Pt. 1 – Jakarta Hari Ini.

Jakarta hari ini mengingatkanku pada manik matamu saat kita berpisah dulu—remang dan basah.  Bulan September datang dan membawa hujan tanpa permisi belakangan ini; aku mengira-ngira kejutan apa lagi yang akan ia perlihatkan selain hiruk pikuk yang rasanya tak berkesudahan. Sejak malam ketika aku melihat kakimu yang sejenjang korek api itu melangkah tertatih-tatih membelah angin, telah [...]

Iklan

Ik Ben…

Empat puluh tahun berlalu secepat angin menghempaskan serpihan debu di trotoar Malioboro. Paru-paru pria kaukasoid itu melumat dalam-dalam cerutu pertamanya hari ini dan menyelimuti wajah yang kini penuh dengan bintik-bintik usia itu dengan asap beracun. Ia tersenyum tipis, mata biru kelabunya melirik miris pada kusir-kusir andong yang telah siap siaga di atas dokar dan menanti [...]

Seandainya Pongah itu Kita Buang ke Laut Saja

  Putih adalah warna kesukaan Bellatrix selain merah muda. Namun, ketika ia melihat pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, mencukur rambutnya hingga cepak, dan menghilangkan bulu-bulu di wajahnya begitu bersih serta rapi—seperti  yang selalu ia bayangkan dalam benaknya, entah mengapa Bella merasa risih.  Terlalu tidak biasa. Terlalu bukan David yang ia kenal dulu saat masih [...]

Sudah Lama

Sudah lama aku tidak menulis fiksi. Belakangan kata-kataku menjadi tumpul karena jarang sekali kuasah. Mungkin masalahnya bukan pada waktu yang tidak pernah cukup menyediakan kesempatan, melainkan jemari dan otakku kini tak lagi singkron seperti senja kelabu di hadapanku ini—oh ya, hujan masih datang di bulan April. Rasanya aku sudah melupakan momen ini—duduk sendirian di sudut [...]

#10 To My Future Husband: Busy

Hari ini hari pertama kuliah. Itu tandanya akan ada banyak kesibukan yang menantiku selama berhari-hari ke depan dan akhirnya memaksaku untuk menulis surat menggunakan jempol, seperti sekarang. Hahaha. Untung saja hari ini ada jeda di siang hari, sehingga aku masih sempat mengetik surat ini untukmu sembari menanti jam kuliah berikutnya. Tapi, meskipun begitu, mulai hari [...]

#9 To My Future Husband: Missing

I Miss You. Ah, aku rindu menulis surat untukmu lagi. Apa jeda dua hari kemarin membuatmu merasakan sesuatu yang aneh? Kuharap jawabannya ya, karena aku merasakan hal yang sama. Tak pernah kusangka, jeda mampu mengajariku sesuatu. Sesuatu yang begitu sederhana namun bermakna, sesuatu yang hanya bisa kamu rasakan ketika kamu memiliki hal-hal berharga di dunia [...]

#5 To My Future Husband: Football

GOAL!!! Hal terbaik yang terjadi pagi ini adalah pemberitahuan bahwa FC Barcelona memenangkan laga semi final Copa Del Rey melawan Valencia FC dengan skor 7-0! Wohoooo! Forca Barca! Més que un Club! Hehehe. Ah, maaf, belum apa-apa aku sudah bertindah hype seperti ini. Kamu pasti langsung memalingkan muka dan geleng-geleng kepala menahan tawa, tapi tidak [...]

#4 To My Future Husband: Rain

Pagi ini hujan turun lagi di Yogyakarta. Musim penghujan sepertinya urung berlalu meski kini bulan kedua sudah terbit. Katanya, bulan ini justru puncaknya musim hujan dan ketika aku mengetahui hal itu, hatiku langsung meringis. Aku benci dingin. Lebih baik aku terbakar matahari ketimbang membeku seperti di dalam lemari es. Namun, manusia selalu penuh dengan kontradiksi, [...]

#3 To My Future Husband: Drama

Korean Drama is Bullsh*t. Maaf, jika aku memaki dan membuatmu kaget, surat cinta macam apa yang dibuka dengan makian seperti ini. Tapi... ah, aku sudah tak tahan. Hari ini aku terbangun pagi sekali dan seperti biasa melirik smartphone hanya untuk melakukan rutinitas kaula muda kekinian sambil mengira-ngira surat macam apa yang akan aku tulis untukmu. [...]

#2 To My Future Husband: Angkringan

Ada satu hal yang harus kamu tahu tentangku. Aku suka makan. Makan bagiku tidak hanya kebutuhan primer namun juga tersier. Aku tak perlu pakaian indah atau berlian berkarat-karat, just feed me and I will love you forever. Hehehe. Maaf ya, tiba-tiba saja membuka surat dengan fakta konyol tentang diriku. Hanya saja, aku penasaran dengan reaksimu [...]