Pt. 1 – Jakarta Hari Ini.

Jakarta hari ini mengingatkanku pada manik matamu saat kita berpisah dulu—remang dan basah.  Bulan September datang dan membawa hujan tanpa permisi belakangan ini; aku mengira-ngira kejutan apa lagi yang akan ia perlihatkan selain hiruk pikuk yang rasanya tak berkesudahan. Sejak malam ketika aku melihat kakimu yang sejenjang korek api itu melangkah tertatih-tatih membelah angin, telah [...]

Sudah Lama

Sudah lama aku tidak menulis fiksi. Belakangan kata-kataku menjadi tumpul karena jarang sekali kuasah. Mungkin masalahnya bukan pada waktu yang tidak pernah cukup menyediakan kesempatan, melainkan jemari dan otakku kini tak lagi singkron seperti senja kelabu di hadapanku ini—oh ya, hujan masih datang di bulan April. Rasanya aku sudah melupakan momen ini—duduk sendirian di sudut [...]

#4 To My Future Husband: Rain

Pagi ini hujan turun lagi di Yogyakarta. Musim penghujan sepertinya urung berlalu meski kini bulan kedua sudah terbit. Katanya, bulan ini justru puncaknya musim hujan dan ketika aku mengetahui hal itu, hatiku langsung meringis. Aku benci dingin. Lebih baik aku terbakar matahari ketimbang membeku seperti di dalam lemari es. Namun, manusia selalu penuh dengan kontradiksi, [...]

Smile Through The Rain

Bian benci sekali dengan musim hujan juga guntur yang menggelegar. Baginya, musim yang menghabiskan waktu dua bulan dalam setahun itu benar-benar kala yang paling buruk. Ia harus siaga setiap waktu dengan jas hujan, payung, atau jaket, dan hal itu sangat merepotkan. Ditambah lagi kondisi cuaca yang tidak bersahabat itu acapkali menyebar virus-virus penyakit dan jika [...]

Petrichor

Aku suka wangi khas yang diciptakan Petrichor—senyawa yang ditimbulkan oleh tanah dan batu-batuan saat hujan selesai mengguyur; wangi yang mengingkatkan aku padamu, Peri Hujan-ku. Kamu selalu duduk di sana, menyendiri di sudut perpustakaan dengan sebuah novel yang bukan berasal dari perpustakaan ini. Mungkin semua buku di tempat ini sudah kamu lahap, jadi kamu hanya perlu [...]