[BEJO Stories] Regret

Terima kasih telah bertransaksi dengan  @bajubejo

HAPPY BEJO!

 

Dino menyeringai sinis sambil menatap tulisan di layar iPhone-nya datar, lantas melempar benda itu ke atas meja sekenanya; ia yakin owner dari online shop yang baru saja ia hubungi itu perempuan karena menulis pesan selebay itu.

Tok. Tok.

Seseorang mengetuk pintu ruangannya dan Dino mendapati sekertarisnya, Arini, menjorokan kepalanya dari balik pintu. Perlakuan tidak sopan menurutnya, tapi karena wanita itu sudah bekerja dengannya lama sekali dan kini mereka tak ubahnya menjadi sahabat di kantor, Dino mencoba memakluminya. Lagipula, wanita itu selalu tahu di mana posisinya.

“Pak Dino, tadi saya dapat kabar kalau meeting dengan klien jam satu nanti di batalin dan sudah di-reschedule untuk lusa. Jadi, jadwal Bapak kosong sampai sore. Apa Bapak tidak ingin  makan siang?”

Dino bertopang dagu, menatap Arini yang hanya separuh tubuhnya saya yang ia lihat dengan tatapan yang masih tanpa emosi.

“Kamu tahu gak di dunia ini ada yang namanya intercom?”

Mendengar Dino tak peduli dengan ajakan makan siangnya dan berkomentar tentang hal lain, Arini hanya terkekeh tidak peduli.

“Buat apa sih pakai intercom segala kalau misalnya kita cuman terhalang pintu gini?” kata Arini sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Teknologi diciptakan bukan untuk membuat kita merasa jauh kan?”

Dino menggeleng tak acuh, sudah katam dengan segala filosofi hidup wanita itu yang menurutnya aneh dan tidak masuk akal.

“Jadi, mau makan siang?” tawar Arini lagi dan akhirnya pria itu pun mendesah setuju.

Ooo

Semua orang di kantor bergosip tentang Arini dan Dino yang terlampau dekat melebihi hubungan bos dan sekertaris. Ada yang bilang kalau Arini menjual diri agar bisa masuk ke perusahaan ini ada juga yang bilang kalau Dino mungkin saja gay sehingga kedekatannya dengan Arini hanya kamuflase. Tapi Dino bukan tipe orang yang peduli dengan hal-hal seperti itu sementara Arini juga tak pernah memusingkan kesinisan teman-teman sekantornya karena ia berhasil mencuri ‘kedekatan’ dengan atasan, hingga hubungan mereka pun berjalan sebagaimana mestinya tanpa terganggu dengan seluruh gosip-gosip yang menyebar.

“Kamu beneran bukan Gay ‘kan?”

Dino mengangkat wajahnya dari daging sapi yang sedang ia potong dan menatap Arini sejurus, menuntut penjelasan dari mana wanita itu berani bertanya hal aneh seperti itu dengan ekspresi wajahnya.

“Hahaha, aku cuman penasaran aja, kenapa orang kayak kamu sampai sekarang masih jadi fakir asmara,” terang Arini di sela kunyahannya. “Kamu ganteng dan sukses, kurang apa lagi? Aku yakin banyak cewek yang ngejar-ngejar kamu, tapi kamunya aja yang gak mau. Makanya aku tanya, kamu gay atau bukan.”

“Hidup terlalu singkat untuk disibukin buat hal-hal begitu,” jawab Dino minim argumen, terkesan tidak peduli dengan hal itu. Ia memang tidak pernah memikirkan nasib jodohnya sampai umurnya yang sudah lebih dari kepala tiga ini. Baginya, hal-hal seperti itu membuat hidupnya tidak fokus.

“Tapi menurutku…” Arini menyela dan Dino siap mendengarkan kata-kata sok bijak dari wanita itu. Kadang-kadang ia sendiri bertanya-tanya, kenapa ia sanggup hang out dengan Arini yang sifat dan pemikirannya jauh bertolak belakang dengannya. “Hidup juga terlalu singkat untuk dihabiskan sendirian.”

I’m fine being alone,” sambar Dino.

So, why am I here?” Arini mengangkat alisnya, menantang. Dino diam saja, tak menjawab pertanyaan yang sebenarnya sudah ia coba jawab sejak lama namun belum bisa ia pecahkan. “See…? Jangan congkak lah, kamu gak mungkin hidup sendirian terus. Mau aku bantu cariin jodoh?”

“Tsk…” Dino mendecak sinis, lantas melipat kedua tangannya di depan dada sembari menyandarkan punggungnya di kursi. “Jangan betingkah deh kamu. Nyari jodoh buat diri sendiri aja gak bisa mau bantu aku urusan begituan. Mending urus diri kamu sendiri aja dulu.”

Mendengar apa yang Dino katakan bibir Arini langsung mengerucut, ia paling benci diingatkan kalau sebenarnya ia juga fakir asmara. Umurnya memang belum tiga puluh, tapi tiga tahun lagi ia sudah pantas di cap perawan tua oleh keluarga besarnya. Ia benar-benar tak sanggup mendengar omelan Mama-nya tentang perjodohan dan lain sebagainya.

“Bukannya terima kasih udah ditawarin bantuan malah nyindir. Mau kamu apa sih?” sahut Arini masih dengan wajah masamnya.

“Gak usah kepo sama hidup aku. Sejak kapan kamu jadi orang yang pengen tahu gini?” balas Dino.

Arini pun mendesah berat, entah karena lelah menanggapi atasannya ini atau bingung dengan dirinya sendiri. Tapi kemudian, ia meletakan sendok-garpu di tangannya ke atas piring lantas mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati Dino, seolah-olah hendak mengatakan hal yang sangat penting.

Okay, aku kepo, tapi setelah satu pertanyaan ini aku akan berhenti kepo-in kamu.” Dino sedikit mengangkat dagunya, meminta Arini melanjutkan ucapannya.

“Apa kamu bahagia sekarang?”

Dino terdiam sejenak. Ia mengingat posisi dan semua keberuntungan yang ia miliki sekarang ini, ada banyak orang yang berharap berada di posisi yang sekarang ia miliki dan ia yakin dengan semua itu ia bahagia.

