelah begitu banyak kejadian terlalui,Laut sadar kalau Kei-lah yang selalu ada di saat paling berat dalam hidupnya. Padahal, di lain pihak Oka justru lebih punya perasaan ingin melindungi Laut; Oka jatuh cinta dengan Laut sejak pertama kali mereka bertemu.

Well, apakah cinta ini berjalan mulus dalam bentuk segitiga ini? Ternyata masih ada satu habatan lagi. Sahabat Laut yang bernama Alin pun ambil bagian dalam cinta yang rumit ini. Alin juga jatuh cinta pada Kei. Woah, ternyata cinta segi empat, sodara-sodara! Sementara Laut sedang depresi menghadapi keluarganya, ia pun harus terjebak dalam perasaan konyol bernama cinta itu.

Nah, bagaimana kah ending-nya?  Bagaimana Laut menghadapi keluraganya? Bagaimana akhirnya cinta menuntun Laut kepada orang yang tepat? Mari beli buku ini segera!

Jeng-jeng! *taruh senter di bawah muka* Sekarang waktunya kasih pendapat pribadi ke buku ini. Berikut beberapa hal yang menurutuku kurang gereget.

Pertama adalah ketidakkonsistenan konflik utama dalam buku ini. Di buku ini ada dua konflik besar yang sama sekali tidak memiliki jembatan atau benang merah, yaitu keluarga Laut yang hancur karena ayahnya selingkuh dan cinta segi empat antara Laut, Oka, Alin, Kei. Kedua konflik besar ini berjalan beriringan dan kadang terasa saling rebut-rebutan perhatian. Di bab-bab tertentu konflik cinta lebih dominan, tapi tiba-tiba saja diserobot langsung sama konflik keluarga. Perasaan pembaca yang sudah berbunga-bunga langsung jatuh ketika cerita berlari dengan kecepatan cahaya ke konflik keluarga.

Sebenarnya, gak masalah sih untuk dua konflik besar kayak gini dalam novel, menurutku. Banyak juga novel-novel yang mengangkat cerita multi-konflik, tapi kadang kala aku sebagai pembaca menginginkan hanya satu konflik utama dalam cerita yang bisa dieksplor lebih dan tidak tanggung-tanggu, lalu konflik utama itu diselesaikan dengan diikuti konflik lanjutan yang juga selesai seiring dengan konflik utama itu. Tapi sayangnya, aku kesulitan menemukannya dalam novel ini.

Kedua, tetang alur maju mundur yang sering digunakan penulis. Aku pribadi sih enggak masalah, tapi seperti yang pernah kubilang diresensi sebelumnya, kadang terlalu banyak bikin kurang greget. Beberapa contoh alur maju-mundur yang membuatku sedikit terganggu adalah pada saat momen pernyataan cinta Laut pada Kei, kemudian saat Laut menemukan foto ibunya dan Tante Kartika, dan saat Oka berbicara dengan Dennis. Alur maju-mundur bikin kita mampu menuliskan dua cerita dalam satu momen sekaligus sehingga mempersingkat alur dan memperdalam perasaan pembaca pada tokoh karena si tokoh melamunkan kejadian yang lampau. Tapi karena alur maju-mundur sering sekali ditemukan dalam buku ini, kadang kala pembaca pun jadi bingung sampai mana ceritanya telah berjalan. Karena saat kita sudah maju menikmati cerita, penulis mengajak kita mundur kambali dan kemudian maju, lalu mundur lagi.

Ketiga, kebetulan-kebetulan, dari buku sebelumnya aku sudah tahu penulis memiliki sense twist yang menonjol dalam bidang kebetulan. Tapi menurutku, ada beberapa kebetulan yang menurutku agak dipaksakan dalam cerita ini. Contohnya, saat Laut bertemu Tante Kartika di Bali, Laut bertemu Kei di Lombok, laut ketumu Oka di bus. Sebenarnya gak begitu kentara sih kebetulannya, mungkin karena aku terlalu sensitif kali ya. Hahaha.

