#1 To My Future Husband: Hi!

Hai. Aku tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk membuka rangkaian surat ini selain satu kata itu. Mungkin bagimu ini terasa begitu janggal, tiba-tiba saja aku menyapa dan tersipu malu-malu dibalik surat konyol ini. Tapi, apa mau dikata? Sudah lama aku ingin menulis surat untukmu. Sejak tahun-tahun remajaku hingga sekarang digit di depan umurku berubah menjadi [...]

[Surat Cinta #12] Dari Kartu Ujian untuk Bantal Berbentuk Hati

Aku tahu kalau kehadiranku bukanlah sesuatu yang kamu harapkan, tapi pertemuan kita setelah kenangan buruk setahun yang lalu memang tak bisa dihindarkan. Apa kabarmu? Kuharap kamu tak lagi basah oleh air matanya, kuharap kamu tak lagi jadi kawannya berbagi derita, kuharap… kamu kini bisa membawanya tidur lelap. Kali ini aku datang dan kembali terselip di [...]

[Surat Cinta #11] Dari Angin Malam untuk Abu Rokok

Kasihku, Jangan pernah berpikir, kalau kehadiranmu hanyalah sebagai sepah semesta yang hanya ada untuk terbuang di pelipir jalan lalu hilang ditelan malam. Jangan pernah berpikir, kalau kumparan putih-hitam tubuhmu hanyalah lambang dari lara dunia yang tak semestinya ada. Sekali lagi, Kasihku, tolong jangan pernah berpikir kalau kamu tidak berharga karena pada kenyataannya masih ada yang [...]

[Surat Cinta #4] Dari Kacamata untuk Jendela

Tuk. Tuk. Tuk. Itu bunyi yang keluar saat kita saling bersentuhan satu sama lain, meski tak membentuk rima nada atau maksud tertentu, aku menyukai suara statisnya yang menunjukkan keintiman kita. Tak terasa sudah lebih dari satu bulan pemilik mata kenari yang kubantu melihat dunia ini begitu gemar duduk di dekatmu dan menyandarkan kepalanya pada dinginnya [...]

[Surat Cinta #3] Dari Kobokan untuk Sendok Makan

Seumur-umur aku berada di rumah makan ini, aku tidak pernah bersisian di satu meja denganmu barang sekali pun. Setiap yang datang dan pergi selalu saja memilih, antara kau atau aku untuk digunakan, hingga kemungkinan untuk kita mendekatkan hati nyaris setipis udara. Mereka bilang kasta kita berbeda, makanya kita tak pernah digunakan bersamaan. Mereka yang menggunakanmu [...]

[Surat Cinta #1] Dari Pena untuk Kertas Tisu

Aku diciptakan untuk merangkai kata-kata sementara kau diciptakan untuk menjadi kotor dan terbuang. Hidup kita tak mungkin bersinggungan. Bagai angin yang selalu berlalu saat menerpa pepohonan, takdir pun selalu meloloskanmu dari ujung runcing bertintaku meskipun kita berada di dalam tas orang yang sama—berdesak-desakan di antara buku-buku tebal anak prakuliah, juga novel usang dari rak buku [...]