“Aku bahagia,” jawab Dino, dan saat Arini membuka mulut lagi seolah-olah tidak puas dengan jawabannya, pria itu langsung menyela. “Hanya satu pertanyaan dan aku baru saja menjawabnya.”

“Apa masih ada yang ingin kamu capai setelah ini?” Arini mengabaikan peringatan Dino dan langsung menyelesaikan pertanyaannya yang lain. Dino mendengus jengkel, tapi sejenak ia pun memikirkan jawabannya. Ia masih dalam usia produktif dan yakin bahwa masih banyak hal yang bisa ia lakukan setelah ini, juga tentang mimpi-mimpi serta obesesi yang belum tercapai.

“Aku punya banyak hal lagi yang ingin aku capai,” jawab Dino akhirnya dan Arini pun kembali ke posisi duduknya semula. Mata wanita itu menatap Dino lekat, menyorotkan ekspresi sedih juga prihatin yang entah dari mana asalnya.

“Kalau masih banyak hal yang ingin kamu capai setelah ini…” Arini menyipitkan matanya, menatap Dino penuh selidik.

“Berarti kamu sekarang gak bahagia dong.”

Dino terperanjat dan sampai jam makan siang berakhir lalu mereka kembali menjadi Bos dan Sekertaris. Dino hanya bisa diam.

Ooo

Arini percaya dengan keberuntungan dan ia selalu menganggap semua yang terjadi di hidupnya adalah sebuah keberuntungan, entah itu kejadian buruk atau kejadian baik, karena setiap hal yang terjadi di hidupnya pasti memiliki alasan. Sama seperti saat pertama kali ia masuk ke perusahaan ini dan mendapati Andino Raharja sebagai bosnya. Ia pikir pria anti sosial dan sulit bergaul itu akan menyulitkannya, tapi semakin lama ia mengenal Dino dan mendalami semua sikap dan prilakunya, Arini justru menemukan ada kesedihan aneh yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata di mata pria yang umurnya terpaut tujuh tahun darinya itu.

Apa hidup Dino sekarang penuh penyesalan?

Arini mulai bertanya-tanya lagi, tapi tak yakin apa ia berani bertanya langsung tentang hal itu setelah ia membuat Dino bungkam sepanjang hari ini. Sifat ingin tahunya mungkin sudah tak bisa ditahan lagi sekarang, karena sejak lima tahun bekerja di bawah Dino, ia sudah memendam banyak sekali pertanyaan pada pria itu.

Kring! Kring!

Blackberry Arini berdering dan buru-buru wanita itu mengangkatnya.

“Halo?”

“Kak! Kakak lagi sibuk gak?”

Oh, Nuri, adik perempuannya, tumben menelponnya.

“Enggak, lagi santai aja di kamar, baru pulang kerja. Kenapa?”

“Eh, coba deh beli baju di online shop yang kemarin aku ceritain! Beneran bawa keberuntungan loh, aku udah baikan sama Adi gara-gara beli baju di sana!”

Mendengar perkataan Nuri, Arini sontak tergelak. “Gak usah aneh-aneh lah, masa beli baju aja bisa bawa untung.”

“Ih, seriusan! Kakak sendiri percaya soal keberuntungan-keberuntungan kayak gitu kan? Coba deh, gak ada salahnya juga dicoba, siapa tahu kakak bisa cepat dapat jodoh. Hahaha.”

“Sialan kamu! Mentang-mentang udah taken! Jangan sampai kamu ‘dung’ duluan dari kakak ya?” balas Arini sengit, sementara tawa Nuri masih saja menggema.

“Udah ah, Kakak capek. Nanti deh kakak lihat online shop-nya, makasih udah ingetin Kakak soal jodoh ya!”

Click!

Arini mendesah berat, mengurut keningnya yang tiba-tiba terasa nyeri karena adiknya kembali mengingatkan tentang hal yang paling tidak ingin ia pedulikan. Ia punya prinsip hidup yang jelas dan filosofi yang ia yakini benar, ia mencintai pekerjaannya dan merasa puas dengan apa yang telah ia miliki sekarang karena tidak pernah melewatkan waktu sedetik pun untuk bersyukur. Namun, ketika ia bertemu dengan sesuatu yang berbau jodoh dan cinta, semuanya terasa buntu, karena mungkin saja ia satu-satunya wanita di dunia ini yang tidak pernah jatuh cinta yang benar-benar jatuh.

Dada Arini semakin terasa sesak mengingat perkara hatinya, lantas diliriknya laptop di atas meja dengan gusar. Wanita itu ragu-ragu menuruti saran adiknya untuk beberapa saat, namun akhirnya ia meyakini bahwa sekarang saatnya ia memohon keberuntungan kepada Tuhan dengan cara apa pun. Toh, tak ada salahnya berharap pada hal-hal kecil seperti ini.

Ooo

Semenjak perbincangan waktu itu, hubungan Arini dan Dino menjadi renggang, tapi lebih tepatnya Dino-lah yang menghindari Arini. Pria itu selalu mengisi waktunya dengan padat dan membuat Arini kepalang bingung dengan semua meeting yang sebenarnya tidak perlu buru-buru. Beberapa kali ketika waktu makan siang tiba, Arini mencoba mengajak Dino makan bersama, tapi pria itu selalu mencari-cari alasan dan membiarkan Arini menikmati makanannya sendirian. Arini sudah mencoba untuk tidak ambil pusing dengan perkara itu, tapi kian hari perasaannya jadi makin kacau dengan sikap Dino yang tidak seperti biasa itu.

Argh, menyebalkan!

Ting!

Lift yang terbuka berbunyi dan dengan segera Arini melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Hari ini ia memilih mengerjakan semua pekerjaannya dengan cepat dan pulang lebih awal untuk menenangkan diri.

“Mbak Arini!” Pak Beno, satpam di kantornya, tiba-tiba memanggil dan dengan segera Arini menoleh ke arah pria yang mendekati usia pensiun itu. Dino bilang ia tidak tega memberhentikan Pak Beno atau pun menggantinya karena didikasi pria paruh baya itu pada perusahaan ini.

Arini berjalan  mendekati Pak Beno yang membawa sebuah bungkusan di tangannya. “Ada apa, Pak?”

“Ini ada paket buat, Mbak.” Pak Beno menyerahkan bungkusan di tangannya kepada Arini.