Keempat, Mikroekonomi. Uhuk, saya gak ngerti. Hahaha. Dalam salah satu adegan di buku ini, Oka ngajarin Laut tentang mikroekonomi yang dijelaskan secara rinci dari halaman 169 sampai halaman 174. Berhubung aku gak ngerti, sebenernya kepengen aku skip, tapi entah mengapa aku selalu menganggap setiap adegan dalam cerita memiliki suatu alasan. Jadi, kubaca adegan itu dan akhirnya menemukan alasan adegan itu nantinya akan berujung pada romantisnya Oka mendapatkan ide untuk mengecat langit-langit kamar Laut. So sweet, terbalas aja sih baca mikroekonomi itu, tapi tetap aja sedikit menggangguku.

Terakhir, antiklimas yang kurang menelan. Aku sih berharapnya bakal ada adegan cetar membahana ulala di endingnya yang mampu menuntaskan dua konflik besar itu. Tapi, sayaaaaang banget, anti-klimaksnya di mulai saat Laut kabur-Laut kembali-Keluarga Laut bersama selingkuhan ayahnya musyawarah-pertengkaran besar-berakhir saat Laut menasihati kedua orangtuanya-Laut menikah. Ah, mana lagi nih halamannya? Mau lagi! Mau baca lagi! Kecewa berat saat buku ini habis karena aku masih mau lebih dari itu 😦

Oh ya, sedikit spoiler sih, di awal kalian mungkin bakal ngerasa ada cinta-cintaan gitu antara Oka dan Laut. Tapi sadar gak sih, kebanyakan yang bilang deg-degan, suka, tertarik itu berada di sudut pandangnya Oka; bukan Laut. Aku sendiri baru sadar pas si Laut tahu-tahunya suka sama Kei. Hahaha. Sendirinya kaget kenapa tiba-tiba Laut suka sama Kei, padahal di awal cinta-cintaan gitu sama Oka, tapi ternyata itu semua hanya perasaan Oka. Aduh. Good job banget sih debu bintangnya dari penulis.

Baiklah, kesimpulannya bintang 3, pengennya sih kasih 4 karena buku ini bagus sekali. Tapi mengingat beberapa catatan yang kutliskan di atas, aku rasa hanya bisa memberikan bintang 3. Hehe. Buku ini sangat cocok bagi kalian yang suka membaca buku yang mampu mengombang-ambingkan perasaan kalian sebelum akhirnya menyeret ke perairan yang tenang. Seperti Laut!

[Resensi Buku] Paris: Aline – Prisca Primasari

Paris

Judul                     : Paris: Aline

Penulis                 : Prisca Primasari

Penerbit              : Gagas Media

Terbit                    : 2012-2013

Tebal                     : 214

Rate                       : 5/5

Pernah gak sih ngerasa bosan dengan tokoh cowok yang cool, jaim, cuek, dewasa di dalam novel?  Dan bosen sama tokoh cowok yang punya tipe-tipe Tsudare, sebenarnya cinta tapi sok diem dan malah bilang benci? Well, Kalau kamu memang ngerasa seperti itu, coba deh baca buku ini, dijamin kalian gak bakalan ketemu sama cowok yang bertipe seperti itu!

Namanya Aeolus Sena, dia adalah cowok aneh yang mengajak tokoh utama cewek kita, Aline Ofeli, untuk untuk ketemuan di penjara paling mengerikan di Paris. Aline menemukan porselin milik Sena yang pecah, dan berniat untuk mengembalikannya karena porseline itu sepertinya berharga bagi Sena.

Beberapa hal unik dari buku ini adalah alurnya yang bisa kunikmati karena tidak begitu sulit dan asyik. Selain itu hubungan Sena-Aline yang gak canggung, dan cenderung sering berantem membuatku merasa senang karena berasa nonton orang pacaran beneran. Hahaha. Biasa kan kalau di novel-novel pake acara canggung, malu-malu, dll. gitu. Terakhir dan salah satu alasan terbesar kenapa aku memberi bintang 5 adalah si Aeolus Sena ini. Penulis sangat berhasil menggambarkan sifat dan karakter Sena yang urakan, suka teriak-teriak sendiri, ceplas-ceplos, dll. Hingga aku merasa terkejut dan sedikit berdebar-debar karena di balik semua sifat Sena yang sinting itu ternyata dia menyembunyikan sesuatu dari Aline. Sesuatu yang menjawab seluruh pertanyaan Aline tetang kenapa harus bertemu di penjara? Kenapa Sena bertingkah seolah-olah ia baru pertama kali datang ke Paris padahal ia sudah kuliah 4 tahun di sana? Kenapa Sena bekerja di tempar reparasi mesin tik?

