Kampus Fiksi #19 Bag. 1 : Ke-micin-an yang Hakiki

  Jadi, setelah menunggu kurang lebih dua tahun pasca diterimanya aku di salah satu angkatan Kampus Fiksi. Akhirnya minggu ini, pada tanggal 27 – 29 Januari 2017, aku pun menggenapi kewajiban untuk menimba ilmu di Kampus Fiksi bersama teman-teman di angkatan ke-19. Ya, benar sekali, Saudara, baru beberapa jam yang lalu aku tiba di rumah [...]

Iklan

[Sudut Vegan] Di Balik Harga Segelas Susu

“I relieze that I’m a real vegan when I’m crying over cows in dairy industry than people dying in some drama tv.” – Me, Todays Jadi, iya, aku menangis lagi hari ini. Hahaha. Aku kebanyakan nangis mah belakangan ini, tapi gak papa, air mataku worthed untuk beberapa hal, termasuk air mata yang aku raungkan saat [...]

20 Hal Tentang Dikta

LOL. Sudah lama sekali rasanya gak dapat tag-tagan beginian. Terakhir dikasih tantangan pas zamannya blog award gitu. Hahaha. Terima kasih ya Fadilla Sukraina atas tantangannya. Sebenarnya kebetulan sekali aku sudah lama tidak mengisi tulisan di blog lantaran sibuk berlaga di dunia perkampusan. Mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bisa membuatku lebih mengenali diri sendiri, karena kadang kala, [...]

Pak Damar

Pak Damar termangu. Memandang sepeda motornya yang kini hanyalah seonggok mesin tanpa ban dengan dua bola mata bergerak-gerak tak fokus. Dua detik pikirannya kosong, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ini sudah pukul sepuluh malam, kepala sekolah menugasinya lembur menyusun dokumen sore tadi. Pria yang baru menginjak usia tiga puluhan itu menurut saja meskipun tahu [...]

Sudah Lama

Sudah lama aku tidak menulis fiksi. Belakangan kata-kataku menjadi tumpul karena jarang sekali kuasah. Mungkin masalahnya bukan pada waktu yang tidak pernah cukup menyediakan kesempatan, melainkan jemari dan otakku kini tak lagi singkron seperti senja kelabu di hadapanku ini—oh ya, hujan masih datang di bulan April. Rasanya aku sudah melupakan momen ini—duduk sendirian di sudut [...]

[Coretan Dicta] Untuk Musuh-Musuhku: Aku Mengasihmu

Sudah lama aku tidak merasa setergoboh-goboh ini untuk menulis sebuah coretan. Sudah lama aku tidak merasa ingin sekali menulis dan menuangkan segala sesuatunya dalam gerakan tangan ini. Sudah lama aku ingin mengungkapkan apa yang ada dibenakku hingga hari ini hal itu pun tercapai karena desakannya begitu tak tertahankan. Maka, tanpa perlu memperpanjang paragraf pembuka yang [...]

#10 To My Future Husband: Busy

Hari ini hari pertama kuliah. Itu tandanya akan ada banyak kesibukan yang menantiku selama berhari-hari ke depan dan akhirnya memaksaku untuk menulis surat menggunakan jempol, seperti sekarang. Hahaha. Untung saja hari ini ada jeda di siang hari, sehingga aku masih sempat mengetik surat ini untukmu sembari menanti jam kuliah berikutnya. Tapi, meskipun begitu, mulai hari [...]

#9 To My Future Husband: Missing

I Miss You. Ah, aku rindu menulis surat untukmu lagi. Apa jeda dua hari kemarin membuatmu merasakan sesuatu yang aneh? Kuharap jawabannya ya, karena aku merasakan hal yang sama. Tak pernah kusangka, jeda mampu mengajariku sesuatu. Sesuatu yang begitu sederhana namun bermakna, sesuatu yang hanya bisa kamu rasakan ketika kamu memiliki hal-hal berharga di dunia [...]

#8 To Mr. Rudi Valinka: Hope

Halo, Om Rudi Valinka Selamat sore di harimu yang panjang. Mungkin Om Rudi tidak mengenali saya, karena saya hanya satu dari ribuan pengikut Om Rudi di Twitter—yang hanya sesekali memention Om Rudi jika memang ingin. Namun, ketahuilah Om, saya juga satu di antara banyak orang yang selalu mendoakan keselamatan Om Rudi. Om, masih beranikah Om [...]