Arini mengerjap, mengingat-ingat tentang paket hingga akhirnya ia menyadari bahwa ini adalah pesanannya dari online shop yang waktu itu disarankan oleh adiknya Nuri, ia sengaja menggunakan alamat kantor karena sebagian besar waktunya ia habiskan di gedung pencakar langit ini.

“Makasih ya, Pak,” sahut Arini, lantas langsung menjejalkan bingkisan itu ke dalam tasnya lalu buru-buru melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia sudah terlalu lelah memusingkan tentang keberuntungan dari paket ini dan memilih untuk membiarkan apa yang terjadi untuk terjadi saja.

Ooo

Dino memandang bingkisan di atas meja kerjanya risih. Ia tidak menyangka dari berpuluh-puluh orang yang berada di kantor ini paket pesanannya itu harus tertukar dengan Arini, sekertarisnya sendiri. Pak Beno yang mengantarkan paket ini ke ruangannya tadi sepertinya tidak menyadari kalau ia telah salah memberikan paket.

Sambil mendesah berat, Dino melirik jam di atas meja yang menunjukkan jarum pendek ke angka sepuluh dan ia pun memutuskan untuk lembur hari ini. Belakangan ia terlalu memaksakan dirinya tenggelam dalam pekerjaan, bukan hanya karena ingin menghindari Arini tapi sebagian besar karena ia ingin merenungi hidupnya.

Dino menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya erat-erat; napasnya naik turun dan desahan lelahnya terembus nyaring.

Apa ia bahagia sekarang?

Pria itu kembali menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang Arini tanyakan pada dirinya. Ia ingin sekali menjawab ‘ya’ dan menghibur perasaannya sedemikian rupa, tapi Arini kemudian membuatnya tersadar bahwa jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang mati dan membuatnya tidak bisa menikmati kebahagiaan yang seharusnya bisa ia rasakan di posisinya sekarang.

Dino tidak bisa menemukan jiwanya.

Pria itu yakin ia bernapas dan hidup, tapi hanya sekadar itu, ia sudah lupa bagaimana rasanya menjalani hidup ini dengan jiwa. Semua pekerjaan kantor, uang yang mengalir ke rekeningnya, akhir pekan di kamar hotel berbintang, juga liburan di luar negeri hanyalah rutinitas yang tidak ada artinya; hanya untuk menunjukkan kesan pada dunia betapa sukses dan bahagianya ia sekarang sementara pelan-pelan ia melupakan mimpi-mimpi masa mudanya.

Hah, seandainya waktu bisa diputar kembali atau kesempatan itu masih ada, mungkin ia tak akan hidup dalam penyesalan seperti ini.

Ooo

Arini duduk di ruangan atasannya dengan tak henti-hentinya menggigit bibir—kebiasaannya jika sedang merasa gugup dan salah tingkah. Waktu baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan ia sudah berada di sini sementara teman-teman sekantornya yang lain baru selesai sarapan. Digenggamnya bingkisan yang dibungkus kertas kado berwarna cokelat di tangannya dengan perasaan campur aduk; ada rasa takut, bersalah serta penasaran yang menjadi satu di kepalanya.

Semalam ia sukses memarahi owner online shop tempatnya membeli kaos karena mengira telah salah mengirim barang. Namun setelah diminta mengamati nama penerima yang tertera di paket pengiriman tersebut, ia baru sadar bahwa itu bukan namanya, tapi nama atasannya. Seketika itu juga ia panik karena sudah terlanjur membongkar paket baju yang dipesan bosnya itu. Namun di sela-sela rasa paniknya, Arini juga kembali bertanya-tanya ketika melihat signature yang tersablon di baju itu.

‘Business owners get to choose their own hours. We get to choose which 12 hours a day we work.’

Rasanya sangat tidak pas untuk Dino yang notabenenya adalah business owners sementara signature yang tersablon itu merujuk pada pekerjaan seorang fotografer. Anehnya lagi, Dino bahkan bisa membeli ratusan baju yang harga serta kualitasnya ratusan kali lebih bagus dari baju ini, tapi kenapa ia tertarik membelinya? Apa pria itu sedang bergurau dengan dirinya sendiri atau memang ada makna tersendiri yang membuatnya membeli baju ini, huh?

Perasaan Arini semakin terasa tidak nyaman. Berpuluh-puluh pertanyaan menumpuk di kepala wanita itu sampai-sampai ia nyaris tidak menyadari pintu ruangan ini terbuka dan pemiliknya masuk; mendapati dirinya sudah ada di sana.

“Maaf, aku nyuruh kamu datang pagi-pagi.” Dino buru-buru mengambil tempat duduk di hadapan Arini sebelum sempat wanita itu bangkit untuk memberi salam. “Ini paket pesananmu.”

“I-iya, Pak… gak papa.” Arini yang masih sedikit kaget dengan kehadiran Dino buru-buru mengambil paket yang masih terbungkus rapi itu, kemudian menyodorkan bikisan di tangannya tadi kepada Dino.

“A-anu, Pak… Maaf. Saya kemarin sudah terlanjur bongkar paket Bapak sebelum saya sadar kalau ini milik Bapak. Jadi, saya bungkus lagi sendiri.” Dino terpekur menatap bungkusan yang disodorkan kepadanya, kemudian meraihnya sembari menatap wanita di hadapannya ini lekat-lekat.

“Kamu lihat isinya?”

Deg. Jantung Arini rasanya berhenti berdetak untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengangguk kikuk dengan senyum getir penuh rasa bersalah.

Keheningan menyergap mereka berdua. Arini benar-benar merasa tidak enak sekarang ini meskipun di lain pihak ia juga gondok ingin bertanya tentang berbagai macam hal. Sementara Dino sendiri tidak tahu harus bagaimana menanggapi situasi seperti ini, ia ingin marah, tapi ia juga bimbang tatkala melihat pertanyaan menumpuk di wajah wanita itu—pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya sudah lama ingin Arini tanyakan tapi Dino selalu punya cara untuk pura-pura tidak menyadarinya.

“Aku dulu fotografer.”

Suara Dino menuntaskan hening di antara mereka dengan pernyataan yang benar-benar tidak disangka oleh Arini. Wanita itu menatap Dino dengan ekspresi terkejut yang sama sekali tidak ia sembunyikan, tapi ia tidak berkata apa pun dan membiarkan Dino melanjutkan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terbaca di wajahnya.