Dan jika kalian ingin tahu jawabannya bersama dengan Aline, silakan beli buku ini di toko buku terdekat dan temukan rahasianya!

Well, meskipun aku sangat suka buku ini dan memberi bintang lima. Ketahuilah, masih ada beberapa error yang kutemukan di buku ini. Pertama, penyebutan ibu-mama yang berbeda yang menjurus pada orangtua perempuannya  Sévigne Devereux pada halaman 114, Aline dan Sévigne menggunakan panggilan Mama, sedangkan padaha bagian akhir Halaman 194, meski hanya sekali Aline menggunakan ibu. Yah, anggaplah aku terlalu teliti, tapi kadang yang gak konsisten gini bikin aku sedikit terganggu ketika aku suka banget sama bukunya. Kedua, tentang penggunaan bahasa Prancis yang tidak menggunakan catatan kaki. Rada bete juga sih yang ini, aku tidak akan menyebutkan satu-satu kata-kata perancis itu karena selain ribet ngetiknya juga banyk banget. Hahaha.

Jadi yah, kesimpulannya adalah bintang 5, karena apa? Karena aku suka sama tokoh Sena di sini. Behubung karena si penulis ini Otaku sama sepertiku, dan Sena menginprementasikan tokoh cowok-cowok anime banget yang jarang ditemui di novel-novel Indonesia kebanyakan, jadi yah gitu deh. Gimana? Subjektif? So What sih, hahahaha. Pokoknya buku ini pantas dimasukan ke dalam daftar bacaan kalian!

[Resensi Buku] Melbourne: Rewind – Winna Efendi

Melbourne Rewind

Judul                     : Melbourne: Rewind

Penulis                 : Winna Efendi

Penerbit              : Gagas Media

Terbit                    :  2013

Tebal                     : 328 halaman

Rate                       : 4 / 5

Kalian suka baca buku sambil mendengarkan lagu? Tapi kadang-kadang lagu-lagu itu gak singkron dengan apa yang dibaca dan bikin kalian gak mood baca lagi? Hahaha. Melalui Melbourne: Rewind, Kak Winna Efendi memberikan solusinya.

Di lembar awal, kalian akan menemukan track list lagu yang dibagi menjadi empat bab—rewind, pause, play, fasr forward—masing-masing bab itu memiliki empat lagu yang menggambarkan setiap cerita yang terjadi di dalam cerita. Benar-benar membuatku tertarik dan akhirnya men-download semua lagu tersebut yang bertotal 16 lagu dan mendengarkan lagu-lagu tersebut sesuai setiap bab cerita yang tengah kubaca. Dan ternyata, lagu-lagu itu keren semua! Yang paling kusuka adalah Kiss Me Slowly-nya Parachute, One and Only-nya Teitur, dan Life After You-nya Daughtry. Bahkan setelah aku menuntaskan novel ini, aku masih mendengarkan lagu-lagu itu berulang kali.

Okay, cukup untuk sesi unik dari novel ini, langsung aja ke jalan ceritanya. Well, tema utamanya sih simple, CLBK (cinta lama bersemi kembali). Cuman Kak Winna mengemasnya dengan sangat epic dengan melibatkan perasaan para tokoh utama dalam cerita ini.

Si cewek bernama Laura dan si cowok bernama Max. Mereka dulu pacaran saat kuliah di Melbourne, Laura di jurusan perbankan dan Max jurusan yang ngurusin soal cahaya—karena cowok ini rupanya terobesesi sekali dengan cahaya. Ketemuan awalnya saat si Max ngambil walkman-nya Laura di tempat barang hilang karena ngira kalau walkman itu gak ada yang punya. Lalu, gitu deh, mereka kenalan ngerasa cocok satu sama lain dan akhirnya pacaran.

