#1 To My Future Husband: Hi!

Hai. Aku tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk membuka rangkaian surat ini selain satu kata itu. Mungkin bagimu ini terasa begitu janggal, tiba-tiba saja aku menyapa dan tersipu malu-malu dibalik surat konyol ini. Tapi, apa mau dikata? Sudah lama aku ingin menulis surat untukmu. Sejak tahun-tahun remajaku hingga sekarang digit di depan umurku berubah menjadi [...]

Love Glows Like A Lighted Candle

Aditya Nurrahman tahu bahwa lembayung senja tak akan pernah menunggu kepulangannya di pesisir pantai kampung halamannya itu. Jadi, ia hanya punya satu hal untuk dilakukan selain memaki waktu yang berjinjit melewati hari-harinya yang pendek dan padat; membuat lagu. Ini bukan perkara imajinasi yang kepalang menyesakan jiwa, bukan juga karena mengisi waktu luang di antara hiruk [...]

Railway Trip

Dear,  Ivan Romanov Rulin Kutuliskan surat tentang perjalanan panjang ini di dalam kereta yang akan menghantarkanku menuju pulang-mu juga pulang-ku. Membutuhkan waktu empat hari lamanya untuk tiba di Moscow. Musim semi sebenarnya begitu indah di Hyde Park, seperti biasa, Amrita selalu menyeretku ke sana dengan alasan yang sama—India tak punya musim semi pun bunga seindah [...]

[Surat Cinta #16] Dari Seorang Gadis Kecil untuk Jiwa Papanya

Pa, aku takut menangis saat menulis surat ini. Tapi hari ini aku  harus menulis surat cinta untuk pria yang kucintai, maka aku menulis surat ini untuk Papa. Iya, Papa, karena sampai detik ini pun hati kecil gadismu ini tak pernah mempercayakan perasaan sakral itu pada seorang pun… kecuali Papa. Hanya Papa yang berhasil membuatku jatuh [...]

[Surat Cinta #15] Dari Pintu Pagar untuk Vespa Antik

Percayalah pada cinta pandangan pertama, Cantik. Percayalah, karena hanya dalam waktu singkat kamu menjadi sesuatu yang kurindukan sepanjang hari. Percayalah pada cinta pandangan pertama, karena begitulah caraku mencintaimu. Malam ini aku kaku seperti biasa, diam seperti biasa, dan merenung seperti biasa. Aku tidak pernah merasa bosan dengan kehidupanku, aku cukup menikmatinya karena memperhatikan mereka yang [...]

[Surat Cinta #12] Dari Kartu Ujian untuk Bantal Berbentuk Hati

Aku tahu kalau kehadiranku bukanlah sesuatu yang kamu harapkan, tapi pertemuan kita setelah kenangan buruk setahun yang lalu memang tak bisa dihindarkan. Apa kabarmu? Kuharap kamu tak lagi basah oleh air matanya, kuharap kamu tak lagi jadi kawannya berbagi derita, kuharap… kamu kini bisa membawanya tidur lelap. Kali ini aku datang dan kembali terselip di [...]

[Surat Cinta #11] Dari Angin Malam untuk Abu Rokok

Kasihku, Jangan pernah berpikir, kalau kehadiranmu hanyalah sebagai sepah semesta yang hanya ada untuk terbuang di pelipir jalan lalu hilang ditelan malam. Jangan pernah berpikir, kalau kumparan putih-hitam tubuhmu hanyalah lambang dari lara dunia yang tak semestinya ada. Sekali lagi, Kasihku, tolong jangan pernah berpikir kalau kamu tidak berharga karena pada kenyataannya masih ada yang [...]

[Surat Cinta #5] Dari Lilin Ulang Tahun untuk Gramofon Tua

Halo, Sayang, apa kabar? Tak terasa tahun ini aku sudah berangka 30 dan kamu masih saja terlihat sama di sudut ruangan itu—indah dan cantik meski berdebu. Sudah 30 tahun kita jalin hubungan tahunan ini. Dari kamu masih memutar piringan-piringan hitam milik Koes Plus setiap hari sampai kini hanya dibersihkan sesekali; dari bocah lelaki yang meniupku [...]

[Surat Cinta #4] Dari Kacamata untuk Jendela

Tuk. Tuk. Tuk. Itu bunyi yang keluar saat kita saling bersentuhan satu sama lain, meski tak membentuk rima nada atau maksud tertentu, aku menyukai suara statisnya yang menunjukkan keintiman kita. Tak terasa sudah lebih dari satu bulan pemilik mata kenari yang kubantu melihat dunia ini begitu gemar duduk di dekatmu dan menyandarkan kepalanya pada dinginnya [...]