“Dari kecil aku selalu menurut apa kata Papa.  Aku sekolah dan akhirnya lulus sarjana ekonomi sebagai persiapan mengambil alih perusahaan ini, tapi ketika aku berkenalan dengan fotografi, untuk pertama kalinya aku menentang Papa sampai kabur dari rumah dan jadi gelandangan di jalan.” Bibir Dino tertarik ke atas sedikit, mengingat masa-masa pemberontakannya selalu saya membuatnya geli sekaligus rindu. “Hanya berbekal beberapa potong baju dan kamera yang kubeli dengan tabunganku sendiri aku pergi ke jalan-jalan; menerima bayaran jadi tukang potret keliling atau bekerja paruh waktu di sebuah studio foto kenalanku. Papa tidak mencariku, ia kepalang sakit hati dengan polahku sampai-sampai tidak peduli kalau aku mati atau tidak. Tapi, aku juga tidak peduli, aku menikmati hidupku yang seperti itu.

“Dulu, aku punya mimpi gila. Berkeliling dunia hanya dengan camera dan mengambil gambar di semua tempat yang aku kunjungi. Aku bekerja semakin keras untuk mencari modal menyatakan mimpi gilaku meski ditertawakan teman-teman seprofesiku. Tapi belum sempat aku tuntas menyelesaikan mimpiku itu, kabar buruk itu datang.” Ekspresi Dino kembali mengeras, bibirnya terkatup rapat dan sepertinya dadanya bergemuruh penuh amarah meski tampak kesedihan tertoreh di wajah pria itu.

“Papa meninggal, serangan jantung. Otomatis perusahaan jatuh ke tanganku karena sudah termaterai di surat wasiat. Mama yang selama ini bungkam karena tak kuasa menentang Papa akhirnya memohon padaku untuk pulang, mengambil alih perusahaan, dan membesarkannya seperti yang mereka cita-citakan. Tentu saja aku menolak, aku masih punya ambisi yang belum tuntas, tapi Mama tak mau menyerah dan meminta belas kasihanku padanya. Akhirnya, aku mengalah, kusimpan kamera serta mimpiku di gudang dan kupimpin perusahaan ini sampai sekarang.”

Arini menatap Dino lekat-lekat, ia kini mengerti semua luka yang tersirat di wajah pria itu. Namun bukannya membereskan pertanyaan di wajahnya, Arini justru menemukan pertanyaan-pertanyaan baru.

“Kenapa… kamu tidak mengejar mimpimu lagi? Bukannya kamu sekarang sudah punya cukup uang untuk memulainya?” Arini bertanya hati-hati, semoga saja Dino masih ingin menuntaskan rasa penasarannya karena sekarang ia berada di posisi sebagai seorang sahabat, bukan bawahan.

“Kamu beli baju itu bukan tanpa alasan kan?”

Dino terdiam, ragu menjawab. Ia sendiri bingung kenapa ia membeli baju itu, bahkan tanpa berpikir dua kali. Mungkin ia teringat akan mimpinya, mungkin juga hanya ingin bernostalgia sedikit, tapi pada kenyataannya ia hanyalah pria yang merindukan kebebasan mengejar mimpi-mimpinya lagi. Tidak seperti sekarang.

Well…” Dino mengangkat bahu, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Mencoba untuk meredam gejolak hatinya. “Aku punya uang sekarang, tapi aku tidak punya waktu untuk itu. Perusahaan ini sekarang menjadi tanggung jawabku dan aku tidak bisa meninggalkannya seenak jidat. Lagipula…”

“Dan kamu puas dengan hidup penuh penyesalan seperti ini?”

Dino terkesiap tatkala Arini tiba-tiba memotong ucapannya dengan pertanyaan yang paling ia takutkan terlontar dari wanita itu. Ia melempar pandangaan ke atas meja, entah melihat apa, karena yang ia lihat sekarang hanyalah hidupnya yang menyedihkan.

“Kamu punya segalanya, Din, tapi hidup kamu bahkan lebih menyedihkan dari bocah-bocah gelandangan di pinggir jalan yang punya mimpi berada di posisimu sekarang ini.” Arini menatap Dino sengit, seluruh pertanyaannya telah terjawab, tapi sekarang ia tak bisa mengendalikan emosinya untuk menghilangkan ekspresi terluka di wajah pria itu.

“Kamu punya seribu satu alasan untuk menentang mimpi-mimpi gilamu, tapi kamu bahkan tidak bisa menemukan alasan untuk berhenti melukai dirimu sendiri dengan keadaanmu sekarang. Jika kamu terlalu takut untuk menyatakan mimpimu, kenapa tidak memulainya dengan memegang kameramu lagi?”

Hening. Arini tahu Dino sedang berpikir, maka tanpa banyak bicara lagi ia berdiri, lalu keluar dan kembali menjadi seorang sekertaris bagi atasannya itu.

Ooo

Arini kembali bekerja hari ini dengan wajah berantakan, semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan perkataannya kemarin pada Dino. Ia tahu ia telah melakukan hal yang benar, tapi itu tak bisa menutup kemungkinan kalau ia telah menyinggung perasaan atasannya itu. Duh, bagaimana kalau ia dipecat?

Blitz! Cekrek!

Cahaya terang tiba-tiba saja menyilaukan pandangan Arini yang sedang kalut dan seketika itu juga wanita itu terlonjak dari kursinya.

Sorry, aku lupa matiin blitz-nya…”

Arini mendengar suara Dino, tapi ia masih mengerjapkan matanya karena cahaya itu membuat matanya berkunang-kunang. Sampai akhirnya Arini mendapatkan penglihatannya kembali dan benar-benar terkejut ketika mendapati atasannya itu telah berada di depannya sambil memegang kamera.

“Kamu yang bilang kalau aku harus memulainya kan?” Dino menatap Arini lekat-lekat, sementara wanita itu masih membatu di posisinya. “Ini cara aku memulainya.”

Dino kembali mengangkat kameranya ke wajahnya kemudian memencet tombol stutter dengan lensa terarah ke wajah Arini.