Mereka pacaran dengan cara yang berbeda, mereka pacaran karena masing-masing dari mereka telah terbiasa satu sama lain dan tahu luar dalam. Salah satunya selalu menghabiskan waktu di sebuah café  yang bernama Prudence. Di tempat ini pertama kali mereka berkencan dan mulai merasakan getar-getar cinta (wetseh!).Tapi sayang, mereka pacaran gak lama, mereka harus putus ketika salah satu pihak memiliki mimpi yang sangat besar.

Mereka akhirnya ketemu lagi beberapa tahun kemudian, si Laura sudah jadi penyiar radio midnight dan si Max jadi penata cahaya atau lighting di konser-konser. Mereka ketemu tanpa saling adu argumen, justru mereka bertemu dan menjalani hari-hari yang sama seperti yang mereka jalani saat pacaran dulu. Mereka merasa tak punya beban karena mereka gak pacaran lagi. Mereka nyaman menjadi teman saja.

Yeah, itu sih yang mereka harapkan, tapi ujung-ujungnya ya sudah dapat dipastikan kalau mereka punya rasa lagi (if you know what I mean lah). Konflik lainnya adalah saat Laura berkenalan dengan evan yang merupakan pacar Cee, sahabatnya. Evan ternyata adalah pendengar rutin siaran radionya dan memiliki selera musik yang sama persis dengan Laura. Laura benar-benar merasa menemukan orang yang cocok dan tiba-tiba saya benih-benih cinta tumbuh di hatinya; sejenak melupakan kehadiran Max yang selalu ada untuknya. Tapi menurutku konflik ini sih cuman sekedar pemicu klimaks ketika Max akhirnya bilang kalau dia… Uhuk, apa ya? Cek sendiri ya di bukunya! Hahaha.

Poin plus dari buku ini sudah jelas konsepnya sepert track list lagu itu. Sooooo, genius! Baru pertama kali beli buku yang menghadirkan lagu sebagi soundtrack setiap cerita. Love. Terus, penggunaan sudut pandang orang pertama yang dibagi dua antara Max dan Laura juga keren, dapet banget feel-nya. Memang cocok untuk menceritakan novel dengan konflik seperti ini karena kita perlu tahu perasaan masing-masing individu utamanya 😀 Terakhir, soal latarnya, meski hanya berkisar tentang musik, aku sangat menikmati penggambarannya yang bagus. Festival musik, bioskop di atas atap, dll. Nice to know ada hal-hal seperti itu di Melbourne. Makasih Kak Winna!

Dengan semua kelebihan itu, pada awalnya mau kasih buku ini bintang 4,5 sih, tapi aku kurangin jadi 4 karena beberapa alasan. Pertama, the ending make me mencak-mencak. Masalahnya, mungkin karena ketiadaan dialog, memang narasinya super bagus dan ngejelasin segalanya. Kalau dengan hanya duduk di depan Max kembali di café Prudence, itu tandanya Laura telah menuntaskan penantian cowok itu dan rujukan. Tapi yah, rasanya ada yang kurang gitu, kayak makan nasi goreng gak pake garem. Hambar. Well, mungkin ini terdengar sedikit subjektif sih, tapi itu pendapatku.

Kedua juga yang terakhir, Konfliknya kurang gereget. Intinya CLBK, si cowok sadar kalau dia masih ada rasa, pemicunya untuk ngaku karena si cewek suka pacar sahabatnya sendiri. Cemburu, gitu sih. Somehow, terasa terlalu simple untuk buku 328 halaman. Ada sih intrik-intrik tentang cerita masa lalu, tapi enggak cukup kuat untuk menopang ceritanya 😦 I want more. Hehehe.

 Yak, jadi kesimpulannya bintang 4 ya, minus satu bintang karena ending-nya yang gitu dan konflik-nya yang kurang gimana-gimana. Buku ini sangat cocok untuk kalian yang suka dengar-dengar lagu lawas atau suka mendengarkan musik sembari membaca. Ada kesan dan perasaan tersendiri yang akan kalian dapatkan dari buku ini.

Ayo, dengarkan!