 Bunyi itu kembali terdengar dan Arini tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang, entah merasa kaget atau senang karena ia mendapati Dino telah menuntaskan perkara hidupnya.

Thanks buat gambar luar biasanya.” Dino tertawa sembari menatap hasil jepretannya tadi, lalu tersenyum ke arah Arini.

“Berkat kamu, aku menemukan hidupku lagi.”

Dino melangkah melewati Arini dan masuk ke ruangannya  kembali, sementara wanita itu masih diam di tempatnya. Mengerjap-ngerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia sadar bahwa itu adalah kali pertama ia melihat Dino tertawa dan tersenyum dengan tulus padanya. Detik berikutnya, Arini mendapati dadanya berdebar sangat kencang, lalu ia terhempas di  kursinya dengan wajah menghangat.

Jika ini yang dinamakan cinta yang sejatuh-jatuhnya, Arini yakin kalau ia tak mungkin bisa bangkit lagi.

~See You On The Next Story~


about-photographers-11

Klick [HERE] for order

Klick [HERE] for see another BEJOness on our website!

[BEJO Stories] Bejo Bejo Manchester United!

Jika Nuri menyandang status pacar Adi, maka Manchester United adalah istri sah cowok jangkung itu. Sudah dua tahun mereka pacaran dan Nuri paham betul kalau janji apa pun yang pacarnya itu ucapkan padanya, akan langsung dibatalkan jika ada acara nonton bareng teman-teman di komunitas pecinta sepak bolanya itu. Nuri sendiri tidak begitu mempermasalahkan klub idola pacarnya itu, ia justru mengagumi cowok itu karena berani menggemari sesuatu sampai sefanatik itu.

 Nyatanya, Nuri tidak suka terlalu fanatik dengan sesuatu, karena menurutnya, menjadi fanatik sama saja dengan memberikan kesempatan sesuatu tersebut melukainya lebih dalam. Selama menjalani hubungan dengan pacar-pacarnya yang terdahulu, ia tidak pernah menunjukkan obsesi yang berlebihan pada mereka seperti memberikan baju, hadiah, kejutan, dan lain-lain. Itulah sebabnya hubungan Nuri dengan mantan-mantannya tidak pernah berjalan mulus, paling lama tiga bulan. Selain karena mantan-mantannya itu merasa ‘tidak cukup dicintai’ oleh Nuri, cewek itu juga merasa risih setiap kali mereka mencoba memanjakannya dengan membelikan ini dan itu. Ia hanya ingin hubungan yang aman dan tidak terlalu dalam, jadi ketika mereka putus, ia bisa dengan cepat move on; tidak seperti kebanyakan cewek yang merana karena diputusin pacarnya.

Namun, cowok bernama Septiadi Ananda ini berbeda. Entah mengapa Nuri merasa begitu nyaman menjalin hubungan dengan cowok ini hingga bertahan dua tahun tanpa percekcokan yang berarti. Nuri menyukai Adi yang tidak begitu fanatik dengan dirinya karena bagi Adi, membeli atribut bertuliskan Glory Glory Manchester United dan kaos jersey klub bola kegemarannya itu lebih penting ketimbang membanjiri Nuri hadiah. Sementara Adi sendiri sering mengakui kalau Nuri berbeda dengan pacarnya yang dulu-dulu karena tidak menuntut yang macam-macam dan memperbolehkannya menikmati hobi bolanya ini.

Hubungan Nuri dan Adi benar-benar berjalan dengan aman selama ini karena mereka merasa nyaman satu sama lain, hingga tiba-tiba saja Adi mulai berubah seiring meredupnya peforma penampilan klub sepak bola kegemarannya itu.

Nuri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena ia sendiri tidak pernah memahami permainan bola. Namun, yang ia tahu pasti Adi menjadi tidak semangat hidup belakangan ini. Ia tidak lagi pergi ke acara-acara nonton bareng, tidak juga melulu mengenakan atribut Manchunian-nya yang selalu menjadi ciri kas cowok itu, dan meski pun Adi jadi punya lebih banyak waktu bersamanya, Nuri merasa pikiran cowok itu berada entah di mana.

‘Udahlah, Di, toh masih ada musim depan. MU mungkin cuman gak beruntung musim ini,’ kata Nuri saat ia mengungkit prilaku Adi yang berubah. Tapi cowok itu justru menjawab Nuri dengan nada tinggi yang tidak pernah cewek itu dengar selama mereka bersama.

‘Kamu gak akan pernah ngerti perasaanku, Nur. Ngelihat tim yang selama ini berjaya dan ditakutin sepanjang masa jadi bulan-bulanan kayak gitu rasanya sakit! Apalagi itu klub idola sendiri! Jadi kamu gak usah banyak komentar, kamu gak pernah tahu rasanya dikecewain kayak gini! Soalnya kamu gak pernah ngebiarin diri kamu untuk merasakannya!’

Nuri benar-benar terkesiap kala itu, amarahnya langsung ikut tersulut dan mereka pun berakhir dengan saling membentak. Untuk pertama kalinya mereka cekcok sebesar ini, tapi anehnya, bukannya mengajukan gugatan putus seperti yang biasanya ia lakukan pada mantan-mantannya, Nuri justru merasa sedih.

Untuk pertama kalinya ia merasa sedih, bukan marah atau merasakan perasaan-perasaan sejenis itu. Mungkin ini akibat hubungan mereka yang sudah berjalan lama dan ia merasa sayang, tapi yang mengganggu pikirannya justru bukan itu, melainkan perkataan Adi yang menyulut kemarahannya.

Apa benar ia tidak mengerti karena ia tidak pernah membiarkan dirinya merasa dikecewakan?

Nuri akui itu benar. Memangnya siapa yang ingin merasa dikecewakan? Rasanya sakit bukan? Tapi cara Adi mengatakan hal itu justru membuatnya merasa gagal sebagai manusia. Ia jadi tidak punya hak mengatakan kalau ia memahami perasaan pacarnya sendiri, karena ia tidak pernah merasakannya, dan hal itu lah yang membuatnya merasa sedih, bukan marah.

 Hah, Nuri mendesah sembari mengusap wajahnya letih, sakarang malam minggu kedua yang ia lalui sendirian di kamar sembari mengutak-atik smartphone-nya. Adi sama sekali tidak menghubunginya dan dirinya sendiri tidak mencoba untuk menghubungi lebih dahulu karena perasaannya masih campur aduk dengan gengsinya sebagai seorang cewek. Di kampus pun mereka tidak saling bertemu karena memang jurusan dan jadwal kuliah mereka berbeda. Semua terasa lebih rumit sekarang, ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki keadaan hubungan mereka ini.

Mata Nuri bergerak naik turun memandang layar smartphone-nya, menilik beranda Instagram-nya jenuh karena tidak ada yang menarik, tapi ketika sudah ia ingin menutup dan mencabut baterai benda persegi empat itu, ia melihat sesuatu yang aneh.

Bejo Apparel Shop?

Seketika Nuri terkekeh, kombinasi nama ndeso dengan istilah barat seperti itu terasa aneh. Sepertinya ini akun baru yang di promosikan oleh akun online shop yang sudah ia follow. Tanpa berpikir dua kali Nuri membuka akun Instagram tersebut dan langsung terkejut ketika yang dilihatnya hanyalah kaos-kaos bersablon dan polo shirt.

Yaelah, dikirain isinya bisa lebih keren dari ini, gerutu Nuri dalam hati, tapi karena sudah terlanjur membuka, akhirnya Nuri memutuskan untuk melihat beberapa koleksi dari online shop itu. Mata Nuri kembali naik turun, melihat sekilas tapi akhirnya mendengus, sampai tiba-tiba saja matanya tertumpu pada satu gambar catalog yang memanjang baju polo shirt berwarna merah yang di bagian dadanya terbordir lambang klub bola yang sudah sangat ia hafal.

Menchester United.

Seketika itu juga pikirannya melayang lagi kepada Adi dan perasaan sedih itu langsung menggerogotinya tanpa ampun. Hatinya masih bimbang, untuk kembali menyerah atas hubungan ini atau tetap mempertahankannya. Nuri memikirkan perkataan Adi lagi, lalu melihat catalog baju di hadapannya sekali lagi. Mata cewek itu mengerjap-ngerjap kebingungan, apakah ia berani mengambil risiko merasa dikecewakan jika melangkah lebih jauh atau ia bisa saja berhenti di sini, mengakhiri semuanya dan ia kembali menjadi Nuri yang biasanya?

Polo shirt merah berberbordir lambang Menchester United itu seolah-olah mengejek; menertawakannya karena tidak berani mengambil risiko dalam hidupnya. Sialan, maki Nuri dalam hati, ia benci merasa terhina seperti ini, hingga akhirnya cewek itu pun memutuskan untuk menghubungi owner online shop bertajuk Bejo itu dan menantang baju yang tadi mengejeknya untuk memberikan keberuntungan padanya. Baca lebih lanjut

[BEJO Stories] Baju yang Berkata-Kata

Bungkam

Tidak semua orang bisa menyatakan suara hatinya dengan lantang. Kebanyakan dari mereka memilih untuk bungkam karena merasa malu dengan jati diri mereka dan takut lingkungan sosial mereka mencela-cela apa yang menjadi keinginannya. Orang-orang seperti ini biasanya adalah orang-orang yang tidak pernah berani mengambil risiko, mereka terlalu peduli dengan ‘apa kata orang’ sehingga tidak mendengar ‘apa kata hati’-nya sendiri. Seumur hidup, mereka terus menyangkali hasrat hatinya dengan mengatakan kalau apa yang ia lakukan sekarang benar dan aman, hingga pelan-pelan mereka melupakan hasrat itu lalu berakhir dengan membunuh jiwanya sendiri.

Jiwa yang mati akan menyisakan raga yang kaku seperti robot. Orang-orang yang menjalani hidupnya tanpa jiwa hanya memikirkan bekerja-uang-membesarkan anak-lalu pensiun. Mereka pikir itu adalah cara hidup yang paling aman, tidak berisiko dan membahagiakan, tapi pada kenyataannya adalah mereka menumpuk penyesalan sepanjang hidup dengan mengabaikan panggilan jiwa mereka.

Ketika mereka pensiun, mereka berpikir kalau itu merupakan sebuah kebebasan, namun penyesalan yang sudah mereka tumpuk justru mengambil alih dan menghantui pikiran mereka. Mereka lantas mulai berpikir ‘seandainya aku dulu seperti ini…’, ‘Seandainya ketika muda aku melakukan ini…’, ‘Seharusnya aku bisa begitu…’ dan lain sebagainya, hingga akhirnya pikiran itu terus menggerogoti dan masa-masa itu pun dipenuhi dengan penyesalan-penyesalan tentang masa muda mereka; merasa diri tidak berguna dan terlalu tua untuk memulai kembali.

Baca lebih lanjut

[Heaven Series] Potongan 3: The Man Who Holds The Key

Aku memandang gerbang besar berwarna abu-abu itu dengan pandangan nanar, telah lama kami berkawan dan tak sedetik pun aku meninggalkannya. Banyak kisah yang telah kami saksikan bersama, banyak pula air mata yang diam-diam mengalir dari mata-hati kami. Meskipun setiap masa yang berlalu selalu diisi dengan keheningan tanpa suara, aku tahu, kami selalu menemukan cara untuk berbagi rasa.

Ah,  tidakkah aku jenuh?

Tidak. Aku sangat menikmati pekerjaanku. Sungguh.  Tak ada pekerjaan yang lebih menyenangkan ketimbang apa yang tengah aku lakukan sekarang ini. Meskipun kadang kala…

“Peter,”

Aku tersentak, seketika itu juga aku berbalik ke belakang dan mendapati  sepasang makhluk cahaya telah berdiri di sana; salah satu di antara mereka menggendong seorang bayi. Dan entah mengapa, setiap kali aku melihat pemandangan itu, hatiku langsung mencelus.

“Ia dibunuh ibunya sendiri.” Makhluk cahaya itu memulai kisahnya.

“Jantungnya telah berdetak, ia bahkan sudah bisa merasakan kehangatan ibunya. Namun ia dibunuh tepat saat ia mulai tumbuh dan siap untuk benar-benar hidup.” Ia diam sejenak, menatapku lekat-lekat.  “Kau tahu, Peter, ia bahkan belum sempat melihat cahaya pertamanya.” Sorot mata makhluk cahaya itu berubah sendu, tak kuasa menahan kesedihan hatinya atas apa yang lagi-lagi ia alami

 Aku diam saja, kupandangi  jiwa mungil yang menggeliat di pelukan makhluk cahaya itu. Oh, aku selalu berharap tak ada lagi jiwa-jiwa tak berdosa seperti ini hadir di depan gerbangku. Tapi siapa aku? Aku hanya seorang penjaga pintu gerbang, si pemegang kunci, sementara manusia-manusia itulah yang menjalani hidup.

“Bagaimana keadaan ibunya, Gabb?” tanyaku, sembari mengambil jiwa itu darinya, kemudian mendekapnya di dalam tanganku.

“Kuharap wanita itu kuat dan tak buru-buru menyusul jiwa mungilnya ini,” jawab makhluk cahaya itu, berusaha terdengar netral meski dapat kudengar nada sinis di suaranya, “rasa bersalah akan membuatnya depresi dan menghantuinya seumur hidup, kemudian…”

“…kemudian dia melakukan dosa keduanya, yaitu bunuh diri? Oh, Gabb, berhenti menggerutu!” potongku buru-buru, kemudian terkekeh pelan ketika menyadari kalau makhluk cahaya itu merasa tidak senang karena aku memotong kata-katanya. Partner-nya—yang memang tak begitu suka bicara—memandangku dengan tatapan berterimakasih, aku tahu ia kadang kala lelah dengan sikap makhluk cahaya yang satu ini.

“Dengar Gabb, rasa bersalah sudah cukup sebagai konsekuensinya,” kataku lagi sembari mengalihkan perhatian pada jiwa mungil yang sedari tadi tertidur nyenyak; tak menyadari kalau hidupnya telah berakhir sebelum ia sempat  menjalaninya.

“Manusia tak pernah tahu betapa ajaibnya diri mereka.” Kuusap wajah jiwa dalam dekapanku itu dan ia pun tertawa dalam tidurnya. “Ketika ada dua tubuh yang menjadi satu dalam sebuah ikatan suci, dari mereka akan muncul kehidupan baru yang selalu menanti kapan saatnya mereka mampu memiliki hidupnya sendiri. Tapi sayangnya, ketidaktahuan itu membuat mereka memiliki pikiran sempit dan menganggap sesuatu yang belum terlahir di dunia ini bukanlah sebuah kehidupan.”

Aku mengangkat wajahku dan menatap kedua makhluk cahaya yang berada di hadapanku itu secara bergantian.

“Bukankah itu menyedihkan?”

Mereka diam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua meski kutahu mereka pun merasakan hal yang sama. Dan beberapa saat kemudian, makhluk cahaya yang sejak awal membungkam mulutnya akhirnya mengakhiri pertemuan ini.

“Kami harus pergi, Peter,” katanya tenang, ekspresi wajahnya tak berubah sementara satu tangannya menepuk bahu kawannya yang rasanya masih enggan untuk beranjak. “Masih banyak hal yang harus kami selesaikan,” katanya lagi. Dan akhirnya, mereka pun pergi untuk kembali bekerja. Meninggalkanku dengan sesosok jiwa mungil dalam dekapan.

Sepeninggal makhluk-makhluk cahaya itu, aku pun berbalik, sekali lagi menatap gerbang abu-abu yang masih setia mendengar seluruh kisah yang terlontar di hadapannya. Pelan-pelan kutujukan senyumku padanya; miris dan getir.

Ya, benar. Di saat-saat seperti inilah aku merasa pekerjaanku ini begitu berat. Membuatku kembali bertanya-tanya: tidakkah mereka tahu apa yang telah mereka perbuat ini?

Untuk yang kesekian kalinya, mata-hatiku kembali menangis.

[Heaven Series] Potongan 2: Angel’s Jobs

“Aku tak pernah tahu ternyata meninggal itu biasa saja,” kata gadis yang baru saja kujemput itu datar. Jiwa yang tembus pandang itu berdiri tenang di samping jasadnya yang kini telah berada di dalam peti mati.

Terlihat sekali perbedaan dirinya yang berada di dalam peti itu dengan yang kini kulihat sekarang. Rambutnya yang dulu rontok dan nyaris botak kembali lebat melewati bahunya. Wajahnya yang sebelumnya pucat pun sekarang terlihat bercahaya. Gadis itu juga terlihat sangat cantik dengan pakaian yang terbuat dari serpihan bintang dan cahaya bulan.

Yah, seperti biasa, mereka lebih terlihat hidup setelah meninggal.

“Jadi aku harus menunggu 40 hari sebelum bisa pergi?” gadis itu menoleh ke arahku juga Raffa yang berdiri bersisian di belakangnya dan menatap kami dengan wajah tanpa ekspresi. “Kenapa lama sekali? Aku tak ingin berlama-lama di dunia ini. Aku lelah.”

Aku dan Raffa tak menjawab pertanyaan gadis itu, kami tak diperbolehkan banyak bicara karena itu bukanlah tugas kami.

“Hah, ternyata malaikat tugasnya cuman begini saja?” gadis yang umurnya belum genap 15 tahun itu melipat kedua tangannya di depan dada sembari memicingkan matanya ke arah kami berdua. “Aku pun bisa jadi kalian! Hanya mendaftar dan memisahkan jiwa dan raga saja kan? Itu pekerjaan gampang!” katanya angkuh; memancing kami untuk bicara. Namun bibirku dan Raffa tetap bergeming.

Jujur saja, aku jengkel dengan apa yang gadis itu katakan barusan. Dia pikir pekerjaan kami gampang apa?! Heh, yang benar saja! Menghadapi jiwa-jiwa yang seperti dia itulah yang membuat pekerjaan kami sulit. Apalagi kalau jiwa itu masih anak-anak. Errrh, rasanya tak tega melihat bocah-bocah itu menangis sambil memeluk orangtuanya yang berdoa di samping jasad mereka. Apalagi pekerjaan malaikat itu tak boleh melibatkan perasaan. Aku hanya bisa menahan diri sembari menatap datar pada peristiwa-peristiwa seperti itu.

Sigh, kulirik Raffa di sampingku. Malaikat itu lebih pandai menyembunyikan perasaannya ketimbang aku. Yah, nyatanya, pekerjaan menjemput jiwa-jiwa ini memang tugasnya. Sedangkan aku hanya menemani karena keharusan malaikat yang bekerja berpasang-pasangan. Tapi yah, aku selalu bersyukur karena dipasangkan dengan Raffa. Sungguh, aku tak bisa membayangkan diriku bekerja sama dengan Mika yang bossy itu—well, in fact, dia memang bos kami sih.

“Hei, kenapa kalian diam saja?!”
Suara gadis yang baru kuingat bernama Clara itu berseru lagi, membuyarkan lamunanku tentang pekerjaan.

“Ayolah, katakan sesuatu, jangan diam saja!”

Ya ampun, gadis itu ternyata lebih berisik daripada yang kusangka. Baru pertama kalinya aku bertemu jiwa yang cerewet seperti dia. Inilah kenapa aku lebih senang menjemput jiwa-jiwa yang telah berusia senja. Mereka lebih tenang menghadapi kematian karena telah puas menuai di ladang Sang Empunya.

Aku kembali melirik Raffa, berharap ia mengatakan sesuatu yang dapat membungkam mulut gadis ini. Tapi sepertinya malaikat itu terlalu sibuk membekukan telinga juga hatinya sehingga ia hanya balas menatap gadis itu dengan wajah datar.

Ah, haruskah aku yang bicara? Tapi aku…

“Tenanglah, Clara,”

Jangan lihat aku! Bukan aku yang berbicara!

“Gunakan waktu 40 hari ini untuk mempersiapkan diri pergi ke tempat penantian. Hibur hatimu dengan keyakinan kalau tugasmu telah selesai dan kamu berhak mendapatkan tempat yang lebih baik. Orangtuamu akan mendoakan kekekalan hidupmu. Yang kamu bisa lakukan sekarang hanyalah mempertanggungjawabkan semuanya dengan bantuan doa-doa itu.”

Clara menatap Raffa tanpa berkedip, gadis itu sepertinya baru menyadari sesuatu yang telah ia lupakan. Hingga akhirnya ia hanya mendesah berat dan kembali berbalik memunggungi kami berdua; jauh terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

“Terima kasih,” bisik Clara lirih, sebelum akhirnya ia melangkah dan duduk di samping kedua orangtuanya yang tengah bersimpuh memanjatkan doa baginya.

Sepeninggal gadis itu, kulirik Raffa dengan hati bertanya-tanya, tapi malaikat itu hanya membalasku dengan ekspresi wajah yang seakan-akan berkata:

Aku tahu kapan waktu untuk bicara, Gabb, kamu sebaiknya diam saja kalau tidak ingin semuanya menjadi lebih buruk.

Ah, Raffa, kamu memang tahu kalau aku paling tidak bisa berbicara dengan jiwa-jiwa itu.

***

(Sekuel dari: When I’m Thinking Like Angel)

A/N:
Ini murni fiksi belaka. Akibat dari imaji saya yang telah berkarat berhari-hari. Tampaknya saya harus lebih bisa mengontrol imajinasi yang lama-kelamaan semakin liar. Sigh, maafkan saya. *membungkuk*

[Heaven Series] Potongan 1 : When I’m Thinking Like Angel

“Raffa, apa kamu pernah berpikir kalau pekerjaan kita ini menyedihkan?”

Aku memecah keheningan di antara kita yang terjalin cukup lama. Kamu tahu kalau aku tak bisa diam, tapi kenapa kamu selalu mendiamkanku? Bahkan sekarang, kamu hanya melirikku sinis; tak suka dengan topik yang kuangkat.

“Kita ini hanya pesuruh, Gabb, tak perlu kamu mengeluh,” jawabmu seadanya, lalu kembali berkutat dengan buku tebal di atas kedua tanganmu. Matamu bergerak teratur; naik – turun, menilik setiap nama di daftar yang Sang Empunya berikan.

“Aku tidak mengeluh, Sahabatku,” balasku sembari memandangmu jenuh. Ah, sebal, kamu selalu saja begitu, tak pernah berubah, “Tidakkah kamu sedikit saja merasa simpati?”

Gerakkan matamu terhenti seketika, sementara aku hanya bisa terdiam—menunggu reaksi darimu selanjutnya. Hingga akhirnya kamu pun hanya mendesah berat, menutup buku tebal itu dan memandangku lekat-lekat.

“Kamu pikir aku tidak sedih mendengar keluarga orang-orang yang kujemput itu menangis, huh? Mereka meminta padaku atas penyembuhan, tapi Sang Empunya sudah memberi perintah. Apa lagi yang bisa kuperbuat? Hidup-mati bukan kita yang mengatur. Tapi Sang Empunya! Tugas kita hanya menurut, dan melaksanakan titahnya tanpa tanya. Meski ini menyedihkan, tak pantas kita menunjukkan kesedihan kita.”

Aku terdiam; memandangmu penuh penyesalan. Sungguh, tak pernah aku melihatmu semarah itu padaku. Meski aku sering bertingkah bodoh, kau selalu menanggapiku dengan tenang hingga aku bosan sendiri.  Sepertinya… aku memang agak berlebihan tadi. Maaf, deh.

“Kemarikan bukunya.” Kurebut buku di tanganmu, nyatanya, tanpa kukatakan pun kamu pasti sudah tahu kalau aku menyesal akan tindakanku sebelum ini, “Ke mana lagi kita pergi?”

Kamu mendesah sembari menggeleng-gelengkan kepalamu, maklum dengan tingkahku—sahabat sepanjang masamu.

“Terkadang aku ingin menukarmu dengan Mika, Gabb,” katamu, menatapku lelah.

Aku terkekeh; balas menatapmu jenaka. “Aku tahu kamu tak sungguh-sungguh, bagaimana pun juga, cuman aku yang tahan dengan sifat jelekmu itu.”

“Seharusnya aku yang bilang begitu.” Kamu pun berlalu pergi, dan aku menyusulmu buru-buru sembari tertawa geli di belakangmu.

Kamu tahu, Raff, menggodamu adalah satu-satunya cara bagiku melupakan pekerjaan kita yang menyedihkan ini. Bagaimana pun juga, aku lebih suka mewartakan kabar gembira ketimbang mengantar orang-orang itu ketempat penantiannya. Masalahnya…

…kenapa manusia-manusia ini tak menggubris warta gembiraku?